Share

3. Rencana Kejutan

last update publish date: 2026-06-28 20:57:05

**

“Memang penampilanku sepayah itu, kah? Kok Ibu sampai ngomong begitu?”

Kayla memandang pantulan bayangan dirinya sendiri dalam cermin, pagi ini. Sesosok perempuan muda yang murung memandang balik dari sana.

Perempuan itu menyentuh rambutnya yang sudah mencapai punggung. Lurus jatuh alami, namun warna kemerahan agak kentara pada ujung-ujungnya. Bukan sengaja diwarnai, melainkan sebab kering kurang terawat.

Selain itu, lingkaran hitam samar tampak pada bagian bawah mata. Akibat kerap kurang tidur karena menunggu Laskar pulang kantor yang seringkali sudah larut malam.

“Kayaknya aku memang harus lebih ngerawat diri. Siapa tahu Mas Laskar memang lagi kurang tertarik sama aku yang sekarang ini.”

Kayla menunduk dengan raut mendung. Masih memperhatikan ujung rambutnya yang pecah-pecah.

Akhirnya, ia meraih ponsel untuk mencari referensi gaya rambut yang cocok untuknya, sementara menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.

“Kalau dipendekin begini, Mas Laskar kasih izin nggak, ya?” Ia memandangi salah satu foto model rambut dari internet. Tidak terlalu pendek, hanya model bob sebahu. 

Kayla sebenarnya suka rambut pendek karena merasa lebih segar. Namun Laskar selalu mengatakan ia suka perempuan dengan rambut panjang. Maka dari itu, Kayla dengan senang hati memanjangkan rambutnya.

“Ini Mas Laskar kok lama banget di kamar mandi. Nggak apa-apa kah?” 

Melupakan foto dalam ponselnya, Kayla melangkah pelan menuju kamar mandi di sudut ruangan. 

Rasa was-was memenuhi hatinya, sebab takut sesuatu yang buruk terjadi kepada sang suami.

“Apa jangan-jangan dia jatuh terus pingsan? Aduh, kok bisa mikir jelek begitu. Nggak, nggak boleh ….”

Kayla mengangkat tangan hendak mengetuk pintu kamar mandi. Namun suara rintihan lirih terdengar dari baliknya.

Jantung Kayla benar-benar mencelos. Ia pikir Laskar benar-benar terpeleset lalu jatuh sampai tak sanggup berteriak minta tolong. 

“Mas?” Perempuan itu berseru pelan untuk memanggil suaminya. “Mas Laskar, kamu nggak–”

Namun panggilan Kayla mendadak berhenti.

Ia mengerutkan dahi, sebab merasa aneh dengan suara rintihan dalam kamar mandi itu. Seperti bukan rintih kesakitan atau minta tolong.

Itu lebih seperti ….

"Mas? Mas, kamu nggak apa-apa?"

Brak!

“Ngapain kamu berdiri di sini?”

Kayla terlonjak kaget saat pintu di hadapannya menjeblak terbuka dengan tiba-tiba.

“Ma-Mas ….”

“Apa sih panggil-panggil? Gangguin orang mandi aja! Kamu mau aku panik terus jatuh karena denger panggilanmu?”

“Bukan gitu. Maaf, Mas. Aku cuma khawatir karena kamu lama banget di dalam. Aku pikir ada apa-apa ….”

“Nggak jelas!”

Laskar berlalu dari hadapan Kayla dengan wajah kesal menuju walk-in closet kecil di samping pintu kamar mandi. Menyisakan perempuan itu sendirian, yang masih dipenuhi tanda tanya perihal apa yang sudah didengarnya tadi.

“Apa sih, mungkin cuma salah dengar aja.” Kayla akhirnya menggeleng, menepis pikiran buruk dalam benaknya.

Ia lantas melangkah mengikuti sang suami yang sedang berganti pakaian.

Terpaku, menatap tubuh tegap Laskar yang telanjang dada. Punggungnya yang lebar terlihat mengkilap terkena tetesan air dari rambut yang basah.

Kayla merasa api dalam dirinya bergejolak. Sudah berapa lama pria ini tidak menyentuhnya?

Dua atau tiga bulan?

