Mag-log inSUV hitam itu melaju membelah jalanan kota Columbus dalam diam yang menekan. Hujan gerimis tipis membasahi kaca depan, lampu-lampu jalan memantul di permukaannya, menciptakan bayangan redup yang bergerak pelan mengikuti irama wiper.
Di kursi depan, Morgan menyetir tanpa bersuara. Ia tahu, keheningan di kursi belakang bukan sesuatu yang boleh diganggu. Sesekali matanya melirik ke kaca spion, memastikan bahwa tak ada satu pun kata keluar dari bibir Tuan maupun Nyonya-nya.
Sementar
“Ini… wajahku kan?” tanya Kael. Ekspresinya haus akan validasi, seolah ia sengaja menjerat Valeriah dengan bukti yang tak bisa disangkal.Wajah Valeriah langsung pucat. Ia meraih bukunya dengan panik, tapi Kaelmore lebih cepat mengangkatnya tinggi, jauh dari jangkauannya.“Untuk apa aku menggambar orang mesum sepertimu” Gerutu Valeriah kesalKaelmore tertawa rendah, tawa yang lebih terdengar seperti ancaman ketimbang hiburan. “Mesum?” ia mengulang kata itu, bibirnya melengkung penuh godaan. “Kitten, kau bahkan bisa menutupinya dengan hinaan, tapi tanganmu sudah mengkhianatimu. Kau mengukirku di kertas, garis demi garis… seolah aku sudah terpatri di kepalamu.”“Berhenti mengada-ada!” Valeriah mencoba meraih buku itu lagi, tubuhnya setengah berdiri dari kursi pesawat. Tapi Kael dengan mudah menahan bahunya, membuatnya kembali terhempas duduk. Sentuhan itu tidak keras, tapi cukup memberi tekanan kalau ia memang berkuasa penuh.Tatapan hijau gelap itu
Suasana bandara internasional Toronto dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang berlalu-lalang dengan koper masing-masing. Valeriah berjalan cepat, sepatu boots-nya berdetak di lantai marmer, sementara Morgan mengikuti dari belakang sambil menarik koper besar.Mereka tiba di check-in counter. Seorang petugas berseragam biru muda menyambut dengan senyum profesional, lalu meminta paspor Valeriah terlebih dahulu.“Miss Valeriah?” tanyanya sambil memverifikasi layar.Valeriah mengangguk kecil. “Ya.”Petugas itu mencetak boarding pass, lalu menyerahkannya dengan nada ramah. “Kursi Anda, Nona, business class, 2A.”Morgan yang berdiri di sebelahnya langsung mencondongkan tubuh dan menyerahkan pasportnyaPetugas itu tetap tenang, memeriksa layar kembali. Lalu ia mencetak boarding pass Morgan dan menyerahkannya. “Untuk Tuan Morgan Lowell… kursi 26D. Ekonomi.”Valeriah mengerutkan kening. “
Valeriah terbangun dengan tubuh lelah, mata terasa berat seolah baru selesai menangis semalaman. Sunyi. Hanya suara detik jam dinding di apartemen mungilnya.Ia keluar dari kamar lalu menoleh sekilas, mendapati Morgan masih duduk di kursi dekat pintu dengan posisi tegap, seperti patung hidup. Pengawal itu bahkan tidak melepas jasnya, hanya membuka kancing paling atas dan menundukkan kepala, entah tidur atau sekadar memejamkan mata.Dengan hati-hati Valeriah bangkit, langkahnya tertatih karena balutan di kakinya. Ia berjalan kembali ke kamar menuju kamar mandi. Begitu lampu menyala, ia menatap cermin di hadapannya.Sekilas ia ingin mengusap wajahnya yang kusut, tapi tangannya berhenti. Pandangannya membeku.Terlihat jelas bekas merah samar dilehernya, berwarna lebih gelap dari kulitnya yang pucat. Ia menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Dengan ragu ia membuka kancing mantel yang masih dipakainya sejak tadi malam, membiarkannya terjatuh di lantai.
