Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 1. Sentuh aku, Renshu!

Share

Sentuh Aku, Renshu!
Sentuh Aku, Renshu!
Author: Donat Mblondo

1. Sentuh aku, Renshu!

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-04-19 08:56:13

Malam itu, langit di atas ibu kota Kekaisaran Yanze seolah ikut murka. Petir menyambar ganas, membelah angkasa yang pekat, disusul hujan badai yang turun bagaikan ribuan jarum es.

​Di tengah lebatnya hujan, sesosok tubuh mungil berlari tertatih menembus rimbunnya hutan bambu di pinggiran kota. Gaun sutra merah berlapis benang emas yang dikenakannya, pakaian kebesaran seorang putri kekaisaran, kini basah kuyup, terciprat lumpur, dan robek di bagian bawahnya karena tersangkut ranting.

​Ia adalah Yan Liying, Putri ke-9 Kekaisaran Yanze.

​Sebagai anak kesembilan dari puluhan anak yang dihasilkan oleh ratusan selir Kaisar Yan Jianhong, Liying tahu nyawanya dan ibunya hanya bergantung pada belas kasihan dan aliansi pernikahan. Itulah sebabnya ia selalu bersikap manis dan penurut. Itulah sebabnya ia menerima pertunangannya dengan putra Menteri Keuangan, Feng Yuchen, menganggap pria itu sebagai dewa penyelamatnya dari neraka istana.

​Namun, dewa penyelamat itu baru saja mematahkan sayapnya.

​Napas Liying memburu. Air mata bercampur dengan air hujan di wajah porselennya yang kini pias. Bayangan yang baru saja ia saksikan di dalam Paviliun Bambu keluarga Feng terus berputar di kepalanya bagai kutukan.

​Tunangannya... pria berpendidikan tinggi yang selalu bertutur kata lembut padanya itu, tengah bergumul liar tanpa busana di atas ranjang. Dan wanita yang mendesah di bawah kungkungan Yuchen adalah Fang Ruolan, putri bangsawan yang selama ini Liying sebut sebagai sahabat terdekatnya.

​"Liying terlalu kaku dan membosankan, Ruolan. Menyentuhnya sama saja dengan menyentuh patung pualam yang dingin. Kau jauh lebih liar dan tahu cara memuaskan seorang pria."

​Kalimat menjijikkan dari mulut Yuchen itu menggemakan keputusasaan di dada Liying.

​Tiba di ujung jalan setapak yang tersembunyi, Liying melihat sebuah kereta kuda sederhana tanpa lambang kekaisaran terparkir di bawah pohon beringin raksasa. Di kursi kusir bagian depan, duduk sesosok pria berbalut jas hujan jerami dan topi bambu lebar yang menutupi separuh wajahnya. Ia duduk sekokoh batu karang, tak sedikit pun terganggu oleh badai yang menghantam tubuhnya.

​Itu Chu Renshu. Prajurit rendahan Kelas Tembaga dari gerbang utara yang disuap ibunya untuk menjadi kusir rahasia Liying malam ini.

​Begitu Liying menyeret tubuhnya naik ke dalam kabin kereta yang gelap dan temaram oleh satu lentera kecil, tangisnya pecah sejadi-jadinya. Ia meringkuk di atas karpet berbulu, meratapi harga dirinya yang baru saja diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping.

​"Jalan..." isak Liying, suaranya parau dan bergetar hebat. "Bawa aku pergi dari tempat menjijikkan ini. Sekarang!"

​Dari balik celah jendela kayu yang membatasi kabin dan kursi kusir, Renshu hanya diam. Tangan kasarnya yang kapalan menggenggam tali kekang kuda. Mata elangnya yang tajam dan segelap malam melirik dari balik topi bambu, menatap sekilas pada sang Putri yang terlihat sangat menyedihkan.

​Tanpa banyak tanya, Renshu menarik tali kekang. Kereta kuda itu melaju menembus badai, meninggalkan area paviliun keluarga Feng.

​Di dalam kabin, Liying menangis hingga dadanya sesak. Ia memeluk lututnya sendiri. Semua orang mengkhianatinya. Ibunya hanya peduli pada takhta. Kakak tirinya, menatapnya seperti anjing kelaparan. Dan kini, satu-satunya pria yang ia harapkan menjadi pelindungnya malah mengkhianatinya.

​Mengapa ia harus selalu menjadi Nona penurut yang menyedihkan? Jika menjadi suci dan penurut hanya membuatnya diinjak-injak, untuk apa ia mempertahankan kehormatan ini?

​Di tengah isakannya, Liying mendongak. Melalui jendela kayu kecil yang terbuka di depannya, ia menatap punggung tegap Renshu yang sedang membelakangi hujan. Prajurit miskin itu mengenakan zirah kulit murahan yang basah, memperlihatkan bahunya yang luar biasa lebar dan kokoh.

