Masuk**
“Memang penampilanku sepayah itu, kah? Kok Ibu sampai ngomong begitu?”
Kayla memandang pantulan bayangan dirinya sendiri dalam cermin, pagi ini. Sesosok perempuan muda yang murung memandang balik dari sana.
Perempuan itu menyentuh rambutnya yang sudah mencapai punggung. Lurus jatuh alami, namun warna kemerahan agak kentara pada ujung-ujungnya. Bukan sengaja diwarnai, melainkan sebab kering kurang terawat.
Selain itu, lingkaran hitam samar tampak pada bagian bawah mata. Akibat kerap kurang tidur karena menunggu Laskar pulang kantor yang seringkali sudah larut malam.
“Kayaknya aku memang harus lebih ngerawat diri. Siapa tahu Mas Laskar memang lagi kurang tertarik sama aku yang sekarang ini.”
Kayla menunduk dengan raut mendung. Masih memperhatikan ujung rambutnya yang pecah-pecah.
Akhirnya, ia meraih ponsel untuk mencari referensi gaya rambut yang cocok untuknya, sementara menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.
“Kalau dipendekin begini, Mas Laskar kasih izin nggak, ya?” Ia memandangi salah satu foto model rambut dari internet. Tidak terlalu pendek, hanya model bob sebahu.
Kayla sebenarnya suka rambut pendek karena merasa lebih segar. Namun Laskar selalu mengatakan ia suka perempuan dengan rambut panjang. Maka dari itu, Kayla dengan senang hati memanjangkan rambutnya.
“Ini Mas Laskar kok lama banget di kamar mandi. Nggak apa-apa kah?”
Melupakan foto dalam ponselnya, Kayla melangkah pelan menuju kamar mandi di sudut ruangan.
Rasa was-was memenuhi hatinya, sebab takut sesuatu yang buruk terjadi kepada sang suami.
“Apa jangan-jangan dia jatuh terus pingsan? Aduh, kok bisa mikir jelek begitu. Nggak, nggak boleh ….”
Kayla mengangkat tangan hendak mengetuk pintu kamar mandi. Namun suara rintihan lirih terdengar dari baliknya.
Jantung Kayla benar-benar mencelos. Ia pikir Laskar benar-benar terpeleset lalu jatuh sampai tak sanggup berteriak minta tolong.
“Mas?” Perempuan itu berseru pelan untuk memanggil suaminya. “Mas Laskar, kamu nggak–”
Namun panggilan Kayla mendadak berhenti.
Ia mengerutkan dahi, sebab merasa aneh dengan suara rintihan dalam kamar mandi itu. Seperti bukan rintih kesakitan atau minta tolong.
Itu lebih seperti ….
"Mas? Mas, kamu nggak apa-apa?"
Brak!
“Ngapain kamu berdiri di sini?”
Kayla terlonjak kaget saat pintu di hadapannya menjeblak terbuka dengan tiba-tiba.
“Ma-Mas ….”
“Apa sih panggil-panggil? Gangguin orang mandi aja! Kamu mau aku panik terus jatuh karena denger panggilanmu?”
“Bukan gitu. Maaf, Mas. Aku cuma khawatir karena kamu lama banget di dalam. Aku pikir ada apa-apa ….”
“Nggak jelas!”
Laskar berlalu dari hadapan Kayla dengan wajah kesal menuju walk-in closet kecil di samping pintu kamar mandi. Menyisakan perempuan itu sendirian, yang masih dipenuhi tanda tanya perihal apa yang sudah didengarnya tadi.
“Apa sih, mungkin cuma salah dengar aja.” Kayla akhirnya menggeleng, menepis pikiran buruk dalam benaknya.
Ia lantas melangkah mengikuti sang suami yang sedang berganti pakaian.
Terpaku, menatap tubuh tegap Laskar yang telanjang dada. Punggungnya yang lebar terlihat mengkilap terkena tetesan air dari rambut yang basah.
Kayla merasa api dalam dirinya bergejolak. Sudah berapa lama pria ini tidak menyentuhnya?
Dua atau tiga bulan?
Laskar selalu pulang larut malam, tak peduli bahwa Kayla di rumah menunggu dengan rindu.
