Masuk
Sisa hujan sore tadi membuat udara jadi lembap, bercampur dengan bau tanah basah. Di posko KKN desa Kalisari, teman-teman Soraya masih asyik tertawa-tawa sambil membakar jagung dan main gitar. Tapi Soraya tidak bisa ikut tertawa. Dia merasa terasing di tengah keramaian.
Ponsel di saku celana jeansnya bergetar panjang. Jantung Soraya langsung tersentak. Dia hafal getaran itu. Itu bukan notifikasi grup chat atau pesan dari Gilang. Itu panggilan "tugas". Soraya mengecek layar HPnya dengan tangan dingin. Pesan dari nomor tanpa nama. Isinya singkat, tapi cukup membuat lututnya lemas. "Di ujung gang gelap dekat balai desa. Sekarang. Jangan pakai lama, aku tunggu kehadiranmu sayang." Soraya menelan ludah yang terasa pahit. Dia memasukkan hp kembali ke saku, lalu menoleh ke arah Siska yang sedang sibuk mengoles bumbu jagung. "Sis, gue ke warung depan bentar ya. Mau beli obat sakit kepala, pusing banget nih," bohong Soraya. Suaranya terdengar serak. "Jangan lama-lama, Ya! Nanti jagungnya abis loh!" teriak Siska tanpa curiga. Soraya cuma mengangguk, lalu berjalan cepat menjauh dari cahaya lampu posko. Langkah kakinya terasa berat, seolah ada rantai besi yang menyeretnya menuju neraka. Dia merapatkan jaket almamater kebanggaannya, mencoba menahan rasa takut yang campur aduk jadi satu. Di ujung gang yang gelap gulita, di bawah rimbunnya pohon beringin tua, sebuah sedan hitam mengkilap sudah menunggu. Mesinnya menyala halus. Di samping mobil, berdiri sosok Dr. Subagyo. Dekan Fakultas yang biasanya tampil berwibawa di mimbar kampus, malam ini terlihat seperti serigala kelaparan. Rokok di tangannya menyala merah di kegelapan. Begitu Soraya sampai, Subagyo langsung membuang rokoknya dan menginjaknya dengan sepatu kulit mahalnya. Tanpa basa-basi, tangan besarnya langsung menyambar pinggang ramping Soraya, menarik tubuh kecil itu dengan sentakan kuat sampai menempel erat ke perut buncitnya. "Bapak... tolong jangan di sini, nanti ada warga yang liat," bisik Soraya ketakutan, matanya liar melihat sekeliling. "Baiklah kita cari penginapan dekat sini saja, sayang," bisik Subagyo di telinga Soraya. Napasnya yang bau tembakau menerpa leher jenjang gadis itu, membuat bulu kuduk Soraya meremang jijik. "Kamu wangi sekali malam ini... bikin saya nggak tahan." Tangan Subagyo mulai kurang ajar. Dia meremas pantat Soraya dengan kuat dan kasar, seolah sedang memeriksa kualitas barang dagangan. "Mmmh..." Soraya menggigit bibir, menahan suara. Dia pasrah. Dia cuma diam seperti boneka rusak saat tangan tua itu mulai menjajah tubuhnya di tempat terbuka. Tanpa mereka sadari, sekitar sepuluh meter dari sana, Gilang berdiri mematung di balik tiang listrik. Pacar Soraya itu melotot tak percaya. Nafasnya tertahan di dada. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri: dosen yang dia hormati sedang meremas tubuh pacarnya, dan Soraya... Soraya tidak melawan sama sekali. Subagyo mendorong Soraya masuk ke kursi penumpang. Mobil itu meluncur pelan menembus jalan desa yang berbatu, menuju hotel melati "Asri". Hotel mesum di pinggir desa yang cuma punya sepuluh kamar. Gilang mengikuti mobil itu dengan sepeda motor bututnya, dadanya serasa mau meledak karena marah, bingung, dan hancur. Kamar Nomor 5 Begitu pintu kamar terkunci, Subagyo tidak membuang waktu. Dia melepaskan jasnya sembarangan. Matanya merah, menatap Soraya dengan nafsu yang sudah di ubun-ubun. "Buka baju kamu. Semua," perintahnya dengan suara berat. Soraya berdiri kaku di samping ranjang besi tua itu. Tangannya