Share

Chapter 6

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-07-07 12:55:57

"Ah, aku hampir lupa," ucap Raka. "Aku mau menemui Ibu dulu untuk minta minyak urut."

"Iya, Mas," jawab Ririn. "Ibu mungkin lagi di dapur."

"Oke. Tunggu sebentar, ya," balas Raka sebelum segera keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

Di dapur, Bu Ratna tampak sedang mencuci piring. Melihat itu, Raka langsung menghampirinya.

"Bu, ada minyak urut?" tanya Raka.

"Ada, Nak Raka," jawab Bu Ratna sambil menoleh. "Memangnya buat apa?"

"Saya mau coba pijat Ririn, Bu. Siapa tahu kondisinya bisa membaik," jelas Raka.

Bu Ratna tampak sedikit terkejut.

"Nak Raka bisa pijat?"

"Bisa, Bu," jawab Raka sambil mengangguk. "Dulu Ayah sempat mengajarkannya kepada saya."

"Oh, begitu." Bu Ratna tersenyum lega. "Kalau begitu, kamu kembali saja ke kamar Ririn. Nanti Ibu yang antarkan minyak urutnya."

"Baik, Bu. Terima kasih," ucap Raka sebelum kembali menuju kamar Ririn.

Beberapa menit kemudian, Bu Ratna datang sambil membawa sebuah piring kecil yang di atasnya terdapat sebotol minyak urut.

"Ini, Nak Raka," ujarnya sambil menyerahkan piring tersebut.

"Terima kasih, Bu," balas Raka. Ia menerima piring itu, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kecil di samping tempat tidur.

"Baiklah, kita mulai sekarang, ya," ucap Raka sambil mengoleskan minyak ke seluruh telapak tangannya.

"Se-sebentar, Mas Raka," ucap Ririn ragu.

Belum sempat Raka bertanya, Ririn sudah lebih dulu bersuara sambil mengalihkan pandangannya.

"Ibu ngapain nungguin di sini?" tanya Ririn gugup. "Ibu tunggu di luar saja. Aku malu dilihatin."

Raka yang mendengar keluhan Ririn hanya bisa tersenyum tipis.

"Iya, iya. Dasar kamu ini," ucap Bu Ratna sebelum akhirnya beranjak keluar dari kamar Ririn.

"Sudah siap?" tanya Raka kembali.

"Sudah, Mas," jawab Ririn.

Raka segera memasukkan kedua tangannya ke dalam selimut. Telapak tangan Raka kini bersentuhan langsung dengan kulit pinggul Ririn yang mulus, lalu ia mulai melakukan pijatan lembut.

"Ehhmm..." desis Ririn pelan, hampir terdengar seperti bisikan.

"Rin, lemaskan saja tubuhmu," ujar Raka. "Nggak perlu tegang begitu."

"I-iya..." jawab Ririn sambil menggigit bibir bawahnya.

Raka terus melanjutkan pijatannya di area pinggul hingga merambat ke bokong Ririn. Sekilas, Raka mendengar Ririn menahan rintihan kecil.

"Sakit, Rin?" tanya Raka.

Ririn hanya menggelengkan kepalanya. Raka yang melihat reaksi itu segera meneruskan pijatannya.

"Akhhh... Mas Raka," desis Ririn.

Raka hanya melirik sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada gerakan tangannya.

Di sisi lain, Ririn sudah tidak bisa lagi menahan desahannya karena merasakan sensasi yang teramat nyaman dan nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya.

Kenapa pijatan Mas Raka bisa seenak ini, ya? Berbeda sekali dengan pijatan yang pernah kurasakan sebelumnya, batin Ririn memburu. Bahkan sensasinya sampai membuat area intimku terasa bergetar.

Raka menekan area bokong Ririn dengan ujung jari-jarinya, lalu menggerakkannya ke atas dan ke bawah secara bergantian menggunakan tangan kiri dan kanannya.

"Memangnya kamu bisa sampai kecelakaan bagaimana, Rin?" tanya Raka, mencoba mencairkan suasana yang terasa makin tegang.

"I-itu, Ririn jatuh da-dari..." Ririn menjawab pertanyaan Raka dengan terbata-bata, bahkan sesekali mendesah kecil. "Ahhh... Mas Raka, jangan ajak Ririn ngobrol dulu."

Raka sedikit terkejut mendengar Ririn yang mendadak menolak untuk diajak berbicara.

"I-iya, Rin. Nggak jadi tanya," ucap Raka bingung sambil tetap fokus melakukan pijatan.

Sial, kalau Mas Raka terus menanyakan hal lain saat sentuhannya seperti ini, batin Ririn panik, desahanku benar-benar tidak akan bisa kutahan lagi!