Rindu sentuhannya, rindu bagaimana mereka menghabiskan malam panas yang penuh gairah dulu.
Kayla mengerjap, mengusir bayangan nakal itu dari benak.
“Mas, mau aku bantu keringin rambut? Aku ambil hair dryer sebentar, ya?” tawar perempuan ayu itu.
Tidak ada jawaban, sehingga Kayla pikir Laskar tidak menolak. Dengan senyum tersungging, ia berlari keluar untuk mengambil pengering rambut di atas meja rias.
Kayla senang sekali, sebab suaminya tidak menolak. Sudah berminggu-minggu ini, Laskar seperti tidak suka disentuh olehnya. Bahkan tidur pun pria itu akan memalingkan tubuh.
“Mas, aku boleh potong rambut, nggak?” Kayla mengawali pembicaraan. Berharap Laskar akan menanggapi dengan hangat.
“Mau bergaya apa lagi sih, kamu?” Tapi jawabannya tetap sedingin itu.
Kayla sedikit cemberut. “Rambutku ujungnya kering, Mas. Mau aku pendekin sedikit biar seger. Boleh, ya? Nggak pendek banget, deh.”
“Terserah kamu lah. Berangkat sendiri, aku nggak akan sempet anterin.”
“Tapi hari ini weekend, loh. Kita sekalian jalan-jalan yuk, Mas! Makan nasi goreng seafood langganan kita pas masih pacaran dulu, yuk?”
“Kamu pergi sendiri aja lah. Naik taksi online atau bawa motor sendiri, sana. Aku sibuk, ada kerjaan. Udah ah, aku harus ke kantor.”
Pria itu beranjak menjauh, lantas berlalu dari hadapan Kayla yang masih mematung sembari memegangi hair dryer.
Harapannya kandas, pupus bersama penolakan sang suami untuk yang ke sekian kali.
Yang bisa ia lakukan, hanya menghela napas panjang lagi dan lagi.
….
“Ini cocok banget sama bentuk wajah kamu, Kak. Lihat deh, jadi imut-imut kayak artis Korea, kan?”
Kayla tertawa mendengar candaan hair-stylist salon yang baru saja merombak rambutnya. Ia mengangguk, puas dengan hasilnya. Rambut rusaknya sudah berubah lebih pendek dan lebih cantik. Membuatnya terlihat jauh lebih muda dan segar.
“Aku rekomendasiin merk hair care yang bagus, biar bisa perawatan sendiri di rumah, ya?”
“Oh, boleh banget. Kalau boleh juga, sekalian rekomendasi skincare sama make up yang cocok buat aku, ya?”
Gadis cantik pegawai salon itu mengacungkan jempol sebelum berlalu pergi mengambil sesuatu, sementara Kayla masih memandangi bayangannya sendiri di dalam cermin.
Yah, akhirnya Kayla memang harus pergi sendiri ke salon untuk potong rambut. Laskar menolak keras mengantarkannya dengan alasan sibuk.
Tapi tak mengapa. Kayla tetap senang karena sudah diizinkan pergi.
“Nanti, aku mau sekalian beli baju tidur baru yang seksi. Kasih kejutan buat Mas Laskar nanti malam.”
Perempuan itu tersenyum senang. Tidak sabar untuk bertemu suaminya malam nanti dan menunjukkan perubahan barunya.
Pada malam harinya, Kayla sudah bersiap di depan cermin. Ia memutar tubuh sekali lagi, memastikan penampilannya sempurna.
Senyumnya lebar mengembang kala menatap bayangannya yang jelas berbeda.
Gaun satin berwarna peach dengan panjang sebatas paha, membalut tubuh indahnya. Kayla sengaja memakai make up flawless tipis rekomendasi dari salon, yang membuatnya tampak semakin cantik. Tak lupa, semprotan parfum di bagian-bagian tertentu.
Memandang jam dinding sekali lagi, sudah hampir jam setengah sebelas malam.
Kayla harap-harap cemas. Jantungnya berdebar kencang seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Tepat saat itu, suara mesin mobil terdengar di luar, melalui jendela kamar yang Kayla sengaja biarkan terbuka.
