Accueil / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 6. Jamuan Istana

Partager

Bab 6. Jamuan Istana

Auteur: Ershita
last update Date de publication: 2026-09-18 11:09:45

Lentera giok aula barat membiaskan cahaya keemasan ke seluruh ruangan.

Meja perjamuan panjang dipenuhi sajian mewah, mulai dari sup sarang walet spiritual, tim ikan naga, hingga buah berenergi murni yang aromanya menguar hangat ke udara malam.

Para pejabat duduk di barisan sayap kanan, sementara Permaisuri Luo Meiyan dan keenam selir menempati sayap kiri, gaun-gaun mereka berkilau di bawah cahaya lentera seperti kelopak bunga yang saling berebut cahaya matahari.

Malam ini adalah jamuan resmi perdana bagi Nihara Xuyue sebagai Selir Ketujuh. Semua pasang mata menanti sosok yang mampu memikat Kaisar Tian Yanzhou dalam hitungan hari, sebagian dengan rasa penasaran, sebagian lagi dengan kebencian yang sudah lama membara.

Pintu ganda aula terbuka. Seluruh percakapan lenyap seketika.

Xuyue melangkah masuk dengan gaun sutra putih sederhana dan hiasan jepit giok tunggal di rambutnya.

Langkahnya tenang tanpa cela, kontras dengan gemerlap perhiasan para wanita bangsawan lainnya, seolah kesederhanaannya sendiri adalah bentuk kemewahan yang tidak bisa mereka tandingi.

Permaisuri menepuk bantalan sutra di samping kursinya. "Duduklah di sisiku, Adik baru. Kau tentu butuh bimbingan mengenai tata tertib jamuan istana."

Mo Yanyu menutup bibir dengan kipasnya. "Kecantikan menyilaukan sering kali membawa petaka. Semoga istana kita tidak tertular nasib buruk."

Zhao Ruilan tersenyum ramah. "Jangan cemas, Adik Xuyue. Duduklah di dekatku, aku akan menjagamu."

Han Feixia meletakkan cangkirnya dengan keras. "Menjaga pendatang asing? Aku hanya ingin melihat berapa lama ia sanggup bertahan di sini."

Yu Shuangli menatap dingin. "Kecantikan rupa hanya memikat sesaat. Pemahaman tata krama yang menentukan kelayakan seseorang di meja ini."

Jin Meiqin menimpali dengan nada sinis. "Hebat sekali, seseorang yang jatuh dari langit bisa langsung menyita seluruh perhatian."

Enam suara itu jatuh silih berganti seperti jarum kecil yang ditusukkan satu per satu, namun Xuyue hanya berdiri diam sejenak, membiarkan semua sindiran itu lewat tanpa menyentuhnya sedikit pun.

Ia mengabaikan kursi di dekat Permaisuri maupun para selir. Ia memilih melangkah ke titik tengah meja panjang, lalu duduk dengan tenang, seolah tempat itu memang sudah menunggunya sejak awal.

"Hamba berterima kasih atas perhatian Yang Mulia dan para Kakak Selir," ucap Xuyue jernih.

"Hamba pendatang baru dan akan belajar. Namun kalian tidak perlu cemas, hamba tidak berniat merebut hak siapa pun."

Ketenangan itu seketika membungkam para selir. Permaisuri meremas kipasnya, lalu memberi isyarat tersembunyi pada dayang di belakangnya, matanya berkilat seperti seseorang yang baru saja kehilangan langkah pertama dalam permainan yang belum genap dimulai.

Jamuan berlanjut di bawah tatapan penasaran para pejabat. Lian Qixue mengangkat cawan araknya.

"Selir Ketujuh, mengerti tata cara bersulang? Kesalahan menuang arak bisa dianggap penghinaan bagi martabat istana."

Xuyue tersenyum tipis. Ia bangkit, meraih kendi porselen naga, lalu menuangkan arak dengan satu gerakan luwes. Cairan jernih meluncur tanpa memercik setetes pun ke meja.

"Hamba memang pendatang," tutur Xuyue seraya mengangkat cawan dengan kedua tangan.

