Accueil / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 127. Ke Dalam Perut Neraka

Partager

127. Ke Dalam Perut Neraka

Auteur: Donat Mblondo
last update Date de publication: 2026-07-25 01:20:04

​Pemimpin Sekte Batu Hitam menjatuhkan godam raksasanya. Harga diri dan kesombongannya hancur lebur di bawah tatapan mata sang Kaisar Zixiao. Pria fana di hadapannya ini bukanlah manusia; ia adalah inkarnasi dari algojo kematian itu sendiri.

​"K-Kau menginginkannya?" suara Pemimpin Sekte itu bergetar saat ia melangkah mundur, menunjuk ke sebuah terowongan batu besar di belakang takhtanya. Hawa panas yang ekstrem menguar dari lorong tersebut, membuat udara beriak. "Silakan ambil sendiri. Inti Ba
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Sentuh Aku, Renshu!   128. Tetesan Inti Kehidupan

    ​Kegelapan pekat menyelimuti kesadaran Chu Renshu, namun genggaman tangan kanannya tetap mengunci erat. Di tengah halusinasi rasa sakit yang membakar sekujur tubuh, bayangan wajah Liying yang membeku di atas ranjang kapal menjadi satu-satunya jangkar yang menahan jiwa sang Kaisar agar tidak tercerabut.​Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, aroma belerang dan bau daging yang terbakar menyengat indra penciumannya. Renshu mendapati dirinya terbaring di atas lantai batu di dekat mulut terowongan kawah. Di sisinya, Lu Kang dan Xiaoxiao tengah berlutut dengan wajah cemas luar biasa.​"Yang Mulia! Anda sadar?!" seru Lu Kang, nyaris menjatuhkan kapaknya karena terlalu terkejut.​Renshu tidak menjawab. Ia menggerakkan rahangnya yang kaku, lalu memaksa tubuhnya yang penuh luka bakar parah untuk bangkit. Kulit di dada, lengan, dan telapak tangan kanannya melepuh mengerikan, terkelupas dan memperlihatkan daging yang memerah. Namun, di tengah kepedihan luar biasa itu, tangan kanannya tetap ter

  • Sentuh Aku, Renshu!   127. Ke Dalam Perut Neraka

    ​Pemimpin Sekte Batu Hitam menjatuhkan godam raksasanya. Harga diri dan kesombongannya hancur lebur di bawah tatapan mata sang Kaisar Zixiao. Pria fana di hadapannya ini bukanlah manusia; ia adalah inkarnasi dari algojo kematian itu sendiri.​"K-Kau menginginkannya?" suara Pemimpin Sekte itu bergetar saat ia melangkah mundur, menunjuk ke sebuah terowongan batu besar di belakang takhtanya. Hawa panas yang ekstrem menguar dari lorong tersebut, membuat udara beriak. "Silakan ambil sendiri. Inti Batu Kumala adalah jantung dari gunung ini. Benda itu tumbuh di tengah danau magma di dasar kawah suci. Tidak ada seorang pun, bahkan dari sekte kami, yang mampu turun ke sana tanpa terbakar menjadi abu."​Renshu tidak menjawab. Ia memungut pedangnya, memasukkannya ke dalam sarung di punggung, dan berjalan melewati sang Pemimpin Sekte tanpa sedikit pun keraguan, melangkah lurus masuk ke dalam terowongan neraka tersebut.​Xiaoxiao berlari menyusul hingga ke ambang terowongan, namun hawa panas yang

  • Sentuh Aku, Renshu!   126. Negosiasi Ujung Pedang

    Kepulan debu vulkanik dari hancurnya gerbang utama perlahan tersapu oleh angin panas. Di balik ambang pintu yang telah menjadi puing-puing, ratusan murid Sekte Batu Hitam telah berkumpul dengan senjata terhunus. Mereka mematung, menatap dengan mata terbelalak ke arah pria berpakaian gelap yang baru saja menendang hancur gerbang baja dan basal yang mereka banggakan selama berabad-abad.​Di tengah pelataran benteng yang luas, berdiri sebuah altar batu. Di atasnya, duduk Pemimpin Sekte Batu Hitam. Pria itu bertubuh raksasa, jauh lebih besar dari Renshu. Hampir seluruh tubuhnya, dari leher hingga kaki, tertutup oleh kalus tebal berwarna hitam mengilat, hasil dari latihan penyiksaan diri menanamkan mineral obsidian ke dalam jaringan kulitnya. Ia tampak seperti patung iblis yang dihidupkan.​"Kau meruntuhkan pintuku, Manusia Fana," geram sang Pemimpin Sekte, suaranya berderak seperti bebatuan yang saling bergesekan. Ia berdiri, mengambil sebuah godam raksasa berlapis paku besi dari samping

