LOGIN"Rin, perutmu kelihatan," ucap Raka sambil buru-buru memalingkan wajah.
"Eh!" Ririn refleks menarik selimut hingga kembali menutupi bagian perutnya yang sempat terbuka. "Mas Raka, ih..." gerutunya sambil cemberut. "Awas, nanti aku bilang ke Ibu!" "Lho, kok aku?" Raka menatapnya bingung. "Aku cuma kasih tahu supaya kamu menutupinya." "Iya... iya..." balas Ririn pelan sambil memajukan bibirnya. Melihat perubahan ekspresi Ririn yang begitu cepat, Raka hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Mereka memang sudah saling mengenal sejak kecil. Setelah ayah Raka meninggal, hubungan keduanya bahkan menjadi semakin akrab sehingga percakapan seperti itu sudah biasa terjadi. "Ayo, kita lanjutkan pemeriksaannya," ujar Raka. Ririn mengangguk pelan. Tanpa sadar, jemarinya meremas ujung selimut yang sedang digenggam. Raka menuangkan sedikit minyak urut ke telapak tangannya, lalu menggosokkannya hingga merata. Setelah itu, ia mulai memijat area sekitar pinggul Ririn dengan gerakan perlahan dan terarah. "Rin, coba lebih rileks," ucap Raka. "Setiap kali aku mulai memijat, tubuhmu selalu tegang." Dasar Mas Raka... nggak peka, batin Ririn. Aku tegang karena berusaha menahan reaksi agar tidak terlihat memalukan. "Iya, Mas," jawab Ririn pelan. "Aku sudah berusaha rileks, kok." Jari Raka mulai menekan lembut paha Ririn, memberi urutan perlahan yang makin merambat naik hingga seketika membuat Ririn memalingkan wajah, tergagap menahan napas dan suara yang siap pecah. Waktu berlalu, tubuh Ririn terlihat mulai sulit dikendalikan. Setiap kali Raka melakukan pijatan, sesekali tubuh Ririn terangkat sambil melenguh. "Ehmm... akhh..." desah Ririn. Raka terus fokus sambil sesekali menoleh ke arah Ririn, memastikan tidak ada yang salah dari ekspresinya. Namun, ketika melihat ekspresi Ririn, ia menjadi sedikit bingung apakah Ririn sedang merasa sakit atau justru menikmati pijatannya. Sentuhan Raka kini mulai mendekati area intim Ririn. Raka melakukan pijatan tepat di bawah pusar. "Ma-Mas Raka... ja-jangan di situ..." desis Ririn pelan. Raka tidak bisa menghentikannya karena di sanalah titik kehidupan yang bernama Pilar Naga terletak. Titik itu memiliki fungsi menopang seluruh jaringan saraf serta menguatkan postur tubuh. "Tahan sebentar, mungkin akan terasa sakit," ucap Raka. Bagaimana bisa aku menahan rasa nikmat ini? batin Ririn pasrah. Awas kamu, Mas Raka! "Ouhhh... yahh... ehmmm," desah Ririn. Raka kini memegang pinggul bagian kanan dan kiri Ririn, lalu menghentakkannya hingga membuat pinggul Ririn berbunyi krak. Napas Ririn kini terdengar lebih rileks setelah Raka melakukan gerakan tersebut. "Aku akan melakukan pijatan terakhir," ucap Raka. "I-iya, lakukan saja, Mas," jawab Ririn yang kini memasrahkan dirinya tanpa penolakan. Raka mulai menekan bagian tengah pinggul Ririn, yang jaraknya berada di tengah-tengah antara pusar dan area intimnya. Lalu, ia melakukan gerakan memutar searah jarum jam. Tubuh Ririn tiba-tiba menegang dan menggeliat hebat, disertai desahan yang terdengar semakin keras. "Akhhh... terus, Mas Raka!" ucap Ririn dengan napas memburu. "Lagi, Mas... lebih cepat!" Raka menaikkan ritme gerakannya sambil menambahkan tekanan pada area itu hingga mencapai puncaknya. "Enak, Mas... akhhhhh..." Desah panjang Ririn terdengar bergetar, sekaligus mengakhiri sesi pijat tersebut. Raka yang baru saja selesai segera mengusap keningnya yang sedikit berkeringat menggunakan punggung tangannya. "Akhirnya selesai juga," ucap Raka. "Coba berdiri, Rin. Sudah bisa atau belum?" Ririn tidak menjawab. Ia tampak memalingkan wajahnya dengan dada yang naik turun secara teratur. "Rin...?" panggil Raka. Namun, Ririn kembali tidak menjawab. Malah tiba-tiba ia tengkurap sambil membenamkan wajahnya di bantal. "Rin, kamu kenapa?" tanya Raka sedikit