gemetar saat membuka kancing kemejanya satu per satu. Jaket almamater jatuh ke lantai, disusul kemeja, lalu celana jeans. Dalam hitungan detik, Soraya berdiri tanpa helai benang, kulit putih mulusnya bersinar redup di bawah lampu kamar yang remang-remang. "Sini kamu, Sayang..." panggil Subagyo parau. Dia menarik pergelangan tangan Soraya kasar, melempar tubuh gadis itu ke atas kasur per yang berdecit nyaring. Ngiik! Subagyo langsung menindihnya. Berat tubuh pria tua itu membuat Soraya sesak napas. Subagyo mencium bibir Soraya dengan kasar, melumatnya tanpa perasaan seolah ingin memakan gadis itu hidup-hidup. "Ahhh... Pak..." Soraya mendesah tertahan saat tangan kasar Subagyo meremas payudaranya dengan gemas. Subagyo melepaskan ciumannya, menatap wajah Soraya yang memerah. "Jangan panggil Bapak," bisiknya di telinga Soraya, lalu lidahnya menjilat cuping telinga gadis itu, turun ke leher, membuat Soraya melenguh. "Di atas ranjang ini, panggil saya Tuan. Paham kamu?" "I-iya... Tuan..." jawab Soraya lirih, matanya terpejam menahan rasa hina. "Pinter," puji Subagyo. Tangannya makin liar menjelajah ke bawah, menyusup ke sela paha Soraya. "Basah sekali kamu, Soraya... Ternyata mulut kamu bilang enggak, tapi tubuh kamu jujur banget. Tubuh kamu kangen disentuh saya, kan?" "Aahhh!" Soraya mendongak saat jari jemari Subagyo bermain kasar di area sensitifnya. "Jangan bohong! Bilang kalau kamu suka!" paksa Subagyo. Dia mulai mengatur posisinya, siap menyatukan tubuh mereka. "Bilang, 'Saya mau punya Tuan Subagyo'!" "Saya... ahhh... s-saya mau punya Tuan..." desah Soraya terpaksa, air mata menggenang di sudut matanya. Subagyo menyeringai puas. Dia menghentakkan pinggulnya, menyatukan diri mereka dengan kasar. Ranjang tua itu berguncang hebat, menciptakan irama berisik yang memenuhi ruangan sempit itu. "Ahhh! Sakit... pelan-pelan..." rintih Soraya mencengkeram sprei kumal. "Ngapain pelan-pelan? Kita nggak punya banyak waktu!" Subagyo memacu gerakannya, makin cepat, makin dalam, makin liar. Keringat menetes dari dahinya jatuh ke dada Soraya. Napasnya memburu seperti banteng gila. "Kamu memang sempit banget, Soraya... Ahhh... rasanya beda sama istri saya yang sudah tua itu. Kamu masih kencang, masih enak..." "Ohhh... Tuan... ahhh..." Soraya mendesah keras, bukan karena nikmat cinta, tapi karena gesekan kasar yang dipaksakan. Dia membiarkan dirinya hanyut dalam sensasi fisik, mencoba mematikan hatinya. "Punya siapa tubuh enak ini, hah?!" racau Subagyo sambil menampar pelan pantat Soraya, menambah sensasi panas. "Jawab yang keras!" "Punya Tuan... ahhh! Tubuh Soraya punya Tuan Subagyo..." jerit Soraya di antara desahannya. Saat suasana makin memanas dan Subagyo mengerang panjang hendak mencapai puncaknya. BRAAAK!!! Pintu kayu kamar itu ditendang dari luar. Didobrak dan terbuka. Suara desahan dan derit ranjang seketika mati. Hening yang mencekam. Gilang berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu, bajunya basah kuyup oleh keringat, matanya merah menyala seperti orang kesurupan. Pemandangan di depannya membuat jantungnya berhenti berdetak. Pacar yang dia puja setengah mati, kini telanjang bulat, mengangkang dibawah kungkungan dosen tua, basah oleh keringat dosa. Soraya menjerit histeris, refleks menarik selimut tipis untuk menutupi tubuhnya yang penuh bercak merah. Subagyo kaget setengah mati, buru-buru duduk dan menutupi bagian vitalnya dengan bantal. Wajahnya yang tadi penuh nafsu birahi langsung berubah jadi garang dan panik. "G-Gilang..." suara Soraya