Masuk"Bagaimana rasanya simulasi bercerai, Kak?"Benji melirik sinis begitu pertanyaan bernada meledek adik tirinya terlontar. Hari ini, sepasang suami istri berikut anaknya itu datang berkunjung ke rumah. Mengganggu Benji yang masih ingin banyak berduaan dengan istrinya.Padahal, sudah nyaris dua minggu sejak Lily kembali ke rumah. Namun, pria yang sepertinya mengalami cukup trauma karena ditinggalkan itu, benar-benar terus menempeli sang istri."Kenapa kau bertanya begitu, Ki? Kak Benji kan sudah pernah bercerai," sahut Natsuki malah mengompori.Lily yang mendengar itu, malah terkikik geli sambil terus bermain dengan bola karet bersama keponakannya di lantai berlapis karpet persia tebal. Membiarkan suaminya berinteraksi dengan pasangan yang sebenarnya selalu berhasil menaikkan tensi."Lily ... kalau aku jadi kau, aku tidak akan kembali ke sini. Lebih baik aku cari pria lain yang lebih tampan dan muda," ucap Natsuki kali ini malah beralih memanasi iparnya."Mas Benji masih mudaaa! Rambutn
"Kau tidak ingin menyambut kepulanganku?"Lily tersenyum menggoda pada pria yang kini masih memandangnya tanpa kedip dari ambang pintu dapur. Membuat Bu Anin yang melihat reaksi sang majikan hanya terkekeh geli."Ini dia orangnya yang semalam menangis karena merindukanmu, Lily." Bu Anin menimpali sambil bangkit berdiri kemudian membawa sayur yang sudah dipotongnya ke kompor di belakang Lily."Sana! Kalian bicaralah di luar mumpung masih pagi. Mungkin udara segar cocok untuk kalian saat ini," usir Bu Anin halus kali ini sambil mendorong pelan tubuh Lily mendekat ke arah suaminya.Lily pun hanya pasrah saat kini ia berakhir berdiri tepat di hadapan Benji dalam jarak tidak lebih dari setengah meter. Dari jarak sedekat ini, Lily bahkan harus mendongak hanya demi menatap wajah terkejut suaminya yang sangat kentara."Ayo temani aku ke taman belakang! Sudah lama aku tidak melihat bunga-bungaku," ajak Lily kali ini menarik lengan kekar Benji untuk digandengnya.Tanpa canggung, perempuan itu b
"Okaeriii~"Benji menghela napas berat sambil memandangi ruang tengah dari ambang pintu utama. Begitu sampai rumah, bayangan suara Lily yang menyambutnya sepulang kerja sontak menyapa telinga.Lengkap dengan kosakata bahasa Jepang baru yang istrinya selalu pelajari karena terobsesi dengan negara kelahiran sang suami. Perempuan itu bilang, dia ingin anaknya bisa bahasa Jepang juga seperti ayahnya saat besar nanti. Oleh karena itu Lily ingin bisa lebih dulu sebelum mengajari sang anak yang bahkan belum lahir."Mas pasti lelah, yaa? Mau minum teh?" Sesaat Benji melangkah dan duduk di sofa panjang ruang tengah--tempat favorit istrinya di rumah, bayangan Lily yang menggelayut manja pada lengan Benji bahkan kembali melintas di benak.Membuat pria itu menghela kian berat. Apalagi begitu menyadari semua itu hanyalah khayalan belaka. Karena kenyataannya ... sang istri tidak ada di sini.Lily-nya belum juga ingin kembali."Hhh ... aku bisa gila," gumam Benji sambil memijat pelipisnya yang perl
Sudah satu minggu.Hanya butuh satu minggu untuk Lily meninggalkan Benji sendirian di rumah mereka. Dan selama itu pula Benjamin Kaisar tenggelam dalam pikiran dan kesehariannya yang terasa kacau."Tuan ... minum obatmu dulu." Pagi ini, Benji yang sudah rapi dalam setelan pakaian kerjanya, dicegat oleh Bu Anin yang menatapnya dengan khawatir. Pria itu pun menerima beberapa butir pil dan menenggak segelas air dengan cepat."Malam ini tidak usah masak makan malam, Bi. Aku sepertinya akan lembur saja di kantor." Benji memberi perintah yang sontak membuat kening Bu Anin mengernyit tidak setuju."Lembur bagaimana maksudmu, Tuan? Kau sedang sakit. Jangan membuat kondisimu bertambah parah dengan bekerja tanpa kenal waktu!" tegur Bu Anin kali ini tidak tampak sungkan memarahi majikan yang sudah terasa seperti putranya."Untuk apa aku pulang juga, Bibi? Aku sudah tidak bisa beristirahat di sini." Benji menyahut sambil terkekeh getir."Tetap saja! Jangan melampiaskan kesedihanmu dengan menyiks
