Beranda / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 6. Cengkeraman sang ular berbisa

Share

6. Cengkeraman sang ular berbisa

Penulis: Donat Mblondo
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 17:39:21

Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyerap seluruh udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan, nyaris mencium lantai batu.

​Selir Lan buru-buru membungkuk dalam, tubuhnya bergetar samar. "Salam sejahtera, Yang Mulia Putra Mahkota. Kehadiran Yang Mulia membawa cahaya di paviliun kami yang sederhana ini."

​Langkah sepatu bot Bojing yang berat terhenti. Alih-alih berjalan lurus mengabaikannya, Bojing justru melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan Selir Lan yang masih menunduk.

​Dengan gerakan pelan namun sarat akan dominasi absolut, jari Bojing yang dihiasi cincin giok terulur, menahan dagu Selir Lan dan memaksanya mendongak.

​"Ibu Selir Lan selalu tahu cara menyambutku," bisik Bojing rendah. Ibu jarinya dengan sengaja dan lancang mengusap bibir bawah Selir Lan yang dipoles pemerah bibir. Tatapannya menjelajahi lekuk leher wanita paruh baya yang masih luar biasa jelita itu. "Kecantikanmu di pagi hari... selalu membuatku lupa aturan. Jika saja Ayahanda Kaisar tahu betapa liarnya mawar di paviliun ini, ia pasti tak akan pernah meninggalkan ranjangmu, bukan?"

​Wajah Selir Lan memucat pasi. Napasnya tercekat, namun ia tak berani menepis sentuhan najis sang Putra Mahkota. Wanita gila harta itu hanya bisa memejamkan mata dan menelan ludah ketakutan, membiarkan rahasia gelap mereka ditelanjangi secara diam-diam di ruangan itu.

​Puas melihat ketidakberdayaan ibu tirinya, Bojing melepaskan cengkeramannya di dagu Selir Lan. Ia mengusapkan jari telunjuknya yang memerah karena lipstik Selir Lan ke saputangan suteranya, lalu memutar tubuh.

​Kini, sepasang mata ular Bojing beralih, mengunci sosok Liying yang bersimpuh kaku di balik meja teh dengan tangan terkepal erat di bawah meja.

​"Tapi hari ini..." Bojing melangkah pelan mendekati meja teh Liying, menyunggingkan senyum yang menjanjikan siksaan batin yang panjang. "...aku datang untuk melihat tunas mawar kecilku yang semalam kudengar baru saja kehujanan."

Liying menundukkan pandangannya, meremas sutra gaunnya di bawah meja. "Salam, Kakak Bojing."

​"Kakak Bojing," ulang pria itu, mengulum senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Ia berdiri menjulang di hadapan Liying. "Panggilan yang sangat manis. Tapi aneh... aku tidak melihat senyum manis itu di wajahmu hari ini, Adik Liying."

​Bojing tiba-tiba merendahkan tubuhnya, berjongkok dengan satu lutut tepat di hadapan Liying. Gerakan tak terduga itu membuat jarak di antara mereka terkikis drastis. Aroma musk dan dupa kemenyan yang berat dari tubuh Bojing menguar, membuat perut Liying mual.

​"Kudengar kau memaksakan diri pergi di tengah badai semalam untuk menemui Tuan Muda Feng." Suara Bojing merendah menjadi bisikan serak yang mengancam. "Lalu kau pulang dengan tubuh menggigil. Lihatlah dirimu sekarang, Liying... hari sedang terik, tapi kau membungkus tubuh indahmu dengan gaun musim gugur berkerah setinggi ini. Apa kau sebegitu kedinginannya?"

​"S-saya demam tinggi, Yang Mulia," Liying menjawab pelan, memaksa suaranya terdengar serak dan lemah. "Tabib menyarankan agar saya tidak terkena angin."

​"Demam?"

​Tangan Bojing yang dihiasi cincin giok besar perlahan terangkat. Tanpa peringatan, punggung tangannya menyentuh dahi Liying yang dilapisi bedak tebal. Liying menahan napas, memaksa tubuhnya agar tidak tersentak mundur karena sentuhan najis itu.

​Bojing memiringkan kepalanya. "Dahimu memang dingin. Sangat dingin. Tapi..."

​Jari-jari panjang Bojing tiba-tiba meluncur turun dari dahi, mengusap pipi Liying, dan berhenti tepat di ujung kerah tinggi sutra hijau yang menutupi leher gadis itu.

​Jantung Liying seolah berhenti berdetak. Selir Lan yang melihat dari sudut ruangan menutupi mulutnya sendiri, menahan pekikan ngeri. Jika jari Bojing menyingkap kerah itu satu inci saja, noda merah keunguan di leher Liying akan terpampang nyata.

​"Kau tahu, Adik Liying," bisik Bojing, ibu jarinya sengaja mengusap tepi kerah sutra itu dengan gerakan lambat dan provokatif, membelai batas tipis antara rahasia dan kematian. "Hawa panas yang terkurung di dalam pakaian tebal justru memperburuk demam. Biar Kakak bantu melonggarkannya."

