MasukKehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dinginnya lantai batu.
Selir Lan buru-buru membungkuk dalam, tubuhnya bergetar samar. "Salam sejahtera, Yang Mulia Putra Mahkota. Kehadiran Yang Mulia membawa cahaya di paviliun kami yang sederhana ini."
Langkah sepatu bot Bojing yang berat terhenti. Alih-alih berjalan lurus menuju kursi utama dan mengabaikannya, sang Putra Mahkota justru berbelok mendekat. Ia berhenti tepat di depan Selir Lan yang masih menunduk gemetar.
Dengan gerakan pelan namun sarat akan dominasi absolut, jari Bojing yang dihiasi cincin giok terulur. Ia menahan dagu Selir Lan dan memaksanya mendongak.
"Ibu Selir Lan selalu tahu cara menyambutku," bisik Bojing rendah, suaranya mengalun seperti bisa racun yang manis.
Ibu jarinya dengan sengaja dan luar biasa lancang mengusap bibir bawah Selir Lan yang dipoles pemerah bibir. Tatapannya menjelajahi lekuk leher wanita paruh baya yang masih terlihat sangat jelita itu. "Kecantikanmu di pagi hari... selalu membuatku lupa pada aturan. Jika saja Ayahanda Kaisar tahu betapa liarnya mawar di paviliun ini, ia pasti tak akan pernah sudi meninggalkan ranjangmu, bukan?"
Wajah Selir Lan memucat pasi seperti mayat. Napasnya tercekat di tenggorokan, namun ia tak berani menepis atau bahkan mundur dari sentuhan najis sang Putra Mahkota. Wanita gila harta itu hanya bisa memejamkan mata dan menelan ludah ketakutan, membiarkan rahasia paling kelam miliknya ditelanjangi secara diam-diam di ruangan itu.
Puas melihat ketidakberdayaan absolut ibu tirinya, Bojing melepaskan cengkeramannya. Ia mengusapkan jari telunjuknya yang ternoda lipstik Selir Lan ke saputangan sutranya dengan gerakan jijik yang dibuat-buat, lalu memutar tubuh.
Kini, sepasang mata ular Bojing beralih. Sorot predator itu langsung mengunci sosok Liying yang bersimpuh kaku di balik meja teh, dengan kedua tangan terkepal erat.
"Tapi hari ini..." Bojing melangkah pelan, mendekati meja teh Liying dengan menyunggingkan senyum yang menjanjikan siksaan batin yang teramat panjang. "...aku datang bukan untukmu, Ibu Selir. Aku datang untuk melihat tunas mawar kecilku yang semalam kudengar baru saja kehujanan."
Liying menundukkan pandangannya, meremas sutra gaunnya di bawah meja. "Salam, Kakak Bojing."
"Kakak Bojing," ulang pria itu, mengulum senyum yang tidak pernah mencapai matanya yang sedingin es. Ia berdiri menjulang di hadapan Liying. "Panggilan yang sangat manis. Tapi aneh... aku tidak melihat senyum manis itu di wajahmu hari ini, Adik Liying."
Tanpa peringatan, Bojing merendahkan tubuhnya. Ia berjongkok dengan satu lutut tepat di hadapan Liying. Gerakan tak terduga itu membuat jarak di antara mereka terkikis drastis. Aroma musk dan dupa kemenyan yang berat dari tubuh Bojing menginvasi penciuman Liying, mengaduk isi perutnya hingga ia merasa mual. Aroma ini sangat kontras dengan wangi hujan dan maskulinitas milik Renshu semalam.
"Kudengar kau memaksakan diri pergi di tengah badai semalam untuk menemui Tuan Muda Feng." Suara Bojing merendah menjadi bisikan serak yang sarat akan ancaman mematikan. "Lalu kau pulang dengan tubuh menggigil. Lihatlah dirimu sekarang, Liying... hari sedang terik, tapi kau membungkus tubuh indahmu dengan gaun musim gugur berkerah setinggi ini. Apa kau sebegitu kedinginannya?"
