LOGINJennar duduk di depan cermin dengan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi, helaiannya jatuh lembut di bahu. Ujung sisir bergerak perlahan, tapi pikirannya justru melayang kembali pada malam lalu. Pada malam panas yang mereka lalui di villa ini untuk menikmati bulan madu.Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar.Pintu kamar tiba-tiba berderit pelan.“Udah bangun?” suara Birru terdengar hangat.Jennar menatap pantulan pria itu di cermin, tatapannya penuh cinta.“Udah, Mas. Kenapa nggak bangunin aku?” gumam Jennar pelan.Birru tidak langsung menjawab. Ia hanya mendekat, mengambil sisir dari tangan Jennar, lalu mulai menyisir rambut istrinya dengan gerakan yang lembut.“Kamu tidurnya nyenyak banget tadi. Aku nggak tega.”“Oh ya?”“Iya. Dan sarapan sudah siap,” lanjut Birru. “Habis itu kita jalan-jalan, naik kuda. Ada track kecil sampai ke sungai. Katanya bagus banget.”Jennar mengernyit kecil, menatapnya lewat cermin. “Aku belum pernah naik kuda, Mas. Itu aman nggak?”Birru ter
Disclaimer: Bab ini mengandung konten dewasa. Harap di skip jika tidak suka.Malam mulai merayap dengan udara yang pekat di Puncak saat Jennar memutar keran shower. Tubuhnya terasa segar, rambutnya masih basah, wajah bersih tanpa bekas make-up pengantin. Ia melangkah ke sudut kamar mandi, matanya melebar saat melihat rak itu kosong tanpa handuk."Eh!? Kok nggak ada handuk?!" suaranya mendadak panik.Matanya berkeliling. Tak ada lemari kecil hanya ada rak handuk di sudut dan itu kosong. Napasnya mulai tersendat."Ya Tuhan... gimana ini? gaun pengantin udah basah kena air," bisiknya sambil menggigit bibir bawah, cemas menyapu pandangan ke arah pintu.Dia memutar handle pintu dan melirik ke arah Birru. Suaminya itu duduk di tepian kasur, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Birru juga baru selesai mandi di kamar mandi dekat perapian."Mas," panggil Jennar dengan suara sedikit gemetar.Birru menoleh, senyum ringan di bibirnya. "Apa, Sayang?""Boleh tolong ambilkan handuk?" pinta J
Pesta akhirnya mereda ketika jarum jam mendekati pukul empat sore. Tenda yang sejak pagi dipenuhi tawa, doa, dan kilatan kamera perlahan kembali tenang. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan jejak kebahagiaan yang masih terasa menggantung di udara.Di antara pelukan terakhir dan ucapan selamat yang tak ada habisnya, Birru dan Jennar kini berdiri berdampingan. Mereka masih dalam balutan busana pengantin, masih dengan senyum yang sesekali gemetar karena lelah bercampur bahagia. Tapi, rasa lelah itu akan hilang karena mereka sedang berpamitan untuk menuju villa, menikmati malam pengantin.“Birru, tolong jaga Jennar baik-baik, ya. Jennar itu super manja sebenarnya,” pesan Priska sambil memeluk putrinya sekali lagi. Suaranya lembut, tapi matanya berbinar penuh kelegaan.“InsyaAllah, Ma,” jawab Birru mantap. Tangannya otomatis meraih tangan Jennar, seolah itu refleks yang tak perlu dipikirkan lagi.Surya menepuk bahu Birru pelan. Tidak banyak kata, tapi tatapan itu adalah tatapa
Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent
Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu
“Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta
Birru masih berdiri di tepi basement ketika mobil Dania berbelok pelan menuju pintu keluar. Lampu remnya menyala merah, lalu menghilang ditelan tikungan.Tangannya yang tadi terangkat perlahan turun.Di sebelahnya, Alexa berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Rahangnya mengeras sejak tadi.“
“Ru! Tolongin gue!”Teriakan Tommy membuat Birru langsung menoleh. Di balik meja kasir, Tommy berdiri di atas stool bar, kedua tangannya sibuk menyusun gelas-gelas kristal di rak tinggi. Beberapa gelas berkilau terkena pantulan lampu, tapi stool yang ia pijak tampak goyah.Birru segera mendekat. “K
Birru melirik sekilas ke kursi penumpang. Jennar tampak cantik pagi itu dengan rambut tergerai rapi, wajahnya santai, bibirnya bersenandung pelan mengikuti lagu romantis dari radio. Jari-jarinya mengetuk pelan di pahanya, seirama musik. Mereka hendak membeli suvenir pernikahan di salah satu pasar k
Jennar berhenti sejenak di ambang teras, menghirup udara sore yang hangat. Pandangannya menyapu dinding teras rumah orangtuanya—warna krem yang dulu cerah kini memudar, terkelupas di beberapa sudut, seolah lelah menahan waktu. Rumah ini akan menjadi saksi akad nikahnya sebentar lagi. Entah kenapa,