Conveno Hotel, Toronto, Canada.Suite room itu berantakan. Tirai setengah terbuka, menyisakan cahaya kota yang masuk samar ke dalam ruangan. Bantal sofa tercampak ke lantai, kursi miring, bahkan meja kopi kaca di dekat sofa masih menyimpan jejak gelas anggur yang belum tersentuh.Kaelmore duduk bersandar di sofa kulit hitam, hanya mengenakan celana panjang santai. Rokok menyala di antara jari-jarinya, asap tipis membubung, melingkar sebelum menghilang di udara. Ia mengembuskan napas pelan, membiarkan aroma tembakau memenuhi dadanya. Tapi pikirannya tidak ada di sini. Ia kembali pada momen saat Valeriah mengerang dibawahnyaIa adalah pria pertama yang menjamah Valeriah.Di kota besar di mana pergaulan bebas sudah menjadi hal biasa, di mana pesta, alkohol, dan cumbuan cepat seringkali dianggap lumrah, Valeriah tetap mempertahankan dirinya. Bukan karena ia polos, bukan pula karena tak tahu apa-apa, melainkan karena ia pasrah. Dan pilihan itu jatuh pada Kael,
Valeriah membelalak kaget begitu ia keluar hotel dan mendapati langit sudah sangat gelap. Dalam hati ia memaki Kaelmore yang tak mengatakan jika jam 11 yang pria itu maksud adalah jam sebelas malam“Sial banget!!” serunya pelan, menendang angin sambil memeluk tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian tipis. Pakaian yang bahkan tak cukup menahan dinginnya udara malam.Jalanan di depan hotel tampak lengang, hanya beberapa kendaraan melintas dengan lampu menyilaukan. Ia menunduk, berjalan cepat, mencoba menyatu dengan keremangan kota asing ini. Jantungnya masih berdegup cepat, campuran dari ketakutan, adrenalin, dan dorongan untuk kabur sejauh mungkin.Namun masalah segera muncul. Ia tidak membawa tas, tidak membawa dompet, bahkan tidak ponselnya. Semua tertinggal di kamar hotel itu. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah tubuhnya dan tekad untuk tidak kembali ke kamar hotel Kael.Langkahnya semakin berat. Rasa perih menjalar dari telapak kakinya yang
“Makan yang banyak, Kitten. Tubuhmu kurus sekali” suara Kaelmore terdengar datar, tapi ada dominasi samar yang tidak bisa diabaikan.Piring makan tersusun rapi di meja makan suite hotel itu, namun Valeriah hanya menunduk. Sepertinya sudah dua hari ia terkurung di ruang itu. Kaelmore menahannya tanpa kesempatan keluar, tanpa memberi pilihan lain selain tunduk pada ritme hidup yang dia tentukan.Valeriah bahkan tidak tahu apakah hari sudah siang atau malam tanpa cahaya matahari. Tirai jendela tertutup rapat, hanya lampu gantung modern yang menerangi ruangan dengan cahaya kuning temaram.Ia menatap sendok di tangannya, seolah benda itu bisa menjadi senjata atau jalan keluar. Tapi tubuhnya terlalu lemah, pikirannya terlalu letih. Kaelmore menguasainya dengan cara yang tidak bisa ia lawan, bukan sekadar fisik, melainkan juga mental.Selain jam makan, Kael terus saja melakukan seks padanya. Mengajarkannya berbagai posisi agar dirinya yang amatiran i
“Selamat atas pernikahan kalian”Suara Leah terdengar lembut namun berwibawa, memecah riuh tepuk tangan para tamu yang baru saja menyaksikan Alisa dan Vincent menuruni panggung. Alisa, dengan gaun putih gading berpotongan elegan dan taburan payet di sepanjang garis bahunya, men
Lampu gantung kristal menjuntai dari langit-langit tinggi, musik lembut mengalun di antara tamu-tamu yang berdiri anggun dengan gaun malam dan setelan jas. Nama Vincent & Alisa terpampang di layar besar di atas panggung dengan huruf emas.Leah berdiri di samping Alesco, menatap dekoras
“Haruskah kita pergi ke pernikahan mereka?” tanya Alesco, suaranya berat dan dingin seperti batu yang dilempar ke air tenang.Leah menoleh dari depan cermin, jemarinya yang semula sibuk merapikan pita kecil di pinggang gaunnya terhenti. Ia melihat pantulan wajah suaminya di cermin, tatapan
“Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Tapi cintaku... cintaku tidak cukup untuk memaafkan pembunuhan. Tidak cukup untuk membuat aku berpura-pura tidak melihat apa yang kau lakukan di ruangan ini.” Ungkap Leah jujur.Alesco terdiam.Tidak ada satu pun otot di wajahnya yan







