Se connecterMaafin Lily juga ya gaes, karena dia masih manusia, jadi pasti ada cela dan salahnya. Apalagi selama ini Benji selalu manjain dia sejak nikah, ya makin berani dan agak lupa lah dia sama kegalakan suaminya kalau lagi marah wkwkwkwkw.
"Kenapa menangis? Hmm?" "Kakimu sakit? Mau Mas panggilkan Bibi untuk bantu pijit?" Lily menggeleng begitu pertanyaan beruntun dari pria yang ia peluk terlontar lembut. Perempuan itu hanya menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya karena malu. Lily malu. Perempuan itu merasa tidak pantas diperlakukan baik setelah dari beberapa waktu lalu terus bertingkah seolah tak butuh. Namun kini, dia malah bermanja pada Benji yang seharian ini terus Lily uji kesabarannya. "Lalu kenapa belum tidur? Kau mau apa?" tanya Benji penuh sabar pada istrinya yang terus saja diam sambil menangis kian sesenggukan. "Tidak ada. Aku mau Mas Benji saja ...." Perempuan itu akhirnya menjawab lirih yang diam-diam melunturkan seluruh kesal dan jengkel yang bersarang di hati Benji dengan begitu mudah. "Kau tidak bisa tidur, kan? Kakimu sakit, kan?" tebak Benji tetap berusaha mempertahankan nada tegas dalam suaranya. Karena meskipun sudah tidak marah, tetap saja Lily harus dibuat mengerti dengan baik. Perempua
Semenjak hamil, Lily nyaris tidak pernah tidur sendiri. Selalu ada Benji di sisinya. Dan malam ini, sudah jelas dia masih terjaga di pukul dua malam karena ketiadaan sosok yang selalu memeluknya sepanjang lelap.Karena sendiri, Lily juga mulai menyadari sikapnya beberapa waktu belakangan. Termasuk awal pertengkarannya dengan sang suami hingga mereka berakhir saling mendiamkan selama perjalanan pulang dari Jepang.Lily marah karena Benji tidak mau menemaninya membeli oleh-oleh untuk Geovano. Alasannya? Sangat jelas dan masuk akal. Pria sipit itu bilang, dia tidak mau melihat istrinya terlalu kelelahan. Apalagi setelah beraktivitas cukup padat sepanjang hari.Namun, Lily memilih keras kepala dan menantang suaminya habis-habisan. Hingga Benji yang biasanya tidak cukup sabar, berkali-kali mengalah namun tetap berakhir kesal akibat sikap kasar sang istri."Kakiku sakit ...."Dan malam ini, sepertinya Lily mendapat karmanya secara instan tanpa menunggu esok hari. Sejak masuk ke sini, kakiny
"Nak, kakimu kenapa?"Bu Anin bertanya khawatir sesaat Lily memasuki rumah dengan langkah pincangnya. Perempuan itu tidak menjawab namun menyerahkan barang-barangnya untuk minta dibawakan oleh si kepala pelayan."Kau tahu dia selalu ceroboh, Bi. Tidak perlu terkejut melihat kakinya begitu." Bukan Lily, kali ini malah Benji yang menjawab dari ambang pintu.Lily melirik tajam sejenak ke belakang sebelum kemudian menerima bantuan Bu Anin untuk digandeng menuju sofa ruang tengah. "Kenapa kau membantunya? Dia bisa sendiri. Bibi tidak perlu repot-repot," sindir Benji mengingatkan Lily akan penolakannya sejak masih di Jepang.Namun, perempuan yang sedari tadi disindir habis-habisan oleh sang suami hanya diam dengan wajah tertekuk sebal. Bu Anin yang menyadari atmosfer aneh di antara mereka jelas tahu pasangan suami istri itu tengah bertengkar."Jangan begitu, Tuan! Kau tidak lihat istrimu tidak bisa jalan dengan benar? Bagaimana kalau cederanya nanti semakin parah kalau tidak ditangani?" sa