​Sebuah ide gila, sebuah pemberontakan yang absolut, meledak di kepala Liying.

​Yuchen membuangnya karena menganggapnya patung pualam yang membosankan? Baiklah. Malam ini, patung pualam itu akan hancur lebur.

​"Berhenti." Suara Liying berubah dingin, tak ada lagi rengekan manja di sana.

​Di luar, Renshu sedikit mengerutkan kening. "Tuan Putri, kita belum sampai di dinding istana—"

​"Aku perintahkan kau berhenti, Chu Renshu!" teriaknya tajam, menggunakan otoritas kekaisarannya.

​Terpaksa, Renshu menarik tali kekang hingga kuda berhenti di pinggiran hutan yang sepi dan gelap, jauh dari ibu kota. Hanya ada suara hujan yang menderu.

​Renshu baru saja memutar tubuhnya di kursi kusir untuk menanyakan perintah selanjutnya, ketika tiba-tiba jendela kayu kecil itu ditarik paksa hingga terbuka lebar. Kedua tangan Liying yang dingin dan gemetar terjulur keluar, mencengkeram kasar kerah zirah kulit Renshu.

​"Tuan Putri, apa yang Anda—"

​Dengan sisa tenaga yang didorong oleh keputusasaan, Liying menarik tubuh besar prajurit itu. Renshu, yang memiliki keseimbangan sempurna sebagai ahli bela diri, sebenarnya bisa menahan tarikan itu dengan satu jari. Namun, karena tidak ingin melukai tangan sang Putri, ia membiarkan dirinya ditarik mundur hingga terjerembab masuk ke dalam kabin kereta yang sempit.

​Bruk!

​Pintu penghubung tertutup. Udara di dalam kabin mendadak terasa luar biasa panas dan menyesakkan. Jas hujan jerami Renshu terlepas, mengekspos zirah kulitnya yang basah kuyup.

​Renshu segera berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam sesuai aturan istana. "Maafkan kelancangan hamba, Tuan Putri. Hamba pantas mati."

​"Diam."

​Liying bergerak maju. Aroma hujan, tanah, dan feromon maskulin yang pekat dari tubuh Renshu menyergap indranya, mengusir bau dupa istana yang memuakkan. Gadis itu menangkup rahang tegas Renshu dengan kedua tangannya, memaksa prajurit rendahan itu mendongak dan menatap wajahnya.

​Mata Renshu sedikit melebar. Jantung sang prajurit berdetak satu ketukan lebih cepat saat menyadari wajah cantik yang basah oleh air mata itu kini hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Liying menatapnya dengan damba yang putus asa, seolah prajurit itu adalah satu-satunya obat penawar dari racun yang membunuh jiwanya.

​Napas hangat Liying menerpa bibir Renshu, sesaat sang Putri membisikkan kalimat yang mengancam sisa kewarasan pria itu.

​"Malam ini saja... lupakan kalau aku Tuan Putrimu." Jemari Liying membelai rahang kasar Renshu, mengundang bahaya yang nyata. "Buat aku lupa rasanya sakit hati, Renshu. Sentuh aku!"

​Tangan Renshu yang bertumpu pada lantai kereta mengepal erat. Insting predator buas yang selama ini ia kurung rapat-rapat di dasar jiwanya, perlahan membuka mata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   17. Predator yang Terpancing

    ​Pertanyaan provokatif Liying menggantung di udara malam, beradu dengan gemerisik halus daun-daun bambu yang tertiup angin. Sepasang mata jernih sang Putri mengunci tatapan Renshu, memancarkan tantangan yang begitu berani, seolah ia sengaja mengulurkan lehernya ke rahang seekor binatang buas hanya untuk melihat apakah binatang itu berani menggigitnya.​Renshu tidak langsung menjawab. Namun, keheningan pria itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan kasarnya saat latihan.​Cengkeraman tangan Renshu di sisi pinggang Liying mendadak mengeras. Telapak tangan yang dipenuhi kapalan keras itu menekan sutra tipis kemeja Liying hingga gadis itu bisa merasakan panas tubuh Renshu menembus langsung ke kulitnya. Napas sang prajurit terdengar semakin pendek dan berat, memburu di balik ceruk leher Liying yang terekspos.​Melihat reaksi Renshu yang begitu tersiksa, Liying justru merasa seolah mendapatkan suntikan kekuatan baru. Rasa takutnya pada dunia luar, pada kelicikan Yuchen, bahkan pada bayang