Laskar selalu pulang larut malam, tak peduli bahwa Kayla di rumah menunggu dengan rindu. 

Rindu sentuhannya, rindu bagaimana mereka menghabiskan malam panas yang penuh gairah dulu.

Kayla mengerjap, mengusir bayangan nakal itu dari benak. 

“Mas, mau aku bantu keringin rambut? Aku ambil hair dryer sebentar, ya?” tawar perempuan ayu itu.

Tidak ada jawaban, sehingga Kayla pikir Laskar tidak menolak. Dengan senyum tersungging, ia berlari keluar untuk mengambil pengering rambut di atas meja rias.

Kayla senang sekali, sebab suaminya tidak menolak. Sudah berminggu-minggu ini, Laskar seperti tidak suka disentuh olehnya. Bahkan tidur pun pria itu akan memalingkan tubuh.

“Mas, aku boleh potong rambut, nggak?” Kayla mengawali pembicaraan. Berharap Laskar akan menanggapi dengan hangat.

“Mau bergaya apa lagi sih, kamu?” Tapi jawabannya tetap sedingin itu.

Kayla sedikit cemberut. “Rambutku ujungnya kering, Mas. Mau aku pendekin sedikit biar seger. Boleh, ya? Nggak pendek banget, deh.”

“Terserah kamu lah. Berangkat sendiri, aku nggak akan sempet anterin.”

“Tapi hari ini weekend, loh. Kita sekalian jalan-jalan yuk, Mas! Makan nasi goreng seafood langganan kita pas masih pacaran dulu, yuk?”

“Kamu pergi sendiri aja lah. Naik taksi online atau bawa motor sendiri, sana. Aku sibuk, ada kerjaan. Udah ah, aku harus ke kantor.”

Pria itu beranjak menjauh, lantas berlalu dari hadapan Kayla yang masih mematung sembari memegangi hair dryer.

Harapannya kandas, pupus bersama penolakan sang suami untuk yang ke sekian kali.

Yang bisa ia lakukan, hanya menghela napas panjang lagi dan lagi.

….

“Ini cocok banget sama bentuk wajah kamu, Kak. Lihat deh, jadi imut-imut kayak artis Korea, kan?”

Kayla tertawa mendengar candaan hair-stylist salon yang baru saja merombak rambutnya. Ia mengangguk, puas dengan hasilnya. Rambut rusaknya sudah berubah lebih pendek dan lebih cantik. Membuatnya terlihat jauh lebih muda dan segar.

“Aku rekomendasiin merk hair care yang bagus, biar bisa perawatan sendiri di rumah, ya?”

“Oh, boleh banget. Kalau boleh juga, sekalian rekomendasi skincare sama make up yang cocok buat aku, ya?”

Gadis cantik pegawai salon itu mengacungkan jempol sebelum berlalu pergi mengambil sesuatu, sementara Kayla masih memandangi bayangannya sendiri di dalam cermin.

Yah, akhirnya Kayla memang harus pergi sendiri ke salon untuk potong rambut. Laskar menolak keras mengantarkannya dengan alasan sibuk. 

Tapi tak mengapa. Kayla tetap senang karena sudah diizinkan pergi.

“Nanti, aku mau sekalian beli baju tidur baru yang seksi. Kasih kejutan buat Mas Laskar nanti malam.”

Perempuan itu tersenyum senang. Tidak sabar untuk bertemu suaminya malam nanti dan menunjukkan perubahan barunya.

Pada malam harinya, Kayla sudah bersiap di depan cermin. Ia memutar tubuh sekali lagi, memastikan penampilannya sempurna.

Senyumnya lebar mengembang kala menatap bayangannya yang jelas berbeda.

Gaun satin berwarna peach dengan panjang sebatas paha, membalut tubuh indahnya. Kayla sengaja memakai make up flawless tipis rekomendasi dari salon, yang membuatnya tampak semakin cantik. Tak lupa, semprotan parfum di bagian-bagian tertentu.

Memandang jam dinding sekali lagi, sudah hampir jam setengah sebelas malam.

Kayla harap-harap cemas. Jantungnya berdebar kencang seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Tepat saat itu, suara mesin mobil terdengar di luar, melalui jendela kamar yang Kayla sengaja biarkan terbuka.