"S-saya demam tinggi, Yang Mulia," Liying menjawab pelan. Ia menekan suaranya agar terdengar serak dan lemah, memainkan peran sebagai Putri yang rapuh. "Tabib menyarankan agar saya tidak terkena angin."
"Demam?"
Tangan Bojing perlahan terangkat. Punggung tangannya menyentuh dahi Liying yang telah dilapisi bedak tebal. Liying menahan napas, mati-matian merapal mantra di dalam kepalanya untuk memaksa otot tubuhnya agar tidak tersentak mundur menghindari sentuhan najis itu. Sentuhan kulit Bojing terasa seperti sisik ular yang merayap di wajahnya.
Bojing memiringkan kepalanya, matanya memindai setiap inci wajah Liying. "Dahimu memang dingin. Sangat dingin. Tapi..."
Jari-jari panjang Bojing tiba-tiba meluncur turun dari dahi, mengusap pipi porselen Liying, dan berhenti tepat di ujung kerah tinggi sutra hijau yang menutupi leher gadis itu.
Jantung Liying seolah berhenti berdetak di tempatnya.
Di sudut ruangan, Selir Lan menahan pekikan ngeri yang tertahan di tenggorokan. Jika jari Bojing menyingkap kerah itu satu inci saja, noda merah keunguan di leher Liying akan terpampang nyata, dan nyawa mereka semua akan berakhir di ruang bawah tanah hari ini juga.
"Kau tahu, Adik Liying," bisik Bojing pelan. Ibu jarinya dengan sengaja mengusap tepi kerah sutra itu, gerakannya sangat lambat dan provokatif, membelai batas tipis antara rahasia dan kematian. "Hawa panas yang terkurung di dalam pakaian tebal justru akan memperburuk demammu. Biar Kakak bantu melonggarkannya."
Jari telunjuk dan ibu jari Bojing mencengkeram kain kerah Liying, bersiap mengait kancing teratasnya.
Di detik yang berpacu dengan maut itu, Liying memutar otaknya. Ia tidak boleh pasrah. Jika kerah ini terbuka, semuanya akan berakhir.
Tiba-tiba, Liying memejamkan mata dan menarik napas dengan tarikan yang sangat kasar. Ia memaksa tenggorokannya menegang, menekan perutnya sekuat tenaga, lalu meledakkan rentetan batuk yang luar biasa keras.
"Uhuk! Uhuk! Huek—!"
Tubuh Liying tersentak maju, nyaris memuntahkan isi perutnya tepat ke arah jubah sutra emas Bojing. Liying sengaja menutupi mulutnya, menunduk dalam-dalam dengan dada yang naik turun hebat. Napasnya terdengar berderik seperti orang tercekik, membiarkan air mata fisiologis menetes dari sudut matanya karena batuk yang dipaksakan tersebut.
Mendengar suara parau dan refleks muntah yang menjijikkan itu, Bojing seketika menarik tangannya secepat kilat. Wajah rupawannya yang tadinya memancarkan pesona iblis, kini berkerut jijik. Ia melangkah mundur untuk melindungi jubah emasnya dari cipratan liur sang Putri.
Selir Lan, yang langsung menangkap peluang emas penyelamatan ini, menjatuhkan dirinya ke samping Liying dengan kepanikan yang sangat meyakinkan.
"Astaga, Tuan Putri! Dayang Chun! Cepat panggil Tabib, demam Tuan Putri semakin parah!" jerit Selir Lan histeris, menutupi tubuh putrinya dari pandangan Bojing.
Bojing berdiri tegak, mengibaskan lengan jubahnya seolah baru saja berada di dekat wabah kusta. Matanya yang dingin menatap Liying yang masih batuk terpingkal-pingkal di lantai dengan sorot penuh kekecewaan.
"Sayang sekali. Sepertinya tunas mawar kecilku ini benar-benar sedang layu dan membusuk," ucap Bojing dingin, rasa penasarannya telah sepenuhnya digantikan oleh rasa muak. Pria itu memutar tubuhnya untuk pergi. "Rawat dia dengan baik, Ibu Selir. Aku akan kembali menjenguknya saat dia sudah bersih dan bisa... diajak bermain."
