Share

Chapter 7

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-07-20 07:18:03

“Ririn, perutmu kelihatan,” ucap Raka sambil buru-buru memalingkan wajah.

“Eh!” Ririn refleks menarik selimut hingga kembali menutupi bagian perutnya yang sempat terbuka.

“Mas Raka, ih...” gerutunya sambil cemberut. “Nanti aku bilang ke Ibu, ya!”

“Lho, kok aku?” Raka menatapnya bingung. “Aku cuma memberi tahu supaya kamu menutupinya.”

“Iya... iya...” balas Ririn pelan sambil memajukan bibirnya.

Melihat perubahan ekspresi Ririn yang begitu cepat, Raka hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Mereka memang sudah saling mengenal sejak kecil. Setelah ayah Raka meninggal, hubungan keduanya bahkan menjadi semakin akrab sehingga percakapan seperti itu sudah biasa terjadi.

“Ayo, kita lanjutkan pemeriksaannya,” ujar Raka.

Ririn mengangguk pelan. Tanpa sadar, jemarinya meremas ujung selimut yang sedang digenggam.

Raka menuangkan sedikit minyak urut ke telapak tangannya, lalu menggosokkannya hingga merata. Setelah itu, ia mulai memijat area sekitar pinggul Ririn dengan gerakan perlahan dan terarah.

“Ririn, coba lebih rileks,” ucap Raka. “Setiap kali aku mulai memijat, tubuhmu selalu menegang.”

Dasar Mas Raka... tidak peka, batin Ririn. Aku tegang karena berusaha menahan reaksi agar tidak terlihat memalukan.

“Iya, Mas,” jawab Ririn pelan. “Aku sudah berusaha rileks, kok.”

Jarinya Raka mulai menekan lembut paha Ririn, memberi urutan perlahan yang makin merambat naik hingga seketika membuat Ririn memalingkan wajah, tergagap menahan napas dan suara yang siap pecah.

Waktu berlalu, tubuh Ririn terlihat mulai sulit dikendalikan. Setiap kali Raka melakukan pijatan, sesekali tubuh Ririn terangkat sambil melenguh.

"Ehmm... akhh...." desah Ririn.

Raka terus fokus sambil sesekali menoleh ke arah Ririn, memastikan tidak ada yang salah dari ekspresinya. Namun, ketika melihat ekspresi Ririn, ia menjadi sedikit bingung antara melihat rasa sakit atau justru kenikmatan.

Sentuhan Raka kini mulai mendekati area intim Ririn. Raka melakukan pijatan tepat di bawah pusar.

"Ma-Mas Raka... ja-jangan di situ..." desis Ririn pelan.

Raka tidak bisa menghentikannya karena di sanalah titik kehidupan yang bernama Pilar Naga terletak. Titik itu memiliki fungsi menopang seluruh jaringan saraf serta menguatkan postur tubuh.

"Tahan sebentar, mungkin akan terasa sakit," ucap Raka.

Bagaimana bisa aku menahan rasa nikmat ini? batin Ririn pasrah. Awas kamu, Mas Raka!

"Ouhhh... yahh... ehmmm," desah Ririn.

Raka kini memegang pinggul bagian kanan dan kiri Ririn, lalu menghentakkannya hingga membuat pinggul Ririn berbunyi krak.

Napas Ririn kini terdengar lebih rileks setelah Raka melakukan gerakan tersebut.

"Aku akan melakukan pemijatan akhir," ucap Raka.

"I-iya, lakukan, Mas," jawab Ririn yang kini memasrahkan dirinya tanpa penolakan.

Raka mulai menekan bagian tengah pinggul Ririn, yang jaraknya berada di tengah-tengah antara pusar dan area intimnya. Lalu, ia melakukan gerakan memutar searah jarum jam.

Tubuh Ririn tiba-tiba menegang dan menggeliat hebat, disertai desahan yang terdengar semakin keras.

"Akhhh... terus, Mas Raka!" ucap Ririn dengan napas memburu. "Lagi, Mas... lebih cepat!"

Raka menaikkan ritme gerakannya sambil menambahkan tekanan pada area itu hingga mencapai puncaknya.

"Enak, Mas... akhhhhh...." Desah panjang Ririn terdengar bergetar, sekaligus mengakhiri sesi pijat tersebut.

Raka yang baru saja selesai segera mengusap keningnya yang sedikit berkeringat menggunakan punggung tangannya.

"Akhirnya selesai juga," ucap Raka. "Coba kamu berdiri, Rin. Sudah bisa atau belum?"

Ririn tidak menjawab. Ia tampak memalingkan wajahnya dengan dada yang naik turun secara teratur.

