Home / Romansa / Sentuhan Candu Tuan Benji / 7. Siapkan Dirimu Malam Ini

Share

7. Siapkan Dirimu Malam Ini

Author: LilyLembah03_
last update Last Updated: 2025-10-15 11:07:18

"Aku simpankan nomor Kai juga, ya?"

"Memangnya boleh, Bibi?"

"Tentu saja boleh. Kau bisa menghubunginya saat butuh bantuan kalau aku sulit dihubungi."

Benji memutar bola mata jengah melihat dua perempuan yang tengah sibuk mengutak-atik benda pipih di genggaman. Itu handphone baru Lily. Dibelikan oleh Abia karena istrinya kasihan gadis itu tidak pernah punya handphone sebagai pegangan.

"Untuk apa membelikan dia handphone? Dia tidak punya keluarga atau teman untuk dihubungi," komentar Benji menginterupsi kegiatan seru Lily yang tengah belajar memakai handphone pada Abia.

"Aku punya banyak keluarga, Tuan. Aku punya banyak saudara di panti asuhan," koreksi Lily cepat.

"Dengar, kan? Kau pikir keluarga hanya tentang hubungan sedarah saja?" ledek Abia malah terdengar bangga karena Lily menyanggah ucapannya.

"Kenapa membelikan dia handphone semahal itu? Kau bisa membelikan dia yang murah. Kau terlalu banyak menghamburkan uang untuknya," komentar Benji lagi karena tidak terima disahuti.

"Aku baru tahu bahwa suamiku pelit," goda Abia yang semakin membuat Benji mendengkus sebal.

"Aku ke kamar saja lah! Percuma libur tapi istriku sibuk dengan orang lain," gerutu pria sipit itu kali ini sambil bangkit dan berjalan menghentak ke kamar.

Kentara sekali jika pria galak itu tengah kesal. Abia yang melihat tingkah Benji, anehnya malah terkekeh geli. Sedangkan Lily di sampingnya sudah bergidik ngeri. Hanya Abia yang bisa mengajak iblis tampan itu bercanda.

"Oh iya! Kiello bilang dia juga ingin minta nomormu kalau kau sudah punya handphone. Aku kirimkan nomormu untuknya, boleh kan?" izin Abia yang diangguki saja oleh Lily dengan senang hati.

"Kau boleh mengabaikannya kalau dia membuatmu risih. Okey?" pesan Abia lagi.

Setelah selesai mengajarkan Lily hal-hal sederhana seperti cara menelepon dan bermain sosial media, Abia pun pamit untuk menyusul bayi besarnya yang tengah ngambek di kamar. Namun, baru saja bangkit berdiri, perempuan berambut pendek itu menatap Lily kelewat serius.

"Oh iya, apa kau sudah selesai menstruasi?" tanya Abia yang seketika membuat tubuh Lily menegang kaku.

"S-sudah. Sejak dua hari yang lalu, Bibi ...." Gadis berambut hitam legam itu menjawab gelagapan.

Abia mengangguk-angguk pelan. "Baiklah. Berarti siapkan dirimu malam ini. Aku akan minta Kai ke kamarmu nanti," jelas perempuan itu penuh arti.

Sadar apa yang dimaksud Abia, Lily hanya mengangguk pasrah. Pada akhirnya, dia akan dipakai juga. Gadis itu harus menjalankan tugasnya.

Lily harus mengandung benih dari Benjamin Kaisar. Secepatnya.

*****

"Kenapa kau tidak memakai pakaian seperti kemarin?"

Benji berkacak pinggang sambil tersenyum mengejek memandangi gadis dengan piyama biru muda di ambang pintu kamar mandi. Sedangkan Lily yang baru saja selesai mandi, sontak terlonjak sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.

Kenapa seorang Benjamin Kaisar begitu sering mengagetkannya? Tidak bisa kah dia muncul dengan normal?

"K-kenapa kau di sini, Paman---maksudku ... Tuan Benji!" tanya Lily gelagapan karena salah memanggil.

"Tentu saja mau menggunakan uang lima milyarku dengan benar," jawab Benji sambil duduk di kursi meja rias Lily kemudian menyalakan rokok.

Tubuh Lily seketika menegang kaku di pijakannya. Menyadari ketakutan gadis itu, Benji justru memberi kode dengan tangan agar ia berjalan mendekat. "Kemarilah! Kau tidak ingin menjalankan tugasmu?" perintah Benji sambil menatap Lily dengan alis terangkat satu.

Sambil mengepalkan tangan erat guna menahan gemetar di tubuh, Lily berjalan dan berdiri tepat di hadapan Benji yang masih merokok. Tiba-tiba, pria itu bahkan menarik lengannya hingga tubuh Lily jatuh di pangkuannya.

"Uhuk uhuk!" Lily terbatuk-batuk begitu Benjamin Kaisar dengan sengaja menghembuskan asap rokok tepat di depan wajah gadis itu yang duduk di pahanya dalam posisi menyamping.

