Share

Bab 2

Author: Caca
Dua jam akhirnya berlalu. Seorang dayang di belakangku maju membantuku berdiri.

Menatap lututku yang hancur berdarah-darah, anehnya aku tak merasakan sakit sedikit pun.

Ternyata, ketika rasa sakit mencapai puncaknya, tubuh akan menjadi mati rasa. Sama seperti dulu, saat kayu sebesar pergelangan tangan dihantamkan keras ke kakiku, aku pun tak merasakan apa-apa.

Demi menenangkan Bagas yang tampak khawatir, aku bahkan memaksakan diri untuk menari di hadapannya.

"Yang Mulia, hamba baik-baik saja. Sungguh, tidak sakit sama sekali ...."

Waktu itu, dia memelukku dengan penuh kasih, matanya merah pekat seolah hendak meneteskan darah. "Maya, aku bersumpah, hari saat aku menjadi Raja, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun."

Suara Bagas yang penuh kasih dari belakang membuyarkan lamunanku. "Ratih, kudengar kamu paling menyukai lampion terbang. Bagaimana kalau kubawa kamu melihat lampion terbang terindah di dunia ini?"

Aku tidak menoleh, melainkan bersandar pada dinding istana dan melangkah perlahan.

Malam itu sungguh memesona. Ribuan lampion terbang menyala dan perlahan melayang ke angkasa. Pemandangannya begitu indah hingga membuat siapa pun terpukau.

Di sepanjang koridor, para dayang dan pelayan terus berlalu-lalang. Menatap lampion yang memenuhi langit, mereka tak bisa menahan decak kagum.

"Yang Mulia sungguh baik pada Nona Ratih. Melihat gelagatnya, sepertinya dia akan dinobatkan sebagai Ratu dalam waktu dekat."

"Tentu saja! Asal Nona Ratih mau membuka mulut, besok juga Yang Mulia pasti langsung mengangkatnya menjadi Ratu."

"Lalu, bagaimana dengan Bibi Maya di Istana Kaputren? Biar kuberi tahu kalian sebuah rahasia. Waktu aku bertugas jaga malam, aku tidak sengaja melihat Yang Mulia menyusup ke kamar Bibi Maya. Malam itu, suara desahan tak berhenti terdengar. Aku bahkan mendengar Yang Mulia memintanya untuk tidak pernah meninggalkan beliau."

"Mana mungkin! Dengan status Yang Mulia yang begitu tinggi, masa beliau mau menyelinap ke kamar dayang senior, apalagi sampai mengatakan hal seperti itu? Lagi pula, Bibi Maya itu 'kan sudah menemani Yang Mulia sejak kecil. Paling banter cuma dayang penghangat ranjang, sih."

"Betul. Kalau tidak, kenapa Yang Mulia tidak menjadikannya selir?"

"Dengan latar belakangnya yang seperti itu, jadi dayang senior saja sudah lebih dari cukup. Masa sih dia masih bermimpi jadi selir?"

Suara mereka makin menjauh, hingga tak ada lagi yang bisa kudengar dengan jelas.

Aku berdiri terpaku di tempat, mengukir senyum getir.

Belakangan ini aku juga terus memikirkan, sebenarnya apa hubunganku dengan Bagas, tetapi sampai sekarang aku tak kunjung mendapat jawabannya.

Ternyata benar seperti kata mereka, aku hanyalah seorang dayang penghangat ranjang.

Namun, kalau memang cuma dayang penghangat ranjang, kenapa dia harus mengucapkan kata-kata itu padaku?

Kenapa dia memintaku untuk tidak pernah meninggalkannya? Kenapa di saat-saat rapuhnya, dia memelukku dan berkata bahwa dia hanya punya aku?

Kenapa, Bagas? Aku sungguh tidak mengerti.

Aku tahu kedudukannya tinggi dan mulia, sedangkan aku serendah semut. Namun, setelah bertahun-tahun menemaninya, dia tidak boleh sekadar mengambil tubuhku, lalu mencuri hatiku.

Setelah kembali ke kamar, aku asal-asalan mengoleskan obat ke lukaku lalu pergi tidur.

Tengah malam, terdengar suara gaduh dari arah jendela. Saat kubuka mata, Bagas sudah berbaring di sisiku.

Dia memelukku dari samping, mendekap seluruh tubuhku dalam pelukannya. Suaranya terdengar serak, "Maya, sepertinya aku sudah kecanduan. Setiap malam kalau tidak memelukmu, aku tidak bisa tidur."