Begitu langkah sepatu bot Bojing menjauh dan menghilang dari halaman paviliun, Liying ambruk ke atas karpet. Seluruh otot tubuhnya kehilangan tenaga. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Ia berhasil selamat siang ini, namun kengerian dari sentuhan pria itu telah berhasil membangunkan trauma masa lalunya.
Kegelapan pekat menyelimuti kesadaran Chu Renshu, namun genggaman tangan kanannya tetap mengunci erat. Di tengah halusinasi rasa sakit yang membakar sekujur tubuh, bayangan wajah Liying yang membeku di atas ranjang kapal menjadi satu-satunya jangkar yang menahan jiwa sang Kaisar agar tidak tercerabut.Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, aroma belerang dan bau daging yang terbakar menyengat indra penciumannya. Renshu mendapati dirinya terbaring di atas lantai batu di dekat mulut terowongan kawah. Di sisinya, Lu Kang dan Xiaoxiao tengah berlutut dengan wajah cemas luar biasa."Yang Mulia! Anda sadar?!" seru Lu Kang, nyaris menjatuhkan kapaknya karena terlalu terkejut.Renshu tidak menjawab. Ia menggerakkan rahangnya yang kaku, lalu memaksa tubuhnya yang penuh luka bakar parah untuk bangkit. Kulit di dada, lengan, dan telapak tangan kanannya melepuh mengerikan, terkelupas dan memperlihatkan daging yang memerah. Namun, di tengah kepedihan luar biasa itu, tangan kanannya tetap ter
Pemimpin Sekte Batu Hitam menjatuhkan godam raksasanya. Harga diri dan kesombongannya hancur lebur di bawah tatapan mata sang Kaisar Zixiao. Pria fana di hadapannya ini bukanlah manusia; ia adalah inkarnasi dari algojo kematian itu sendiri."K-Kau menginginkannya?" suara Pemimpin Sekte itu bergetar saat ia melangkah mundur, menunjuk ke sebuah terowongan batu besar di belakang takhtanya. Hawa panas yang ekstrem menguar dari lorong tersebut, membuat udara beriak. "Silakan ambil sendiri. Inti Batu Kumala adalah jantung dari gunung ini. Benda itu tumbuh di tengah danau magma di dasar kawah suci. Tidak ada seorang pun, bahkan dari sekte kami, yang mampu turun ke sana tanpa terbakar menjadi abu."Renshu tidak menjawab. Ia memungut pedangnya, memasukkannya ke dalam sarung di punggung, dan berjalan melewati sang Pemimpin Sekte tanpa sedikit pun keraguan, melangkah lurus masuk ke dalam terowongan neraka tersebut.Xiaoxiao berlari menyusul hingga ke ambang terowongan, namun hawa panas yang
Kepulan debu vulkanik dari hancurnya gerbang utama perlahan tersapu oleh angin panas. Di balik ambang pintu yang telah menjadi puing-puing, ratusan murid Sekte Batu Hitam telah berkumpul dengan senjata terhunus. Mereka mematung, menatap dengan mata terbelalak ke arah pria berpakaian gelap yang baru saja menendang hancur gerbang baja dan basal yang mereka banggakan selama berabad-abad.Di tengah pelataran benteng yang luas, berdiri sebuah altar batu. Di atasnya, duduk Pemimpin Sekte Batu Hitam. Pria itu bertubuh raksasa, jauh lebih besar dari Renshu. Hampir seluruh tubuhnya, dari leher hingga kaki, tertutup oleh kalus tebal berwarna hitam mengilat, hasil dari latihan penyiksaan diri menanamkan mineral obsidian ke dalam jaringan kulitnya. Ia tampak seperti patung iblis yang dihidupkan."Kau meruntuhkan pintuku, Manusia Fana," geram sang Pemimpin Sekte, suaranya berderak seperti bebatuan yang saling bergesekan. Ia berdiri, mengambil sebuah godam raksasa berlapis paku besi dari samping