Raka melebarkan jari-jari tangannya, lalu menempelkan kedua telapak tangannya tepat di atas kedua belah bokong Ririn. Ia meremasnya perlahan, menggerakkannya seolah sedang menyatukan dua kepingan puzzle, lalu mendorongnya lembut ke arah atas.

"Ouhhhhh... enak, Mas Raka!" desah Ririn kencang tanpa disadarinya.

"Baguslah kalau nggak sakit," ucap Raka ketika mendengar suara Ririn.

"Di-diam, Mas Raka," ucap Ririn lirih. "Ririn malu..."

"Iya, iya," balas Raka. "Aku diam."

Raka melakukan gerakan yang sama secara berulang. Namun, makin lama ia makin meningkatkan ritme gerakannya.

Napas Ririn mulai terdengar memburu, disertai beberapa desahan yang kini lolos begitu saja dari bibirnya.

Kenapa malah semakin kencang? batin Ririn panik. Kalau seperti ini, area intimku rasanya seperti ikut tergesek!

"Ma-Mas Raka... jangan," protes Ririn pelan.

"Tahan sebentar, Rin," ucap Raka menasihati. "Kalau berhenti sekarang, nanti prosesnya nggak selesai dan kamu masih akan kesulitan berdiri."

"Ta-tapi, Mas Raka... akhh!" desis Ririn kembali.

Raka tidak menjawab. Ia berhenti sejenak, mencengkeram kedua belah bokong Ririn lebih kencang, lalu dengan satu hentakan kuat ke arah atas, tubuh Ririn mendadak bergetar hebat.

"Akhhhhhh, Mas Raka!" desah Ririn lebih keras dengan napas yang tidak teratur.

"Sekarang balikkan badanmu, Rin," ujar Raka.

"Ba-balik badan?" tanya Ririn gugup. "Kenapa harus balik badan?"

Ririn teramat malu. Jika ia membalikkan badan, Raka tentu bisa melihat ekspresi memalukan serta wajahnya yang memerah padam.

"Aku harus lanjut ke tahap terakhir supaya proses penyembuhannya selesai, Rin," jelas Raka.

Di antara rasa malu dan keinginan kuat untuk sembuh yang bercampur menjadi satu, Ririn akhirnya membalikkan tubuhnya secara perlahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 97

    "Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 96

    "Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 95

    Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 94

    Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 93

    Ucapan Raka membuat senyum di wajah Anin dan Rania langsung menghilang. Ririn yang sebelumnya masih malu karena kejadian beberapa saat lalu juga ikut menatap kartu nama tersebut dengan serius."Pak Baskoro, ayahnya Maya?" tanya Ririn memastikan.Raka mengangguk pelan sambil mengamati kartu nama di tangannya. Selain nama Pak Baskoro, di sana juga tercantum jabatan dan tempatnya bekerja."Ternyata dugaanku benar." Raka menatap kartu itu dengan serius. "Pak Baskoro ternyata seorang manajer di PT Nusa Medika Konsultan.""I-itu berarti Pak Baskoro..." Anin menggantung ucapannya dengan mata membesar.Sementara itu, Rania refleks menutup mulutnya. Wajahnya terlihat sama terkejutnya dengan Anin."Ayo keluar dulu," ujar Raka. "Kita harus membicarakan masalah ini dengan Pak Dirga dan Bunda Laras."Raka buru-buru keluar dari kamar mandi. Anin, Rania, dan Ririn mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tidak kalah cepat.Begitu Raka memasuki ruang tunggu, Bunda Laras dan Pak Dirga langsung men

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 92

    Raka yang menyadari itu suara Ririn segera bangkit dan berlari menuju sumber suara."Kenapa Kak Ririn teriak kayak gitu?" tanya Rania khawatir."Nggak tahu. Semoga nggak terjadi apa-apa," sahut Anin."Sepertinya Raka menuju kamar mandi wanita." Bunda Laras bergumam sebelum menatap Anin dan Rania. "Kalian berdua cepat susul Raka!"Anin langsung mengangguk, lalu buru-buru menarik Rania yang masih terlihat kebingungan."Rania, ayo cepat ke kamar mandi wanita!" ajak Anin tergesa-gesa.Raka tiba lebih dulu di depan kamar mandi khusus wanita yang letaknya berdekatan dengan toilet umum.Sesampainya di depan kamar mandi wanita, Raka sempat berhenti. Ia sadar tidak seharusnya masuk sembarangan, tetapi teriakan Ririn barusan membuatnya khawatir telah terjadi sesuatu. Tanpa berpikir lebih lama, Raka akhirnya memberanikan diri membuka pintu.Begitu pintu terbuka, terlihat Ririn berdiri membeku ketakutan dengan kedua tangannya merapat ke dinding di samping wastafel."Ma-Mas Raka! Cepat usir kecoak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status