Share

Senar Merah Terputus, Cermin Retak
Senar Merah Terputus, Cermin Retak
Author: Caca

Bab 1

Author: Caca
Aku terdiam sejenak, kurang lebih sudah paham apa yang terjadi.

Kupandang mereka dengan tatapan menenangkan, lalu menunduk dan melangkah masuk ke dalam balai.

Di dalam ruangan, Ratih Pradipta bersandar santai di atas dipan empuk, sementara dayang pribadinya memijat kakinya.

Aku segera membungkuk memberi hormat dengan sopan, lalu bertanya, "Nona Ratih, bolehkah hamba tahu kesalahan apa yang para dayang ini lakukan hingga membuat Nona murka?"

Mendengar suaraku, dia menoleh dan menatapku dengan senyum meremehkan. "Mereka tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku cuma merasa risih melihat wajah mereka. Melihat mereka berlutut ramai-ramai seperti ini justru membuatku senang."

Selesai bicara, dia menunjuk sebuah tempat di sampingnya dengan sikap angkuh, lalu menyuruh dayangnya mengambil sebuah anglo arang.

"Kebetulan kamu datang. Aku sudah siapkan tempat untukmu."

"Berlututlah di sana. Kamu baru boleh bangun setelah dua jam."

Api di dalam anglo menyala sangat membara. Jika aku berlutut di atasnya, tak lama kemudian lututku pasti akan hangus dan berdarah. Mana mungkin aku sanggup bertahan selama dua jam?

Namun aku tahu, suka tidak suka, aku tidak bisa menentang perintahnya.

Kalau aku menolak, bisa-bisa para dayang lainnya malah ikut terseret hukuman.

Maka, aku hanya terdiam dan perlahan berlutut di atas anglo yang membara itu.

Meski di musim dingin aku mengenakan pakaian tebal, hanya dalam beberapa saat, lututku terasa terbakar hangus oleh bara arang yang panas membara. Rasa sakitnya sungguh tak tertahankan.

Hukuman di istana ini ada banyak macamnya, dan ini bukan pertama kalinya aku menerima hukuman. Sekeras apa pun rasa sakitnya, aku hanya bisa menggigit bibir dan menahannya agar tidak sampai berteriak.

Melihatku kesakitan, tetapi harus menahannya dalam diam, suasana hati Ratih justru membaik. Dia tertawa puas dan penuh kemenangan.

"Yang Mulia telah tiba!"

Seiring terdengarnya suara kasim yang melengking, Ratih segera bangkit dari dipan. Wajah angkuhnya seketika berubah lembut dan penurut, lalu dia merendahkan tubuhnya untuk memberi hormat.

Bagas bergegas maju membantunya berdiri. Setelah berbalik, pandangannya akhirnya jatuh kepadaku.

Melihat wajahku yang pucat pasi dan peluh mengucur di dahi, raut wajahnya sempat menegang sejenak. Dia lalu menoleh dan bertanya pada Ratih apa yang sebenarnya terjadi.

Ratih panik. Dalam kebingungannya, dia buru-buru mengarang alasan, "Para dayang ini melakukan kesalahan. Maya bukan hanya membela mereka, tetapi juga berani membantahku dan menyiramkan air panas ke tubuhku."

"Aku benar-benar tidak bisa menahan amarah, jadi cuma memberi mereka sedikit pelajaran."

"Yang Mulia, tidak akan menyalahkanku, 'kan?"

Bagas menggenggam tangan gadis itu dengan penuh kasih, lalu berkata lembut, "Tidak perlu tegang. Aku sudah bilang, kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau."

Ratih seolah terbuai oleh perlakuan penuh kasih itu, lalu bertanya lagi, "Benarkah ... aku boleh melakukan apa saja?"

Dia tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja. Janji seorang Raja tak boleh diingkari."

"Selama kamu mau, menghukumku pun boleh, apalagi sekadar menghukum para dayang itu."

Mendengar ucapan manis sang Raja, wajah cantik Ratih merona merah padam. Mereka bergandengan tangan dan berjalan ke balik tirai. Aku tak bisa lagi melihat ekspresi mereka, hanya bisa mendengar percakapan mereka dari sini.

"Yang Mulia, ini kue yang kubuat sendiri. Silakan dicicipi."

"Ini pertama kalinya aku membuatnya. Aku tidak tahu apa cocok dengan selera Yang Mulia."

Bagas sejatinya bersikap dingin. Sejak menjadi Raja, dia makin tak menunjukkan emosi di wajahnya. Namun, kali ini aku justru mendengar nada bergetar dan penuh kejutan dalam suaranya, "Kue ini kamu buat sendiri untukku?"

Ratih mengangguk malu-malu. "Iya. Yang Mulia terlalu baik padaku. Aku tak punya apa-apa untuk membalasnya, jadi cuma bisa membuat kue ini sebagai balasan."

Nyala lilin berkedip-kedip, memantulkan bayangan mereka yang saling bersandar di atas tirai, bagaikan sebuah lukisan yang sungguh indah.

Entah kenapa, saat menatap mereka, mataku perlahan mulai berkaca-kaca.

Mungkin karena aku sadar, pria yang sangat kucintai ini kini makin menjauh dariku.

Dulu, dia hanyalah seorang pangeran yang tak diperhatikan. Ibunya difitnah hingga tewas dan dia harus tumbuh di Istana Dingin.

Ibuku adalah dayang kepercayaan yang melayani ibu Bagas. Setelah menjaganya selama beberapa tahun, ibuku pun meninggal karena sakit.

