LOGIN"Kau tidak ingin menyambut kepulanganku?"Lily tersenyum menggoda pada pria yang kini masih memandangnya tanpa kedip dari ambang pintu dapur. Membuat Bu Anin yang melihat reaksi sang majikan hanya terkekeh geli."Ini dia orangnya yang semalam menangis karena merindukanmu, Lily." Bu Anin menimpali sambil bangkit berdiri kemudian membawa sayur yang sudah dipotongnya ke kompor di belakang Lily."Sana! Kalian bicaralah di luar mumpung masih pagi. Mungkin udara segar cocok untuk kalian saat ini," usir Bu Anin halus kali ini sambil mendorong pelan tubuh Lily mendekat ke arah suaminya.Lily pun hanya pasrah saat kini ia berakhir berdiri tepat di hadapan Benji dalam jarak tidak lebih dari setengah meter. Dari jarak sedekat ini, Lily bahkan harus mendongak hanya demi menatap wajah terkejut suaminya yang sangat kentara."Ayo temani aku ke taman belakang! Sudah lama aku tidak melihat bunga-bungaku," ajak Lily kali ini menarik lengan kekar Benji untuk digandengnya.Tanpa canggung, perempuan itu b
"Okaeriii~"Benji menghela napas berat sambil memandangi ruang tengah dari ambang pintu utama. Begitu sampai rumah, bayangan suara Lily yang menyambutnya sepulang kerja sontak menyapa telinga.Lengkap dengan kosakata bahasa Jepang baru yang istrinya selalu pelajari karena terobsesi dengan negara kelahiran sang suami. Perempuan itu bilang, dia ingin anaknya bisa bahasa Jepang juga seperti ayahnya saat besar nanti. Oleh karena itu Lily ingin bisa lebih dulu sebelum mengajari sang anak yang bahkan belum lahir."Mas pasti lelah, yaa? Mau minum teh?" Sesaat Benji melangkah dan duduk di sofa panjang ruang tengah--tempat favorit istrinya di rumah, bayangan Lily yang menggelayut manja pada lengan Benji bahkan kembali melintas di benak.Membuat pria itu menghela kian berat. Apalagi begitu menyadari semua itu hanyalah khayalan belaka. Karena kenyataannya ... sang istri tidak ada di sini.Lily-nya belum juga ingin kembali."Hhh ... aku bisa gila," gumam Benji sambil memijat pelipisnya yang perl
Sudah satu minggu.Hanya butuh satu minggu untuk Lily meninggalkan Benji sendirian di rumah mereka. Dan selama itu pula Benjamin Kaisar tenggelam dalam pikiran dan kesehariannya yang terasa kacau."Tuan ... minum obatmu dulu." Pagi ini, Benji yang sudah rapi dalam setelan pakaian kerjanya, dicegat oleh Bu Anin yang menatapnya dengan khawatir. Pria itu pun menerima beberapa butir pil dan menenggak segelas air dengan cepat."Malam ini tidak usah masak makan malam, Bi. Aku sepertinya akan lembur saja di kantor." Benji memberi perintah yang sontak membuat kening Bu Anin mengernyit tidak setuju."Lembur bagaimana maksudmu, Tuan? Kau sedang sakit. Jangan membuat kondisimu bertambah parah dengan bekerja tanpa kenal waktu!" tegur Bu Anin kali ini tidak tampak sungkan memarahi majikan yang sudah terasa seperti putranya."Untuk apa aku pulang juga, Bibi? Aku sudah tidak bisa beristirahat di sini." Benji menyahut sambil terkekeh getir."Tetap saja! Jangan melampiaskan kesedihanmu dengan menyiks
"Kenapa dia makan malam di sini?" Lily langsung melempar tanya sesaat sampai di ruang makan. Semua penghuni meja makan sontak menoleh padanya, tak terkecuali Benji yang kini hadir di sana dengan wajah berantakannya."Lily ... ini kan rumah Kak Benji juga. Wajar dia makan di sini bersama kita juga, kan?" tegur Natsuki mewakili tiga pria yang kini bahkan tidak berani membuka mulut mereka."Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Aku sudah bilang tidak ingin bertemu dengannya," tanya Lily lagi tanpa mengalihkan pandangan dari sang suami yang kini masih menatapnya takut."Aku akan pergi kalau kau tidak mau makan bersamaku. Asal kau makan ...," ucap Benji berusaha setenang mungkin.Meski sejujurnya dia berharap sang istri mau sedikit berbelas kasih padanya. Syukurnya, Lily tidak mengatakan apa-apa dan bergabung di meja makan. Perempuan itu duduk tepat di hadapan Benji.Hal tersebut tentu saja membuat Benjamin Kaisar tersenyum senang. "Kau mau makan apa, Nak?" tanya Geovano berusaha memecah