"Bersikaplah penurut malam ini, seperti seorang budak pada umumnya," peringat Benji sambil mengisap lintingan tembakau mahal yang sudah nyaris habis itu.

Lily mengangguk sambil menahan napas. Gadis itu berusaha menghindar agar tidak menghirup aroma aneh dari asap rokok sang majikan. Melihat keengganan gadis itu, Benji malah mengalungkan lengan kekarnya di pinggang kecil Lily supaya tubuhnya tetap diam dalam pangkuan.

"Ingatlah, aku melakukan ini untuk Abia. Jangan sampai terbawa perasaan hanya karena aku membuatmu mendesah keenakan," peringat pria itu sambil kembali menghembuskan asap rokok di depan wajah Lily.

Lily mengangguk cepat. Ingin Benji segera berhenti dan menjauhkannya dari jangkauan pria itu.

"Apa kau pernah setidaknya memasukkan sesuatu ke milikmu?" tanya Benji menginterogasi.

Tangan pria itu yang sedari tadi melingkar erat di pinggang Lily, perlahan merambat menuju dada sekal gadis perawan itu yang hanya berlapis piyama tipis. Lily memang terbiasa tidak mengenakan pakaian dalam saat akan tidur karena merasa sesak dan tidak nyaman.

"Hnggh---" Lily merintih begitu Benji tiba-tiba meremas sebelah dadanya kuat.

"Jawablah supaya aku tahu harus memperlakukanmu kasar atau lembut!" tegur pria itu lagi sambil melempar bekas puntung rokok ke sembarang arah.

"T-tidak pernah." Lily menjawab jujur sambil mati-matian menahan rintihan.

"Kalau ciu*man?"

"Belum pernah juga."

Jawaban gadis itu membuat Benji mendecih. "Dasar payah!" makinya sebelum kemudian menyelipkan tangan kiri di punggung dan tangan kanan di bawah lutut Lily.

Tubuh mungil itu pun diangkat tanpa beban berarti bagi Benji. Setelahnya, Benji melempar tubuh Lily di atas ranjang.

"Awas saja kalau kau susah hamil, aku akan menghabisimu setiap malam," ancam Benji sebelum kemudian menekuk kedua lutut Lily kasar.

Berikutnya, paha Lily dipaksa melebar.

Sepertinya, malam ini Lily benar-benar akan dihabisi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
LilyLembah03_
hehehe terimakasihhh
goodnovel comment avatar
Dedi Mulyadi
bagus penasaran sm cerita nya
goodnovel comment avatar
Rosma
Jadi penasaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Candu Tuan Benji   298. Perempuan Gila

    Mobil Benji tiba-tiba mogok di jalan menuju rumah ayahnya.Entah apa yang salah dari mobil yang baru diservice beberapa hari lalu tersebut, yang jelas mesinnya mati total di jalan yang sepi. Beruntung ada Geovano yang lewat memang untuk menemuinya ke rumah. Atas usulan Geovano, Benji pun tidak jadi menemui sang istri yang kini telah aman di rumah ayahnya. Pria sipit itu memilih fokus mencari siapa pelaku di balik teror cukup berani di rumahnya sambil menunggu mobil yang diperiksa oleh montir.Namun, belum lama berada di sana, Benji mendapat telepon dari salah satu pembantu di rumahnya. Siska, salah satu pelayan yang selama ini juga sudah lama bekerja padanya, menginformasikan bahwa pelaku telah tertangkap dan diamankan di rumah.Namun, perempuan itu bilang tidak ada yang mengenalinya. Jadi, tanpa pikir panjang, Benji dan Geovano yang sudah kelewat penasaran segera ke rumah Benji untuk mengeceknya.Siapa sangka, sesaat ayah dan anak itu memasuki rumah, pintu tiba-tiba terkunci dari lu

  • Sentuhan Candu Tuan Benji   297. Masih Terlalu Nyaman

    Suasana di kediaman Benjamin Kaisar terasa mencekam. Apalagi setelah Lily diantar ke rumah mertuanya.Kini, sang tuan rumah tidak lagi berusaha menahan amarahnya. Karena sebelum hadirnya Lily di rumah ini, Benjamin Kaisar memang bukan tipe majikan yang disukai para pekerjanya."Sebenarnya untuk apa aku menggaji kalian? Tidak ada yang bekerja dengan becus di sini!"Seperti sore ini, Benji memaki para penjaga baru yang belum genap dua hari bekerja di rumahnya. Tidak terkecuali para pelayan yang juga jadi sasaran kemarahan."Kemarin kalian lihat sendiri, ada yang meneror istriku dengan bangkai tikus dan darah. Barang itu berhasil masuk ke rumah dengan mudah.""Aku sudah memperingati, memerintahkan kalian untuk lebih waspada.""LALU BAGAIMANA BISA TEROR ITU SEKARANG BISA MASUK KAMARKU?!""Apa gunanya aku menambah penjaga? Kalian semua tidak bekerja!" Benji memaki orang-orang yang bahkan tidak tahu harus membela diri dengan kalimat macam apa. Karena bersuara pun rasanya sangat menakutkan,

