LOGINRaka meletakkan kotak obatnya, lalu berdiri dan mendekati Adipati, menatap langsung ke dalam mata sahabatnya dengan tatapan yang menyiratkan tekad baja."Dika, dengarkan aku baik-baik," suara Raka berat dan tegas, seolah-olah ia bukan lagi seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun, melainkan seorang pria dewasa yang memikul beban dunia. "Kamu tidak perlu punya kekuatan untuk melawan mereka sekarang. Kamu hanya perlu satu hal: percaya padaku. Selama aku masih berdiri di sini, setiap kalajengking, setiap lemparan kerikil, setiap ancaman yang mereka kirimkan, harus melalui aku terlebih dahulu.""Tapi kenapa mereka tidak mengincarmu juga? Kenapa hanya aku?" tanya Adipati, sebuah pertanyaan polos yang justru menohok tepat di titik yang paling menyakitkan bagi Raka.Raka terdiam. Ia belum mengerti sepenuhnya tentang hierarki keluarga Maheswara, namun ia tahu bahwa Adipati adalah pemilik sah dari segalanya. Dan itulah akar dari semua kebencian ini."Karena kamu adalah matahari bagi mere
Sinar matahari sore memantul keemasan di atas hamparan rumput luas di taman belakang Mansion Maheswara. Suasana seharusnya terasa menyenangkan bagi anak-anak seusia mereka. Adipati kecil atau yang akrab dipanggil Dika, sedang mencoba menikmati waktunya dengan melempar bola karet ke dinding batu bata paviliun, sementara Raka berdiri tidak jauh darinya, mengawasi dengan sikap siaga yang tidak pernah kendur.Namun, di balik keheningan sore itu, Raka merasakan ada sesuatu yang ganjil. Ia memang belum sepenuhnya memahami jaringan intrik rumit dan perebutan kekuasaan tingkat tinggi yang terjadi di antara para petinggi keluarga besar Maheswara. Yang Raka tahu pasti, seseorang sedang mengawasi mereka dari balik rimbunnya semak-semak hias.Dan sasaran dari teror tersembunyi itu hanyalah Adipati seorang diri.Tuk.Sebuah kerikil kecil mendadak melesat cepat dari arah semak-semak, meluncur tajam, dan menghantam permukaan dinding tepat di sebelah kepala Adipati, meninggalkan serpihan debu tipis.
Suasana di dalam ruang arsip bawah tanah terasa sangat menyesakkan. Bau logam darah bercampur dengan aroma kertas tua yang basah menguar pekat di udara, menciptakan atmosfer kematian yang begitu nyata. Cahaya lampu gantung yang temaram berkedip-kedip lemah, seolah ikut meratapi nyawa yang perlahan-lahan meninggalkan raga.Di lantai marmer yang dingin, Pak Danu terbaring bersimbah darah. Luka tembak telak di dadanya mengalirkan cairan merah yang terus membasahi lantai, membentuk genangan kecil yang memantulkan bayangan lampu redup. Napas kepala pelayan tua itu pendek-pendikat, tersengal-sengal, dan setiap kali ia mencoba menghirup udara, hanya desisan tertahan yang keluar dari bibirnya yang pucat pasi.Raka berlutut di samping sang ayah dengan tubuh bergetar hebat. Air mata anak laki-laki berusia dua belas tahun itu tumpah tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya yang kotor oleh debu dan jelaga. Ia mencengkeram tangan ayahnya yang terasa semakin dingin, mencoba menyalurkan kehangatan yang
Tahun-tahun berlalu seperti hembusan angin, namun bagi Raka yang berusia dua belas tahun, waktu terasa bergerak jauh lebih lambat dibandingkan Adipati yang baru menginjak usia sepuluh. Sebagai anak laki-laki yang dua tahun lebih tua, Raka secara alami mengambil peran sebagai pelindung bukan sekadar teman bermain, melainkan kakak yang berusaha menutupi Adipati dari dunia orang dewasa yang kejam.Di dalam dinding-dinding marmer Mansion Maheswara, kemegahan hanyalah sebuah topeng yang menyembunyikan kebusukan di dalamnya. Raka mulai memahami desas-desus yang berbisik di lorong-lorong gelap mansion: persaingan bisnis yang kotor, perebutan kekuasaan, dan mata-mata yang sengaja menyamar menjadi staf rumah tangga demi mencari kelemahan keluarga. Adipati, yang saat itu masih ceria, polos, dan naif, menganggap rumah besar ini adalah benteng pertahanan paling aman di dunia. Namun, Raka yang lebih tua dan lebih tajam pengamatannya tahu persis kebenaran yang jauh lebih gelap.Ayah Raka, Pak Danu
Raka terdiam sejenak. Wajahnya tetap tenang, namun di dalam hatinya badai kecil tengah berkecamuk. Ia sangat menghormati Nyonya Besar, tetapi di sisi lain, ia memiliki sumpah setia kepada bosnya sendiri. “Apapun yang terjadi, jaga kerahasiaan ini. Jangan biarkan siapa pun, bahkan Nyonya Besar, tahu alasan di balik keberadaan Citra di sisi saya.”Pesan tegas Adipati yang diucapkan sebelum insiden badai itu terngiang jelas di kepala Raka. Pria itu menarik napas pelan, merangkai kata-kata dengan hati-hati agar tidak memancing kecurigaan berlebih, sekaligus tidak melanggar amanat majikannya."Maafkan saya, Nyonya Besar," jawab Raka dengan nada datar nan sopan. "Saya memahami kekhawatiran Anda. Sebagai nenek, wajar jika Anda ingin mengetahui segala hal tentang Tuan Adipati."Nyonya Besar menyipitkan mata. "Tetapi kau tidak akan menjawabnya?""Bukannya saya tidak ingin menjawab, Nyonya," lanjut Raka tenang. "Namun, saya benar-benar tidak bisa menyampaikan apapun mengenai hubungan mereka. T
Suasana di dalam kamar sayap barat berubah senyap setelah Dokter Aryo selesai memasang selang infus di punggung tangan Adipati. Cahaya lampu kamar kini telah disetel pada tingkat paling redup, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan sisa-sisa kepanikan badai di luar jendela. Dokter paruh baya itu membereskan peralatan medisnya ke dalam tas, lalu menarik napas panjang sebelum menoleh ke arah Nyonya Besar Maheswara yang berdiri dengan raut wajah penuh kekhawatiran di sisi ranjang."Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Nyonya Besar pelan, suaranya kehilangan sebagian besar otoritas dinginnya, menyisakan kecemasan seorang nenek.Dokter Aryo melirik sekilas ke arah Adipati yang masih terbaring lemah dengan mata terpejam, lalu mengalihkan pandangannya pada Citra yang berdiri kaku di samping ranjang."Secara fisik, tanda-tanda vital Tuan Adipati mulai stabil, Nyonya," jelas Dokter Aryo dengan nada serius. "Namun, kondisi psikisnya masih sangat rentan. Trauma mendalam akibat serangan p