"Aku pusing memikirkannya dan dia sedang asik makan tanghulu. Luar biasa!"Benji menggumam takjub sambil memandangi dua perempuan kesayangan yang kini tengah duduk bersisian. Di samping tempat duduk istrinya sudah ada beberapa totebag yang Benji yakin dibelikan oleh Akane. Karena perempuan pendek itu jelas tidak bawa uang."Dia benar-benar serius ingin membelikan mertua kesayangannya oleh-oleh," decak Benji kian sebal begitu melihat belanjaan istrinya yang tampak begitu banyak.Begitu ia berjalan mendekat ke arah mereka berdua, Akane langsung menyadari presensinya. Wanita itu bahkan langsung menunjuk ke arah Benji membuat Lily yang sedari tadi tampak asik berbincang dengan ibu mertuanya sontak menoleh.Dan wajah super ramah dan tampak ceria itu langsung berubah cemberut dalam sekejap. Hanya karena dia melihat wajah suaminya sendiri. "Kenapa kau lama sekali? Sebenarnya kau berangkat dari mana tadi?" tanya Akane langsung protes sesaat Benji berdiri di depan istrinya yang kini memalingk
"Kenapa dia begitu ceroboh?!"Benji mendecak frustasi sambil duduk di salah satu bangku besi panjang dekat trotoar. Matanya terus menatap sekeliling namun tidak juga berhasil menemukan sosok yang sedari tadi ia cari.Setelah menunggu sekitar dua jam di bandara, Lily tidak juga menyusul. Jika hanya membeli oleh-oleh, tidak mungkin sang istri selama itu. Karena jarak bandara dan pusat perbelanjaan di sekitar gymnasium juga tidak terlalu jauh. Oleh karena itu Benji yang kesal membiarkan istrinya pergi berbelanja sendiri.Namun, menemukan handphone juga dompet istrinya yang ternyata tertinggal di tas Benji membuat pria sipit itu langsung panik dan mencari sang istri. Anehnya, setelah cukup lama menyusuri sekitar gymnasium bahkan toko terdekat, dia belum juga menemukan presensi perempuan yang tadi pergi dalam keadaan sama kesal seperti dirinya."Dia pergi ke mana tanpa bawa dompet dan hp selama ini?" gumam Benji tidak habis pikir sambil mengusap wajahnya gusar.Pria sipit itu benar-benar
"Terima kasih untuk traktirannya hari ini, Pak Benji!""Iyaa. Lain kali kami akan mentraktirmu dan Kak Lily kalau kita bertemu lagi!"Benji hanya mengangguk sambil tersenyum kecil guna merespon ucapan dua pria di depannya. Pria sipit itu kemudian pamit dan menyusul sang istri yang sudah duduk di dalam taksi karena kelelahan.Setelah ini, mereka akan langsung ke bandara untuk pulang menuju Indonesia."Mas ... aku lupa beli oleh-oleh untuk Ayah." Sesaat Benji masuk ke mobil, sang istri bahkan langsung menginfokan panik.Benji sontak menghela jengah sambil menyentil pelan kening Lily. "Tidak ada acara mampir-mampir lagi. Kau sudah terlalu banyak bergerak!" tegur pria sipit itu tegas.Hal yang sontak dibalas Lily dengan cebikan tidak setuju. "Tapi tidak mungkin kita pulang tanpa membawa oleh-oleh, Mas. Apalagi kita sudah pergi lama!" sanggah perempuan yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan gaun putih longgar keras kepala."Siapa yang bilang tidak mungkin? Tidak ada kewajiban bagimu u
"Mau mampir ke toko es krim dekat kantorku dulu?"Benji menawarkan begitu siang ini dia mengantar Lily untuk pulang sekaligus mengambil mobilnya yang ia tinggalkan di rumah gadis itu. Setelah berbicara dengan kakek tua kenalannya, Lily jadi murung dan pendiam.Benji jelas sadar alasannya adalah per
"Aku mau duduk di belakang saja ...."Benji memandangi Lily yang kini berdiri di samping mobil bersama Kiello sambil memeluk bucket bunga tulip pemberian sahabatnya. Gadis itu bahkan langsung membuka pintu bagian belakang saat Kiello sudah membukakan pintu mobil di samping kemudi. "Baiklah, kalau
Benjamin Kaisar belum sadar dengan sempurna saat melihat bayangan istrinya yang mondar-mandir. Begitu berhasil mengumpulkan nyawa, pria sipit itu bahkan mengernyit begitu kini melihat jelas apa yang dilakukan Abia."Kau mau ke mana sepagi ini mengemasi pakaian?" tanya Benji heran dengan suara serak
"Kenapa baru pulang?!"Benjamin Kaisar menghentikan langkah begitu sampai di ruang tengah. Di sana, sang istri tengah duduk bersama ibunya sambil bermain kartu monopoli. Sesaat Benji membuka pintu, Abia langsung mencecarnya dengan pertanyaan."Aku mengantar Lily pulang bersama Kiello dan Ayah." Ben