"Kenapa dia makan malam di sini?" Lily langsung melempar tanya sesaat sampai di ruang makan. Semua penghuni meja makan sontak menoleh padanya, tak terkecuali Benji yang kini hadir di sana dengan wajah berantakannya."Lily ... ini kan rumah Kak Benji juga. Wajar dia makan di sini bersama kita juga, kan?" tegur Natsuki mewakili tiga pria yang kini bahkan tidak berani membuka mulut mereka."Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Aku sudah bilang tidak ingin bertemu dengannya," tanya Lily lagi tanpa mengalihkan pandangan dari sang suami yang kini masih menatapnya takut."Aku akan pergi kalau kau tidak mau makan bersamaku. Asal kau makan ...," ucap Benji berusaha setenang mungkin.Meski sejujurnya dia berharap sang istri mau sedikit berbelas kasih padanya. Syukurnya, Lily tidak mengatakan apa-apa dan bergabung di meja makan. Perempuan itu duduk tepat di hadapan Benji.Hal tersebut tentu saja membuat Benjamin Kaisar tersenyum senang. "Kau mau makan apa, Nak?" tanya Geovano berusaha memecah
"Lily ... Kak Benji masih di bawah."Natsuki masuk ke kamar iparnya kemudian duduk di dekat kaki perempuan itu. Dia pun meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas nakas samping kepala ranjang.Lily yang sedari tadi hanya berbaring meringkuk, sontak bangkit duduk dan mulai menyantap makanan yang dibawakan Natsuki dalam diam. Perempuan itu tidak tampak ingin bicara."Kau tidak mau bertemu dengannya?" tanya Natsuki lagi tidak mau menyerah membujuk iparnya."Katakan saja padanya aku sudah makan dan istirahat dengan baik di sini. Dia akan pulang setelah itu," jawab Lily masih mengunyah makan siangnya dengan raut sama sekali tidak nafsu.Namun, perempuan itu jelas tidak mau egois dengan menyiksa anak di dalam kandungannya. Jadi, Lily tetap berusaha untuk makan dan istirahat dengan baik demi kesehatan si adik bayi yang beberapa minggu lagi akan hadir di antara mereka.Lily sudah nyaris mencelakainya beberapa hari lalu karena terlalu banyak berpikir. Dia tidak mau mengulangi kesala
"Yeayyy! Aku akan bertemu Papa Ilooo~""Iyaaa, iyaa, kau akan bertemu dia. Tapi diam dulu bisa tidakk? Ini kepangan rambutmu nanti jadi tidak cantik, Isyyy ...."Benji memandangi istrinya yang kini tengah sibuk mendandani putri mereka. Hari ini, mereka akan makan malam di kediaman Galendra untuk m
"Bunda pulanggg~"Teriakan heboh Daisy sesaat Lily membuka pintu utama sontak membuat jurnalis cantik itu tersenyum lebar. Apalagi begitu melihat pria sipit yang baru turun dari tangga dengan setelan kaus hitam dan celana santai yang tampak pas di badannya."Kapan kau pulang, Sayang?" sapa Benji an
"Tidak apa-apa kalau aku pergi bekerja, kan?"Pertanyaan ragu suaminya hanya ditanggapi Lily dengan kekehan geli. Perempuan yang pagi ini sibuk mengepang dua rambut tebal nan panjang putrinya hanya mengangguk kelewat yakin."Pergilahhh! Itu kewajibanmu, kenapa kau masih bertanya, Mas?" sahut si jur
"Sebenarnya ini tidak perlu, Mas ....""Menurutku perlu. Jika itu membuatmu merasa lebih nyaman, berarti itu perlu." Lily menatap seorang pengasuh baru yang Benji pekerjakan untuk merawat putri mereka. Padahal, sudah ada Bi Nala yang sejak kecil sudah mengasuh Daisy. Apalagi sekarang bocah itu jug