tercekat di tenggorokan, air mata langsung tumpah deras. "ANJING! BIADAB LO!" Gilang meraung. Suaranya pecah, menyayat hati. "Lo apain cewek gue, Bangsat! Dosen gila! Iblis!" Gilang menerjang maju, tangannya terkepal siap menghancurkan wajah Subagyo. Tapi Subagyo dengan cepat bangkit dan mundur. Meski setengah telanjang, aura kekuasaannya kembali muncul. "Berhenti di situ, Bocah!" bentak Subagyo keras. "Kalau kamu berani sentuh saya, atau bocorin kejadian ini ke satu orang saja, besok aku bisa hentikan beasiswa Soraya dan tidak akan membiayai pengobatan ibunya lagi!" Langkah Gilang terhenti mendadak. Kakinya lemas. Dia menatap Soraya, mencari pembelaan. "Soraya... bilang sama aku ini nggak bener... bilang dia perkosa kamu... kita lapor polisi sekarang..." Soraya mengangkat wajahnya yang basah dan berantakan. Matanya kosong, tak ada kehidupan. Dia menggeleng pelan. "Pergi, Gilang..." bisiknya lirih, suaranya gemetar hebat. "Tolong pergi. Jangan bikin semuanya makin hancur." "Tapi, sayang… aku mau nyelamatin kamu..." bujuk Gilang. "GUE BILANG PERGI!" jerit Soraya histeris, melempar bantal ke arah Gilang. "Lo nggak ngerti apa-apa! Lo nggak bisa kasih gue uang! Pergi!" Belum sempat Gilang menjawab, dua orang penjaga hotel berbadan kekar datang karena mendengar keributan. Tanpa ampun, mereka menyergap Gilang. "Lepasin gue! Bangsat! Lepasin!" Gilang meronta sekuat tenaga, tapi dia kalah jumlah. Dia diseret paksa keluar dari kamar neraka itu, meninggalkan jejak sepatu di lantai. Pintu kamar itu menutup pandangan Gilang. Hal terakhir yang dia lihat adalah punggung telanjang Subagyo yang kembali mendekati Soraya di atas kasur. Di dalam kamar, Soraya meringkuk seperti janin. Tangisannya pecah, meraung-raung menyakitkan. Saat tangan Subagyo kembali menyentuh bahunya dengan kasar menuntut kelanjutan, pikiran Soraya melayang jauh, terseret arus ingatan ke masa lalu, masa dimana neraka ini belum ada. Dua tahun yang lalu... Bayangan itu datang begitu jelas. Soraya teringat rumah gedongnya di kawasan elite Pondok Indah. Rumah dengan pilar-pilar marmer yang tinggi, kolam renang luas, dan garasi yang penuh mobil mewah. Dulu, Soraya adalah putri raja. Ayahnya, Pak Adhitama, selalu memanjakannya. Tas branded, liburan ke Eropa, pesta ulang tahun mewah di hotel bintang lima, semuanya tinggal tunjuk. "Apapun buat Putri Papa yang paling cantik," begitu kata Ayahnya dulu sambil memeluk Soraya. Tapi kebahagiaan itu rapuh seperti kaca. Suatu sore yang kelabu, segerombolan orang berbadan besar datang menggedor gerbang rumah. Debt collector. Ternyata perusahaan Ayah sudah lama kolaps karena ditipu rekan bisnis. Utang menumpuk di mana-mana. Hari itu juga, rumah disita bank. Mobil-mobil ditarik paksa. Di tengah kekacauan itu, Ayah memegang dada kirinya, wajahnya pucat pasi. Ayah ambruk di ruang tamu yang mulai kosong. "Pah! Papa kenapa?!" jerit Soraya histeris. Serangan jantung. Ayah meninggal sebelum sempat sampai di rumah sakit. Raja di hidup Soraya pergi, meninggalkan utang dan kehancuran. Hidup Soraya berputar 180 derajat. Dari putri raja, jadi gembel kota. Dia, Ibu, dan Dimas terusir. Mereka pindah ke rumah kontrakan petak di gang sempit yang bau selokan. Soraya yang biasa tidur di kasur empuk ber-AC, kini tidur beralaskan tikar tipis, digigitin nyamuk. Ibu Wati, yang tak pernah hidup susah, syok berat. Fisiknya drop drastis. Sampai suatu malam, Ibu muntah darah dan pingsan. Di lorong rumah sakit umum yang dingin dan bau obat, dokter memvonis kalimat yang mematikan