مشاركة

Bab 44. Bapak Bocil

مؤلف: ZeeHyung
last update تاريخ النشر: 2026-04-10 22:02:25

Lintang memandang orang yang bertanya padanya siapa yang mau menang dalam permainan ranjang.

"Oh, Hana. Dia yang mau menang sendiri. Papa kenapa tanya? Apa Papa kalah juga dari Mama? Apa mama seperti Hana?" tanya Lintang.

"LINTANG!!!!" Teriakkan Bu Ami menggelegar mendengar Lintang berkata seperti itu.

Hana menghela napas mendengar apa yang Lintang katakan. Dan suara ibu mertuanya mampu membuat Lintang kicep.

"Papa sih. Kenapa sebut Mama. Marah kan mama. Mama, papa yang katakan seperti itu.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 74. Berbunga-bunga

    "Saya tahu. Saya akan menjaga Arum. Baiklah, saya permisi dulu. Arum saya pulang besok ke kantor saya tunggu," ucap Cakra yang pulang. Arum ingin protes tapi sorot mata Cakra terlalu tajam hingga dia tidak berani untuk menatap Cakra. Arum menghela napas dan membuangnya panjang. "Pria ini terlalu arogan. Sudah memecatku kini dia malah memintaku untuk kembali. Apa mau dia," bathin Arum. Cakra pulang dengan hati gembira. Besok dia akan bertemu Arum lagi. Marcel yang melihat kelakuan sahabatnya berdecih. Bisa-bisanya dia sebahagia ini. "Kenapa bahagia sekali? Apa yang terjadi denganmu? Apa kamu tahu Cakra kalau kamu seperti ini kamu menyeramkan. Lebih baik seperti biasanya saja. Itu lebih baik daripada seperti ini," ucap Marcel yang masuk ke mobil disusul Cakra. "Kamu cerewet. Aku akan potong gaji kamu," balas Cakra yang segera menutup matanya. Marcel merenggut dia melajukan mobil menuju rumah Cakra tanpa banyak bicara. Sesampainya di rumah Cakra turun dengan raut wajah seperti bia

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 73. Maafkan Arum Ayah

    "Ayo, aku tidak mau mengatakan iya. Karena jika aku katakan iya maka aku akan melakukan itu di depan dia, " ucap Cakra menunjuk ke arah Marcel yang menatapnya. Arum menghela napas dan pergi begitu saja meninggalkan Cakra. Dia tidak mau memperpanjang pembicaraan dengan Cakra yang dia nilai menyebalkan.Akhirnya ketiga pergi dari apartemen dan kembali ke rumah Arum. Cakra mengantar Arum sampai di rumah. "Kamu pulang saja, Pak. Jangan antar saya sampai di depan pintu. Saya bisa masuk sendiri," usir Arum dan mendorong Cakra untuk mengikuti dia sampai depan pintu. Cakra menepis tangan Arum. "Jangan goda saya. Kamu mau saya dorong juga dadanya?" tanya Cakra yang langsung mendapatkan gerakkan dari Arum dengan menutup dadanya. "Anda jangan macam-macam ya. Enak saja Anda mau menyentuh saya lagi," jawab Arum dengan wajah kesal. "Sudah ayo masuk. Lagian saya juga tidak mau sentuh kamu lagi. Kamu rata tidak ada yang menarik sama sekali." Balas Cakra yang segera melewati Arum begitu saja tanp

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 72. Ciuman Tipis

    "Gila kamu Cakra." Pria itu langsung keluar dari kamar. Yang masuk ke kamar adalah Marcel. Dia ingin mengajak Cakra untuk makan tapi yang terjadi malah seperti itu. Cakra malah berada di atas tubuh Arum. Dan Arum sendiri mencoba untuk memberontak agar Cakra lepaskan tapi yang terjadi malah Cakra tidak mau dia makin merapatkan tubuhnya hingga Arum merasakan ada sesuatu yang keras menempel di intinya. "Bagaimana, masih marah padaku?" tanya Cakra dengan senyuman yang begitu tampan. Arum begitu malu karena dilihat oleh Marcel. Wajahnya memerah dia ingin menjelaskan ke Marcel kalau dia tidak melakukan apa-apa dengan Cakra tapi sayangnya Marcel asisten dari Cakra sudah keluar. "Turun dari atas tubuhku, Pak. Cepat turun. Kenapa Anda berada di sana. Apa Anda tidak malu dilihat oleh asisten Anda tadi. Cepat lepaskan. Kenapa dengan Anda?" tanya Arum mendorong Aksa untuk pergi dari atas tubuhnya. "Saya tidak mau turun. Saya tetap mau buat anak. Saya konsisten dengan apa yang saya ucapkan.

