LOGINEsok harinya tampak di ranjang luas dua tubuh telanjang bulat sedang tertidur pulas dan hanya ditutupi oleh satu selimut tebal. Tak lama berselang, Aina sebagai salah satu dari sosok itu mulai membuka kedua kelopak matanya dan menatap sekelilingnya. Saat matanya itu menatap sosok Rey yang tidur di sampingnya. Ingatan tentang malam panas kembali muncul di benak Aina. Mengingat hal itu, raut wajah panik mulai tampak di wajahnya. “Aina apa yang sudah kamu lakukan?“ tanyanya pada diri sendiri merutuki apa yang telah ia lakukan tadi malam. Di sisi lain Rey yang merasa terusik oleh pergerakan Aina di sampingnya, mulai membuka kedua kelopak matanya. “Aina!“ sapanya dengan suara yang cerah. Mendapat sapaan itu, Aina mengalihkan tatapan matanya pada Rey. Rey mengernyitkan dahinya heran, saat mendapati tatapan yang dipancarkan Aina begitu tegang. “Ada apa? kenapa raut wajah kamu begitu tegang?”Tanpa membalas ucapan Rey, Aina segera memerintah Rey untuk segera keluar “Sebaiknya kamu kelua
Rey yang tau Aina sedang terkejut, bergegas memanfaatkan situasi itu untuk melumat bibir Aina dengan penuh nafsu.Mendapati lumutan dari Rey, Aina langsung tersadar dari rasa terkejutnya. Dengan sekuat tenaga, saat tersadar itu ia mendorong tubuh Rey agar menjauh darinya. Namun, seberapa keras pun usaha Aina. Karena tenaga Rey yang kuat ditambah lagi pria itu seperti orang yang sedang kesetanan. Tentu membuat usahanya menjadi sia-sia.Walaupun tau usahanya sia-sia. Aina tetap berusaha melepaskan ciuman mereka dengan memukul-mukul dada Rey secara keras.Rey yang mendapati pukulan keras itu, tetap tak gentar. Bahkan tampak sekarang, ia malah semakin memperdalam lagi ciuman mereka. Sampai akhirnya saat lima menit berlalu dengan cepat, Rey yang merasa Aina sudah kehabisan nafas bergegas melepaskan ciumannya. Dengan penuh emosi saat ciuman mereka terlepas, Aina menampar pipi Rey dengan keras. “Brengsek!” umpatnya sambil berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.Bukannya marah, Rey y
Malam harinya. Tampak Rey membereskan kopernya karena memutuskan untuk pulang ke rumah saja, setelah pertengkarannya tadi pagi dengan Aina.Disela membereskan koper, ia mendengar suara ketukan seseorang di depan pintu kamar. Dengan langkah cepat, Rey mulai berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintu itu.Saat pintu terbuka, terlihat jelas Dini lah orang yang mengetuk pintunya.Melihat keberadaan Dini, kening Rey mulai berkerut heran. “Ada apa?” tanyanya dengan dingin.Senyum manis yang awalnya terpancar cerah di wajah Dini. Tentu saja langsung menghilang, saat dirinya mendengar ucapan Rey yang tak bersahabat. “Ini Pak, saya bawain kopi buat Bapak.“ Ucapnya yang sekarang mulai mengangkat salah satu tangannya yang memang sedang menenteng satu cup kopi.Tanpa merubah ekspresi dinginnya, Rey berkata. “Bawa lagi aja, saya lagi ga mau minum kopi!”Helaan napas kasar terdengar jelas dari mulut Dini. “Bukannya hari ini, Bapak mau selesain pekerjaan supaya besok bisa
Dua hari Aina beserta suami dan anaknya berlibur di Bali berlalu dengan cepat. Selama dua hari itu, mereka selalu menikmati waktu berliburnya dengan penuh semangat.Namun, walaupun dua hari berlibur itu terasa menyenangkan. Tetapi ada sesuatu yang menyebalkan, khususnya untuk Aina. Dimana selama dua hari itu, Rey yang memang diketahui juga ada di Bali ditambah lagi menginap di hotel yang sama dengan Aina dan sekeluarga. Entah kenapa terasa selalu mendekatinya. Ditambah lagi berusaha berkomunikasi dengan Arya, walaupun satu kali pun tak pernah. Karena Aina dan Hans selalu berhasil mencegat dan mendoktrin Arya untuk tak berbicara dengan Rey dengan alasan pria itu adalah orang asing.Tak terkecuali pun pagi ini. Saat Aina, Hans dan Arya sedang menikmati makan pagi mereka di resort. Tiba-tiba saja Rey yang tampak baru selesai makan, berusaha mengajak mengobrol Arya. Namun seperti hari-hari kemarin, Aina dan Hans mencegatnya dan meminta pria itu untuk pergi secara halus karena ada Arya di
