Share

Bab 5

Author: Caca
Kehadirannya membuat dayang muda di dalam kamar itu terperanjat dan langsung berlutut ke lantai. Kubantu dayang itu berdiri dan menyuruhnya pergi lebih dulu. Setelah menutup pintu, barulah aku berbalik dan menjawabnya.

"Hanya keluar istana untuk membeli keperluan saja."

Mendengar jawabanku, dia pun tidak terlalu memikirkannya.

Kurasa, dalam alam bawah sadarnya, tidak pernah terlintas sedikit pun kemungkinan bahwa aku akan meninggalkannya.

Sesuai dugaanku, dia datang menemuiku kali ini juga karena Ratih.

"Maya, Ratih ingin makan kue manis buatanmu. Cepat siapkan, lalu ikut aku ke sana."

Aku tidak banyak bicara, langsung menuju dapur kecil di Istana Kaputren.

Setelah bersusah payah, akhirnya kue manis itu selesai dan kuhidangkan di hadapan Ratih.

Menatap langit biru cerah di luar jendela, dia tiba-tiba mendapat ide dan ingin pergi naik perahu ke danau di luar kota.

Bagas tentu saja menuruti semua keinginannya. Dia langsung memerintahkan pengawal menyiapkan kereta, lalu mereka berangkat meninggalkan istana.

Agar aku bisa lebih mudah melayani Ratih, kami bertiga menaiki kereta yang sama.

Di dalam kereta, Ratih menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Jelas sekali dia tidak menyukaiku.

Saat aku masih sibuk menebak cara apa yang akan dia pakai untuk menyiksaku, dia sudah lebih dulu angkat bicara, "Maya, aku mau minum teh. Buatkan untukku."

Aku segera bangkit, mengambil daun teh dan teko yang sudah kusiapkan dari dalam peti, lalu merebusnya di atas bara arang. Setelah mendidih, kutuang teh ke dalam cangkir dan kusodorkan kepadanya.

"Nona Ratih, silakan minum tehnya."

Dia mengambil cangkir itu dengan jari-jemarinya yang lentik, tetapi detik berikutnya, dia justru menyiramkan air teh itu langsung ke wajahku.

"Kamu memberiku teh sepanas ini, mau membuatku melepuh sampai mati, ya?"

Wajahku terasa panas perih seperti baru saja ditampar. Aku tak sempat mengusap air yang masih membasahi wajah, langsung menuangkan teh lagi untuknya.

Namun, dia masih saja belum puas.

"Kali ini terlalu dingin. Kamu ini bisa menyeduh teh atau tidak, sih?"

Berkali-kali aku lakukan, tak sekali pun dia merasa puas.

Akhirnya, dia menatapku dengan wajah penuh amarah. "Kenapa, aku menegurmu sedikit saja kamu sudah tidak terima?"

"Mentang-mentang kamu pelayan lama di sisi Yang Mulia, berani-beraninya pasang muka masam di hadapanku?"

Dengan pasrah, aku mendongak menatapnya. "Hamba sama sekali tidak punya pikiran seperti itu, Nona."

Merasa aku membantah, amarahnya makin memuncak. Dia menoleh dan menatap Bagas dengan wajah melas.

"Yang Mulia, lihatlah. Di hadapan Yang Mulia saja dia berani kurang ajar, bisa dibayangkan betapa seenaknya dia selama ini."

Dia tahu betul bagaimana watakku. Lagi pula, siapa yang sebenarnya mencari gara-gara tadi, semua orang bisa melihatnya.

Namun aku tahu, dia takkan membelaku.

Sejak Ratih hadir dalam hidupnya, setiap kali harus memilih antara aku dan gadis itu, dia tak pernah memilihku.

Maka, dengan sadar aku berlutut dan mengaku salah.

"Ini semua kesalahan hamba. Hamba akan turun dan menerima hukuman sekarang."

Dia mengerutkan kening. Sorot gelap berkelebat di matanya yang dalam, tetapi pada akhirnya dia hanya mengangguk dingin.

Aku turun dari kereta dan menerima 20 cambukan. Punggungku penuh dengan luka menganga yang berdarah-darah. Karena itu, aku tak kembali naik ke dalam kereta, melainkan berjalan kaki mengikuti rombongan.

Setibanya di tepi danau, demi bisa berduaan dengan tenang bersama Ratih, Bagas memerintahkan para pengawal untuk berjaga jauh di dekat kereta, dan hanya membawa aku serta beberapa dayang untuk mengiringi mereka.

Bunga-bunga kecil bermekaran di tepi danau. Ratih tiba-tiba mendapat ide untuk memetik bunga dan merangkainya menjadi mahkota, tetapi dia tak sengaja kehilangan pijakan dan jatuh ke dalam danau.

Para dayang panik dan berteriak histeris, "Tolong! Tolong! Nona kami tidak bisa berenang!"

Bagas sebenarnya juga tidak bisa berenang. Namun, melihat Ratih tercebur ke dalam danau, dia tetap melompat masuk untuk menyelamatkannya tanpa berpikir panjang.

Para dayang di sekelilingnya serentak berlutut, memeluk kaki Bagas sambil menangis memohon.

"Jangan, Yang Mulia! Tubuh Yang Mulia jauh lebih penting! Yang Mulia tidak boleh masuk ke air!"

Di tengah tangis dan teriakan mereka, aku melepas alas kaki dan langsung melompat terjun ke danau.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 24

    Satu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 23

    Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 22

    Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 21

    Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 20

    Tepat saat kami sedang larut dalam keindahan pemandangan itu, Novan tiba-tiba berubah serius dan waspada menatap ke sekeliling. "Maya, hati-hati, aku merasakan ada orang di dekat sini."Aku secara naluriah mendekatinya, jantungku pun mulai berdegup kencang.Tepat pada saat itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak.Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi wajahnya masih memancarkan vitalitas. Tatapan matanya menyiratkan kedalaman dan kebijaksanaan. Sang tetua mengamati kami dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. "Kalian berdua, jangan panik. Aku tidak berniat buruk."Novan berdiri di depanku, lalu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, boleh tahu siapa Tuan sebenarnya? Mengapa Tuan berada di tempat ini?"Sang tetua tersenyum tipis. "Aku hanyalah seorang pertapa di gunung ini. Aku telah mengasingkan diri di sini selama puluhan tahun.""Hari ini melihat kalian berdua memasuki wilayah ini, aku pun keluar untuk melihat. Melihat

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 19

    Aku dan Novan mendapat kabar di kota kecil ini bahwa Keluarga Pradipta telah memindahkan tiga ribu pasukan elit mereka ke tempat lain, dan kini mereka berada di Gunung Gadhing. Mendengar kabar ini, aku dan Novan saling bertatapan. Kami sama-sama melihat keseriusan serta tekad yang bulat di mata masing-masing.Medan di Gunung Gadhing sangat rumit, mudah dipertahankan, tetapi sulit diserang. Pemindahan pasukan elit ke sini oleh Keluarga Pradipta jelas menunjukkan bahwa mereka telah melakukan persiapan yang sangat matang.Namun, ini juga berarti kita mungkin bisa menemukan bukti kejahatan yang lebih krusial di sana dan menjatuhkan Keluarga Pradipta sepenuhnya."Maya, perjalanan ini pasti sangat berbahaya," Novan menggenggam erat tanganku, menatapku dengan tatapan tegas, "tapi ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk meruntuhkan Keluarga Pradipta sampai ke akar-akarnya."Aku mengangguk kuat-kuat. "Aku tidak takut, Novan. Selama ini bisa menyingkirkan bahaya bagi rakyat dan meringankan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status