Share

Bab 3

Author: Caca
Tiga hari lagi adalah ulang tahun pertama Ratih sejak masuk istana.

Demi perayaan itu, Bagas menyelenggarakan pesta yang begitu meriah.

Seluruh pejabat istana beserta keluarga mereka turut diundang. Meski belum menyandang gelar Ratu, Ratih sudah diperlakukan selayaknya seorang Ratu.

Sebagai dayang seniornya, aku tentu saja sibuk hilir mudik, waswas kalau ada satu saja hal yang terlewat dan membuatnya kesal, lalu melampiaskan amarahnya pada para pelayan.

Menjelang perjamuan dimulai, aku hendak memanggilnya keluar, tetapi baru sampai di depan pintu, aku mendengar dia sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.

"Ratih, Ayah mendengar Yang Mulia begitu mencintaimu karena dulu, saat dia dihukum berlutut, kamu memberinya sehelai jubah."

"Waktu itu dia hanyalah pangeran yang tak diperhatikan. Masa kamu sudah bisa melihat kalau dia kelak akan naik takhta menjadi Raja?"

Ratih menjawab pelan, "Ayah terlalu melebih-lebihkan aku. Saat itu mana mungkin aku tahu. Jubah itu tidak sengaja terkena noda saat aku minum bersama sang putri. Karena sudah kotor, aku tidak menginginkannya lagi, jadi kubuang begitu saja."

"Siapa sangka waktu itu Yang Mulia kebetulan sedang berlutut di sana, sehingga dia malah salah paham."

Raut wajah Ayah Ratih berubah tegang. Dia buru-buru menegaskan, "Kalau begitu, perkara ini jangan sampai diketahui Yang Mulia."

Ratih mengangguk. "Tentu saja."

Mendengar seluruh percakapan itu dari balik pintu, aku tak bisa menahan tawa.

Aku menertawakan diriku sendiri, dan lebih lagi, menertawakan Bagas.

Ternyata alasan dia jatuh cinta padanya tak lebih dari sebuah kesalahpahaman besar.

Mendengar tawaku, orang di dalam langsung bertanya dengan nada dingin.

"Siapa di luar?!"

Aku tidak menjawab, hanya berbalik dan bergegas pergi.

Pesta ulang tahun pun dimulai. Semuanya berjalan lancar seperti biasa. Namun di tengah acara, saat Ratih bangkit untuk menyuguhkan anggur kepada Bagas, dia tiba-tiba memuntahkan darah dan pingsan.

Ekspresi Bagas seketika berubah. Dia tampak ketakutan seolah akan kehilangan segalanya, lalu berlari panik menghampirinya.

Aku belum pernah melihatnya setegang ini. Bahkan dulu, saat perebutan takhta yang mempertaruhkan nyawa, dia tetap tenang dan tak tergoyahkan.

Seolah-olah segala hal di dunia ini tidak ada kaitannya dengannya.

Dia pernah berkata, sebagai calon Raja, dia harus mampu mengendalikan emosi dan tidak menunjukkannya di wajah. Dia sama sekali tidak boleh membiarkan siapa pun mengetahui titik lemahnya.

Namun saat ini, di hadapan para pejabat sipil dan militer, titik lemahnya telah terbongkar sepenuhnya.

Seluruh tabib istana dipanggil ke Istana Kaputren. Mereka berkumpul di sekitar ranjang Ratih, sibuk memeriksanya.

Bagas berjaga di sisi ranjang, tak beranjak sedikit pun.

"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi pada Ratih?"

Para tabib berlutut memenuhi lantai ruangan.

"Yang Mulia, Nona Ratih telah diracun. Racun ini cuma bisa diatasi kalau darah jantung dijadikan bahan ramuan obat!"

Mendengar ucapan itu, Bagas tanpa ragu sedikit pun hendak menyayat dadanya untuk mengambil darah jantung demi menyelamatkan wanita yang dicintainya. Para tabib dan kasim buru-buru maju menghalanginya, terus-menerus bersujud di hadapannya.

"Sama sekali tidak boleh! Tubuh Yang Mulia amatlah berharga. Bagaimana bisa dibiarkan terluka sembarangan."

"Lagi pula, racun ini cuma bisa dinetralisir oleh darah jantung dari orang yang meracuninya."