harapan Soraya: "Ibu Anda gagal ginjal stadium akhir. Harus cuci darah rutin seumur hidup. Biaya tindakan awal dan obat-obatan malam ini lima puluh juta. Harus lunas sekarang atau kami tidak bisa bantu."dua puluh juta. Dulu itu harga satu tas Soraya. Sekarang, uang segitu rasanya mustahil didapat. Soraya bingung, panik, dan takut. Dia menghubungi semua teman kayanya, tapi mereka semua menghindar, pura-pura tidak kenal. Saat Soraya duduk menangis di lantai RS, putus asa memikirkan cara mendapatkan uang, sosok itu datang. Dr. Subagyo. Dia tersenyum, bukan senyum kasihan, tapi senyum seorang pedagang yang melihat barang bagus. "Saya dengar kesulitanmu, Soraya," ucapnya pelan. Matanya tidak menatap wajah Soraya, tapi menelusuri lekuk tubuh Soraya yang masih terbalut baju lusuh. "Saya bisa lunasi semuanya. Sekarang juga. Tapi... ada harganya." Malam itu, Soraya sadar. Dia tidak punya apa-apa lagi selain tubuhnya. Dan demi nafas Ibunya, dia rela menjual satu-satunya harta yang tersisa itu.Pagi di Mandalika seharusnya indah. Matahari terbit dari ufuk timur, menyepuh lautan biru dengan warna emas yang berkilauan. Suara deburan ombak yang tenang seharusnya menjadi musik pengantar bangun tidur yang sempurna bagi siapapun yang menginap di resort mewah ini.Namun bagi Soraya, pagi itu terasa seperti penghakiman. Dia terbangun di ranjang hotelnya yang luas dengan kepala berdenyut nyeri. Bukan karena alkohol, tapi karena kurang tidur. Semalaman dia hanya berguling ke kiri dan ke kanan, dihantui oleh sensasi bibir Gilang yang menempel di bibirnya. Rasa asin, rasa putus asa, rasa rindu... semuanya bercampur menjadi racun yang manis.Soraya menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa bengkak. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja? Dia bangun, menyeret kakinya ke kamar mandi. Di depan cermin wastafel, dia menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya pucat."Lo istri orang, Ya," bisiknya pada cermin. "Dan lo baru aja mengkhianati laki-laki paling baik di
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok.Matahari terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan oranye yang dramatis. Deburan ombak Samudra Hindia terdengar berirama, menghempas pasir putih Pantai Kuta Mandalika yang kini telah disulap menjadi kawasan resor kelas dunia.Di ballroom terbuka Pullman Lombok Merujani Mandalika Beach Resort, para tamu undangan mulai berdatangan. Angin laut yang membawa aroma garam bercampur dengan wangi parfum mahal para pejabat dan investor.Soraya berjalan masuk melewati gerbang pemeriksaan undangan. Dia mengenakan jumpsuit sutra berwarna emerald green dengan potongan halter neck yang elegan namun tetap sopan. Punggungnya tertutup selendang tenun Lombok yang dia beli di bandara, sebuah upaya diplomatis untuk menghargai budaya lokal sekaligus menutupi kulitnya dari angin malam. Dia datang sendirian. Tanpa Brata."Selamat malam, Ibu Soraya. Perwakilan dari Prof. Brata, benar?" sapa panitia ramah."Benar. Suami saya berhalangan hadir kare