"Lily ... Kak Benji masih di bawah."Natsuki masuk ke kamar iparnya kemudian duduk di dekat kaki perempuan itu. Dia pun meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas nakas samping kepala ranjang.Lily yang sedari tadi hanya berbaring meringkuk, sontak bangkit duduk dan mulai menyantap makanan yang dibawakan Natsuki dalam diam. Perempuan itu tidak tampak ingin bicara."Kau tidak mau bertemu dengannya?" tanya Natsuki lagi tidak mau menyerah membujuk iparnya."Katakan saja padanya aku sudah makan dan istirahat dengan baik di sini. Dia akan pulang setelah itu," jawab Lily masih mengunyah makan siangnya dengan raut sama sekali tidak nafsu.Namun, perempuan itu jelas tidak mau egois dengan menyiksa anak di dalam kandungannya. Jadi, Lily tetap berusaha untuk makan dan istirahat dengan baik demi kesehatan si adik bayi yang beberapa minggu lagi akan hadir di antara mereka.Lily sudah nyaris mencelakainya beberapa hari lalu karena terlalu banyak berpikir. Dia tidak mau mengulangi kesala
"Sayang ... maaf Mas baru datang."Lily menoleh sejenak pada pria yang berdiri di ambang pintu ruang rawat. Sebelum beberapa saat kemudian, perempuan itu kembali sibuk menatap kosong jendela yang tertutup tirai.Seolah perempuan itu memang enggan menatap Benji lagi."Mas Benji dari mana saja?" tanya perempuan itu lirih masih sambil memalingkan wajah dari suaminya yang kini duduk di sisi brankar dekat kakinya."Lily ... maafkan aku." Pertanyaan Lily bahkan malah dihadiahi sebuah permohonan maaf. Permintaan yang terdengar begitu bersalah dan sarat akan sesal. Hal yang justru menambah sesak di dasar hati Lily.Kenapa Benji meminta maaf? Seolah pria itu sedang membenarkan setiap hal buruk yang ada di kepala Lily. Kenapa dia tidak meyakinkan dan menjelaskan apa yang terjadi padanya?"Tadi aku meneleponmu. Tapi Anyelir yang mengangkat ...." Lily pun tidak merasa perlu menerima permohonan maaf itu. Perempuan itu malah mengungkit kejadian beberapa saat lalu sebelum ia jatuh pingsan.Di mana
"Yeayyy! Aku akan bertemu Papa Ilooo~""Iyaaa, iyaa, kau akan bertemu dia. Tapi diam dulu bisa tidakk? Ini kepangan rambutmu nanti jadi tidak cantik, Isyyy ...."Benji memandangi istrinya yang kini tengah sibuk mendandani putri mereka. Hari ini, mereka akan makan malam di kediaman Galendra untuk m
"Tidak apa-apa kalau aku pergi bekerja, kan?"Pertanyaan ragu suaminya hanya ditanggapi Lily dengan kekehan geli. Perempuan yang pagi ini sibuk mengepang dua rambut tebal nan panjang putrinya hanya mengangguk kelewat yakin."Pergilahhh! Itu kewajibanmu, kenapa kau masih bertanya, Mas?" sahut si jur
"Kenapa kau belum pulang juga?" Pertanyaan ketus dari ayah mertuanya hanya ditanggapi Lily dengan senyum kecil. Perempuan itu malah sibuk menyelimuti putrinya yang sudah terlelap di sofa setelah tadi makan es krim yang Lily belikan ke luar karena Daisy rewel ingin pulang."Bawa anakmu pulang supay
"Lily! Kami di sini!"Kiello berteriak sambil melambai pada perempuan yang tampak linglung di ujung lorong rumah sakit. Begitu menyadari kehadiran suami dan iparnya di sana, Lily pun berlari mendekat."Anakku mana? Daisy bagaimana?" tanya perempuan itu cepat sambil mendekat pada pintu ruang IGD yan