  • Sentuhan Candu Tuan Benji   296. Aku Mau Pulang

    "Kenapa kau memecat mereka?!"Pagi-pagi sekali, Lily sudah mendapati kabar bahwa Benji sudah memecat lima penjaga yang sudah bekerja bertahun-tahun padanya. Hal yang tentu saja langsung membuat perempuan itu tidak suka."Mereka tidak berguna. Untuk apa aku melihat mereka di sini?" sahut Benji santai sambil memakai dasi guna siap-siap berangkat kerja.Lily yang baru saja kembali dari dapur setelah membantu pembantu yang lain membereskan meja makan, sontak berjalan mendekat dan berdiri di depan suaminya sambil menyorot tajam."Mereka tidak tahu soal paket itu karena biasanya aku memang sering menerima paket, Mas. Kenapa kau marah sekali?" tanya Lily tidak habis pikir.Namun, Benji malah mengabaikannya dan sibuk berkaca."Kau tidak memikirkan para penjaga itu yang mungkin saja susah mendapat pekerjaan baru di luar sana? Kau tidak memikirkan anak istri mereka? Mereka sudah lama bekerja padamu, bagaimana kau bisa begitu mudah memecat mereka, Masss?" rengek Lily sambil menarik lengan suamin

  • Sentuhan Candu Tuan Benji   295. Belum Bisa Menjaga

    Benji berlari turun dengan handuk yang hanya menutupi hingga pinggang sesaat mendengar teriakan istrinya.Jatung pria itu berpacu kencang karena panik. Namun, melihat Lily yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah sambil meringkuk, pria itu jadi sedikit lebih tenang. "Ada apa, Lily? Kenapa kau berteriak?" tanya Benji terkejut sambil berlari menghampiri istrinya.Di saat yang sama, Bu Anin juga keluar dari dapur dan berjalan cepat menuju perempuan itu. "Iya, Nak. Kau kenapa?" tanya Bu Anin ikut khawatir setelah tadi meninggalkan masakannya buru-buru, takut sang majikan kenapa-kenapa.Lily yang masih meringkuk sambil menenggelamkan wajah di balik lipatan lututnya hanya diam dengan tubuh gemetar. Melihat tingkah aneh istrinya, Benji pun segera mendekat dan duduk di samping Lily."Kenapa ada bau darah ya, Tuan?" tanya Bu Anin saat berdiri di dekat sofa yang ada di depan kedua majikannya.Benji yang juga sadar dengan bau anyir yang menyengat tersebut, sontak menatap sekitar cemas."Lil

  • Sentuhan Candu Tuan Benji   294. Hobi Baru

    "Dia ternyata sibuk sekali, yaa ...."Benji bersedekap dada sambil bersandar di sisi tembok teras halaman belakang. Pria sipit itu baru bangun dan tidak menemukan istrinya di sisi ranjang apalagi kamar mandi. Nyawa yang belum sempurna terkumpul membuatnya berlari panik mencari sang istri ke seluruh penjuru rumah.Siapa sangka, perempuan cantik itu tengah berkutat bersama kucing orennya di sini; taman belakang. Tempat favorit Lily di rumah ini. Tempat yang sejak dua tahun terakhir sudah berubah jadi taman bunga, saking rajinnya sang istri berkebun sejak kepergian putri mereka.Entah itu adalah sebuah pelarian yang indah, atau memang hobi baru Lily setelah tidak jadi jurnalis. Benji tidak tahu. Yang jelas, saat ini pria itu terlalu sibuk memandangi istrinya yang tengah berjongkok mencampur sekam padi dan tanah ke dalam pot kecil sebagai media tanam bibit baru. Lengan dan betisnya tampak berkilau terkena sinar matahari, imbas dari mulusnya kulit serta lotion yang selalu ia pakai setiap

  • Sentuhan Candu Tuan Benji   293. Cara Paling Sederhana

    "Kenapa belum tidur, Lily ...."Benji menghela napas panjang guna meliris sesak sesaat memasuki ruang tengah rumah yang temaram dan sepi. Hanya ada pencahayaan dari lampu teras serta televisi yang menyala di sana.Menampilkan iklan rokok yang hanya akan muncul di jam-jam tertentu. Jam yang jelas saja sudah menandakan larut malam."Aku menunggumu pulang, Mas ...."Dan di ujung sofa panjang sana, istrinya tengah duduk sambil meringkuk dan memeluk lutut. Terpaan dingin AC membuat tubuh Benji bahkan mulai merinding, namun Lily tampaknya sudah lama duduk di sana dengan terusan putih tanpa lengan tipisnya.Kenapa Lily tidak masuk ke kamar? Apa sang istri memang benar menunggunya pulang? Tapi kenapa dia tidak mengenakan selimuf atau paling tidak jaket?Padahal Lily gampang terserang flu saat kedinginan."Kukira kau tidak akan pulang malam ini, Mas ...." Lily menyapa begitu Benji kini berdiri di depannya tanpa kata."Kenapa tidak pakai jaket atau selimut? Tubuhmu dingin sekali," tanya Benji k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status