LOGINAra mengenakan gaun pengantin yang anggun, berdiri di depan rumah kaca berwarna-warni. Zayn, dalam setelan putih, memegang sebuket mawar merah menyala saat mendekat. Tatapan dinginnya mencair, membuatnya terlihat sempurna seperti pangeran dongeng. Setiap langkah yang diambilnya disertai kata-kata manis.
“Sayang, kurasa aku sakit—dan sakit parah. Entah kapan ini dimulai, tapi hanya kau yang kuinginkan. Aku rindu bertemu denganmu setiap hari. Dan setelah hari ini, kita akan bersama selamanya.”
Zayn menciumnya dengan ganas. Jantung Ara berdebar kencang. Ia tersenyum manis—sebelum nada dering telepon membangunkannya.
Ara terlonjak. Ia rupanya tertidur di dalam bathtub. Untung ia tidak mati tenggelam karena tergelincir.
“Apa yang kupikirkan sampai bermimpi begitu?”
Ia bangkit, membilas tubuhnya dari sisa busa bath bomb, lalu melilitkan jubah mandi. Ponselnya terus bergetar dari dalam celana yang tadi ia lepaskan di dekat wastafel. Ia mengangkat pakaian itu, mengambil ponselnya, kemudian melempar baju kotor tersebut ke keranjang. Jangan tanya ke mana tas selempangnya yang ia bawa kemarin—itu sudah ia buang bersama baju rusaknya. Tidak ada barang penting di dalamnya.
Itu juga memang kebiasaannya. Setiap kali ia menginap di rumah keluarga Alaric—entah karena acara, urusan pekerjaan, atau sekadar kebetulan—Ara hampir selalu pulang tanpa membawa apa pun. Keluarga itu sangat kaya dan terbiasa memfasilitasi tamu dengan berlebihan. Ia bahkan memiliki kamar khusus yang sengaja disiapkan untuknya setelah beberapa kali menginap, lengkap dengan lemari berisi pakaian cadangan dan produk perawatan kulit yang jauh lebih mahal dari yang biasa ia beli.
Karena itulah, apa pun yang ia bawa dari rumah sering ia tinggalkan di sana. Jauh lebih praktis.
galkan di sana. Apalagi sekolah SMA-nya dulu lebih dekat dari rumah Alaric daripada rumahnya sendiri.
“Ada apa…?” gumam Ara sambil mengecek panggilan tak terjawab. Nama yang muncul: Ezra.
Ia menelpon balik sambil mengoleskan toner di depan meja rias.
Begitu tersambung, suara Ezra langsung meledak:
“Ra, kau beneran tidur sama Alaric tadi malam?”
Tub krim wajah yang Ara pegang jatuh menabrak meja. Wajahnya memantul di cermin—melotot, pucat, kacau.
“B-Bagaimana kau tahu?”
a memutar otak. Ezra bahkan tidak tahu soal hubungan masa lalu antara dia dan Alaric. Jadi bagaimana bisa dia langsung menebak hal yang seabsurd itu?
“Wah. Jadi itu benar?” Suara Ezra terdengar sok terkejut. “Kukira cuma rumor.”
Ara ingin menampar dirinya sendiri. Kalimat “bagaimana kau tau” malah mengonfirmasi semuanya. Kenapa tidak dari tadi menjawab ‘kata siapa?’—itu jelas lebih defensif dan masuk akal!
“Siapa yang bilang ke kamu?” katanya, mencoba menyelamatkan keadaan. Tidak mungkin Alaric sendiri yang mengatakan itu ke Ezra… kan?
“Apa itu penting? Informasinya yang lebih penting, bukan? Gimana bisa kau tidur dengan alaric? Kau gila, Ra?”
“Ya… aku memang gila tadi malam.”
“Ooh?” suara Ezra terdengar semakin hidup. “Seberapa gila tadi malam?”
“Ezra. Bicara yang benar.”
“Oke, siap nona alaric.”
“EZRA!”
