LOGIN"Uhm..." renguh Siska. Bastian menggiring Siska menuju bathup. Ia menyalakan keran air dan mengaturnya agar terasa hangat seperti biasa tanpa melepas ciumannya dan meremas bokong Siska secara perlahan. Ia sengaja melakukannya agar Siska lebih rileks dan kembali hanyut ke dalam hasrat yang mungkin akan semakin meninggi. Setelah air terasa cukup, Bastian menjulurkan tangan kanannya untuk mematikan keran air dan memasukkan bath bomb beraorama melati dan vanilla yang sengaja ia taruh tidak jauh dari bath up. Begitu bola itu menyentuh permukaan air, suara desis halus terdengar. Warna lembut perlahan menyebar, diikuti aroma hangat yang merupakan perpaduan vanilla dan melati yang cepat memenuhi udara. Tipis tapi cukup untuk membuat nafas terasa lebih dalam."Ah.. Beb.." renguh Siska lagi, saat bibir Bastian turun ke leher jenjangnya. Dan menyalakan shower yang menghadap ke bathup. Bastian melepas ciuman dan melangkah lebih dulu. Ia turun ke dalam bathtub dengan hati-hati. Air hangat lan
"Mau?" tanya Bastian lagi. "Boleh di coba," jawab Siska, akhirnya. Bastian menatap Siska sejenak, memastikan anggukan dan jawabannya itu benar-benar datang dari keinginannya, bukan sekadar ingin memuaskan hasrat pribadinya. Tangan Bastian bergerak mengambil pelumas dan membubuhkannya ke bagian inti miliknya. Setelah itu, ia mulai memasukkan bagian intinya ke dalam lubang bagian belakang Siska secara perlahan. "Kalau sakit, bilang ya Beb.." ucapnya pelan.Siska hanya mengangguk lagi, napasnya mulai tidak teratur. Ada gugup yang belum sepenuhnya hilang, tapi juga rasa penasaran yang membuatnya bertahan.Bastian tidak terburu-buru. Ia melakukannya perlahan, sangat hati-hati, seolah setiap gerakan adalah pertanyaan. Dan tubuh Siska yang menjawab semuanya.Untuk membuat rileks, tangan kanan Bastian juga memainkan klitoris Siska. Namun, Siska refleks menegang saat sensasi itu mulai terasa. Jemarinya mencengkeram pinggiran wastafel lebih kuat. "Beb…" lirihnya, antara kaget dan belum ter
"Bagus kalo kamu tau..," ucap Siska, sambil menahan geli karena deru nafas Bastian yang masih terasa di telinganya."Udah ah, aku mau mandi dulu," lanjutnya, sambil berusaha melepas diri dari dekapan Bastian. Bastian tersenyum tipis. Bibirnya yang tadi berada di telinga Siska, kini mundur perlahan. Wajahnya kini berhadapan dengan wajah Siska. "Aku mandiin ya..," kata Bastian, menawarkan. Siska mengerutkan kening. Sejak tadi, ia sudah mengendus aroma sabun dan parfum yang khas milik Bastian. "Ngapain? Kamu kan udah mandi. Nanti kamu basah, Beb..," tanya Siska. Seolah ia tidak mengerti maksud Bastian. "Yakin nanya gitu? Nggak jadi pengen aku?!" tanya Bastian, sambil menarik lembut hidung Siska yang mancung. "Tentu aja aku mau. Kamu tau kan aku ke sini untuk apa," ucap Siska dengan senyum nakalnya yang khas. . "Kalo gitu, ayok!" ajak Bastian. Ia menggendong Siska dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Senyuman tak lepas dari wajahnya saat memandang wajah cantik Siska. Siska
"Di kantor, Beb. Kenapa?" tanya Bastian dari balik ponselnya. Siska berdecak pelan. "Bukannya sekarang udah jam pulang kantor, ya?" tanyanya. Pandangan Siska fokus ke jalan, tapi ekspresi wajahnya terlihat kesal karena ternyata kekasihnya itu belum ada di apartemen. "Iya. Cuma karena ada kerjaan yang deadlinenya besok pagi Beb, jadi aku harus selesaikan pekerjaan itu hari ini," ucap Bastian. Ia sangat tidak nyaman jika Siska mengatakan hal tersebut. Karena ia tau hal itu yang akan menjadi awal mulai percikan pertengkaran antara mereka berdua. Pertengkaran yang bagi Bastian sebenarnya tidak penting dan bisa ditanggulangi hanya dengan sedikit pengertian. Tapi kadang hal tersebut tidak dipahami oleh Siska dan membuatnya kepikiran. Sehingga ia jadi kurang fokus dan menghambat pekerjaannya karena pikirannya terpecah menjadi dua. "Uhm.. Masih lama nggak? Aku lagi pengen banget nih.."Bastian tersenyum tipis. Ucapan Siska tadi membuatnya sedikit merasa lega. Karena jika Siska mengatak