Tiga Tahun Kemudian.Waktu di Dago Pakar berjalan dengan ritme yang teratur, seperti detak metronom yang tidak pernah meleset satu ketukan pun.Soraya duduk di ruang kerjanya yang luas di rumah, menatap layar laptop. Di dinding di belakangnya, tergantung ijazah Doktoral dan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat atas kontribusinya dalam tim percepatan ekonomi daerah. Namanya kini panjang dan berat: Dr. Soraya Adhitama, S.E., M.Ec. Dev. Di usia 35 tahun, dia memiliki segalanya. Karir cemerlang sebagai konsultan independen, suami Guru Besar yang dihormati, rumah mewah tanpa hutang, dan investasi yang tersebar di reksadana dan obligasi negara. Variabel kehidupannya stabil. Sangat stabil.Tidak ada lagi drama kekurangan uang obat. Ibu Wati sehat. Dimas sukses dengan bisnis kontraktor kecil-kecilannya (yang tentu saja dibimbing oleh Brata di balik layar)."Soraya," suara Brata memanggil dari ruang tengah.Soraya keluar. Brata sedang duduk di sofa kulit, membaca koran Kompas dengan kac
Pukul 04.30 WIB.Alarm di ponsel Brata berbunyi, memecah keheningan subuh di Dago Pakar. Biasanya, pada dering pertama, tangan Brata akan langsung bergerak mematikannya, lalu dia akan bangun dengan gerakan efisien untuk memulai rutinitas paginya: shalat, baca jurnal, dan lari pagi. Tapi pagi ini, alarm itu berbunyi terus. Satu menit. Dua menit. Soraya terbangun. Dia menggeliat di balik selimutnya, menatap sisi ranjang sebelah kanan. Guling pembatas masih ada di sana, berdiri tegak seperti tembok Berlin mini."Mas?" panggil Soraya serak. "Alarmnya."Tidak ada jawaban. Brata masih terbaring diam, punggungnya memunggungi Soraya. Soraya merasa aneh. Brata tidak pernah telat bangun. Dia adalah manusia paling disiplin yang pernah Soraya kenal. Soraya mengulurkan tangan melewati guling, mengguncang bahu suaminya pelan."Mas Brata? Bangun, udah subuh." Saat tangannya menyentuh kulit bahu Brata yang tertutup piyama, Soraya tersentak. Panas. Sangat panas."Mas!" Soraya langsung bangun, menyin
Enam Bulan Pasca Pernikahan.Rumah Brata di Dago Pakar kini memiliki sedikit sentuhan feminin. Ada vas bunga segar di meja makan yang biasanya hanya berisi tumpukan koran. Ada tirai berwarna soft beige yang menggantikan tirai abu-abu kaku di ruang tamu. Dan ada aroma masakan rumahan yang tercium setiap sore, menggantikan aroma kopi pahit yang dulu mendominasi.Namun, di kamar utama lantai dua, tata letaknya tidak berubah. Guling pembatas itu masih ada di tengah ranjang King Size, menjadi garis demarkasi yang dihormati oleh kedua belah pihak.Sore itu, Ibu Wati datang berkunjung. Dia duduk di sofa ruang keluarga, merajut baju bayi kecil berwarna kuning."Buat siapa, Bu?" tanya Soraya sambil menyajikan teh hangat. Dia baru pulang dari kantor Institute, masih mengenakan pakaian kerjanya yang rapi."Buat anak Dimas nanti," jawab Ibu Wati tersenyum, matanya berbinar. Rini, istri Dimas, baru saja hamil tiga bulan. "Tapi Ibu bikinnya agak banyak. Siapa tau... nanti buat anak kamu juga."Tan
Davos, Swiss.Udara di ketinggian 1.560 meter di atas permukaan laut itu tipis dan tajam. Hamparan salju putih menyelimuti pegunungan Alpen, menciptakan pemandangan yang memukau namun membekukan. Kota kecil ini sedang dipenuhi oleh para pemimpin dunia, ekonom top, dan CEO global yang menghadiri World Economic Forum.Soraya berjalan di samping Brata menyusuri Promenade, jalan utama Davos yang licin oleh es. Dia mengenakan mantel wol tebal berwarna camel, syal cashmere, dan boots kulit. Brata, di sebelahnya, mengenakan overcoat hitam panjang dan topi fedora, terlihat seperti diplomat era perang dingin yang menyimpan banyak rahasia negara."Dingin?" tanya Brata, melihat uap putih keluar dari mulut Soraya setiap kali dia bernapas."Sedikit, Mas. Tapi segar," jawab Soraya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Tidak ada gandengan tangan. Mereka berjalan beriringan dengan jarak sepuluh sentimeter yang konsisten."Bagus. Oksigen tipis memicu otak memproduksi lebih banyak sel darah m







