Share

Bab 9. Sakit Hati

Author: ZeeHyung
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-07 00:11:38

"Mau apa kamu? tanya Hana ke Lintang.

"Mau aku, kamu," jawab Lintang.

Mendengar jawaban dari Lintang tentu saja Hana menggelengkan kepala. Dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Lintang saat ini. Padahal dia sendri yang mengatakan jangan sentuh dia jangan ini jangan itu tapi nyatanya Lintang menyentuhnya.

Dan sekarang dia kembali lagi ingin menyentuh dirinya. "Tidak. Bukannya kamu katakan jangan menyentuhmu tapi nyatanya kamu menyentuhku. Apa kamu lupa dengan janjimu itu? Kamu lupa Pak Lin
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 77. Dia Anakku

    "Kamu kenapa?" tanya Hana kepada suaminya Lintang."Aku? Tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja. Ada apa, Sayang?" tanya Lintang yang penasaran kenapa istrinya Hana menghubunginya. "Tadi aku mendapatkan kabar katanya Cakra bersama dengan seorang wanita. Siapa dia? Dari yang aku tahu katanya dia sekretarisnya. Apakah hanya sekretaris atau kekasihnya. Apa kamu tahu itu?" tanya Hana kepada Lintang.Lintang menghela napas ternyata istrinya masih saja mengetahui apa yang terjadi di perusahaan itu. "Oh, itu sekretarisnya. Mungkin mereka ingin keluar bertemu dengan klien. Kamu tidak perlu pikirkan apa-apa kalau memang dia kekasihnya pasti akan dia beritahukan kepada kita. Kamu tenang saja ya. Sebentar lagi aku akan pulang kamu mau sesuatu?" tanya Lintang mengalihkan pembicaraan agar Hana tidak bertanya lebih lanjut. "Belikan saja kue yang biasa. Belinya di toko biasa ya. Sudah itu saja. Kamu hati-hati, ya," ucap Hana yang dianggukan oleh Lintang."Iya, i love you, Sayang." Ucapan romantis Li

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 76. Siapa Kamu

    "Kenapa datang ke sini?" tanya Cakra yang kesal dengan sahabatnya datang menemui dia. "Jangan tanyakan kami datang Cakra. Jawab saja siapa dia? Dan Marcel, kenapa duduk di bawah? Apa kamu disiksa oleh dia?" tanya Deon ke Cakra. Sahabat Cakra datang ke kantor untuk membicarakan sesuatu. tapi, saat masuk mereka terkejut saat mendengar Cakra berkata seperti itu. Arman teriak mendengar apa yang Cakra katakan. Arum menundukkan kepala ke bawah dia malu karena ulah Cakra. Arum tidak berani untuk berkata-kata dia memilih untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. "Kalian itu membuat calonku malu. Sana pergi. Marcel usir mereka. Ayo cepat usir mereka. Aku kesal lihat mereka," jawab Cakra meminta kepada Marcel untuk mengusir ketiga sahabatnya. "Kamu jangan seperti itu. Tidak baik kamu usir kami bertiga. Kami dapat undangan aku yakin kamu dapat juga." Rio meletakkan undangan miliknya di meja. "Ada juga elektrik. Jadi ada dua undangan satu itu satu elektrik. Jika tidak bawa itu ada u

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 75. Dia Calonku

    Cakra akhirnya ke kantor dia ada meeting jadi harus tiba di kantor dengan cepat jika tidak ayahnya marah padanya. Sampai di kantor Cakra menunjukan mode seperti biasanya. Datar dan wajahnya dingin. Cakra naik ke lantai atas sampai di lantai atas dia tepat di lantai di mana ruangannya berada Cakra terkejut karena melihat Arum duduk di mejanya. "Kamu datang, Sayang?" tanya Cakra tiba-tiba menyebut nama sayang ke Arum hingga membuat Arum melotot karena mendengar Cakra memanggil dia sayang di depan orang tua Cakra. Lintang dan ayahnya duduk menunggu Cakra mereka ingin mengadakan rapat tapi Cakra datang malah memanggil sekretarisnya dengan sebutan sayang. "Dia pacarmu, Nak?" tanya Lintang kepada Cakra hingga membuat Cakra terdiam dan menoleh ke arah sofa di mana ayah dan kakeknya duduk menatap ke arah dia. Cakra terdiam karena melihat ayah dan kakeknya ada di ruangan. "Kenapa kalian ada ke sini?" tanya Cakra ke ayah dan kakeknya. "Kamu tanya kenapa kami di sini?" tanya Lintang dengan