Pendakian itu adalah siksaan fisik yang menguji batas toleransi manusia. Tanah yang mereka pijak bukanlah tanah berlumpur atau rerumputan, melainkan lautan batu obsidian yang luar biasa tajam dan bersuhu mendidih. Setiap hembusan angin membawa debu vulkanik yang menggores tenggorokan layaknya pecahan kaca.Xiaoxiao terbatuk pelan, menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Sepatu bot kulitnya mulai berbau sangit akibat menahan panas bebatuan. "Tempat ini mengerikan," keluhnya serak. "Pantas saja Sekte Sen Luo Mu, para bajingan pecinta tanaman itu, sangat membenci wilayah ini. Tidak ada satu pun tumbuhan beracun yang bisa hidup di atas wajan raksasa ini.""Simpan napasmu, bocah. Kita belum melihat ujungnya," tegur Lu Kang, menggunakan gagang kapaknya sebagai tongkat pendaki.Di depan mereka, Chu Renshu memanjat tanpa satu patah kata pun. Pria itu tidak terlihat seperti manusia yang sedang kepanasan; ia bergerak seperti mesin yang diprogram untuk satu tujuan mutlak. Keringat membasahi
Fajar kelabu akhirnya menyingsing, mengusir kegelapan absolut yang telah menyiksa mereka semalaman. Angin topan telah mereda, menyisakan riak ombak yang panjang dan melelahkan. Di ufuk timur, kabut tebal perlahan terbelah, seolah lautan itu sendiri menyingkir untuk memperlihatkan rahasia tergelapnya.Berdiri di haluan kapal Hei Sha, Kapten Lu Kang menurunkan teropong kuningan miliknya. Mata tunggalnya membelalak. Di depan mereka, menjulang dari dasar lautan, terhampar sebuah daratan raksasa yang tidak ada di dalam peta fana mana pun. Langit di atas benua itu tidak berwarna biru, melainkan diwarnai merah pekat oleh awan abu dan asap tebal yang terus mengepul dari belasan puncak gunung berapi aktif."Kita sampai, Yang Mulia," serak Lu Kang, suaranya bercampur antara kelegaan dan kengerian. "Benua Seberang. Daratan Abu."Bahkan dari jarak beberapa mil laut, hawa panas sudah mulai terasa menyapu wajah mereka, membawa serta aroma tajam belerang dan sulfur yang menyesakkan dada. Ini adal
Badai di luar mungkin telah berlalu, namun badai yang sesungguhnya tengah mengamuk di dalam kabin sempit tersebut.Saat Renshu mendorong pintu kabin yang macet akibat embun beku, pemandangan yang menyambutnya membuat jantung sang tiran seakan berhenti berdetak. Suhu di dalam ruangan itu kini sepuluh kali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Bunga es menjalar hingga menutupi lentera, memadamkan cahayanya.Di lantai, Tabib Meilin duduk meringkuk sambil menangis tanpa suara, tangannya yang memegang pergelangan tangan Liying bergetar hebat, nyaris membiru karena radang dingin."Menjauh," titah Renshu dengan suara yang sangat parau. Ia melangkah cepat, nyaris tersandung kakinya sendiri yang masih kelelahan, dan langsung meraup tubuh Liying ke dalam pelukannya.Liying terasa seperti sebuah patung porselen yang dibiarkan membeku di puncak gunung es. Wajah cantiknya kini sepucat kertas transparan, bibirnya kehilangan seluruh warnanya. Rambut hitamnya yang panjang saling menempel karena bu
Guruh yang tadinya mengamuk buas kini menyusut menjadi rintik gerimis panjang. Badai di luar sana telah menjadi saksi bisu bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan tanpa sisa di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu.Udara dingin sisa hujan mulai menyusup melalui celah jendela kayu,
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra
Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b
"Ssst! Pelankan suaramu, Xiaoxiao! Kau mau tetangga dengar dan melaporkan kita ke prajurit patroli?!" desis Meilin panik. Ia segera berlari menembus keremangan, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser palang besinya dengan tangan gemetar.Di tengah kepanikan luar biasa kedua adiknya, Chu