"Namun selama niatnya bersih, bukankah ketulusan jauh lebih bermakna daripada gestur yang kaku? Bersulang untuk Yang Mulia Kaisar, kejayaan negeri, dan seluruh hadirin malam ini."

Para pejabat mengangguk takzim. Seorang menteri senior bahkan ikut mengangkat cawannya.

Kaisar Tian Yanzhou tersenyum puas dari singgasananya. "Tutur katamu sederhana, Xuyue, namun lebih tajam dari mata pedang."

Han Feixia meletakkan sumpit peraknya dengan kasar, wajahnya memerah karena ujian pertama gagal menjatuhkan Xuyue barang secuil pun.

"Tata krama bersulang hal sepele. Jamuan butuh seni. Apakah kau mengerti cara memainkan kecapi qin?"

Yu Shuangli menimpali. "Atau kau hanya mengandalkan riasan wajah. Dawai qin menuntut getaran jiwa."

Xuyue melangkah tenang menuju kecapi kuno di sudut aula, lalu duduk tegak, jemarinya berhenti sejenak di atas dawai seolah mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.

"Hamba akan memainkannya sepenuh jiwa."

Jemari lentiknya memetik dawai.

Dentingan pertama mengalun lembut meniru desau angin malam, lalu berganti menjadi alunan deras bagaikan air terjun spiritual. Melodi agung itu merayap memenuhi ruangan dan menyentuh batin para pendengar.

Para menteri memejamkan mata, hanyut dalam irama, sementara para selir terpaku menahan kekesalan yang perlahan berubah menjadi rasa iri yang tidak bisa mereka sembunyikan lagi.

Saat getaran dawai terakhir mereda, tepuk tangan Kaisar memecah keheningan, disusul gemuruh pujian seisi ruangan.

"Luar biasa," puji Kaisar. "Bukan hanya parasmu yang memikat, melainkan kedalaman jiwamu."

Permaisuri memberi isyarat kedua, wajahnya masih tersenyum meski di balik matanya sesuatu yang lebih dingin mulai berputar.

Seorang dayang bergegas maju membawa nampan perak berisi cawan giok merah darah.

"Yang Mulia Permaisuri menitahkan Selir Ketujuh menikmati arak api istana. Hanya wanita berjiwa murni yang sanggup menahan panasnya."

Para pejabat menoleh cemas, mengenali arak keras pembakar organ dalam tersebut.

Mo Yanyu menyeringai. "Aku sendiri tak sanggup menghabiskan separuh cawan. Mari buktikan senyummu bertahan setelah meminumnya."

Han Feixia mendesak. "Menyerah lebih baik daripada muntah darah di depan Kaisar."

Xuyue menerima cawan tanpa getaran tangan. Cairan merah di dalamnya bergolak mengeluarkan uap panas yang menyengat hidung siapa pun yang duduk dekat dengannya.

Ia menatap lurus ke mata Permaisuri, tidak sedikit pun berpaling.

"Jika ini ujian keteguhan batin, biarlah seluruh hadirin menjadi saksi."

Xuyue menenggak habis cairan panas itu dalam satu tarikan napas.

Hawa membakar itu seketika diserap dan dilenyapkan oleh kekuatan Ketiadaan di meridiannya. Wajahnya tetap tenang, napasnya teratur, matanya jernih tanpa tanda kesakitan sedikit pun, seolah cawan itu hanya berisi air biasa.

Ia meletakkan cawan kosong ke nampan dengan denting halus.

"Arak ini sangat hangat," ucap Xuyue seraya tersenyum manis. "Namun panasnya tidak sebanding dengan kobaran api cemburu di ruangan ini."

Balairung seketika hening membeku.

Para pejabat menahan napas mendengar sindiran telak itu, sebelum tawa lepas Kaisar menggelegar dari singgasana.

"Luar biasa! Kau bukan hanya cantik, Xuyue, tapi juga bernyali besar. Tutur katamu tajam dan senyummu memabukkan."