cemas. Raka mencoba mendekati kepala Ririn, tetapi tiba-tiba Ririn berbalik dan langsung meninju perut Raka. "A-aduh..." rintih Raka sedikit kesakitan. "Kenapa malah pukul aku?" "Rasakan! Mas Raka sudah bikin aku malu!" ucap Ririn sambil tersenyum malu. Raka hanya menggelengkan kepala sambil memegangi perutnya. "Sudah, cepat berdiri!" perintah Raka. "Aku mau lihat pengobatannya berhasil atau nggak." Ririn menjulurkan lidahnya sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur dan mencoba berdiri. Ririn yang sebelumnya kesulitan untuk berdiri, kini terlihat bisa bergerak dengan santai, bahkan tidak kesulitan sama sekali saat menopang tubuhnya. "A-aku bisa berdiri, Mas!" ucap Ririn senang sambil menatap kedua kakinya. "Masih ada yang sakit nggak?" tanya Raka. "Nggak ada, Mas," jawab Ririn sambil tersenyum menatap Raka. "Sekarang coba jalan," perintah Raka. "Kalau nggak terasa sakit, coba lompat beberapa kali." Ririn mengikuti perintah Raka. Ia mencoba berjalan perlahan, lalu mempercepat langkahnya. Bahkan ketika merasa semuanya sudah membaik, Ririn melompat-lompat seperti anak kecil. "Mas Raka, aku senang banget! Akhirnya aku bisa beraktivitas seperti biasa lagi!" ucap Ririn kegirangan. Namun, tiba-tiba pintu terbuka. Ririn yang kaget terpeleset, tetapi Raka dengan cepat menangkap tubuh Ririn yang hampir terjatuh. Ririn dan Raka segera melihat ke arah pintu untuk memastikan siapa yang membukanya secara tiba-tiba. "I-I-Ibuuuuu...!" teriak Ririn kesal karena lagi-lagi ibunya membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu."Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se
"Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani
Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon
Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."
Ucapan Raka membuat senyum di wajah Anin dan Rania langsung menghilang. Ririn yang sebelumnya masih malu karena kejadian beberapa saat lalu juga ikut menatap kartu nama tersebut dengan serius."Pak Baskoro, ayahnya Maya?" tanya Ririn memastikan.Raka mengangguk pelan sambil mengamati kartu nama di tangannya. Selain nama Pak Baskoro, di sana juga tercantum jabatan dan tempatnya bekerja."Ternyata dugaanku benar." Raka menatap kartu itu dengan serius. "Pak Baskoro ternyata seorang manajer di PT Nusa Medika Konsultan.""I-itu berarti Pak Baskoro..." Anin menggantung ucapannya dengan mata membesar.Sementara itu, Rania refleks menutup mulutnya. Wajahnya terlihat sama terkejutnya dengan Anin."Ayo keluar dulu," ujar Raka. "Kita harus membicarakan masalah ini dengan Pak Dirga dan Bunda Laras."Raka buru-buru keluar dari kamar mandi. Anin, Rania, dan Ririn mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tidak kalah cepat.Begitu Raka memasuki ruang tunggu, Bunda Laras dan Pak Dirga langsung men
Raka yang menyadari itu suara Ririn segera bangkit dan berlari menuju sumber suara."Kenapa Kak Ririn teriak kayak gitu?" tanya Rania khawatir."Nggak tahu. Semoga nggak terjadi apa-apa," sahut Anin."Sepertinya Raka menuju kamar mandi wanita." Bunda Laras bergumam sebelum menatap Anin dan Rania. "Kalian berdua cepat susul Raka!"Anin langsung mengangguk, lalu buru-buru menarik Rania yang masih terlihat kebingungan."Rania, ayo cepat ke kamar mandi wanita!" ajak Anin tergesa-gesa.Raka tiba lebih dulu di depan kamar mandi khusus wanita yang letaknya berdekatan dengan toilet umum.Sesampainya di depan kamar mandi wanita, Raka sempat berhenti. Ia sadar tidak seharusnya masuk sembarangan, tetapi teriakan Ririn barusan membuatnya khawatir telah terjadi sesuatu. Tanpa berpikir lebih lama, Raka akhirnya memberanikan diri membuka pintu.Begitu pintu terbuka, terlihat Ririn berdiri membeku ketakutan dengan kedua tangannya merapat ke dinding di samping wastafel."Ma-Mas Raka! Cepat usir kecoak