Tawa renyah terdengar dari seberang. Ara bisa membayangkan ekspresi jahilnya.
“Jujur, aku sama sekali nggak nyangka,” ucap Ezra, masih tertawa geli. “Aku tahu alaric tampan, tapi masa sih? Kalau alasannya karena tampan, harusnya kau tidur denganku dulu, dong.”
“Lanjutkan omong kosong itu, dan nomormu masuk daftar blokir hari ini.”
“Oke, oke! Berhenti bercanda.”
Ia hendak menutup telepon ketika Ezra kembali bersuara.
“By the way, kau ikut acara livestream Amorésque—”
“Kenapa?” Ara menjawab malas sambil mencari earphone, lalu menyambungkannya ke ponsel.
“Aku ikut juga. Acaranya di negara Z, kan?” suara Ezra terdengar ringan, seolah yang ia bicarakan bukan hal besar.
“Bagaimana kau bisa ikut? Bukannya kau menolak terakhir kali?” Ara mengernyit.
Amorésque adalah merek skincare dan facial wash ternama. Ezra—aktor dan model yang punya nama besar—pernah bilang bahwa ia diundang ke acara itu tapi menolaknya karena konsep live streaming-nya yang terus-menerus membuatnya tidak nyaman.
Sebagai aktor yang membintangi banyak film besar, Ezra juga sering diajak ikut variety show. Meski konsepnya tidak live seperti Amorésque, formatnya tetap saja: merekam kehidupan beberapa hari dan memaksa hidup sederhana.
Dan sebagai anak bungsu keluarga Alaric yang terbiasa fasilitas mewah, Ezra jelas tidak tahan. Maka waktu menerima undangan, ia langsung menolaknya.
“Itu sebelum aku tahu kalau kau ikut,” jawab Ezra santai.
“Apa hubungannya aku ikut dengan kau ikut?”
“Setidaknya kalau ada kau, aku punya partner buat menyelinap dari kamera. Atau minimal kau bisa pura-pura jadi orang baik dan memasak di acara itu. Kau tahu kan, selain makanan mahal, cuma masakanmu yang bisa masuk ke perutku.”
“Oohhh… jadi masakanku nggak termasuk makanan mahal?” Ara mengangkat alis.
“Tentu sajaaa masuk,” sahut Ezra cepat—tapi Ara bisa membayangkan bocah itu sedang grinning lebar, jelas-jelas mengejek.
“Oke kalau begitu, aku jemput kau besok. Kita ke bandara bareng. Kau masih tinggal di rumah sementaramu itu, kan?”
Ara hanya berdeham. Mereka memang sepakat menyebut tempat ini sebagai rumah sementara—karena suasananya tidak layak disebut rumah.
Setelah beberapa percakapan ringan, keduanya sepakat menutup telepon.
Ara kembali menyelesaikan skincare yang tertunda, sementara di tempat lain, Ezra—yang sedang duduk santai di sebuah ruang kantor mewah—menyengir lebar pada lelaki yang berdiri di depannya.
“Sudah kubilang kan kita satu program?” Ezra bersandar ke kursi. “Jadi aku pakai jet pribadimu besok, ya? Kesepakatannya tidak boleh batal.”
Zayn menatapnya datar. “Beri tahu aku informasi spesifik yang kau tahu tentang keluarga Ara.”
Ezra mengangkat tangan seperti bersumpah. “Tenang. Kesepakatan tetap kesepakatan. Aku bukan tipe yang ingkar janji.”
Dalam hati ia menertawakan diri sendiri.