Keenam selir menunduk menahan malu dengan wajah memerah. Permaisuri mencengkeram sandaran kursinya hingga buku jarinya memutih, berusaha mempertahankan senyum palsunya.

Meski dadanya sendiri terasa seperti dibakar oleh arak yang sama yang baru saja diminum Xuyue tanpa gentar.

Xuyue kembali duduk dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah tiga ujian yang baru saja ia lewati hanyalah basa-basi kecil sebelum santapan malam yang sesungguhnya.

Di balik tirai gelap aula, Leluhur Tian Zhenxu mengelus janggut putihnya sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rahasia dan sedikit kelegaan, seolah ia baru saja menyaksikan bukti bahwa pilihannya untuk terus mengawasi gadis ini bukanlah kesia-siaan.

Ia semakin yakin Selir Ketujuh adalah sosok luar biasa yang tengah memainkan seisi istana dalam genggamannya, dan malam ini baru permulaan dari permainan yang jauh lebih besar.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Selir Ke-7   Bab 16. Malam Rahasia

    Malam menjemput istana dengan selimut kabut tipis. Suara organ kecil di aula mereda, koridor yang kemarin penuh tawa kini sunyi. Xuyue menunggu hingga langkah terakhir meredup, lalu menyingkap tirai jendela paviliunnya."Ini malam yang tepat," batinnya, merasakan denyut energinya yang samar. Ia menuruni tangga rahasia yang hanya diketahui beberapa orang di istana, tempat yang pernah ditunjukkan Leluhur sekilas.Setelah menutup lubang rahasia dengan kain, ia menyelinap melintasi koridor servis menuju gerbang belakang.Ia berjalan melewati dapur kosong dan gudang terkunci, langkahnya senyap, napasnya tertahan. Ia tidak lagi berpura-pura menjadi Selir Ke-7 yang rapuh, malam memberinya kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.Di gerbang belakang, taman kecil yang jarang digunakan terbentang di hadapannya. Ia menutup mata, memperluas indera ruhnya. Ada residu energi yang berbeda dari bekas ritual biasa, jejak formasi yang tersisa, garis halus berputar seperti sarang laba-laba.Jejak itu me

  • Selir Ke-7   Bab 15. Permainan Sosialita

    Ruangan jamuan terang oleh lentera emas yang tergantung rapi, tetapi cahaya itu tidak mampu menghangatkan suasana.Di bawah permukaan keramahan terdapat arus yang tajam, seperti deretan pisau tipis yang menunggu satu gerakan salah untuk melesat.Xuyue melangkah masuk, setiap geraknya terkalkulasi, jubahnya sederhana namun potongan kainnya mengikuti lekuk yang membuat banyak mata menoleh terlalu lama.Ia berjalan seperti orang yang tahu bagaimana sebuah senyum bisa menjadi tombak, dan bagaimana diam bisa menjadi perisai.Lian Qixue menyambutnya terlebih dahulu, raut wajahnya manis namun matanya memeriksa seperti orang yang menimbang kualitas perhiasan."Selir Ke-7, kau datang tepat waktu," katanya, suaranya halus namun mengandung nada yang berlapis.Di sekeliling, Mo Yanyu memperlihatkan kepedulian yang dibuat-buat, Zhao Ruilan menampilkan keramahan yang terlalu cepat, Han Feixia memancarkan ketegangan yang siap meledak, Yu Shuangli menunjukkan dingin yang meremehkan, dan Jin Meiqin me

  • Selir Ke-7   Bab 14. Bayangan Misterius

    Ancaman Permaisuri malam itu masih terngiang di telinga Xuyue, namun malam berikutnya, bahaya yang datang tidak lagi berbentuk kata-kata, melainkan bayangan bersenjata yang bergerak di taman belakang istana.Malam di Istana Kaisar Langit terasa lebih pekat dari biasanya. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, seolah langit sendiri menahan napas.Di balik dinding-dinding tinggi, kesunyian hanya dipecahkan oleh suara langkah para penjaga yang berpatroli.Xuyue berdiri di balkon paviliunnya, menatap bulan yang menggantung pucat di langit.Lan Mei sudah tertidur di ruang dalam, namun matanya sendiri enggan terpejam. Ada sesuatu yang mengusik, sebuah firasat yang tidak bisa ia abaikan."Terlalu tenang," batinnya. "Dan ketenangan seperti ini biasanya hanya mendahului badai."Tiba-tiba, suara samar terdengar dari arah taman belakang. Seperti desir kain yang menyentuh dedaunan, lalu disusul dentingan logam yang nyaris tak terdengar. Xuyue menajamkan pendengaran, tubuhnya menegang.Bayanga

