Masuk**
Kayla menggeleng keras. Air mata jatuh tanpa sadar, berlinangan di kedua pipi sementara ia dengan panik berusaha terus menghubungi sang suami.
Dua tiga kali dengung nada sambung terdengar, lalu ditolak. Bahkan pada panggilan yang terakhir, sudah tidak bisa lagi tersambung. Nomor Kayla diblokir.
“Mas, tolong angkat teleponnya. Bilang sama aku kalau ini nggak benar. Bukan kamu yang ada di dalam foto dan video itu ….”
Percuma saja. Tangis keras Kayla hanya bergema di dinding rumah yang kala itu kosong. Tidak ada yang mendengar, pun peduli kepadanya.
Udara dingin angin malam berhembus pelan memasuki balkon, membuat nyala lilin bergoyang-goyang, lalu padam.
Asap tipis di puncaknya menari pelan sebelum lindap.
“Mas, bilang sama aku itu bukan kamu … itu bukan kamu, kan ….”
Dalam keadaan kalut dan putus asa, Kayla membuka sendiri botol wine yang sudah ia siapkan untuk acara ulang tahun pernikahan yang kini hancur itu.
Ia menuangnya ke dalam gelas, lalu meneguknya banyak-banyak.
Rasa pahit getir bercampur manis menyengat memenuhi indera perasa.
Kayla terbatuk pelan. Rasanya tidak enak sama sekali. Kayla yang belum pernah sekalipun mencicipi alkohol, mengernyitkan dahi karena merasa tenggorokannya terbakar.
Namun kenyataan yang menghantamnya tepat pada hari jadi tiga tahun pernikahannya malam ini, jauh lebih pahit daripada rasa wine itu. Maka lagi dan lagi, Kayla menuang cairan merah keunguan itu ke dalam gelas.
“Kamu jahat banget, Mas! Aku kurang apa sama kamu? Kenapa kamu tega lakuin ini sama aku?”
Suara isak tangis mulai timbul tenggelam bersama kesadaran yang kian lindap.
AIr mata bersimbah memenuhi wajah. Sekarang Kayla rebahkan kepalanya yang berat di atas meja.
Ia memeluk dirinya sendiri. Hawa dingin menelusup ke dalam bathrobe sutera yang melapisi tubuh mungilnya.
Ia nyaris jatuh tertidur, lelah menangisi Laskar. Sampai sentuhan halus di lengan membuatnya kembali mengangkat kepala. Pandangannya yang buram berusaha ia fokuskan pada sosok yang berdiri di sampingnya.
“Mas … kamu pulang?" Kayla terperanjat. "Yang tadi itu nggak benar kan, Mas? Kamu nggak mungkin selingkuhin aku, kan?”
Di antara kesadaran yang timbul tenggelam, Kayla berusaha meraih lengan pria yang ia pikir adalah Laskar.
“Mas, aku nunggu kamu … aku nunggu kamu lama banget ….”
Kayla berdiri susah payah. Tubuhnya nyaris limbung karena efek alkohol, namun lengan kekar segera menangkap pinggangnya dan mendekapnya begitu erat.
Kayla tahu, itu adalah Laskar. Ia meraih leher pria itu dan melingkarkan tangan di sana, lalu mulai mendekatkan bibirnya.
…
“Password-nya kemarin sudah dikasih tahu sama Mbak Kayla. Tapi aku lupa. Semoga yang ini bener ….”
Kaivan tersenyum lebar saat kombinasi angka yang ia ketikkan pada smart door lock akhirnya berhasil. Pintu terbuka bersama suara klak pelan.
Pria itu melangkah masuk. Sedikit merasa heran sebab rumah sangat sepi, namun lampu-lampu utama masih menyala terang.
“Mas Laskar belum pulang, kah? Nggak ada mobilnya di luar. Di meja makan juga nggak ada bekas makan malam. Apa Mbak Kay sudah tidur?”
Kaivan memelankan langkah kakinya ketika menaiki tangga, sebab tidak ingin mengganggu Kayla yang ia pikir sudah tidur.
Bermaksud segera memasuki kamarnya, sebab saat itu waktu sudah hampir tengah malam.
Namun saat hendak berbelok ke kamar di sebelah kiri tangga, pandangan Kaivan jatuh pada sesuatu di ujung koridor.
Di luar, di tepi balkon yang terbuka, Kaivan lihat sosok perempuan yang tertidur di atas meja.
Gegas Kaivan mengayun langkah untuk memeriksa, dan ia terkejut bukan main saat tahu bahwa itu adalah Kayla.
Kepalanya rebah di atas meja, di samping piring-piring berisi hidangan makan malam yang sudah dingin. Sebotol wine tergeletak di samping gelas berkaki tinggi yang sudah bersih.
“Astaga, Mbak Kayla! Mbak, kenapa tidur si sini? Mbak, bangun dulu, masuk ke dalam ….”