“Ah, akhirnya Mas Laskar pulang. Aku langsung ke depan ajalah, biar dia kaget, hehe ….”

Bersenandung pelan, perempuan itu menuruni tangga dengan semangat. 

Tepat di depan pintu, ia menarik napas dalam-dalam.

Tak sabar, Kayla menekan password kunci pintu, dan membukanya lebar-lebar.

Sesosok pria berdiri di hadapannya.

“Mas, udah pulang? Selamat datang, aku kangen banget ….”

Kayla melompat dan memeluknya erat. Detik-detik berlalu, ia heran sebab tidak mendapat respon apapun. Bahkan penolakan pun tidak.

Merasa heran, Kayla menjauh sedikit. Ia mendongak, memandang pria yang sedang ia peluk itu.

“Oh!”

Dan sepasang matanya melebar kaget.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   7. Tragedi Malam Anniversary

    **Kayla menggeleng keras. Air mata jatuh tanpa sadar, berlinangan di kedua pipi sementara ia dengan panik berusaha terus menghubungi sang suami.Dua tiga kali dengung nada sambung terdengar, lalu ditolak. Bahkan pada panggilan yang terakhir, sudah tidak bisa lagi tersambung. Nomor Kayla diblokir.“Mas, tolong angkat teleponnya. Bilang sama aku kalau ini nggak benar. Bukan kamu yang ada di dalam foto dan video itu ….”Percuma saja. Tangis keras Kayla hanya bergema di dinding rumah yang kala itu kosong. Tidak ada yang mendengar, pun peduli kepadanya.Udara dingin angin malam berhembus pelan memasuki balkon, membuat nyala lilin bergoyang-goyang, lalu padam.Asap tipis di puncaknya menari pelan sebelum lindap.“Mas, bilang sama aku itu bukan kamu … itu bukan kamu, kan ….”Dalam keadaan kalut dan putus asa, Kayla membuka sendiri botol wine yang sudah ia siapkan untuk acara ulang tahun pernikahan yang kini hancur itu.Ia menuangnya ke dalam gelas, lalu meneguknya banyak-banyak.Rasa pahit

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   6. Kiriman Foto

    **Kayla terhenyak. Tanpa sadar ia menarik dirinya mundur, agak menjauh dari Kaivan.“Ap-apa maksudnya, Van? Siapa yang mau menangis memangnya?”Tapi tatapan teduh itu seperti mengunci Kayla. Senyum tipis Kaivan kembali merekah.“Nggak perlu terus ditutup-tutupi, Mbak. Perlakuan buruk kakakku kepada kamu itu terlihat sangat jelas. Percuma kamu terus belain dia. Dia-nya aja kelakuannya seperti itu.”Untuk sesaat, Kayla hampir membenarkan kata-kata itu.Tapi kemudian ia ingat, bagaimanapun buruknya, Laskar adalah suaminya. Ia tidak boleh lebih memihak kepada orang lain ketimbang suaminya sendiri.Lebih daripada itu, Kaivan terhitung orang baru. Meski ada ikatan keluarga dan sudah sering bertemu sebelumnya, ia tidak bisa serta merta mempercayainya begitu saja.“Ah, nggak begitu, Van.” Kayla tersenyum, mencoba bersikap biasa saja. “Biasanya Mas Laskar nggak pernah seperti ini, kok. Dia biasanya selalu baik dan perhatian sama aku. Dia agak badmood ya karena itu tadi, belakangan kerjaannya

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   5. Kaivan

    **Kayla bersumpah, ia seperti melihat sosok berbeda saat Kaivan mengatakan itu.Perempuan itu reflek bergerak tak nyaman di atas kursinya.“Yah, emm … aku juga beruntung kok punya suami yang baik seperti Mas Laskar.”Bersamaan dengan mengatakan itu, Kayla tersenyum kaku sembari mengusap tengkuknya.“Oh, ya? Mas Laskar sebaik itu kah?”Kayla tidak tahu apakah itu adalah pertanyaan sungguhan atau hanya retorik. Ia memutuskan tidak menjawab.Terlebih lagi, terdengar suara deru mobil lain yang berhenti di halaman rumah.Kayla bergegas ke depan untuk membukakan pintu, dan benar, itu adalah Laskar yang asli.Pria itu mengerutkan dahi kala melihat sang istri menyambut dengan senyum di depan pintu.“Kan aku udah bilang, nggak usah nungguin kalau aku pulang malam,” katanya dingin. “Nanti kalau pusing karena kurang tidur atau apa, nyalahin aku.”Senyum Kayla lenyap seketika.“Nggak kok Mas. Ah iya, ada Kaivan di dalam, Dia baru aja datang.”“Aku udah lihat.” Laskar mengedikkan dagu ke arah mob