  • Selir Ke-7   Bab 13. Senyum Permaisuri

    Gulungan hitam bertuliskan "jika racun tidak cukup, maka api harus menyala" masih tersimpan rapi di laci rahasia Permaisuri ketika ia mengirim utusan untuk memanggil Xuyue malam itu.Namun api yang ia maksud, malam ini, belum berwujud kobaran nyata, melainkan kata-kata.Malam turun perlahan di atas Istana Kaisar Langit. Paviliun Timur diterangi cahaya lampu minyak yang berderak lembut, menebarkan bayangan panjang di dinding batu giok.Aroma dupa melayang tipis, menambah kesan damai, meski di balik ketenangan itu tersimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah sutra ungu dengan bordiran naga betina.Senyumnya tampak lembut, seolah penuh kasih, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Ia menunggu dengan sabar, jemarinya mengetuk perlahan meja kayu cendana.Langkah kaki terdengar mendekat. Nihara Xuyue masuk dengan tenang, mengenakan jubah biru pucat sederhana.Rambutnya disanggul rapi, dihiasi giok kecil yang ber

  • Selir Ke-7   Bab 12. Ujian Racun

    Dua hari setelah pengakuan Kaisar di aula, istana tampak tenang di permukaan, namun Xuyue tahu ketenangan semacam itu di tempat ini tidak pernah berarti aman.Langit siang di atas Istana Kaisar Langit tampak tenang, namun di balik dinding-dinding batu giok, badai kecil sedang disiapkan.Di taman dalam yang dikelilingi kolam teratai, sebuah jamuan kecil digelar atas nama keharmonisan antar selir.Meja bundar dari kayu cendana telah disusun rapi, dihiasi bunga plum dan kendi arak manis dari Paviliun Selatan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah merah muda pucat dengan sulaman burung hong.Di sekelilingnya, para selir duduk dalam lingkaran, masing-masing dengan senyum yang tampak manis namun menyimpan duri.Xuyue datang terakhir, mengenakan jubah biru muda yang sederhana. Ia menunduk sopan, lalu duduk di kursi yang disediakan di sisi kanan Permaisuri.Lan Mei berdiri di belakangnya, membawa kipas dan kendi air bunga, matanya sudah waspada sejak melihat siapa saja

  • Selir Ke-7   Bab 11. Perang Dingin di Istana

    Angin malam masih berhembus pelan saat Xuyue berdiri di lorong paviliun Kaisar. Di hadapannya, sosok berjubah hitam dengan topeng perak berdiri diam, hawa dingin menyelimuti sekitarnya.Lentera giok bergoyang pelan, cahayanya memantul di lantai batu giok yang kini terasa seperti medan perang.Penasihat Bayangan tidak bergerak. Ia hanya menatap Xuyue dengan mata redup yang menyala samar.Di tangannya, energi hitam mulai berkumpul, membentuk pusaran kecil yang berdesis pelan.Xuyue melangkah maju, jubah putihnya berkibar pelan. Matanya tajam, tubuhnya tenang, namun aura di sekelilingnya mulai berubah. Udara bergetar, seolah mengenali kekuatan yang selama ini tersembunyi."Jika kau ingin menguji," ucap Xuyue pelan, "maka malam ini, aku akan menjawab dengan cahaya yang kau sembunyikan selama ini."Penasihat Bayangan mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, pusaran energi hitam melesat ke arah Xuyue.Namun sebelum menyentuh tubuhnya, Xuyue mengangkat satu jari, dan cahaya perak menyala dar

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status