"Ririn...?" panggil Raka.

Namun, Ririn kembali tidak menjawab. Malah tiba-tiba ia tengkurap sambil membenamkan wajahnya di bantal.

"Ririn, kamu kenapa?" tanya Raka sedikit cemas.

Raka mencoba mendekati kepala Ririn, namun tiba-tiba Ririn berbalik dan langsung meninju perut Raka.

"A-A-duh duhhh..." rintih Raka sedikit kesakitan. "Kenapa kamu memukulku?"

"Rasakan itu! Karena Mas Raka sudah membuatku terlihat memalukan!" ucap Ririn sambil tersenyum malu.

Raka hanya menggelengkan kepala sambil memegangi perutnya.

"Sudah, cepat berdiri!" perintah Raka. "Aku ingin melihat apakah pengobatannya sudah berhasil atau belum."

Ririn menjulurkan lidahnya sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur dan mencoba berdiri.

Ririn yang sebelumnya kesulitan untuk berdiri, kini terlihat bisa bergerak dengan santai, bahkan tidak kesulitan sama sekali saat menopang tubuhnya.

"A-aku bisa berdiri, Mas!" ucap Ririn senang sambil menatap kedua kakinya.

"Masih ada yang sakit tidak?" tanya Raka.

"Tidak ada, Mas," jawab Ririn tersenyum sambil menatap Raka.

"Sekarang coba berjalan," perintah Raka. "Jika tidak terasa sakit, coba untuk melompat beberapa kali."

Ririn mengikuti perintah Raka. Ia mencoba berjalan perlahan, lalu mempercepat langkahnya. Bahkan ketika merasa semuanya sudah membaik, Ririn melompat-lompat seperti anak kecil.

"Mas Raka, aku sangat senang bisa kembali beraktivitas seperti biasa!" ucap Ririn kegirangan.

Namun tiba-tiba pintu terbuka. Ririn yang kaget terpeleset, tetapi Raka dengan cepat menangkap tubuh Ririn yang hampir terjatuh.

Ririn dan Raka segera melihat ke arah pintu untuk memastikan siapa yang membuka pintu secara tiba-tiba.

"I-I-Ibuuuuu...!" teriak Ririn kesal karena lagi-lagi ibunya membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 13

    Usai meratakan minyak di telapak tangannya, Raka mulai memijat. Ia mengurut perlahan dari area tengah alis hingga ke ubun-ubun, dilanjutkan dengan sentuhan lembut di sekitar kepala."Tanganmu halus sekali, Raka..." bisik Tante Mira.Raka hanya menyunggingkan senyum tipis, memilih diam agar tetap fokus pada pekerjaannya."Bagaimana rasanya, Tante?" tanya Raka berhati-hati saat menekan titik tertentu."Pijatanmu membuatku merasa sangat nyaman," sahut Tante Mira merem melek.Raka melanjutkan gerak jemarinya, sesekali kembali menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan."Ahhh... Nikmat sekali pijatanmu, Raka," desis Tante Mira kian menggebu.Waktu berlalu, kini Raka mengalihkan fokusnya pada peremajaan otot di sepanjang area tulang belakang. Jalur ini merupakan akses menuju titik vital bernama mata air kehidupan, yang terletak persis di dekat tulang pangkal.Tante Mira tampak begitu terhanyut oleh pijatan Raka. Desa

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 12

    Di ruang tamu, Raka duduk berhadapan dengan pemilik rumah, seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun yang akan menjadi pasiennya. Di samping wanita itu duduk wanita cantik yang tadi menyambut kedatangannya di depan pintu.“Kamu cukup tampan, Anak Muda,” puji nenek itu sambil mengangguk pelan.“Terima kasih, Nek,” balas Raka sambil tersenyum.“Jangan panggil aku nenek. Aku belum setua itu,” protes wanita itu sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Panggil saja aku Tante Mira.”“Ba-baik, Tante Mira,” jawabnya sedikit kaku.“Nenek, ayo bersiap,” sela wanita muda di sampingnya sambil tersenyum geli. “Jangan menggoda Mas Terapis terus.”“Berisik sekali cucuku ini,” gerutu Tante Mira. Ia kembali menatap Raka dengan penuh rasa ingin tahu. “Oh ya, siapa namamu, Anak Muda?”“Nama saya Raka, Tante,” jawab Raka sopan. “Kalau Tante sudah siap, kita bisa mulai terapinya.”“Kenapa buru-buru sekali?” tanya Tante