“Ah, akhirnya Mas Laskar pulang. Aku langsung ke depan ajalah, biar dia kaget, hehe ….”
Bersenandung pelan, perempuan itu menuruni tangga dengan semangat.
Tepat di depan pintu, ia menarik napas dalam-dalam.
Tak sabar, Kayla menekan password kunci pintu, dan membukanya lebar-lebar.
Sesosok pria berdiri di hadapannya.
“Mas, udah pulang? Selamat datang, aku kangen banget ….”
Kayla melompat dan memeluknya erat. Detik-detik berlalu, ia heran sebab tidak mendapat respon apapun. Bahkan penolakan pun tidak.
Merasa heran, Kayla menjauh sedikit. Ia mendongak, memandang pria yang sedang ia peluk itu.
“Oh!”
Dan sepasang matanya melebar kaget.
***
**"Kamu nggak mau cari tahu tentang ibu kamu sama Anin? Mereka kayaknya lagi dalam keadaan yang enggak baik-baik aja."Kayla sengaja menanyakan hal ini ketika Kaivan sudah berada di atas tempat tidur. Sudah mandi, sudah makan malam, dan berada di dalam suasana hati yang cukup baik. Sehingga besar kemungkinan pria itu akan menjawab dengan kepala jernih.Sepertinya hal itu memang cukup efektif. Kaivan hanya tertegun sejenak sebelum kembali menyamankan diri sebelum menjawab."Sayang ... sebenarnya kita udah nggak ada urusan lagi sih sama mereka. Toh, dari awal aku juga nggak ada hubungan apapun sama mereka, kan? Kebetulan aja ayahku nikah sama ibunya Anin dan Laskar. Lalu sekarang setelah dua orang itu udah nggak berada dalam ikatan pernikahan, maka putus juga hubungan aku sama mereka."Kayla terdiam. Ia yang sedang bersandar manja di lengan Kaivan, mendongak dan memandang prianya itu tanpa sama sekali berniat mendebat."Begitu, ya? Ya sudahlah kalau begitu. Aku ikut aja kamunya gimana.
**"Ibu ketemu sama Kayla sama Kaivan tadi pas jualan. Kayla kayaknya mau beli stroberi tapi nggak tahu kalau Ibu yang jual. Jadi kita berdua sama-sama kaget."Widya bercerita dengan wajah menerawang kepada Anin. Ia duduk berselonjor di atas karpet tipis yang terhampar sekenanya di ruang tamu sempit itu. Sementara tangannya mengipas-ngipas menggunakan topi lebar yang sebelumnya ia pakai untuk berjualan. "Terus gimana?" Anin menyahut sambil lalu. Gadis itu sedang melepas sepatu dan kaus kakinya. Juga baru saja pulang dari bekerja sebagai pelayan restoran."Ya Ibu tinggal pergi, lah. Dianya masih melongo, Ibu udah lari. Malu tahu, Nin!""Ih, kok malu? Tahu gitu kan bisa minta duit.""Halah! Kamu sendiri juga malu kan pas ketemu mereka di restoran waktu itu? Kamu bilang sama Ibu langsung minta tuker sama temenmu, walau akhirnya dimarahin bosmu. Iya, kan?"Anin hanya melirik sedikit sebelum menyusul ibunya duduk berselonjor di atas karpet."Ah, iya! Ngomong-ngomong duit, dia ternyata tad
**"Ibu?!"Kayla terhenyak kaget.Ia hampir tergelincir jatuh dari kursi mobilnya, jika saja Kaivan tidak memeganginya dengan erat. Sementara sosok yang sedang menawarkan stroberi itu pun terlihat tak kalah kagetnya. Ia melangkah mundur ke belakang. Wajahnya mendadak pucat tanpa warna."Ibu!" Kayla mengulangi panggilannya. Kali ini ia benar-benar melompat turun. Mendekati wanita penjual stroberi yang ternyata adalah mantan ibu mertuanya, Widya."Ibu, aku-"Kayla belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun sosok di hadapannya itu keburu berlari kabur. Padahal Kayla hanya berniat menanyakan kabarnya. Widya kabur tanpa memedulikan dagangannya yang masih tertata di atas meja."Van, kok Ibu malah lari?" Kayla menoleh dengan panik kepada suaminya yang masih berada di dalam mobil. Dan sama halnya dengan dirinya, pria itu pun sedang bengong setelah menyaksikan kejadian barusan."Van, gimana ini? Masa stroberinya ditinggal di situ?""Ya, gimana Sayang? Mendadak lagi gitu. Aku juga nggak tahu."