Kaivan goyangkan pelan lengan Kayla, berharap perempuan itu membuka mata. Namun yang Kaivan dapatkan hanya lenguh teredam.
Saat menggoyangkan lengan Kayla sedikit lebih keras, akhirnya perempuan itu mengangkat kepala.
“Mbak, yuk pindah ke kamar. Kalau tidur di sini nanti badannya sakit semua.” Kaivan menarik pelan lengan Kayla, namun alih-alih bangun, perempuan muda itu justru mengalungkan lengan di lehernya.
“Mb-mbak ….”
“Mas … kamu pulang? Yang tadi itu nggak benar kan, Mas? Kamu nggak mungkin selingkuhin aku, kan?”
Kaivan tercekat. Ia memandang Kayla lamat-lamat, tampak jelas jejak-jejak air mata mengalir pada kedua pipi perempuan itu.
Isaknya masih ada, terdengar parau dan putus asa.
Membuat sesak dada Kaivan.
Amarah seperti memantik dan membakar akal sehatnya pelan-pelan, kala ia mulai paham apa yang terjadi.
Ia berbisik lirih, “Demi Tuhan, Mbak Kay, aku pengen bunuh suamimu yang brengsek itu rasanya ….”
“Mas, aku nunggu kamu … aku nunggu kamu lama banget ….”
Kayla mendekat,berjinjit dan menempelkan bibir mungilnya pada bibir Kaivan.
Pria tampan itu melebarkan mata, terkejut bukan main.
Namun aroma harum parfum yang memenuhi indera penciuman, hangat dan manisnya bibir Kayla, serta air mata perempuan itu, membuat akal Kaivan menjadi buntu.
Tangannya bergerak pelan, merengkuh pinggang sempit Kayla dalam pelukan.
Bibirnya terbuka, menerima ciuman Kayla yang hangat.
Dunia terasa berputar, isi kepala Kaivan mendadak kosong, melayang pergi.
“Kayla ….” Ia berbisik lirih di depan bibir perempuan itu.
Saat Kaivan menjauhkan tubuhnya sedikit, ia bisa melihat renda-renda lingerie warna peach yang mengintip dari balik bathrobe sutera yang dikenakan Kayla.
Seketika api dalam tubuh Kaivan menyala dan berkobar hebat.
Ia angkat tubuh mungil Kayla dalam gendongan dan membawanya menjauh dari balkon.
“Jangan di sini, Mbak Kay. Kita ke kamar saja ….”
***
**Pemikiran itu mengganggu Kayla hingga hari-hari ke depannya. Ia yang awalnya baik-baik saja, sekarang mulai merasa gundah setiap kali melihat kalender. Selalu resah begitu hari berganti.Bagaimana jika sama seperti kepada Laskar, ia tetap tidak bisa memberikan keturunan kepada Kaivan?Bagaimana jika ternyata memang dirinya yang bermasalah? Produk cacat yang sudah semestinya tidak usah diberi kesempatan saja?Dan sebab rasa gundah itu, Kayla jadi agak pendiam. Ia yang biasa bertukar cerita dengan Kaivan tentang apa saja di meja makan, sekarang lebih senang melamun dan menghabiskan makanannya dalam diam.Hal sederhana, namun Kaivan tidak suka. Kaivan senang mendengar istrinya cerewet, banyak mengeluh dan berkomentar ini itu. Bercerita hal-hal remeh atau hanya sekedar mengutarakan rasa tidak suka pada brand dunia yang suka aneh-aneh, misalnya merilis baju dari kardus bekas yang dibanderol dengan harga tak masuk akal. Ketika yang terdengar dari meja makan kecil itu hanya denting sendo
**Benar-benar hanya sepuluh menit Kaivan datang menjemput Kayla. padahal dari kantor ke posisinya saat ini, setidaknya butuh sekitar dua puluh menit mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Berarti Kaivan menyetir dua kali lipat lebih kencang dari biasanya."Aku tuh beneran nggak apa-apa, Van. Kamu nggak perlu sekhawatir itu. Ini tadi kamu kebut-kebutan ke sini, kan?" Perempuan itu bertanya dengan nada tidak senang."Aku nggak bisa tinggalin kamu lama-lama," sanggah Kaivan. "Takut ada apa-apa sama kamu. Apalagi tadi pas video call kamu kayaknya lagi kebingungan."Kayla sedikit tercekat. Haruskah ia katakan bahwa tadi ia bertemu dengan Laskar? Sepertinya tidak perlu. Lagi pun tidak ada yang terjadi. Untuk apa diceritakan segala, kan."Nggak ada apa-apa. Aku tuh tadi cuma mau belanja dikit. Lagian ini juga nggak jauh-jauh banget dari rumah. Ini kalau begini kerjaan kamu jadi keganggu, kan?"Kaivan tersenyum dan menggeleng. Ia mengusap pelan pipi sang istri yang kemerahan sebab udara
**"Kayla, aku ...."Karena lanjutan kalimatnya tak kunjung