​Jari Bojing bersiap mengait kancing kerah Liying.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Renshu!   12. Candu di Balik Perban

    Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.​Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut.​"Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri.​"Lakukanlah," bisik Liying.​Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.​Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga

  • Sentuh Aku, Renshu!   11. Air Hangat dan Runtuhnya Tembok Es

    Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.​Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh dan tekanan intimidasi yang sedari tadi dipancarkan oleh Renshu menguap tak berbekas, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.​Perlahan, Renshu mengangkat tangan kanannya. Bukannya membalas serangan atau membentak seperti sebelumnya, jemari besar yang dipenuhi kapalan itu dengan sangat lembut menggenggam bilah pedang kayu Liying. Ia menurunkannya perlahan, menjauhkan beban berat itu dari cengkeraman tangan sang Putri yang sudah hancur.​"Latihan malam ini selesai," ucap Renshu pelan. Suara baritonnya kini terdengar sangat serak dan dalam.​Liying mengerjap. Begitu pedang kayu itu terlepas dari tangannya, seluruh sisa tenaga di kakinya seolah menguap. Tubuhnya terhuyung ke depan. Nam

  • Sentuh Aku, Renshu!   10. Air Mata Darah Sang Teratai

    ​Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.​Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu di genggamannya bergetar hebat. Namun, belum sempat gadis itu mengambil napas panjang, bayangan Renshu tiba-tiba melesat ke arahnya.​"Angkat pedangmu! Musuh tidak akan menunggu napasmu teratur!" bentak Renshu.​Prajurit itu tidak lagi menggunakan ranting bambu. Kali ini, ia memegang pedang kayunya sendiri dan mengayunkannya lurus ke arah bahu Liying. Meski Renshu sudah menahan sembilan puluh persen tenaganya, tekanan angin dari ayunan pedang pria bertubuh besar itu tetap terasa mengerikan bagi seorang pemula.​Mata Liying membelalak panik. Insting bertahannya mengambil alih, namun karena kelelahan yang ekstrem, otaknya gagal memproses posisi kuda-kuda yang benar. Ia mengangkat pedang kayun

  • Sentuh Aku, Renshu!   9. Kejamnya Sang Instruktur Bayangan

    ​Angin malam berembus dingin menyapu taman bambu yang tersembunyi di sudut Istana Yanze. Suara gemerisik daun yang bergesekan seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari transformasi yang akan mengubah sejarah kekaisaran.​Liying melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia telah menanggalkan jubah sutra mewahnya, menggantinya dengan setelan kain katun gelap yang ringkas dan mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. Di dadanya, tekad menyala begitu terang. Dalam imajinasi naifnya, latihan malam ini akan dipenuhi oleh gerakan-gerakan pedang yang elegan, indah layaknya tarian, didampingi oleh Renshu yang akan memandunya dengan penuh kelembutan.​Namun, imajinasi itu hancur berkeping-keping di detik pertama ia menginjakkan kaki di tanah lapang.​Renshu berdiri membelakanginya, menyatu dengan kegelapan. Postur pria itu tak lagi menunduk hormat seperti seorang pelayan, apalagi memancarkan kehangatan gairah seperti semalam. Hawa di sekitarnya terasa membekukan tulang. Saat pria itu berbalik, sep

  • Sentuh Aku, Renshu!   8. Tamu Tak Diundang di Taman Bambu

    Tangan Renshu baru saja menyusup lebih jauh ke balik sutra jubah Liying. Napas mereka memburu, berpadu dalam gairah yang nyaris meledak di bawah bayangan pohon bambu raksasa. Bibir Renshu turun, bersiap untuk memberikan tanda kepemilikan baru di atas tulang selangka sang Putri.KRAK!Bunyi ranting patah yang sangat keras memecah keheningan malam, disusul oleh suara bisikan panik yang berdesis dari balik semak-semak lebat tak jauh dari mereka."Aduh, Xiaoxiao! Jangan dorong-dorong! Nanti kita ketahuan, bodoh!""Ssst! Kak Meilin yang menginjak rantingnya! Mundur sedikit, aku mau lihat Kak Renshu—"Seketika, atmosfer gairah yang pekat itu menguap tanpa sisa. Dalam sepersekian detik, otot-otot Renshu yang tadinya menegang karena hasrat berubah menjadi baja pelindung. Insting pembunuhnya menyala terang. Pria itu menyentakkan tubuh Liying ke balik punggung lebarnya untuk melindunginya, sementara tangan kanannya mencabut pedang dari sarungnya dengan suara desingan logam yang mematikan."Siap

  • Sentuh Aku, Renshu!   7. Candu di bawah cahaya bulan

    Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik.​Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra Mahkota Bojing yang menyentuh kerahnya siang tadi terus merayap di kulitnya, seolah ada ribuan lipan berbisa yang menggerayangi lehernya. Rasa mual yang pekat mengaduk-aduk isi perutnya hingga ia sulit bernapas. Ia telah mandi menggunakan kembang tujuh rupa dan menggosok kulitnya dengan kain kasar hingga memerah, namun ia tetap merasa kotor. Sangat kotor.​Sentuhan Bojing siang tadi telah merobek paksa sebuah kotak pandora di dalam kepalanya, melepaskan kembali ingatan paling mengerikan yang selama lima tahun ini ia kubur dalam-dalam.​Ingatan Liying terlempar mundur ke sebuah malam musim dingin saat ia masih berusia lima belas tahun.​Saat itu, ia nekat menyelinap keluar mencari anak kucingnya yang hi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status