Masuk"Ah, aku hampir lupa," ucap Raka. "Aku mau menemui Ibu dulu untuk minta minyak urut."
"Iya, Mas," jawab Ririn. "Ibu mungkin lagi di dapur." "Oke. Tunggu sebentar, ya," balas Raka sebelum segera keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Di dapur, Bu Ratna tampak sedang mencuci piring. Melihat itu, Raka langsung menghampirinya. "Bu, ada minyak urut?" tanya Raka. "Ada, Nak Raka," jawab Bu Ratna sambil menoleh. "Memangnya buat apa?" "Saya mau coba pijat Ririn, Bu. Siapa tahu kondisinya bisa membaik," jelas Raka. Bu Ratna tampak sedikit terkejut. "Nak Raka bisa pijat?" "Bisa, Bu," jawab Raka sambil mengangguk. "Dulu Ayah sempat mengajarkannya kepada saya." "Oh, begitu." Bu Ratna tersenyum lega. "Kalau begitu, kamu kembali saja ke kamar Ririn. Nanti Ibu yang antarkan minyak urutnya." "Baik, Bu. Terima kasih," ucap Raka sebelum kembali menuju kamar Ririn. Beberapa menit kemudian, Bu Ratna datang sambil membawa sebuah piring kecil yang di atasnya terdapat sebotol minyak urut. "Ini, Nak Raka," ujarnya sambil menyerahkan piring tersebut. "Terima kasih, Bu," balas Raka. Ia menerima piring itu, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kecil di samping tempat tidur. "Baiklah, kita mulai sekarang, ya," ucap Raka sambil mengoleskan minyak ke seluruh telapak tangannya. "Se-sebentar, Mas Raka," ucap Ririn ragu. Belum sempat Raka bertanya, Ririn sudah lebih dulu bersuara sambil mengalihkan pandangannya. "Ibu ngapain nungguin di sini?" tanya Ririn gugup. "Ibu tunggu di luar saja. Aku malu dilihatin." Raka yang mendengar keluhan Ririn hanya bisa tersenyum tipis. "Iya, iya. Dasar kamu ini," ucap Bu Ratna sebelum akhirnya beranjak keluar dari kamar Ririn. "Sudah siap?" tanya Raka kembali. "Sudah, Mas," jawab Ririn. Raka segera memasukkan kedua tangannya ke dalam selimut. Telapak tangan Raka kini bersentuhan langsung dengan kulit pinggul Ririn yang mulus, lalu ia mulai melakukan pijatan lembut. "Ehhmm..." desis Ririn pelan, hampir terdengar seperti bisikan. "Rin, lemaskan saja tubuhmu," ujar Raka. "Nggak perlu tegang begitu." "I-iya..." jawab Ririn sambil menggigit bibir bawahnya. Raka terus melanjutkan pijatannya di area pinggul hingga merambat ke bokong Ririn. Sekilas, Raka mendengar Ririn menahan rintihan kecil. "Sakit, Rin?" tanya Raka. Ririn hanya menggelengkan kepalanya. Raka yang melihat reaksi itu segera meneruskan pijatannya. "Akhhh... Mas Raka," desis Ririn. Raka hanya melirik sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada gerakan tangannya. Di sisi lain, Ririn sudah tidak bisa lagi menahan desahannya karena merasakan sensasi yang teramat nyaman dan nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Kenapa pijatan Mas Raka bisa seenak ini, ya? Berbeda sekali dengan pijatan yang pernah kurasakan sebelumnya, batin Ririn memburu. Bahkan sensasinya sampai membuat area intimku terasa bergetar. Raka menekan area bokong Ririn dengan ujung jari-jarinya, lalu menggerakkannya ke atas dan ke bawah secara bergantian menggunakan tangan kiri dan kanannya. "Memangnya kamu bisa sampai kecelakaan bagaimana, Rin?" tanya Raka, mencoba mencairkan suasana yang terasa makin tegang. "I-itu, Ririn jatuh da-dari..." Ririn menjawab pertanyaan Raka dengan terbata-bata, bahkan sesekali mendesah kecil. "Ahhh... Mas Raka, jangan ajak Ririn ngobrol dulu." Raka sedikit terkejut mendengar Ririn yang mendadak menolak untuk diajak berbicara. "I-iya, Rin. Nggak jadi tanya," ucap Raka bingung sambil tetap fokus melakukan pijatan. Sial, kalau Mas Raka terus menanyakan hal lain saat sentuhannya seperti ini, batin Ririn panik, desahanku benar-benar tidak akan bisa kutahan lagi! Raka melebarkan jari-jari tangannya, lalu menempelkan kedua telapak tangannya tepat di atas kedua belah bokong Ririn. Ia meremasnya perlahan, menggerakkannya