terucap, maka Kayla mengerutkan dahi sembari memandang pria di hadapannya. Laskar gelapagan, entah bagaimana lindap semua kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya. Dulu ia begitu mudah menyuarakan segala hal, bahkan hal-hal buruk kepada Kayla. Namun sekarang, bahkan untuk bertanya apa kabar pun ia tak sanggup.Kayla seperti memiliki aura lain yang jujur saja, tidak bisa lagi digapai oleh Laskar. Ketika masih menjadi istrinya, penampilan perempuan itu sungguh sederhana. Sehari-hari hanya memakai daster dan seringkali tanpa riasan. Sebab tentu saja Laskar tidak pernah mengizinkannya membeli make up. Buang-buang uang saja, katanya kala itu. Toh, Laskar juga tidak pernah mengizinkan Kayla keluar rumah. Tak pernah mengajaknya ke mana-mana juga.Tapi sekarang, saat ini, Laskar memandang Kayla sekali lagi, dan itu membuatnya gugup luar biasa.Perempuan itu tampak sangat cantik, demi apapun. Tidak berdandan berlebihan, hanya men
**Dua minggu Selin meninggalkan rumah. Perempuan itu kembali ke apartemen lamanya yang ia tinggali sebelum menikah dengan Laskar. Apartemen itu, Laskar pula yang membelikan. Dulu, saat pria itu sedang berada di puncak kejayaannya. "Kamu pasti balik lagi ke rumah, kan?" Laskar berkata dengan setengah memohon saat berhasil menemui Selin hari ini. Setelah bekali-kali usahanya gagal."Nggak janji," jawab Selin ketus. "Selama sikap ibu dan adikmu masih begitu, aku nggak sudi balik ke rumahmu.""Aku janji akan bikin mereka berubah, Sayang.""Kalau kerjaan kamu masih berantakan, aku juga nggak sudi balik lagi."Kali ini Laskar terdiam. Tak bisa ia pungkiri, keadaan finansialnya memang sedang hancur. Perusahaan kontraktor yang ia bangun terancam gulung tikar sebab banyak projek yang tak bisa diselesaikan. Juga kebutuhan rumah yang terus mendesak.Namun hal itu juga bukan hanya kesalahan Laskar semata. Sedikit banyak, manajemen keuangan Selin yang buruk juga turut andil menjadi penyebab peru
**"Las, kita harus cari duit! Ini tuh udah mendesak banget! Kalau begini terus bisa-bisa kita mati, nggak bisa makan!"Laskar kala itu masih terbaring lemas di atas ranjangnya. Baru beberapa hari yang lalu ia pulang dari rumah sakit. Seharusnya, masa-masa ini ia masih recovery baik fisik maupun mental agar tubuh lekas pulih. Namun sang ibu dan adiknya justru datang membawa mala petaka."Kemarin di rumah air PAM diputusin sama tukangnya gara-gara dua bulan telat bayar," tambah Anin. Gadis itu sedang memandang masam kepada kuku-kuku jari tangannya yang belakangan sudah tidak dihiasi nail art. "Kita mau mandi aja nggak bisa loh, Mas.""Ini kayaknya kalau nggak bayar listrik, bulan ini juga bakal diputus sama PLN." Widya menggaruk rambutnya yang hanya dicepol biasa. Tak lagi mengenakan sanggul yang anggun seperti kemarin-kemarin.Laskar memejamkan mata. Mencoba memblokir suara-suara tersebut dari pendengaran. Kepalanya pusing dan telinganya berdenging."Nah! Jual aja rumah kalian buat ba
**Kaivan pusing. Sudah tiga hari Kayla tidak berbicara kepadanya. Meski tidur masih bersama dan Kaivan masih setia memeluknya, meski makan juga masih bersama, tapi Kayla sama sekali tidak berbicara dengannya. Perempuan itu membisu, meski berkali-kali Kaivan membujuknya untuk bicara. Hanya mengangguk atau menggeleng saat ditanya, dan tidak menjawab jika Kaivan memberikan pertanyaan yang memerlukan jawaban panjang."Tolong jangan begini terus lah, Sayang. Aku nggak bisa kalau kamu terus diem begini. Mendingan marahin aku aja nggak apa-apa, daripada diam ...."Kaivan masih terus membujuk saat keduanya sarapan bersama pada hari keempat. Kayla memandang sekilas dari atas piringnya. Masih diam sejenak sebelum kemudian mengangkat bahu. Ini sudah tiga hari, jadi Kayla rasa memang sudah waktunya diakhiri."Kamu yang bikin masalah," tuturnya pelan.Kaivan kaget sekaligus senang. Akhirnya suara yang ia rindukan itu terdengar kembali. Tidak mengapa masih merajuk pun. Setidaknya, perempuan kesay