**"Dokter, jangan bikin saya takut!"Kaivan hampir saja mendorong pria itu menghimpit dinding, jika saja seulas senyum dari yang bersangkutan tidak menghentikan langkahnya. Ya, sang dokter justru tersenyum. Detik selanjutnya, apa yang pria itu ucapkan akan meruntuhkan ketakutan Kaivan hingga rata dengan tanah."Sebelumya, saya ucapkan selamat ya, Pak. Melalui pemeriksaan yang kami lakukan, diketahui bahwa istri anda saat ini sedang mengandung."Hening. Kaivan merasa sadar dan tidak saat mendengar itu."Ap-apa, Dok?""Istri anda sedang mengandung, Pak Kaivan. Usia janin masih sekitar enam minggu, tapi melalui pemeriksaan, bisa dipastikan semuanya normal."Kaivan merasa tidak menginjak lantai. Tubuhnya bagai melambung melayang-layang seperti balon helium yang terlepas. Pria itu tertegun selama beberapa saat, hingga kemudian meraih tangan pria di hadapannya dan mencengkeramnya erat-erat."Dokter nggak bercanda, kan? Ini serius, kan? Istri saya hamil?""Positif, Pak.""Ah, Ya Tuhan!"Kai
**“Sayang, kamu bangun? Mana yang sakit? Kepalanya pusing? Perutnya sakit? Atau apa?”Kayla mengerjap pelan. Menyesuaikan cahaya yang menerpa pandangnya dengan tiba-tiba. Selama beberapa saat ia kembali memejamkan mata, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Setelah terbiasa, perempuan itu kembali membuka mata. Memandang sang suami yang menatap dengan khawatir di samping ranjang sembari menggenggam tangannya.“Sayang? Bilang sama aku, apa yang kamu rasain?”“Oh ….” Kayla mengerutkan alis. Mencoba mencerna keadaan. “Aku kenapa ya, Van?”“Pingsan.” Kaivan menggenggam tangannya dengan hangat. “Ning telepon aku. Katanya kamu pingsan setelah ngeluh nggak enak badan. Bilang sama aku, sebelah mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?”Kayla menggeleng. Ia menyungging senyum untuk meyakinkan sang suami. “Kayaknya ini cuma kecapekan. Beberapa hari ini jadwalnya padat banget. Aku juga beberapa kali telat makan. Mungkin masuk angin aja.”Kaivan berdecak. Ia mengelus lembut puncak kepala Kay
**"Anin?"Gadis muda pelayan restoran itu terkesima. Wajahnya dalam sekejap berubah merah membara saat bertukar pandang dengan Kayla dan Kaivan yang baru saja masuk. Ia mundur selangkah. Menoleh ke arah belakang, dan tidak mendapati satu pun rekan kerjanya di sana. Padahal sebelumnya ia pikir bisa bertukar dengan pegawai yang lain."Kamu kerja di sini?" Kayla bertanya lagi kepada adik iparnya. Nada suara yang ia gunakan netral saja, seperti pertanyaan pada umumnya. Tapi Anin terlihat seperti Kayla baru saja mengatakan sesuatu yang membuatnya malu."Ya.""Udah lama?""Baru."Kayla dan Kaivan bertukar pandang kala mendapati interaksi yang dingin itu. Awalnya Kayla berniat ingin mengajak Anin ngobrol lebih banyak, tapi pandangan gelap Kaivan seperti mengatakan tidak setuju secara tersirat."Kasih menunya," kata pria rupawan itu, dingin.Anin bergerak ragu, mengulurkan buku menu berikut notes untuk mencatat pesanan. Setelah itu ia menunggu dalam diam. Selesai menerima order pun, Anin han







