Share

Bab 216

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-04-03 03:52:23
"Sayang..," panggil Andini.

"Iya, An."

"Aku nggak nyangka ini bisa terjadi. Aku nggak pernah berfikir bakal kehilangan orang yang aku sayang seperti ini..," ucap Andini, pelan.

"Saya paham, An. Tapi kita harus sadar, setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian. Hanya saja, kita nggak tau kapan itu akan terjadi," ucap Satria.

"Sekarang, tugas kamu adalah kuat. Bukan cuma untuk bayi kembar kita. Tapi juga Tante kamu. Tante yang udah besarin kamu dari kecil," lanjutnya.

Satria mel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 324

    "Uhm..," gumam Siska, pelan. Ia kembali diam cukup lama setelah mendengar penjelasan Rania dan Andini.Tatapannya turun perlahan ke lantai. Kepalanya kini benar-benar terasa sangat penuh. Terlalu banyak kemungkinan yang muncul di pikirannya sekarang.Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya."Kalau misalnya, nanti di tengah jalan Johan dateng, gimana?" tanya Siska, pelan.Rania dan Andini langsung melihat ke arah Siska. Dan pertanyaannya membuat Andini menahan napas pelan. Sedangkan Rania terlihat tetap tenang meski wajahnya sempat menegang."Tadi Jonathan udah ngomong," jawab Rania hati-hati. "Kalo Johan datang dan semuanya memang harus diselesaikan, dia nggak masalah kalo nantinya kalian berpisah secara baik-baik."Siska terdiam lagi. Kalimat itu justru membuat dadanya semakin sesak. Karena itu berarti Jonathan benar-benar menganggap semua ini sebagai jalan keluar sementara. Bukan karena perasaan dan bukan juga karena ego. Murni membantu dirinya dan Johan.Dan

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 323

    "Hah?!" tanya Gery. Ia menatap Jonathan cukup lama."Terus nanti, kalo Johan dateng gimana?" tanyanya langsung, sambil melihat anaknya yang selalu berfikir diluar nalar. Jonathan menjawab tanpa banyak ekspresi. "Kalo Johan balik, kita bisa selesaiin semuanya secara baik-baik. Cerai pun nggak masalah."Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar siap mendengar solusi seaneh itu. Tapi di saat bersamaan, semua orang sadar keadaan mereka memang tidak bisa dibilang mudah."Aku cuma mikir jalan cepat dan aman bagi kedua belah pihak," ucap Jonathan, pelan. Solusi yang ia berikan memang bagus. Hanya saja hal itu sepertinya sangat berat bagi Siska. Karena bagaimanapun yang ingin dia nikahi dan ia terima lamarannya itu, Johan. Bukan Jonathan. Andini langsung menggeleng cepat."Gila! ini bukan urusan kecil, Jon!"Jonathan menatap Andini sebentar."Aku tau. Aku cuma menawarkan. Sisanya kedua belah pihak yang memutuskan.""Kita tetap harus mengutam

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 322

    "Mba," panggil Andini. "Kebesaran nggak sih bagian sini?" tanyanya sambil menunjuk bagian pinggang gaun Siska."Nggak, Kak. Tadi udah kita pasin lagi," jawab salah satu staf.Rania membuka map checklist di tangannya lalu mulai mengecek ulang beberapa detail."Sepatu aman.""Veil aman.""Aksesori aman."Andini tertawa kecil. "Bunda serius amat sih.""Ya harus serius dong, An. Ini kan nikahan Siska," jawab Rania, sambil tersenyum tipis. Mendengar jawaban Rania membuat Siska tertawa pelan."Oh iya, Bu Zaskia jadinya gimana, Bun?" tanya Andini."Dia masih istirahat," jawab Rania. "Kan habis melahirkan, jadi belum boleh terlalu capek.""Terus bajunya? Gimana?" tanya Siska, sambil mengerutkan kening. "Disesuaikan aja dengan baju yang ada katanya. Tadi sih Bunda udah kasih contohnya."Siska mengangguk pelan. "Oh, gitu."Meski Zaskia tidak bisa ikut fitting terakhir itu, ia tetap beberapa kali mengirim pesan dan meminta foto perkembangan gaunnya."Eh bentar," ucap Andini tiba-tiba sambil m

