ログイン"Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja."Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah.Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen menegangkan saat Bagas hendak menyiram bensin dan mencoba mendobrak pintu.Ada perasaan campur aduk di dada Laura—khawatir, tidak tega, tapi juga paham betul betapa besarnya kekecewaan yang sedang dirasakan suaminya. Namun melihat mereka berdua terpaku di luar, seolah tak mau beranjak meski malam mulai menjelang, hatinya yang lembut tak bisa menahan rasa iba.Tiba-tiba, suara panggilan terdengar dari luar pintu ruang kerja, memecah keheningan."Bu Laura!"Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terdengar.
Bau menyengat langsung tercium menusuk hidung. "Om ngapain?" suara Qiara langsung berubah tegang, nada khawatir bercampur ketakutan terdengar jelas. Dia berjalan cepat mendekati suaminya. "Itu bukannya bensin, ya?""Iya, Sayang." Jawaban Bagas terdengar santai. Bahkan terlalu santai untuk situasi yang begitu berbahaya dan gila ini.Tangannya kembali terangkat, hendak menyiramkan lagi—tapi dengan cepat Qiara menahannya. Tangan kecilnya mencengkeram erat pergelangan tangan Bagas yang kekar, berusaha menghentikan aksi nekat itu."Terus kenapa Om siram? Bensin 'kan bahaya, Om. Kalau kena api bisa kebakar." Matanya memandang Bagas lekat-lekat, berharap suaminya sadar akan apa yang sedang dia lakukan.Bagas menoleh. "Justru Om ingin membakarnya."Degh!Jantung Qiara seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya langsung membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar."Om mau bakar rumah Ayah?" tanyanya lagi, berharap dia salah dengar."Iya." Bagas mengangguk mantap, tanpa
"Mbak, aku mau pesan dua porsi soto ayam, dua air mineral, dan dua jus mangga. Di take away, ya," ucap Bagas pada kasir restoran."Baik, Pak. Mohon ditunggu, ya."Kasir wanita itu segera mencatat pesanannya dengan cekatan, lalu mengetik cepat di mesin kasir untuk mentotalkan harga pembayaran.Sementara itu, Bagas merogoh dompetnya mengeluarkan sebuah blackcard berwarna hitam pekat, dan membayar dengan cepat tanpa menunggu struk pembayaran tercetak sepenuhnya.Setelah selesai, dia melangkah pergi menuju salah satu kursi kosong di sudut restoran yang agak sepi.Dia duduk. Sembari menunggu pesanan jadi, dia berniat menelepon asisten pribadi dulu.Panggilan tersambung dalam satu nada dering."Halo.""Halo, Bos, selamat siang." Suara asistennya terdengar ramah dan ceria dari seberang sana."Temui aku di restoran soto ayam yang baru buka, dekat pasar Teluk Gong, lalu bawakan bensin di dalam jerigen. 5 liter saja.""Mobil Bos kehabisan bensin?" tanya sang asisten, suaranya terdengar ragu."E
Mata Dylan sontak membulat, jelas terkejut dengan pertanyaan istrinya. Sedikit pun, tak pernah terlintas di benaknya untuk melakukan hal sekejam itu—terlebih pada cucu pertamanya yang begitu dia sayangi."Bunda ini bicara apa? Kita nggak perlu melakukan tindakan gila seperti itu pada Kai, Kai nggak salah apa-apa di sini. Dia suci, dia nggak berdosa." Suaranya tegas, bahkan sedikit meninggi. Ada naluri melindungi yang begitu kuat dalam ucapannya."Iya, Bunda tau." Laura mengangguk pelan. Tatapannya melembut, namun pikirannya tetap bekerja.Sebetulnya dia tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Pertanyaan tadi… hanyalah cara untuk menggali isi hati suaminya."Tapi sekarang apa yang ingin Ayah lakukan pada Kai?" Pertanyaan itu kembali dilontarkan, kali ini lebih tenang, lebih dalam.Dylan menggeleng tanpa ragu. "Nggak ada. Kai nggak perlu dibawa-bawa dalam masalah ini. Yang Ayah masalahkan hanya orang tuanya, hanya mereka, Bun." Nada suaranya mulai turun. Namun amarah itu—belum ben