  • Sentuh Aku, Renshu!   16. Ujian Kewarasan di Atas Batu

    Renshu tidak membiarkan Liying duduk terlalu lama di atas rumput yang lembap dan berbalut tanah kotor. Dengan satu gerakan mulus dan tanpa peringatan, pria bertubuh besar itu merengkuh pinggang serta lipatan lutut sang Putri. Ia mengangkat tubuh mungil Liying dengan sangat mudah, seolah sedang mengangkat sehelai bulu angsa, lalu mendudukkannya di atas sebuah batu pualam datar yang berada di sudut taman bambu.​Batu itu permukaannya sangat dingin karena embun malam, namun hawa panas yang memancar dari tubuh dua insan di atasnya seolah mampu melelehkan es di puncak gunung sekalipun.​Tanpa banyak bicara, Renshu melangkah maju. Ia menekuk satu kakinya, berlutut tepat di antara kedua paha Liying yang dibiarkan sedikit terbuka di pinggir batu. Posisi ini secara fisik menempatkan Renshu di bawah, bersimpuh di kaki majikannya. Namun aura dominasi yang menguar dari sang prajurit dipadu dengan intimnya kedekatan tubuh mereka menjadikan Renshu sebagai predator, sekaligus pihak yang paling tersi

  • Sentuh Aku, Renshu!   15. Meminta Pertanggungjawaban

    Malam ini, angin bertiup lebih tenang di taman bambu. Cahaya bulan purnama menyusup melalui celah-celah dedaunan, menyoroti sosok Renshu yang berdiri kokoh dengan kemeja tanpa lengan dan ranting bambu di tangannya.​Liying melangkah memasuki area latihan dengan napas yang sudah diatur sedemikian rupa. Di balik celana latihannya, lebam-lebam sisa semalam masih berdenyut, namun di tangannya yang berbalut perban tipis, ia menggenggam erat cepuk porselen berisi salep racikan Meilin.​"Fokus, Liying. Jangan biarkan matamu tertipu oleh gerakan lenganku, tapi perhatikan arah bahuku," instruksi Renshu tajam, sepenuhnya kembali ke mode instruktur tanpa ampun.​"Baik," jawab Liying patuh, memasang kuda-kudanya.​"Menghindar!"​Renshu melesat maju. Ranting bambunya berdesing membelah udara, mengincar pinggang kiri sang Putri.​Sesuai rencana, Liying membaca gerakan itu dengan sempurna. Namun, alih-alih menghindar sepenuhnya, gadis itu dengan sengaja melambatkan tarikan kakinya sepersekian detik.

  • Sentuh Aku, Renshu!   14. Penolakan Sang Putri

    Matahari siang menyengat atap Paviliun Kaca Kusam, namun di dalam kamar tidurnya, Liying merasa sekujur tubuhnya seperti baru saja digilas roda kereta kuda.Setiap kali ia menggeser posisinya di atas kursi rias, ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Sabetan ranting bambu Renshu semalam benar-benar meninggalkan jejak yang luar biasa menyiksa. Paha bagian dalam, pinggang bawah, dan betisnya berdenyut nyeri. Liying bahkan harus berjalan dengan langkah yang sangat pelan dan diatur sedemikian rupa agar Dayang Chun tidak curiga."Tuan Putri, Nona Meilin dari Paviliun Pengobatan meminta izin menghadap. Beliau membawa ramuan tonik pesanan Anda," lapor Dayang Chun dari balik tirai.Mendengar nama itu, wajah pucat Liying sedikit tercerahkan. "Suruh dia masuk. Dan Chun, tinggalkan kami berdua. Aku butuh Nona Meilin untuk memeriksa urat nadiku secara tertutup.""Baik, Tuan Putri."Begitu pintu kayu berukir itu ditutup dari luar, Meilin yang mengenakan pakaian abu-abu khas asisten tabib istana se

  • Sentuh Aku, Renshu!   13. Sabetan Ranting dan Tarian Menghindar

    ​Pagi di Paviliun Kaca Kusam terasa lebih lambat dan menyiksa dari biasanya. Sinar matahari yang menembus kisi-kisi jendela menyinari wajah Liying yang sedikit pucat. Di balik selimut sutranya, sekujur tubuh gadis itu terasa remuk redam.​Saat Dayang Chun masuk membawakan air cucian muka, Liying buru-buru menarik lengan gaun tidurnya hingga menutupi punggung tangan.​"Tuan Putri, apakah Anda masih demam? Wajah Anda terlihat lelah," tegur Dayang Chun dengan nada khawatir.​Liying berdeham pelan, memaksakan senyum anggun di bibirnya. "Aku hanya kedinginan, Chun. Angin malam tadi sangat menusuk. Siapkan gaun musim gugur berlengan paling panjang dan berkerah tinggi hari ini. Aku tidak ingin masuk angin lagi menjelang kunjunganku ke kediaman Ibu."​Dayang Chun mengangguk patuh tanpa curiga. Berkat gaun sutra berlengan ekstra panjang itu, perban tipis yang membalut telapak tangan Liying tersembunyi sempurna. Sepanjang hari, Liying menahan ringisan nyeri setiap kali harus memegang cangkir te

  • Sentuh Aku, Renshu!   12. Candu di Balik Perban

    Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.​Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut.​"Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri.​"Lakukanlah," bisik Liying.​Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.​Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status