seolah sedang menyatukan dua kepingan puzzle, lalu mendorongnya lembut ke arah atas. "Ouhhhhh... enak, Mas Raka!" desah Ririn kencang tanpa disadarinya. "Baguslah kalau nggak sakit," ucap Raka ketika mendengar suara Ririn. "Di-diam, Mas Raka," ucap Ririn lirih. "Ririn malu..." "Iya, iya," balas Raka. "Aku diam." Raka melakukan gerakan yang sama secara berulang. Namun, makin lama ia makin meningkatkan ritme gerakannya. Napas Ririn mulai terdengar memburu, disertai beberapa desahan yang kini lolos begitu saja dari bibirnya. Kenapa malah semakin kencang? batin Ririn panik. Kalau seperti ini, area intimku rasanya seperti ikut tergesek! "Ma-Mas Raka... jangan," protes Ririn pelan. "Tahan sebentar, Rin," ucap Raka menasihati. "Kalau berhenti sekarang, nanti prosesnya nggak selesai dan kamu masih akan kesulitan berdiri." "Ta-tapi, Mas Raka... akhh!" desis Ririn kembali. Raka tidak menjawab. Ia berhenti sejenak, mencengkeram kedua belah bokong Ririn lebih kencang, lalu dengan satu hentakan kuat ke arah atas, tubuh Ririn mendadak bergetar hebat. "Akhhhhhh, Mas Raka!" desah Ririn lebih keras dengan napas yang tidak teratur. "Sekarang balikkan badanmu, Rin," ujar Raka. "Ba-balik badan?" tanya Ririn gugup. "Kenapa harus balik badan?" Ririn teramat malu. Jika ia membalikkan badan, Raka tentu bisa melihat ekspresi memalukan serta wajahnya yang memerah padam. "Aku harus lanjut ke tahap terakhir supaya proses penyembuhannya selesai, Rin," jelas Raka. Di antara rasa malu dan keinginan kuat untuk sembuh yang bercampur menjadi satu, Ririn akhirnya membalikkan tubuhnya secara perlahan."Itu, Mas Raka," ucap Anin malu-malu. "Kita mau pesan terapi relaksasi."Raka sempat terdiam sambil menatap ketiga wanita di dekatnya."Kalian pasti lelah, ya?" tanya Raka. "Atau kalian mau libur?"Wajah Anin dan Rania seketika menunjukkan kekecewaan karena Raka tidak memahami maksud mereka. Mereka sebenarnya hanya ingin dipijat oleh Raka, bukan karena merasa lelah, melainkan karena ingin kembali merasakan sensasi yang mereka rasakan setiap kali mendapatkan pijatan darinya."Ehm... nggak kok, Mas Raka," jawab Anin. "Kita cuma mau dipijat aja.""Oh, ya sudah kalau begitu," jawab Raka sambil tersenyum. "Besok atau lusa aku akan memijat kalian bergantian."Ririn menoleh ke arah Anin dan Rania, lalu mengangguk senang."Mantap... Kita dipijat lagi sama Mas Raka," seru Anin dengan wajah ceria."Iya, nih. Sudah lama nggak merasakan pijatan Mas Raka," sambung Rania malu-malu."Dasar kalian ini," ucap Raka sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.Beberapa saat kemudian, Pak Dirga dan Bunda L
"Surat ini berisi undangan untuk menghadiri Forum Komunikasi & Edukasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Alternatif," jelas Raka."Tunggu, Pak Raka," sela Pak Fajar sambil mengernyitkan dahi. "Aku merasa ada yang janggal dengan forum itu."Raka dan yang lainnya langsung menatap Pak Fajar dengan serius."Rumor apa, Pak Fajar?" tanya Raka. "Bisakah Anda menjelaskannya?""Jadi, waktu saya masih menempuh pendidikan..."Pak Fajar kemudian mulai menjelaskan. Saat masih menempuh pendidikan fisioterapi, ia sempat mempelajari teknik pijat tradisional. Namun, salah seorang seniornya pernah mengingatkan agar dirinya tidak terlalu mendalami terapi tradisional.Alasannya, organisasi kesehatan modern tidak menyukai praktik tersebut. Jika Pak Fajar tetap menggabungkan keahliannya dengan terapi tradisional, ia dikhawatirkan akan mengalami kesulitan ketika mencari pekerjaan."Awalnya aku tidak percaya," lanjut Pak Fajar. "Tapi setelah aku mencoba melamar pekerjaan dengan menyertakan keahlia