Dylan tampak terdiam beberapa saat, memandangi mereka secara bergantian. Lalu bukannya menjawab permintaan maaf mereka, dia justru mendorong keduanya untuk melepaskan lututnya, setelah itu dia langsung berdiri dan melangkah ke arah pintu.Bagas segera menyangga punggung Qiara, khawatir perempuan itu akan terjungkal.Melihat Dylan seperti hendak masuk ke dalam rumah, Qiara bergegas berlari menyusul."Ayah, kenapa Ayah masuk? Jawab dulu permintaan maaf dari ...." Ucapan Qiara belum selesai, tapi Dylan sudah keburu masuk dan menutup pintu sembari membantingnya.Brakk!!!"Astaghfirullah!!" Bagas tersentak, merasa kaget. Dia lalu mendekat ke arah Qiara, memeluknya lalu mengelus dada istrinya, khawatir perempuan itu kaget juga. "Kamu nggak apa-apa 'kan, Sayang?""Ayah!" panggil Qiara, meraih gagang pintu. Saat diturunkan pintu itu justru telah terkunci dari dalam. "Kenapa dikunci pintunya, Ayah! Kita belum selesai bicara!" tambahnya berteriak."Dylan, apa-apaan kamu? Buka pintunya, Lan!" Ba
"Akulah yang meminta Om Bagas untuk menghamiliku, Yah." Suara itu meluncur tegas dan lantang, memecah ketegangan yang mencekam. Semua kepala serentak menoleh ke arah sumber suara. Tepat di belakang mereka, berdiri tegak sosok Qiara. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa. Tangan dia terlihat sangat hati-hati menggendong tubuh mungil Kai yang sudah terlelap pulas. Sontak saja, semua orang di sana terkejut bukan main. Bahkan Bagas sendiri sampai terpaku sesaat. "Sayang ... kok kamu—" Mulut Bagas terbuka sedikit, bingung. Tadinya bukan ini skenario yang sudah dia rencanakan. Dia sudah berniat menutupi semuanya, siap menanggung semua kesalahan seorang diri, namun niat itu buyar seketika karena pengakuan berani istrinya. "Udah, Om. Biarkan saja. Sudah terlanjur juga kita ketahuan," sela Qiara cepat. Dia menatap suaminya lekat-lekat, tatapan itu memohon sekaligus meminta pengertian agar Bagas tidak lagi membantah atau menutup-nutupi. B
“Usir saja,” jawab Ayah santai. “Katakan kalau aku tidak mau bertemu dengannya.”Aku terkejut, sekaligus heran dengan jawabannya.“Kok Maira diusir sih, Yah?” tanyaku dengan dahi berkerut.Ayah tak menanggapi, bahkan sama sekali tidak menatapku. Dia langsung melangkah keluar kamar begitu saja, disu
Ah, tapi rasanya dia sangat tidak penting dalam situasi sekarang. Apalagi suasana hatiku sedang hancur berantakan.Tanpa banyak berpikir, aku langsung mematikan panggilan itu, lalu melanjutkan laju kendaran ke arah jalan pulang.Sesampainya di rumah, tepat di halaman, sebuah mobil yang sangat kuken
Mobil melaju cukup kencang membelah jalanan. Tanganku mencengkeram setir erat-erat, pikiranku kalut, fokusku terpecah antara jalanan dan bayangan buruk tentang Qiara. Jantungku berdegup tidak karuan, seolah berlomba dengan suara mesin mobil.Tiba-tiba, sebuah mobil dari belakang menyalip tanpa aba-
“Kita keluar dulu, Om. Nanti aku beritahu,” jawabnya singkat, lalu tanpa banyak memberi kesempatan aku bereaksi, Maira sudah lebih dulu menarik lenganku menjauh dari pintu kantor polisi. Aku menurut, membiarkan dia menyeretku kembali ke area parkir. Kami berhenti tepat di samping mobilku. Suasana d