Melihat keberadaan Rey. Hans dengan cepat setelah menyadarkan dirinya sendiri dari rasa terkejut. Mulai mengajak anak beserta istrinya untuk pergi dari bandara. “Aina, ayo kita pergi sekarang!” Tanpa bantahan. Aina segera mengikuti keinginan Hans. Tampak, wanita yang sudah berumur 40-an itu segera berjalan cepat dengan menggenggam tangan putranya dengan erat.Saat Hans, Aina dan Arya pergi dari bandara. Tanpa mereka sadari, Rey yang entah sejak kapan sudah memandang mereka. Mulai bergumam pelan. “Sampai ke ujung dunia pun, aku akan kejar kamu Aina!” Kepalan tangan, tampak ia lakukan saat bergumam itu.***Setelah menempuh perjalanan cukup lama. Akhirnya keluarga Hans sampai juga di hotel tempat mereka akan menginap. “Bunda! Ayah! Ayo cepetan kita simpan barang-barang di kamar. Karena setelah itu, ayo kita pergi jalan-jalan di pantai!” Dengan penuh semangat, Arya mengajak kedua orang tuanya yang sudah check-in untuk segera ke kamar mereka agar setelahnya mereka bisa cepat-cepat jala
Malam harinya, tampak di ruang makan yang besar. Hans, Aina serta Arya sedang menikmati makanan mereka dalam keheningan. Di tengah suasana keheningan itu. Hans yang sudah menyelesaikan makannya dan juga melihat Aina dan Arya pun sudah selesai, mulai membuka suara. “Aina! Arya!” Ibu dan Anak yang dipanggil itu, seketika secara bersamaan menatap Hans. Tatapan penuh tanda tanya mereka pancarkan. Hans menatap silih berganti, antara Aina dan Arya. Sorot mata serius lah yang terlihat dari tatapannya itu. “Eum… aku cuma mau bilang. Kita kan udah lama banget ga liburan, jadi gimana kalo lusa kita bertiga ke Bali.” Aina yang terkejut dengan ajakan tiba-tiba Hans, tentu saja bergegas bertanya. “Ko mendadak?”Hans menghela napas pelan. Tatapan lembut, ia perlihatkan pada istrinya, Aina. “Ya, gapapa. Aku cuma pengen aja, kita lebih banyak ngabisin waktu bersama.” Ucapnya secara serius. “Arya mau kan, pergi liburan sama Ayah dan Bunda?” Sekarang, ia juga memulai percakapan dengan Arya yang da
Rey yang juga dengan jelas mendengar ucapan Hans barusan. Hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangan dengan erat. Tampak senyum manis yang tadi terpancar pada Aina, sekarang sudah menghilang entah kemana.Tau dengan pasti Rey kesal dengan ucapannya barusa, Hans memperlihatkan senyum sinisnya. Ain
Aina tersenyum sinis. “Itu memang bukan masalah sepele, kalo sosok kamu bersikap layaknya suami aku yang sesungguhnya. Tapi ini kan nggak. Perilaku kamu sama aku itu nggak pernah mencerminkan kalo kamu itu suamiku.”Hans tentu saja awalnya ingin mengeluarkan amarahnya yang semakin membesar, selepas
Rey yang terkejut, hanya terdiam dengan tatapannya yang tak bisa diartikan.Tak mendengar balasan, lagi-lagi Hans menghela napas dengan kasar. “Kalo kamu merasa ga paham, maksud saya itu adalah jangan terlalu dekat dekat istri saya. Karena kamu itu hanya pekerja, jadi—”“Saya paham!” ucap Rey denga
Aina yang terkejut menghentikan gerakannya. Lalu setelahnya, ia mulai mengalihkan tatapan matanya pada pintu di depannya yang entah sejak kapan sudah terbuka lebar dan menampilkan sosok yang sangat di kenalinya berdiri di depan dengan raut wajah yang shock. “Rey!” panggilnya pada sosok itu yang ter







