Share

Bab 4

Author: Caca
Para pengawal berbondong-bondong mendekatiku. Bahkan tanpa sempat melawan,aku langsung ditekan paksa hingga tersungkur di lantai.

Ujung pisau yang tajam menusuk masuk ke dadaku. Telingaku seketika berdenging, tak ada lagi suara yang terdengar.

Di saat seperti ini, aku bahkan tak bisa membedakan rasa sakit yang menyayat hati ini, apakah berasal dari luka di dadaku, atau dari Bagas.

Setelah kehilangan kesadaran, aku terjebak dalam mimpi buruk.

Dalam mimpi itu, aku dan Bagas duduk di anak tangga Istana Pengasingan. Aku baru saja dihukum karena dituduh mencuri perhiasan sang putri.

Dengan tatapan penuh kasih, dia mengoleskan obat pada tanganku yang sudah dibalut. "Orang bilang, sepuluh jari itu terhubung langsung ke hati. Pasti sakit sekali, ya?"

Menatap gerak-geriknya yang lembut, aku tersenyum dan menghiburnya, "Tidak sakit. Selama kamu percaya padaku, seberapa parah pun lukanya, aku tidak akan merasa sakit."

Matanya memerah saat dia menarikku ke dalam pelukan. "Tentu saja aku percaya padamu. Aku akan selalu percaya padamu."

Saat terbangun, Bagas duduk di sampingku. Melihatku membuka mata, dia bertanya dengan lembut, "Akhirnya kamu bangun juga. Masih sakit?"

Melihatnya, aku masih secara refleks membela diri, "Yang Mulia, bukan aku yang melakukannya. Aku tidak meracuninya."

Bagas hanya menatapku dalam diam. Lama kemudian, dia baru berkata pelan, "Aku tahu."

Aku menatapnya balik dengan tak percaya.

"Yang Mulia ... tahu?"

Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. "Aku tahu Ratih tidak diracun, tahu kamu tidak meracuninya, dan juga tahu soal darah jantung sebagai penawar racun itu cuma omong kosong."

"Tapi aku harus melakukannya karena cuma dengan begitu Ratih bisa senang."

"Aku tidak tahu apa yang telah kamu lakukan hingga membuat Ratih kesal. Jadi, terpaksa aku harus mengorbankanmu."

Menatap pria di hadapanku yang mengucapkan kata-kata itu dengan begitu tenang dan berjarak, aku merasa seolah disambar petir.

Dia telah berubah menjadi sosok yang sama sekali tak kukenal. Atau mungkin, aku memang tidak pernah benar-benar mengenalnya.

Remaja yang kucintai itu sudah lama lenyap di Istana Pengasingan yang gelap dan lembap, lenyap dalam perebutan takhta yang berlumuran darah. Kurasa, aku tidak akan pernah bisa menemukannya lagi.

Bagas hanya mampir menjengukku sekilas, lalu buru-buru kembali merawat Ratih.

Dia menyuruh orang mengantarkan banyak perhiasan, seolah ingin menghiburku.

Namun, bagaimana mungkin benda-benda itu bisa menghapus bekas luka yang dia ukir di tubuhku?

Aku menyimpan semuanya, berniat membagikannya kepada para dayang lain sebelum resmi meninggalkan istana.

Ratih tak berniat melepasku dengan mudah. Lukaku bahkan belum mengering, aku sudah dipanggil untuk melayaninya.

Sebagai dayang senior, aku tak seharusnya melakukan pekerjaan kasar. Namun, dia dengan sengaja menyuruh para dayangnya membebankan seluruh pekerjaan kotor dan melelahkan di Istana Kaputren kepadaku.

Musim dingin di ibu kota begitu menusuk dan menyiksa. Aku berjongkok di halaman, mencuci tumpukan pakaian Istana Kaputren ember demi ember.

Sejak masa-masa di Istana Pengasingan dulu, tanganku meninggalkan penyakit yang mudah kambuh. Kini, begitu menyentuh air es, kedua tanganku langsung membengkak seperti lobak.

Sementara di dalam ruangan, udaranya begitu hangat. Bagas tahu Ratih takut dingin, sehingga dia menyalakan anglo arang hingga ruangan itu terasa sehangat musim semi.

Dia sering datang menjenguknya. Terkadang, mereka membiarkan jendela terbuka, duduk di tepi jendela sambil menikmati pemandangan salju.