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 11

    “Pijat panggilan?” ulang Raka sambil menatap Ririn.“Iya, Mas,” jawab Ririn antusias. “Mas bisa memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan. Lagi pula, menurutku kemampuan pijat Mas sudah sangat mantap.”Raka terdiam. Wajahnya memperlihatkan keraguan. Dari yang ia tahu pekerjaan sebagai tukang pijat tidak terlalu menjanjikan dan sulit menghasilkan penghasilan yang besar.“Ibu juga setuju dengan usul Ririn,” timpal Bu Ratna. “Buktinya, pijatanmu berhasil menyembuhkan Ririn dalam waktu singkat.”“Tapi, Bu...” ucap Raka ragu.Bu Ratna kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya ia harus membayar tukang pijat sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk satu kali terapi. Menurutnya, dengan modal yang relatif kecil, keuntungan seorang tukang pijat bisa sangat besar.“Kalau kemampuanmu memang sebagus itu, kenapa tidak dicoba?” ujar Bu Ratna. “Siapa tahu justru di situlah rezekimu.”Raka mengangguk pelan. Penjelasan Bu Ratna me

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 10

    Hendra menyeringai sinis sambil melepaskan jas mahal yang dikenakannya. “Aku akan membuatmu terbaring di rumah sakit selama beberapa hari.”Raka sama sekali tidak gentar. Ia hanya menggeleng pelan sebelum menatap Hendra dengan sorot mata dingin.“Dua orang yang kau kirim untuk menghajarku saja sudah kubuat babak belur,” ucap Raka tenang. “Sekarang kau sendiri yang datang menantangku. Kalau begitu, majulah. Kita lihat siapa yang akhirnya terbaring di rumah sakit.”Hendra langsung melesat maju. Sebuah pukulan right hook bertenaga penuh meluncur cepat mengincar rahang kiri Raka.Namun, Raka dengan tenang menahan pukulan itu menggunakan telapak tangannya. Dalam sekejap, ia mencengkeram kepalan tangan Hendra, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi sendi berderak.“Aaargh...!” Hendra meringis kesakitan.“Apa cuma segini kemampuanmu?” ejek Raka.“K-kurang ajar...! Lepaskan tanganku!” pekik Hendra sambil berusaha melepaskan diri

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 9

    "Sidang perkara perceraian antara Penggugat, Saudari Maya, melawan Tergugat, Saudara Raka, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua membuka persidangan.Suara ketukan palu menggema memenuhi ruangan. Hakim kemudian memandang ke arah Maya."Saudari Penggugat, silakan jelaskan alasan Saudari mengajukan gugatan cerai," perintah Hakim Ketua.Maya berdiri perlahan, lalu menoleh singkat ke arah Raka sambil menyunggingkan senyum sinis di bibirnya."Yang Mulia, saya mengajukan gugatan ini karena suami saya sudah tidak mampu lagi memberikan nafkah yang layak kepada keluarga kami," jelas Maya."Selain itu, selama satu tahun pernikahan, kami juga tidak pernah dikaruniai anak. Saya telah melakukan pemeriksaan medis dan tidak ditemukan masalah kesehatan apa pun yang memengaruhi organ reproduksi saya," lanjut Maya.Mendengar alasan itu, Raka tetap tenang. Ia hanya membalas dengan senyum tipis.Hakim mencatat seluruh keterangan tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Raka."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 8

    “Ririn, kamu sudah bisa berdiri?” seru Bu Ratna sambil bergegas masuk ke dalam kamar.Raka buru-buru melepaskan tangkapannya, sementara Ririn segera berdiri tegak dan merapikan pakaiannya.“Ririn sudah berkali-kali bilang, kalau mau masuk kamar itu ketuk pintunya dulu,” gerutu Ririn dengan wajah kesal.Bu Ratna hanya tersenyum canggung. Ia langsung menghampiri Ririn, memegang kedua lengannya, lalu memeluk putrinya erat.“Maaf ya, Rin. Ibu memang suka lupa kalau tidak ingat,” ucap Bu Ratna.Mendengar jawaban itu, Raka spontan memalingkan wajah sambil menahan tawanya.“Ya jelas saja lupa kalau tidak ingat, Bu,” balas Ririn sambil terkekeh dan membalas pelukan ibunya.“Ibu senang sekali kamu sudah bisa berdiri lagi,” ucap Bu Ratna setelah melepaskan pelukannya.“Iya, Bu. Ini semua berkat Mas Raka,” jawab Ririn sambil tersenyum ke arah Raka.Bu Ratna kemudian menoleh kepada Raka dengan wajah penuh rasa syukur.“Nak Raka, terima kasih banyak, ya. Ibu benar-benar tidak menyangka ternyata ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status