Kalimat itu membuat Kiera terdiam. Perempuan itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah mencerna perkataan Raka, sebelum akhirnya kembali menatap lelaki di hadapannya."Terima kasih, Raka," ucap Kiera. "Aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh semua pihak. Aku akan berusaha sebaik mungkin."Raka tersenyum, lalu menepuk bahu Kiera. "Bagus. Tapi ingat, jangan memaksakan diri.""Iya, Raka. Tenang saja," gerutu Kiera. "Kamu ini selalu saja menyuruhku untuk nggak memaksakan diri, padahal aku sendiri nggak melakukan apa-apa."Raka tersenyum mendengar celotehan Kiera. Begitu juga dengan yang lainnya. Suasana yang sebelumnya sempat terasa canggung di antara Raka dan Kiera pun kini perlahan mencair. Kiera bahkan sudah bisa kembali bercanda seperti biasanya."Sepertinya sudah cukup untuk hari ini," sahut Pak Fajar, lalu menoleh ke arah Maharani. "Bu Maharani, aku memiliki sebuah ide.""Ide? Jelaskan padaku," tanggap Maharani."Daripada kita bolak-balik untuk melatih Kiera di f
Raka hendak menjawab pertanyaan Maharani, tetapi suara dari arah belakang membuatnya menoleh."Aku ditinggal begitu saja. Parah banget!" seru Kiera. Namun, ketika tatapan mereka bertemu, wajah Kiera kembali memerah sebelum akhirnya ia segera memalingkan wajah, berusaha mengabaikan ingatan tentang sesi terapi tadi.Melihat perubahan ekspresi Kiera, Raka hanya bisa menghela napas. Ia bahkan mulai berpikir bahwa kejadian selama terapi tadi mungkin akan membuat Kiera merasa canggung atau bahkan marah kepadanya."Ya, kan, kamu tadi tidur," jawab Raka, berusaha bersikap santai. "Masa aku tungguin sambil bengong?""A-aku nggak tidur, kok," ucap Kiera tanpa menatap Raka.Maharani yang melihat keanehan sikap Kiera langsung menatap Raka dengan curiga."Raka, kamu habis melakukan apa dengan Kiera?" sahut Maharani.Raka dan Kiera tersentak kaget mendengar pertanyaan itu, sementara Ririn terlihat tersenyum kecil karena mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang terapi."Memangnya apa lagi ya
Nadi Ketujuh memiliki fungsi penting dalam tahap pemulihan Kiera. Ketahanan dan kekuatan tubuh bagian bawah sangat dipengaruhi oleh nadi tersebut.Namun, karena Nadi Ketujuh berdekatan dengan nadi terlarang yang memiliki efek sensual, Kiera tidak bisa menahan gejolak hasrat yang muncul di dalam dirinya."Ayo, Raka, teruskan," desis Kiera. "Aku sangat menikmatinya."Raka tidak menjawab apa pun. Ia tetap fokus melakukan pijatan sambil mengalirkan energinya secara perlahan dan terukur.Suara desahan Kiera semakin jelas terdengar. Ia tidak lagi berusaha menahannya dan mulai mencoba menikmati setiap sensasi yang dirasakannya.Ririn yang masih mengintip bersandar pada dinding di dekat tirai. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara desahan Kiera yang semakin keras."Kenapa tubuhku terasa panas?" gumam Ririn pelan.Tanpa sadar, ia menyentuh dadanya sendiri, bahkan mulai meremasnya perlahan. Wajahnya memerah saat merasakan sentuhannya sendiri."Ehm... ahh..." desah Kiera pelan.Raka m
"Ra-Raka..." ucap Kiera terbata. "Bisakah kamu menggunakan cara lain?""Cara lain? Memangnya kenapa?" tanya Raka sambil tetap melakukan pijatan pada bagian panggul kanan Kiera."Nggak apa-apa," jawab Kiera tertahan.Raka tampak bingung, tetapi ia tidak terlalu memikirkan perkataan Kiera dan kembali memusatkan perhatian pada terapinya.Kiera merapatkan rahang. Bukan karena sakit, melainkan karena sedang berusaha menahan sensasi nikmat yang mulai dirasakannya."Akh... Raka!" desis Kiera ketika Raka memberikan tekanan pada area panggulnya."Apakah sakit?" tanya Raka."Ti-tidak." Kiera menarik napas pelan. "Teruskan saja terapinya.""Oke." Raka mengangguk. "Sekarang aku akan melakukan pijatan pada bagian pangkal tulang belakang."Mendengar ucapan tersebut, Kiera mulai membayangkan sensasi seperti apa yang akan dirasakannya. Apalagi letak pangkal tulang belakang cukup dekat dengan area intimnya.Raka mulai menyentuh area pangkal tulang belakang dan mengurutnya perlahan sambil tetap mengali