Ara bangun dengan keputusan yang sudah bulat.Dia harus ke bank. Dia harus tau apa isi safe deposit box itu.Zayn sudah berangkat ke kantor sejak subuh—ada meeting penting dengan investor. Ini kesempatan Ara.Dia berpakaian simple—jeans, kaus, hoodie, kacamata hitam. Mencoba tidak menarik perhatian.Tapi saat mau keluar kamar, dia bertemu dengan pelayan."Nyonya Ara, mau kemana?" tanya pelayan dengan sopan tapi... waspada."Aku... aku mau jalan-jalan sebentar. Beli cemilan.""Saya bisa pesankan untuk Nyonya. Atau driver bisa antarkan—""Nggak usah. Aku mau sendiri aja." Ar
Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.Ara duduk di tepi ranjang, memegang perutnya yang masih rata.6 minggu hamil sekarang.Bayi di dalam perutnya sudah sebesar biji kacang. Kecil, tapi... ada.Ponselnya bergetar.Pesan dari... Nadine.Nadine: "Ara, gimana? Zayn sudah tau?"Ara menatap pesan itu dengan perasaan tidak enak.Kenapa Nadine begitu... eager?
Ara datang sendirian dengan taksi—sengaja tidak pakai driver keluarga Alaric agar tidak ketahuan. Dia mengenakan hoodie dan kacamata hitam, mencoba menyamarkan identitasnya.Kafe yang Nadine pilih kecil, sepi, jauh dari pusat kota—tempat yang tidak akan ada wartawan atau orang yang mengenal mereka.Ara masuk dan langsung melihat Nadine duduk di pojok, mengenakan blazer elegan dan kacamata—terlihat seperti profesional muda, bukan ibu tiri yang manipulatif.Nadine tersenyum saat melihat Ara. "Ara, terima kasih sudah datang."Ara duduk dengan waspada. "Langsung to the point aja. Siapa yang sebar rumor tentang Alaric Group?"Nadine menyeruput kopinya dulu, lalu berkata pelan:
Jam 6 pagi, Ara terbangun dengan suara ketukan keras di pintu kamarnya."Ara! Bangun!" Suara Zayn—panik, mendesak.Ara langsung bangun, membuka pintu. Zayn berdiri di sana dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat."Ada apa?"Zayn menyodorkan ponselnya—layar menampilkan artikel berita yang baru saja tayang 10 menit lalu."Endra MAHENDRA BERI PERNYATAAN: 'ANAK SAYA DIPAKSA MENIKAH OLEH KELUARGA Alaric!'"Ara membaca dengan napas tercekat.Dalam artikel itu, Endra dikutip mengatakan bahwa Ara "dimanipulasi" untuk menikah dengan Zayn, bahwa keluarga Alaric "mengambil keuntungan" dari kehamilannya, dan bahwa dia sebagai ayah "san
Ara bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tidurnya tidak nyenyak—mimpi tentang keluarganya, tentang Arga, tentang semua yang terjadi.Zayn sudah bangun lebih dulu, duduk di meja sarapan sambil membaca tablet. Begitu melihat Ara bangun, dia langsung berdiri."Pagi. Kamu tidur nyenyak?" tanyanya sambil membantu Ara duduk."Lumayan." Bohong. Tapi Ara tidak mau bikin Zayn khawatir.Pelayan menyajikan sarapan—roti panggang, telur, salad buah, dan segelas susu hangat. Semua terlihat sempurna seperti foto di majalah."Mama belum turun?" tanya Ara."Mama ada meeting pagi. Papa juga sudah berangkat ke kantor." Zayn menuangkan susu ke gelas Ara. "Jadi hari ini kita berdua aja."
Pagi, Jam 9 Tepat ,di Apartemen AraDriver keluarga Alaric datang tepat waktu—seorang pria paruh baya dengan seragam hitam rapi dan sikap profesional yang kaku."Selamat pagi, Nyonya Alaric," sapanya sambil membungkuk sopan. "Saya sudah siap membawa Anda ke kediaman utama."Nyonya Alaric.Gelar itu terasa asing di telinga Ara."Selamat pagi," balas Ara kaku sambil menarik kopernya.Zayn langsung mengambil alih koper itu. "Aku yang bawa. Kamu jangan angkat yang berat-berat.""Zayn, itu cuma koper—""Ara." Zayn menatapnya dengan tatapan yang tidak memberi ruang debat. "Kamu hamil.