Sejak saat itu, hanya ada kami berdua yang saling bergantung untuk bertahan hidup.

Kehidupan di Istana Pengasingan sungguh menyedihkan. Perut selalu lapar, tubuh selalu kedinginan. Demi mendapatkan sepotong roti kukus, aku rela mencuci pakaian para dayang hingga tangan ini penuh dengan luka radang dingin. Luka itu bahkan masih sering kambuh setiap musim dingin.

Ketika kasim-kasim muda menindasnya, aku menerjang mereka seperti anjing gila. Aku menerima pukulan demi pukulan, sambil menggigit dan mencakar mereka sekuat tenaga.

Hampir separuh nyawaku kukorbankan hanya untuk melindunginya agar dia bisa bertahan hidup di tempat itu.

Namun, hanya karena Ratih memberinya sehelai jubah saat dia dihukum berlutut, dia langsung terpikat dan mencintainya mati-matian.

Setelah naik takhta, hal pertama yang dia lakukan adalah membawanya masuk ke istana, memanjakannya bagaikan permata yang sangat berharga.

Dia keluar sebagai pemenang dalam perebutan takhta yang berdarah. Membunuh ayah, saudara, dan sahabatnya sendiri, membuat nama Bagas Abimana dikenal sebagai sosok yang kejam dan tak kenal ampun di luar istana.

Mendengar kabar tersebut, Ratih awalnya sangat ketakutan. Dia menolak menjadi permaisuri dan setiap hari hanya bersembunyi di istana dalam sambil menangis.

Sosok yang biasanya bertindak cepat, tegas, dan tak kenal ampun itu, untuk pertama kalinya menampakkan tatapan selembut sutra saat melihat gadis itu menangis.

Dia tidak memaksanya menjadi Ratu, melainkan perlahan menaklukkan hatinya, mencari segala cara demi melihat senyum di wajah gadis itu.

Jika Raja terdahulu memiliki tiga ribu selir di istana dalam, maka istana Bagas hanya diisi oleh Ratih seorang.

Demi memudahkannya beraktivitas di istana dalam, dia bahkan 'menghadiahkan' diriku, yang selama ini selalu berada di sisinya kepada Ratih, agar aku bisa mengurus segala kebutuhan hidupnya.

Lama-kelamaan, Ratih akhirnya menyadari betapa dalamnya cinta Bagas padanya, dan mulai bersikap angkuh karena merasa paling disayang.

Tersadar dari lamunan, aku menatap siluet mereka yang saling bersandar di balik tirai, lalu mengukir senyum getir yang penuh ejekan untuk diriku sendiri.

Sudah bertahun-tahun, aku menemani pria ini melewati masa-masa tersulitnya.

Namun, dia tak lagi ingat bagaimana aku menerjang badai hingga ke luar kota hanya demi mencari obat untuknya.

Dia tak ingat bagaimana kakiku nyaris patah demi memohon ampun untuknya.

Dia tak ingat malam-malam kami saling menghangatkan tubuh, hari-hari penuh gairah dan keintiman yang kami lalui bersama.

Dia justru hanya mengingat sehelai jubah luar yang diberikan Ratih kepadanya.

Namun, tak apalah. Jika dia lupa, biarlah.

Aku pun akan melupakannya. Karena sebentar lagi, aku akan pergi untuk selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 24

    Satu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 23

    Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 22

    Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 21

    Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 20

    Tepat saat kami sedang larut dalam keindahan pemandangan itu, Novan tiba-tiba berubah serius dan waspada menatap ke sekeliling. "Maya, hati-hati, aku merasakan ada orang di dekat sini."Aku secara naluriah mendekatinya, jantungku pun mulai berdegup kencang.Tepat pada saat itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak.Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi wajahnya masih memancarkan vitalitas. Tatapan matanya menyiratkan kedalaman dan kebijaksanaan. Sang tetua mengamati kami dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. "Kalian berdua, jangan panik. Aku tidak berniat buruk."Novan berdiri di depanku, lalu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, boleh tahu siapa Tuan sebenarnya? Mengapa Tuan berada di tempat ini?"Sang tetua tersenyum tipis. "Aku hanyalah seorang pertapa di gunung ini. Aku telah mengasingkan diri di sini selama puluhan tahun.""Hari ini melihat kalian berdua memasuki wilayah ini, aku pun keluar untuk melihat. Melihat

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 19

    Aku dan Novan mendapat kabar di kota kecil ini bahwa Keluarga Pradipta telah memindahkan tiga ribu pasukan elit mereka ke tempat lain, dan kini mereka berada di Gunung Gadhing. Mendengar kabar ini, aku dan Novan saling bertatapan. Kami sama-sama melihat keseriusan serta tekad yang bulat di mata masing-masing.Medan di Gunung Gadhing sangat rumit, mudah dipertahankan, tetapi sulit diserang. Pemindahan pasukan elit ke sini oleh Keluarga Pradipta jelas menunjukkan bahwa mereka telah melakukan persiapan yang sangat matang.Namun, ini juga berarti kita mungkin bisa menemukan bukti kejahatan yang lebih krusial di sana dan menjatuhkan Keluarga Pradipta sepenuhnya."Maya, perjalanan ini pasti sangat berbahaya," Novan menggenggam erat tanganku, menatapku dengan tatapan tegas, "tapi ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk meruntuhkan Keluarga Pradipta sampai ke akar-akarnya."Aku mengangguk kuat-kuat. "Aku tidak takut, Novan. Selama ini bisa menyingkirkan bahaya bagi rakyat dan meringankan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status