"Belakangan ini aku sering teringat pemandangan berdarah itu. Cuma saat kamu ada di sisiku, hatiku baru bisa tenang."

Mengingat kejadian hari ini, raut wajahku tetap datar. Aku pun perlahan mendorongnya menjauh. "Yang Mulia, ini tidak pantas. Seharusnya Yang Mulia menemani Nona Ratih."

Dia tak mau melepaskan pelukannya, nadanya pun melembut, "Kamu marah, ya, karena tadi aku tidak membelamu?"

"Ratih sudah terbiasa manja sejak kecil, dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Aku tak tega membentaknya."

"Mulai sekarang, kamu banyak mengalah padanya, ya. Aku sudah bawakan salep terbaik untukmu. Kalau dioleskan, lukamu akan cepat sembuh."

Jadi, karena sejak kecil dia terbiasa dimanjakan, dia memang pantas menerima segala kasih sayang. Sedangkan aku yang sejak kecil sudah rendah, jadi tidak masalah seberapa keras aku disakiti, begitu?

Aku tersenyum pahit, lalu mendorongnya lebih keras. Namun, dia justru memelukku makin erat.

"Sudah, nurut saja. Jangan rewel."

"Maya, hari ini aku benar-benar bahagia."

"Dia tidak hanya membuatkan kue untukku, tapi juga bersandar di pelukanku dengan sukarela. Kamu tahu sudah berapa lama aku menantikan momen ini?"

"Menurutmu, apa suatu hari nanti dia akan bersedia menjadi Ratuku?"

Aku memejamkan mata, menghela napas pelan.

Beberapa saat kemudian, aku menjawab, "Tentu. Tak lama lagi Yang Mulia akan mendapatkan apa yang diinginkan."

Dia akan mendapatkan wanita yang dicintainya, dan aku akan pergi.

Selama bertahun-tahun ini aku telah menyingkirkan begitu banyak rintangan untuknya. Dan untuk terakhir kalinya, rintangan yang kusingkirkan adalah diriku sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 24

    Satu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 23

    Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 22

    Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 21

    Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 20

    Tepat saat kami sedang larut dalam keindahan pemandangan itu, Novan tiba-tiba berubah serius dan waspada menatap ke sekeliling. "Maya, hati-hati, aku merasakan ada orang di dekat sini."Aku secara naluriah mendekatinya, jantungku pun mulai berdegup kencang.Tepat pada saat itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak.Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi wajahnya masih memancarkan vitalitas. Tatapan matanya menyiratkan kedalaman dan kebijaksanaan. Sang tetua mengamati kami dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. "Kalian berdua, jangan panik. Aku tidak berniat buruk."Novan berdiri di depanku, lalu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, boleh tahu siapa Tuan sebenarnya? Mengapa Tuan berada di tempat ini?"Sang tetua tersenyum tipis. "Aku hanyalah seorang pertapa di gunung ini. Aku telah mengasingkan diri di sini selama puluhan tahun.""Hari ini melihat kalian berdua memasuki wilayah ini, aku pun keluar untuk melihat. Melihat

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 19

    Aku dan Novan mendapat kabar di kota kecil ini bahwa Keluarga Pradipta telah memindahkan tiga ribu pasukan elit mereka ke tempat lain, dan kini mereka berada di Gunung Gadhing. Mendengar kabar ini, aku dan Novan saling bertatapan. Kami sama-sama melihat keseriusan serta tekad yang bulat di mata masing-masing.Medan di Gunung Gadhing sangat rumit, mudah dipertahankan, tetapi sulit diserang. Pemindahan pasukan elit ke sini oleh Keluarga Pradipta jelas menunjukkan bahwa mereka telah melakukan persiapan yang sangat matang.Namun, ini juga berarti kita mungkin bisa menemukan bukti kejahatan yang lebih krusial di sana dan menjatuhkan Keluarga Pradipta sepenuhnya."Maya, perjalanan ini pasti sangat berbahaya," Novan menggenggam erat tanganku, menatapku dengan tatapan tegas, "tapi ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk meruntuhkan Keluarga Pradipta sampai ke akar-akarnya."Aku mengangguk kuat-kuat. "Aku tidak takut, Novan. Selama ini bisa menyingkirkan bahaya bagi rakyat dan meringankan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status