"Bu..," panggil Siska. Ia merasakan sesuatu yang berbeda setelah ke luar dari kamar mandi. Ia berjalan mendekat ke sisi Zaskia. Zaskia menghapus air mata yang tersisa di pipinya. Setelah itu, ia menoleh ke arah Siska. "Iya sayang..""Apa ada sesuatu, Bu? Kenapa Ibu nangis?" tanya Siska, dengan wajah penuh kekhawatiran. Zaskia menganggukkan kepalanya. "Iya, sayang. Perempuan yang udah mencelakai Ibu, udah ditangkap polisi sore tadi.""Bagus. Tapi, prosesnya cepet juga ya, Bu. Padahal kejadiannya baru kemarin, tapi hari ini orangnya bisa langsung ditangkap," ucap Siska, wajahnya menyiratkan kecurigaan. Rasa khawatir dan takut menjalar ke tubuh Siska. Ia khawatir Bob ikut andil dalam kecelakaan tersebut. Ia pun melihat ke arah Bob, seolah meminta penjelasan. Bob yang sadar akan perasaan Siska mulai membuka suara. "Buktinya sangat kuat. Rekaman CCTVnya sangat jelas. Selain itu, ada saksi mata yang mendukung saat kejadian berlangsung, Sis."Mendengar ucapan Bob membuat Siska menghembu
"Apa?" tanya perempuan yang sudah menyandang status mantan istrinya itu. Salah satu petugas maju."Selamat siang, Bu. Kami dari kepolisian. Kami ingin meminta Anda ikut ke kantor untuk pemeriksaan terkait dugaan tindak kriminal."Wajah perempuan itu sudah sangat pucat. "Apa maksudnya? Saya nggak melakukan apa-apa! Ini pasti salah paham!" ucapnya, suaranya meninggi. Bob memperlihatkan kembali ponselnya, lalu memutar potongan rekaman tadi. Hanya beberapa detik.Cukup untuk membuat semuanya semakin hancur.Wajah perempuan itu makin kehilangan warna. Matanya membesar, napasnya pun mulai tercekat."I - itu.. Itu bukan..""Semua udah terekam jelas," potong Bob tanpa emosi. "Kamu yang udah dorong Zaskia."Sunyi sesaat. Perempuan itu tidak bisa lagi membantah. Ia hanya diam dan berfikir bagaimana nasibnya nanti. Petugas itu kembali bersuara, kali ini lebih tegas dari sebelumnya. "Mohon kerja samanya, Bu. Silakan ikut kami."Perempuan itu mundur satu langkah, tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak
"Ambil ini, Pak!"Andini memperlihatkan dokumen yang tadi diserahkan Satria. "Oh, gitu! Nanti pulang bareng yuk?" Dion menawarkan. Andini mengerutkan kening. Lagi-lagi Dion mengatakan sesuatu di luar kendalinya. "Sa-saya hari ini sepertinya akan lembur Pak!" ucap Andini. Berusaha menolak ajakkan
"Om Satria!"Suara Andini membuat Satria terkejut. "Lho?! Kamu belum pulang, An?""Belum, Om! Aku mau kasih dokumen ini dulu sebelum pulang!" Andini menyerahkan dokumen yang tadi sudah diperiksa. "Oh! Ya udah, taruh di situ aja!" Satria menunjuk sisi kanan meja dengan mengedikkan kepala. "Oke, O
"Tapi apa, An?"Cinta membulatkan matanya. Dia berjalan mendekat dan duduk di sofa seberang Andini. 'Astaga! Hampir aja aku keceplosan! Gimana kalau Tante tau apa yang udah aku dan Satria lakukan?!' batin Andini. 'Bisa mati aku!'Andini menggelengkan kepala perlahan. Sangat pelan. Hampir tak terli
"Uhm …." Andini melenguh, tetapi tak membuka mata. Satria berjalan mendekati Andini dengan dahi berkerut. Tiba di samping tempat tidur, kedua alis Satria naik, kaget. 'Ha?! Dia tidur?!'Heran dengan kelakuan Andini, Satria menggelengkan kepalanya. 'Bagaimana mungkin kami melanjutkannya jika dia t