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   4. Orang Asing Itu

    **“Astaga! Maaf! Maaf nggak sengaja, saya pikir anda suami saya ….”Kayla panik. Ia segera menjauh dari orang asing yang masih berdiri mematung di depan pintu itu.“Nggak apa-apa, Mbak.”Mbak?Kayla mengerutkan dahi saat memandang pria muda bertubuh jangkung di hadapannya. Ia merasa tidak mengenal orang ini.“Maaf, tapi anda siapa, ya? Kalau mencari Mas Laskar, beliau sedang nggak ada di rumah sekarang. Sebaiknya besok pagi saja datang ke sini lagi.”Pria itu masih diam mematung, dan memandangi Kayla tanpa berkedip. Pada saat itu, barulah Kayla sadar satu hal.Ia masih mengenakan baju tidur seksi sepanjang paha dengan tali pundak kecil!Demi Tuhan, Kayla terperanjat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlari pergi. Ia tutup pintu rumah dengan keras, lalu naik ke lantai atas dengan wajah merah padam.Sementara tanpa Kayla sadari, pria muda di depan pintu itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Tersenyum tipis.“Bodoh banget, kok bisa sampai lupa kalau bajuku begini?” rutuk Kayla kepada

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   3. Rencana Kejutan

    **“Memang penampilanku sepayah itu, kah? Kok Ibu sampai ngomong begitu?”Kayla memandang pantulan bayangan dirinya sendiri dalam cermin, pagi ini. Sesosok perempuan muda yang murung memandang balik dari sana.Perempuan itu menyentuh rambutnya yang sudah mencapai punggung. Lurus jatuh alami, namun warna kemerahan agak kentara pada ujung-ujungnya. Bukan sengaja diwarnai, melainkan sebab kering kurang terawat.Selain itu, lingkaran hitam samar tampak pada bagian bawah mata. Akibat kerap kurang tidur karena menunggu Laskar pulang kantor yang seringkali sudah larut malam.“Kayaknya aku memang harus lebih ngerawat diri. Siapa tahu Mas Laskar memang lagi kurang tertarik sama aku yang sekarang ini.”Kayla menunduk dengan raut mendung. Masih memperhatikan ujung rambutnya yang pecah-pecah.Akhirnya, ia meraih ponsel untuk mencari referensi gaya rambut yang cocok untuknya, sementara menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.“Kalau dipendekin begini, Mas Laskar kasih izin nggak, ya?” Ia meman

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   2. Ibu Mertua Yang Terhormat

    **Kayla memejamkan mata sekilas. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan gemuruh dalam dadanya.“Kamu kenapa semakin ke sini semakin nganggap aku seperti musuh begitu sih, Mas?” ujarnya lirih, kepada diri sendiri. Padahal Laskar menikahi Kayla tiga tahun yang lalu, sama sekali bukan karena perjodohan atau paksaan orang. Laskar sendiri yang menyatakan perasaannya dan meminang Kayla dengan segala janji manis masa depan.Kayla yang kala itu sama sekali belum pernah dekat dengan lelaki sebab terlalu fokus bekerja setelah lulus kuliah, tentu saja terlena dengan perlakuan dan kata-kata manis seorang Laskar Abimana.Manalah ia tahu, sikap itu hanya untuk pencitraan di permukaan saja. Lambat laun rumah tangga mereka berjalan dengan rasa hambar, yang mungkin hanya Kayla seorang saja yang merasakan.Lelah, perempuan muda itu membaringkan tubuh di atas ranjang.Tahu bahwa malam ini Laskar tidak akan kembali ke kamar.…Pukul setengah tujuh pagi.Kayla menata beberapa menu sarapan di atas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status