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 71. Buat Anak

    Arum tidak berhenti dia terus berjalan tanpa peduli teriakkan dari Cakra yang memanggilnya. Arum kesal dengan semua orang dja tidak tahu harus percaya dengan siapa saat ini. Cakra mengambil kalung Arum dan mengejarnya. Cakra tidak mau kehilangan Arum untuk kedua kalinya. "Sial, kenapa dia lari. Kenapa dia tidak percaya padaku. Arumi. Tunggu Arumi. Arumi," teriak Cakra lagi. Arumi masih terus berjalan tanpa henti. Arumi nyebrang ke jalan tapi saat dia hendak menyebrang mobil boks lewat. Suara klakson terdengar jelas. Cakra melihat Arum mau ketabrak teriak kencang. "Arum, awas," pekik Cakra dengan cepat berlari dan mengejar Arum. Cakra berhasil menarik tangan Arum yang terkejut karena suara klakson. Arum berhenti di jalan dan menatap ke mobil tersebut. Tarikkan dari Cakra membuyarkan lamunannya hingga membuat dirinya menjerit histeris. "Kamu selamat. Kamu selamat," Kata itu membuat Arum terdiam dan dia memeluk Cakra. Arum masuk dalam pelukkan Cakra. Dia menangis sejadinya. Semua

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 70. Maafkan Aku Arum

    Arum mundur dan berbalik ke belakang. Arum yang menangis terkejut melihat bosnya Cakra ada di depannya dan dia menatap Arum dengan tatapan dingin. "Mau apa Anda ke sini. Bukannya Anda sudah pecat saya?" tanya Arum dengan sinis. Cakra terdiam dia sulit untuk mengatakan dia ke sini mau apa? Lidahnya kelu dan sulit dia katakan kalau dia ini teman kecilnya dan dia ingin katakan kalau dia rindu dan mau memeluknya. Tapi, tubuhnya membeku dan tidak bisa mengatakan kalau dia itu teman masa kecilnya. "Pergi. Pergi!!!" teriak Arum dengan kencang. Arum berlari melewati Cakra yang masih membeku ditempatnya dan dia tidak bisa berbuat apapun. Cakra membiarkan Arum pergi begitu saja. "Kenapa tidak dicegah? Bukannya lo mau bicara dan katakan siapa lo sebenarnya bro?" tanya Marcel ke Cakra yang tersentak dan bangun dari lamunannya. Cakra geleng kepala dan menatap Marcel. Marcel yang ditatap oleh Cakra menaikkan alisnya. "Apa?" tanyanya. "Aku harus pergi," jawab Cakra yang berbalik dan mengejar

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 69. Dia Anakku

    "Ini makam ibu saya. Anda siapa?" tanya Arum menatap ke arah pria tampan memakai jas dan berkacamata memandang ke arahnya.Mendengar Arum berkata seperti itu pria tersebut terkejut mendengar Arum mengatakan kalau ini makam ibunya. Pria itu adalah Arya. Arya sadar dari koma dan diberitahukan ayahnya kalau orang yang menabraknya sudah meninggal dan dia juga mendengar kenyataan kalau orang tersebut sudah meninggal tetapi dia melahirkan anak. Mendengar hal itu membuat Arya terpaku dan sejak saat itu dia terus mencari kebenarannya. Dan pada akhirnya dia bertemu dengan polisi yang sudah menyelamatkan orang itu yang tidak lain Mala. Saat bertemu orang yang selamatkan Mala membenarkan kalau Mala hamil dan dia sudah menjadi istrinya dan juga melahirkan anak tapi bukan anaknya. Sayangnya saat Arya ingin mencari polisi itu si polisi sudah tidak lagi bekerja dan ia hanya diberitahukan makamnya saja dan sejak saat itulah dia terus datang ke sana berharap bisa menemui anak yang dikatakan oleh pol

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 52. Lupa Ingatan

    Pak Candra tidak menjawabnya karena dia bingung mau katakan apa. Sebab jika dia katakan ke istrinya maka istrinya akan koleps. Bu Rasti yang melihat Pak Candra suaminya hanya diam saja jadi kesal. "Pa, kenapa diam saja. Ayo katakan ada apa. Kenapa diam. Apa benar Arya sudah punya kekasih? Apa ben

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 51. Bertengkar

    Ibu Rasti menatap Ibu Ami dengan tajam dia tidak menyangka kalau ibu Ami berkata seperti itu. Bagaimana bisa Ibu Ami membela Hana. "Ibu tidak salah bela wanita ini. Ibu itu wanita yang terhormat dan banyak yang tahu ibu itu siapa. Apa tidak malu nanti orang-orang akan merendahkan ibu karena dia?"

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 50. Dia Anak Haram

    Pak Candra marah besar karena pintu kantor milik Arya tidak bisa dibuka olehnya. Asisten dari Arya segera mendekati Bos besarnya sambil menundukkan kepala memberi hormat. "Kenapa pintu ini dikunci dari dalam. Apa yang dia lakukan?" tanya Pak Candra kepada asisten Arya. "Maaf, Pak Candra. Pak Arya

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 49. Permainan Kantor (21+)

    "Kamu jangan berbohong kepadaku, Arya. Kamu pasti yang sudah mencelakai Lintang. Ayo katakan saja kamu yang melakukannya kan. Kamu jangan berbohong kepadaku, Arya. Kamu tidak bisa membodohiku lagi, Arya. Aku tahu semuanya. Tega kamu lakukan itu. Apa mau kamu, Arya. Apa," teriak Mala dengan cukup k

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status