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 321

    "Akhirnya, bisa istirahat juga," gumam Siska, pelan. Kamarnya hanya diterangi lampu tidur kecil berwarna kuning. Setelah seharian mengurus pekerjaan toko sekaligus memastikan beberapa detail pernikahan terakhir, tubuhnya benar-benar terasa lelah.Ia baru saja selesai memakai skincare ketika ponselnya bergetar di atas kasur.Nama Johan muncul di layar. Siska langsung tersenyum kecil lalu segera menerima panggilan video itu."Wah..." gumamnya pelan saat wajah Johan muncul di layar. "Akhirnya calon suami muncul juga ke permukaan."Johan tertawa kecil dari seberang sana. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya langsung berubah hangat begitu melihat Siska."Jahat banget ngomongnya," ucap Johan, sambil tersenyum tipis. "Abisnya, sibuk terus sih. Kayak nggak ada jeda sama sekali.""Iya, maaf..," jawab Johan pelan.Ia menyandarkan tubuhnya di kursi hotel sambil memperhatikan wajah tunangannya cukup lama. Sedangkan Siska ikut duduk di atas kasur sambil memeluk bantal."Kamu kayaknya capek bang

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 320

    "Semalam iya, Pak," jawab Bastian, sambil tersenyum tipis.Sedangkan Oni langsung fokus pada cucunya."Aduuuhh cucu Nenek... Nenek kangen banget sama kamu, sayang," ucapnya gemas sambil mengambil Soni perlahan dari gendongan Bastian.Soni langsung mengeluarkan suara kecil sambil menggerakkan kaki mungilnya."Tuh kan, Soni hafal sama suara Nenek. Makanya langsung senyum dan ketawa-ketawa ya," gumam Oni senang.Rudi duduk perlahan di sofa sambil memperhatikan Bastian beberapa saat."Kamu libur hari ini?" tanya Rudi. "Iya, Pak.""Liburnya setiap weekend apa gimana?" tanya Rudi, lagi. "Iya setiap weekend dan tanggal merah, Pak."Percakapan itu terdengar kaku, tapi tidak terlalu buruk.Alya yang melihat dari dapur sesekali melirik ke arah mereka sambil menahan gugup. Ia tahu ayahnya memang bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru."Mas, boleh tolong ambilin baskom di atas sini?" tanya Alya, seraya meminta bantuan Bastian dari arah dapur."Oke," jawab Bastian."Maaf, Pak saya i

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 319

    "Ah, Mas..," desah Alya. Bastian langsung menggiring Alya ke tempat tidur. Bibirnya kembali menyesap dada Alya. Mirip seperti Soni, tapi jelas Bastian lebih agresif karena sambil menyesap kedua gununv secara bergantian, tangannya mereka gunung tersebut. Perlahan, bibir Bastian turun ke perut dan tangannya menurunkan dan melepas celana Alya. Tinggallah segitiga yang menutupi bagian intinya. Tangan Bastian menyusup masuk ke dal bagian inti Alya yang kini mulai basah. Ia bermain dan memasukkan jarinya perlahan di sana. Bagian inti Alya terasa sempit, meski sudah beberapa kali dimasukkan jari-jari Bastian. Berbeda jauh dengan milik Siska. "Punya kamu sempit banget, Al. Aku jadi makin penasaran," bisik Bastian, ditelinga Alya. "Lakukan aja, apa yang kamu mau lakukan ke aku, Mas."Sudut-susut bibir Bastian sedikit terangkat saat mendengar Alya mengucapkan hal itu. Seolah, ia baru saja mendapatkan persetujuan yang sangat berarti. Dengan cepat, Bastian melebarkan paha Alya dan membuka s

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 103

    "Andini..," gumam Satria.Malam itu, Satria berdiri cukup lama di bawah pancuran.Air dingin mengalir di kepalanya, tapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan Andini dengan wajah pucat, tangan menekan perut, dan pesan-pesan singkat yang ia baca berulang kali terus berputar di kepalanya.Be

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 94

    "Andini!" tegas Satria. Rania mengerutkan kening. "Andini? Kenapa dengan dia?" tanya Rania berpura-pura tidak tau. Sebelah alis Satria terangkat dan matanya menyipit. "Kenapa, kata Bunda?!""Iya, kenapa, Sat? Bunda kan nggak punya indra keenam atau kemampuan lainnya" tanya Rania lagi. "Jadi, kala

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 92

    "Pulang bareng?" tanya Andini, dengan kening berkerut. Netranya melihat ke arah Lila, memastikan ia tidak salah dengar. "Iya, yuk!" ajak Lila lagi. "Hujan deras gini, biasanya awet, An...""Kebetulan, aku lagi bawa mobil dan parkirnya nggak jauh dari sini." lanjut Lila. Ia menunjuk ke tempat parki

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 88

    "Ah!" Satria membulatkan matanya saat melihat foto-foto itu. Lalu kembali menatap wajah Rania yang saat ini merah padam karena menahan amarah. Satria berjalan mendekati Rania dan memegang lembut tangannya. "Ayo duduk dulu, Bun. Saya akan jelaskan semuanya." ucap Satria. Ia sudah mengira hal ini

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status