LOGINHana terharu mendengar apa yang dikatakan oleh dua bocil tersebut. "Tidak bisa makan hanya dengan kuah saja. Kamu harus makan pakai lauk. Kalian tunggu saja nanti kakak belikan untuk kalian makanan istimewa." Hana tidak tega untuk meminta pelayan memberikan nasi sama kuah. Hana meminta makanan dengan lauk. Hana merasa di dunia ini masih ada yang butuh dirinya. Dalam artian membutuhkan bantuan dia. Selesai memesan makanan Hana menyerahkan kepada keduanya. "Ini untuk kalian. Sekarang, kalian temui ibu kalian ya. Jangan kemana-mana lagi. Sudah malam dan kalian ini untuk kalian." Hana menyerahkan uang yang tadi dia janjikan sebagai pembelian jualan mereka. Hana lega karena dirinya bis meringankan keduanya. Kedua bocil pun mengambil pemberian Hana dan tak lupa mencium punggung tangan Hana dan Lintang. "Terima kasih banyak. Semoga kakak diberikan rezki yang berlimpah," balas salah satu bocil ke Hana dan Lintang. Hana mengangguk dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh dua bocil itu. "S
Lintang memandang orang yang bertanya padanya siapa yang mau menang dalam permainan ranjang. "Oh, Hana. Dia yang mau menang sendiri. Papa kenapa tanya? Apa Papa kalah juga dari Mama? Apa mama seperti Hana?" tanya Lintang. "LINTANG!!!!" Teriakkan Bu Ami menggelegar mendengar Lintang berkata seperti itu. Hana menghela napas mendengar apa yang Lintang katakan. Dan suara ibu mertuanya mampu membuat Lintang kicep. "Papa sih. Kenapa sebut Mama. Marah kan mama. Mama, papa yang katakan seperti itu. Ayo sayangku, cintaku kita pergi. Biarkan mereka selesaikan semunya. Nanti mau makan apa?" tanya Lintang tidak peduli dengan ayah dan ibunya yang sudah menahan amarah dengan kelakuan Lintang. Lintang keluar dari rumah di susul asisten Lintang dan sahabatnya. Dan baru kedua orang tuanya yang masuk ke dalam mobil. "Ma, aku harap Mama dan juga Papa tidak percaya dengan apa yang wanita itu katakan. Dan juga pria yang bersama dengan wanita itu dia itu ingin merebut Hana. Aku juga berharap kamu tid
Lintang menceritakan semuanya apa yang terjadi. Dia tidak mau ada salah paham antara dia dan Hana. Dia mau Hana itu percaya dengan dia. Tapi, selesai bicara dan menjelaskan semuanya Hana malah diam dan dia tidak komentar seperti ayah, ibunya yang terus menerus menasehati dia dan marah padanya. Lintang hanya melihat Hana yang fokus pada makanannya. "Sayang, kamu lapar?" tanya Lintang yang tidak tahan lagi. Hana tersentak dan menatap Lintang. Sorot mata Hana berkaca-kaca seperti ingin menangis. Dan benar saja hitungan tiga Hana menangis. "Huaaa, aku mau es krim. Kenapa tidak ada yang kasih aku es krim," jawab Hana membuat Lintang panik. Lintang berdiri dan mendekati Hana. Dia memeluk Hana dengan erat. Kedua orang tua Lintang juga panik. "Lintang, belikan segera. Dia ngidam itu. Ayo cepat," pinta Bu Ami ke Lintang. Lintang pun mengajak Hana pergi ke luar untuk membeli es krim untuk Hana. Semuanya ikut bersama Hana dan Lintang. "Kalian kenapa ikut?" tanya Lintang ke orang tuanya, a
Lintang pergi begitu saja dia tidak mau memandang Mala. Walaupun dia jatuh cinta dengan Mala ugal-ugalan tapi sekarang tidak lagi. Cinta dia hanya untuk Hana seorang. "Wanita itu selalu saja muncul. Dia sudah seperti jelangkung. Entah apa yang dia mau dariku. Apa tidak bisakah dia cari pria lain selain aku ? Apa setampan itukah aku hingga dia tidak mau melupakan aku?" tanya Lintang pada dirinya. Lintang heran dengan Mala. Kenapa selalu ingin menjadi kekasihnya. Dia itu sudah punya istri dan dia sayang sama istrinya tapi kenapa Mala tidak paham juga. Di vila Hana mencari Lintang. Dia sebenarnya sedih Lintang tidur di luar tapi entah kenapa mood dia semalam tidak baik. Kemungkinan bawaan bayi. "Kamu cari siapa, Sayang?" tanya Bu Ami ke menantunya. "Cari Mas Lintang. Apa Mama lihat Mas Lintang ?" tanya Hana yang mulai memanggil Lintang dengan sebutan Mas. Bu Ami tersenyum mendengar Hana menyebut nama Lintang Mas. Dan mencarinya. Dia tahu semalam keduanya bertengkar tapi itu hal bia