Salju putih yang beterbangan menyelimuti bunga plum merah, menciptakan pemandangan yang dingin sekaligus menyayat hati. Bagas memeluk Ratih erat-erat, membungkus tubuh gadis itu sepenuhnya dengan jubahnya, seolah takut sedikit saja hawa dingin menyentuhnya.

Hanya dipisahkan oleh sekat dinding, aku harus bertahan di tengah terpaan angin dan salju. Sambil mencuci tumpukan pakaian, aku mendengarkan tawa Ratih dan Bagas yang terdengar dari dalam ruangan.

Baru pada larut malam, aku bisa menyeret tubuhku yang masih terluka, pulang seorang diri ke kamarku dengan langkah gontai.

Bagas masih datang ke kamarku setiap malam. Namun, berbeda dari sebelum Ratih masuk istana, kini dia hanya memelukku dan tidak lagi menyentuhku.

Sambil memelukku, dia selalu bercerita tentang Ratih.

Hari ini gadis itu menyulam sapu tangan untuknya, hari ini gadis itu tersenyum manis padanya, hari ini gadis itu berjinjit dan mencium pipinya.

Aku hanya mendengarkan dengan tenang, tak sepatah kata pun terucap.

Suatu hari, seorang dayang yang sudah mencapai usia untuk keluar istana datang menemuiku untuk menanyakan prosedur keluar istana. Setelah menjelaskan kepadanya jadwal keluar istana dan hal-hal yang perlu diperhatikan, dia tiba-tiba bertanya, "Bibi Maya, setelah keluar istana, Bibi mau melakukan apa?"

Aku sempat tertegun. Setelah berpikir cukup lama, aku tersenyum dan menjawab, "Pergi meninggalkan ibu kota terlebih dahulu. Kalau beruntung, menikah dengan pria baik, lalu membuka usaha kecil-kecilan, dan menjalani hidup seperti orang biasa pada umumnya."

"Setelah keluar istana, dunia begitu luas. Kita bisa bebas ke mana pun kita mau. Kita berdua akhirnya bebas."

Baru saja kata-kata itu terucap, pintu kamar tiba-tiba ditendang terbuka dengan keras.

Bagas berdiri di hadapanku dengan raut wajah muram.

"Apa maksudmu keluar istana?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 24

    Satu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 23

    Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 22

    Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 21

    Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 20

    Tepat saat kami sedang larut dalam keindahan pemandangan itu, Novan tiba-tiba berubah serius dan waspada menatap ke sekeliling. "Maya, hati-hati, aku merasakan ada orang di dekat sini."Aku secara naluriah mendekatinya, jantungku pun mulai berdegup kencang.Tepat pada saat itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak.Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi wajahnya masih memancarkan vitalitas. Tatapan matanya menyiratkan kedalaman dan kebijaksanaan. Sang tetua mengamati kami dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. "Kalian berdua, jangan panik. Aku tidak berniat buruk."Novan berdiri di depanku, lalu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, boleh tahu siapa Tuan sebenarnya? Mengapa Tuan berada di tempat ini?"Sang tetua tersenyum tipis. "Aku hanyalah seorang pertapa di gunung ini. Aku telah mengasingkan diri di sini selama puluhan tahun.""Hari ini melihat kalian berdua memasuki wilayah ini, aku pun keluar untuk melihat. Melihat

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 19

    Aku dan Novan mendapat kabar di kota kecil ini bahwa Keluarga Pradipta telah memindahkan tiga ribu pasukan elit mereka ke tempat lain, dan kini mereka berada di Gunung Gadhing. Mendengar kabar ini, aku dan Novan saling bertatapan. Kami sama-sama melihat keseriusan serta tekad yang bulat di mata masing-masing.Medan di Gunung Gadhing sangat rumit, mudah dipertahankan, tetapi sulit diserang. Pemindahan pasukan elit ke sini oleh Keluarga Pradipta jelas menunjukkan bahwa mereka telah melakukan persiapan yang sangat matang.Namun, ini juga berarti kita mungkin bisa menemukan bukti kejahatan yang lebih krusial di sana dan menjatuhkan Keluarga Pradipta sepenuhnya."Maya, perjalanan ini pasti sangat berbahaya," Novan menggenggam erat tanganku, menatapku dengan tatapan tegas, "tapi ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk meruntuhkan Keluarga Pradipta sampai ke akar-akarnya."Aku mengangguk kuat-kuat. "Aku tidak takut, Novan. Selama ini bisa menyingkirkan bahaya bagi rakyat dan meringankan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status