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 74. Berbunga-bunga

    "Saya tahu. Saya akan menjaga Arum. Baiklah, saya permisi dulu. Arum saya pulang besok ke kantor saya tunggu," ucap Cakra yang pulang. Arum ingin protes tapi sorot mata Cakra terlalu tajam hingga dia tidak berani untuk menatap Cakra. Arum menghela napas dan membuangnya panjang. "Pria ini terlalu arogan. Sudah memecatku kini dia malah memintaku untuk kembali. Apa mau dia," bathin Arum. Cakra pulang dengan hati gembira. Besok dia akan bertemu Arum lagi. Marcel yang melihat kelakuan sahabatnya berdecih. Bisa-bisanya dia sebahagia ini. "Kenapa bahagia sekali? Apa yang terjadi denganmu? Apa kamu tahu Cakra kalau kamu seperti ini kamu menyeramkan. Lebih baik seperti biasanya saja. Itu lebih baik daripada seperti ini," ucap Marcel yang masuk ke mobil disusul Cakra. "Kamu cerewet. Aku akan potong gaji kamu," balas Cakra yang segera menutup matanya. Marcel merenggut dia melajukan mobil menuju rumah Cakra tanpa banyak bicara. Sesampainya di rumah Cakra turun dengan raut wajah seperti bia

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 73. Maafkan Arum Ayah

    "Ayo, aku tidak mau mengatakan iya. Karena jika aku katakan iya maka aku akan melakukan itu di depan dia, " ucap Cakra menunjuk ke arah Marcel yang menatapnya. Arum menghela napas dan pergi begitu saja meninggalkan Cakra. Dia tidak mau memperpanjang pembicaraan dengan Cakra yang dia nilai menyebalkan.Akhirnya ketiga pergi dari apartemen dan kembali ke rumah Arum. Cakra mengantar Arum sampai di rumah. "Kamu pulang saja, Pak. Jangan antar saya sampai di depan pintu. Saya bisa masuk sendiri," usir Arum dan mendorong Cakra untuk mengikuti dia sampai depan pintu. Cakra menepis tangan Arum. "Jangan goda saya. Kamu mau saya dorong juga dadanya?" tanya Cakra yang langsung mendapatkan gerakkan dari Arum dengan menutup dadanya. "Anda jangan macam-macam ya. Enak saja Anda mau menyentuh saya lagi," jawab Arum dengan wajah kesal. "Sudah ayo masuk. Lagian saya juga tidak mau sentuh kamu lagi. Kamu rata tidak ada yang menarik sama sekali." Balas Cakra yang segera melewati Arum begitu saja tanp

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 72. Ciuman Tipis

    "Gila kamu Cakra." Pria itu langsung keluar dari kamar. Yang masuk ke kamar adalah Marcel. Dia ingin mengajak Cakra untuk makan tapi yang terjadi malah seperti itu. Cakra malah berada di atas tubuh Arum. Dan Arum sendiri mencoba untuk memberontak agar Cakra lepaskan tapi yang terjadi malah Cakra tidak mau dia makin merapatkan tubuhnya hingga Arum merasakan ada sesuatu yang keras menempel di intinya. "Bagaimana, masih marah padaku?" tanya Cakra dengan senyuman yang begitu tampan. Arum begitu malu karena dilihat oleh Marcel. Wajahnya memerah dia ingin menjelaskan ke Marcel kalau dia tidak melakukan apa-apa dengan Cakra tapi sayangnya Marcel asisten dari Cakra sudah keluar. "Turun dari atas tubuhku, Pak. Cepat turun. Kenapa Anda berada di sana. Apa Anda tidak malu dilihat oleh asisten Anda tadi. Cepat lepaskan. Kenapa dengan Anda?" tanya Arum mendorong Aksa untuk pergi dari atas tubuhnya. "Saya tidak mau turun. Saya tetap mau buat anak. Saya konsisten dengan apa yang saya ucapkan.

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 66. Dia Menyukaiku

    "Dia menyukaiku," jawab Cakra yang langsung ditanggapi oleh keduanya dengan teriakan bersamaan. "Apa suka?!" Baik Arum dan juga Marcel saling memandang satu sama lain. Arum menggelengkan kepala dia menyangkal tuduhan itu. Dan dia tidak pernah mengatakan suka dengan Cakra bosnya ini. Tapi kenap

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 63. Sentuhan Manja Sang Ceo Arogan Part 2. Pecat Dia

    "Pagi, Pak," sapa salah satu karyawan kepada pria gagah, tampan, berwajah ketat dan tidak ada senyum sedikitpun. Di belakang pria tersebut seorang pria tampan yang ikut dengan wajah yang sama dengan pria yang satunya. "Marcel, apakah hari ini aku sudah dapat sekretaris baru? Kamu harus ingat Marc

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 58. Sama Saja

    "Lelaki. Bayinya sehat. Itu dia. Tapi, harus di bawa ruang bayi dulu ya. Nanti baru dibawa ke kamar ibunya." Dokter menunjuk ke arah box bayi di mana anak Lintang dan Hana berada. Bu Ami bahagia melihat cucu pertamanya. Tidak menyangka kalau Lintang memiliki anak lelaki. Dan saat dekat dengan bok

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 54. Ketahuan

    "Belum yakin kita tunggu saja. Semoga semuanya jelas," jawab Pak Irwandi yang membuat Bu Ami terdiam. "Sudah tidak apa. Kita akan dapatkan pelakunya nanti," jawab Bu Ami. Pak Irwandi akan berusaha mencari siapa pelakunya. Dia tidak akan tinggal diam dan dia juga akan mengobati Lintang nantinya.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status