"Yang terpenting saat ini adalah menemukan siapa pelakunya!"

Hatiku tiba-tiba diliputi firasat tidak enak. Saat aku mendongak, benar saja, kulihat Ratih tengah bersandar di pelukan Bagas. Wajahnya pucat pasi, tetapi telunjuknya teracung lurus ke arahku.

"Tadi, aku cuma minum teh yang disuguhkannya! Setelah itu, kepalaku langsung pening dan perutku terasa melilit."

Semua ini jelas jebakkan untukku. Sejak perjamuan dimulai, aku sama sekali tidak memberinya makanan atau minuman apa pun.

Dia pasti sudah curiga bahwa orang yang mendengar percakapan tadi adalah aku. Karena itu, dia sudah bersekongkol dengan para tabib untuk menjebakku dan menghabisiku sekali untuk selamanya!

Namun, untuk apa repot-repot? Aku tidak pernah berniat menceritakan hal ini pada Bagas. Lagi pula, dengan kedudukan Ratih di hatinya saat ini, apa pun yang kukatakan pasti tidak akan Bagas percayai.

Aku tidak berniat mengganggu hidup siapa pun karena aku akan segera pergi.

Kondisi ini memaksaku berlutut dan membela diri di hadapan Bagas.

"Yang Mulia, sejak perjamuan dimulai, hamba sama sekali tidak memberikan makanan atau minuman apa pun kepada Nona Ratih. Mohon Yang Mulia memanggil para dayang untuk menghadap dan menanyai mereka satu per satu, maka kebenaran akan terungkap."

Bagas menatapku dalam diam, seolah sedang menimbang-nimbang pilihan.

Tiba-tiba, Ratih kembali memuntahkan darah, membasahi lengan jubahnya.

Menatap noda merah yang begitu mencolok dan menyilaukan mata, kilatan gelap terlintas di tatapannya. Akhirnya, dia tak ragu lagi.

"Tahan dia. Ambil darahnya!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 24

    Satu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 23

    Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 22

    Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 21

    Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 20

    Tepat saat kami sedang larut dalam keindahan pemandangan itu, Novan tiba-tiba berubah serius dan waspada menatap ke sekeliling. "Maya, hati-hati, aku merasakan ada orang di dekat sini."Aku secara naluriah mendekatinya, jantungku pun mulai berdegup kencang.Tepat pada saat itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak.Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi wajahnya masih memancarkan vitalitas. Tatapan matanya menyiratkan kedalaman dan kebijaksanaan. Sang tetua mengamati kami dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. "Kalian berdua, jangan panik. Aku tidak berniat buruk."Novan berdiri di depanku, lalu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, boleh tahu siapa Tuan sebenarnya? Mengapa Tuan berada di tempat ini?"Sang tetua tersenyum tipis. "Aku hanyalah seorang pertapa di gunung ini. Aku telah mengasingkan diri di sini selama puluhan tahun.""Hari ini melihat kalian berdua memasuki wilayah ini, aku pun keluar untuk melihat. Melihat

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 19

    Aku dan Novan mendapat kabar di kota kecil ini bahwa Keluarga Pradipta telah memindahkan tiga ribu pasukan elit mereka ke tempat lain, dan kini mereka berada di Gunung Gadhing. Mendengar kabar ini, aku dan Novan saling bertatapan. Kami sama-sama melihat keseriusan serta tekad yang bulat di mata masing-masing.Medan di Gunung Gadhing sangat rumit, mudah dipertahankan, tetapi sulit diserang. Pemindahan pasukan elit ke sini oleh Keluarga Pradipta jelas menunjukkan bahwa mereka telah melakukan persiapan yang sangat matang.Namun, ini juga berarti kita mungkin bisa menemukan bukti kejahatan yang lebih krusial di sana dan menjatuhkan Keluarga Pradipta sepenuhnya."Maya, perjalanan ini pasti sangat berbahaya," Novan menggenggam erat tanganku, menatapku dengan tatapan tegas, "tapi ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk meruntuhkan Keluarga Pradipta sampai ke akar-akarnya."Aku mengangguk kuat-kuat. "Aku tidak takut, Novan. Selama ini bisa menyingkirkan bahaya bagi rakyat dan meringankan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status