Arya melepaskan rahang Mala dan pergi dari hadapan Mala. Arya menyesal sudah percaya dengan Mala. Dia harus bercinta dengan Mala. Mala menatap Arya yang pergi dari hadapannya. "Pria tidak tahu diri sudah syukur aku bantu dia. Malah marah dengan aku," gumam Mala yang menyibak selimut. Mala memakai pakaian dan berjalan ke arah jendela. Melihat suasana diluar yang begitu damai. Dia dulu berkhayal kalau Lintang ada di sisinya menikmati pemandangan ini pasti menyenangkan. "Kenapa kamu melupakan aku. Aku sudah serahkan semuanya kepadamu tapi kamu malah melupakan aku. Apa salah aku padamu? Kenapa kamu meninggalkan aku. Kenapa?" tanya Mala pada dirinya sendiri kenapa Lintang meninggalkan dia. Lintang yang dulu perhatian kepadanya apapun yang dia inginkan selalu dituruti kini malah tidak sedikitpun memandang dia. Seolah-olah dia jijik dengan dirinya. Air mata Mala jatuh dia tidak tahan menahan semua rasa di dalam dirinya. Tangannya gemetar saat menghapus air matanya. Di kamar mandi Arya
"Akh, Mala ... Bangun kamu! Bangun!!!" Pekikan dari Arya begitu kencang hingga Mala yang tidur dalam pelukkan Arya tersadar dan langsung terduduk. Mala menatap Arya yang wajahnya memerah dan napasnya naik turun. Mala berdecih melihat reaksi Arya seperti orang yang kesurupan. "Kenapa denganmu? Apa kamu kesurupan? Ini masih pagi tolong jangan teriak-teriak kamu. Aku benci dengan orang yang teriak-teriak di pagi hari. Padahal malamnya sudah teriak dan minta lagi," ejek Mala yang menyibakkan selimut untuk turun. Tapi, tangannya ditahan Arya. Tatapan mata Arya begitu tajam ke Mala. Mala yang ditahan oleh Arya ikut memandang Arya. "Kenapa menahanku, masih mau kamu?" tanya Mala dengan nada suara mengejek. Mala berbalik dan merangkak mendekati Arya yang terdiam terpaku melihat Mala berbalik. "Mau apa kamu? Mundur kamu. Cepat mundur," usir Arya yang langsung melepaskan tangan Mala. Arya marah dengan Mala karena sudah merebut kepercayaan dia. Dia sekarang sudah tidak perjaka lagi. Padah
Setelah mengingat akhirnya, Arya mengetahui siapa dia. "Oh iya aku ingat dia adalah wanita yang mengaku sebagai kekasihnya Lintang. Dia mau apa ke bandara ya? Apa tidak sebaiknya aku bertanya dengan dia. Siapa tahu dia masih berhubungan dengan Lintang di belakang Hana dengan begitu aku bisa member
Pada akhirnya Lintang membawa Hana untuk pergi bulan madu semuanya sudah direncanakan. Kehamilan Hana juga cukup baik. Lintang memberitahukan kepada kedua orang tuanya untuk menyusul mereka ke Swiss karena ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan yaitu tentang kehamilan Hana dan kedua orang tua Lint
"Mau apa kamu ke sini? Apa masih ingin mengejar istriku ya?" tanya Lintang kepada Arya.Arya mengikuti Lintang dan juga Hana sedari di kantor. Dia masih belum bisa menerima Hana menikah dengan Lintang. Dia masih terus mengejar Hana karena dia sudah bertekad kalau dia ingin mendapatkan Hana. Apapun
"Dengar ya apa yang aku katakan ini," ucap Lintang ke Hana. "Ok, Sayang. Tapi, kamu jangan jahil ya mereka itu orang yang kita kenal. Termasuk Azizah. Dia sahabat baikku dan sudahku anggap sebagai keluarga jangan sampai kamu membuat dia membenciku karena idemu itu," ucap Hana yang membuat Lintang