  • Sentuh Aku, Renshu!   125. Zirah Batu Sekte Hitam

    Pendakian itu adalah siksaan fisik yang menguji batas toleransi manusia. Tanah yang mereka pijak bukanlah tanah berlumpur atau rerumputan, melainkan lautan batu obsidian yang luar biasa tajam dan bersuhu mendidih. Setiap hembusan angin membawa debu vulkanik yang menggores tenggorokan layaknya pecahan kaca.​Xiaoxiao terbatuk pelan, menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Sepatu bot kulitnya mulai berbau sangit akibat menahan panas bebatuan. "Tempat ini mengerikan," keluhnya serak. "Pantas saja Sekte Sen Luo Mu, para bajingan pecinta tanaman itu, sangat membenci wilayah ini. Tidak ada satu pun tumbuhan beracun yang bisa hidup di atas wajan raksasa ini."​"Simpan napasmu, bocah. Kita belum melihat ujungnya," tegur Lu Kang, menggunakan gagang kapaknya sebagai tongkat pendaki.​Di depan mereka, Chu Renshu memanjat tanpa satu patah kata pun. Pria itu tidak terlihat seperti manusia yang sedang kepanasan; ia bergerak seperti mesin yang diprogram untuk satu tujuan mutlak. Keringat membasahi

  • Sentuh Aku, Renshu!   124. Daratan Hitam di Ujung Pandang

    Fajar kelabu akhirnya menyingsing, mengusir kegelapan absolut yang telah menyiksa mereka semalaman. Angin topan telah mereda, menyisakan riak ombak yang panjang dan melelahkan. Di ufuk timur, kabut tebal perlahan terbelah, seolah lautan itu sendiri menyingkir untuk memperlihatkan rahasia tergelapnya.​Berdiri di haluan kapal Hei Sha, Kapten Lu Kang menurunkan teropong kuningan miliknya. Mata tunggalnya membelalak. Di depan mereka, menjulang dari dasar lautan, terhampar sebuah daratan raksasa yang tidak ada di dalam peta fana mana pun. Langit di atas benua itu tidak berwarna biru, melainkan diwarnai merah pekat oleh awan abu dan asap tebal yang terus mengepul dari belasan puncak gunung berapi aktif.​"Kita sampai, Yang Mulia," serak Lu Kang, suaranya bercampur antara kelegaan dan kengerian. "Benua Seberang. Daratan Abu."​Bahkan dari jarak beberapa mil laut, hawa panas sudah mulai terasa menyapu wajah mereka, membawa serta aroma tajam belerang dan sulfur yang menyesakkan dada. Ini adal

  • Sentuh Aku, Renshu!   123. Pelukan Es dan Bara Api

    ​Badai di luar mungkin telah berlalu, namun badai yang sesungguhnya tengah mengamuk di dalam kabin sempit tersebut.​Saat Renshu mendorong pintu kabin yang macet akibat embun beku, pemandangan yang menyambutnya membuat jantung sang tiran seakan berhenti berdetak. Suhu di dalam ruangan itu kini sepuluh kali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Bunga es menjalar hingga menutupi lentera, memadamkan cahayanya.​Di lantai, Tabib Meilin duduk meringkuk sambil menangis tanpa suara, tangannya yang memegang pergelangan tangan Liying bergetar hebat, nyaris membiru karena radang dingin.​"Menjauh," titah Renshu dengan suara yang sangat parau. Ia melangkah cepat, nyaris tersandung kakinya sendiri yang masih kelelahan, dan langsung meraup tubuh Liying ke dalam pelukannya.​Liying terasa seperti sebuah patung porselen yang dibiarkan membeku di puncak gunung es. Wajah cantiknya kini sepucat kertas transparan, bibirnya kehilangan seluruh warnanya. Rambut hitamnya yang panjang saling menempel karena bu

  • Sentuh Aku, Renshu!   4. Suaka di balik gubuk reot

    "Ssst! Pelankan suaramu, Xiaoxiao! Kau mau tetangga dengar dan melaporkan kita ke prajurit patroli?!" desis Meilin panik. Ia segera berlari menembus keremangan, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser palang besinya dengan tangan gemetar.Di tengah kepanikan luar biasa kedua adiknya, Chu

  • Sentuh Aku, Renshu!   3. Tanda kepemilikan sang prajurit

    Guruh yang tadinya mengamuk buas kini menyusut menjadi rintik gerimis panjang. Badai di luar sana telah menjadi saksi bisu bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan tanpa sisa di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu.Udara dingin sisa hujan mulai menyusup melalui celah jendela kayu,

  • Sentuh Aku, Renshu!   2. Runtuhnya sang predator

    Guruh menggelegar buas di langit Yanze, menyamarkan deru napas memburu di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu. Cahaya dari satu-satunya lentera minyak yang bergoyang tertiup angin dari celah jendela menyorot wajah tegang Chu Renshu.Prajurit kelas tembaga itu menegang bagai bongkahan es di nerak

  • Sentuh Aku, Renshu!   1. Hati yang hancur di bawah badai

    "Liying terlalu kaku dan membosankan, Ruolan. Menyentuhnya sama saja dengan menyentuh patung pualam yang dingin. Kau jauh lebih liar dan tahu cara memuaskan seorang pria."Rentetan kalimat menjijikkan itu terdengar jelas di sela-sela gemuruh guruh.Di balik kisi-kisi jendela Paviliun Bambu keluarga

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status