Masuk"Ayo, Tan," ajak Andini, ketika tiba-tiba saja Cinta menghentikan langkahnya. "Iya."Mereka menggunakan taksi online untuk pulang ke rumah. Siska yang memesannya saat ia kembali setelah selesai mengurus administrasi. Siska jugalah yang mengabarkan kepada Satria kalau Cinta sudah sadar dan mereka pulang duluan. Saat perjalanan pulang, tidak ada satupun yang bicara. Siska duduk di depan. Sementara Andini duduk di belakang bersama Cinta. Sejak mobil berjalan, Cinta hanya menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan. Sesekali, ia menggenggam ujung bajunya sendiri.Andini juga tidak banyak bicara. Ia berusaha menahan sesak dan nyeri yang mendera di dalam dada. Dan hanya sesekali melirik ke arah Cinta untuk memastikan kondisinya tetap stabil."Tan, kalo capek, sandaran aja," ucap Andini pelan.Cinta menggelengkan kepalanya perlahan. "Tante nggak capek kok."Mereka kembali terdiam. Tidak ada lagi suara yang ke luar dari dalam mobil. Di sana, hanya terdengar suara mesin dan klaks
"Tenang ya, Tan," ucap Andini lagi. Ia bangkit dari duduknya dan memeluk lembut tubuh Cinta. Beberapa menit kemudian, Cinta masih terdiam. Tangisnya tidak lagi deras. Tapi napasnya masih sesekali tersendat.Beberapa saat kemudian, Cinta membuka matanya perlahan. Ia melepas pelukkan Andini perlahan. Sisa air mata masih tersisa di pipi Cinta. Andini menjulurkan tangannya dan menghapusnya dengan lembut. "An..," panggil Cinta, pelan."Iya, Tan," jawab Andini. "Om sekarang ada di mana?" tanya Cinta. Suaranya terdengar lemah. Tapi sudah lebih jelas dibanding sebelumnya.Andini menatapnya sebentar. Memastikan kondisi Cinta sudah cukup stabil untuk menerima jawabannya. "Sekarang Om ada di ruang jenazah, Tan," ucapnya pelan. "Lagi ditangani sama pihak rumah sakit."Cinta mengangguk kecil. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah mencerna kalimat itu."Tante boleh lihat?" tanya Cinta lagi.Andini menatap Siska sebentar, lalu kembali ke Cinta."Nanti ya, Tan. Tunggu Tante agak kuat dulu,"
"Sayang..," panggil Andini. "Iya, An.""Aku nggak nyangka ini bisa terjadi. Aku nggak pernah berfikir bakal kehilangan orang yang aku sayang seperti ini..," ucap Andini, pelan. "Saya paham, An. Tapi kita harus sadar, setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian. Hanya saja, kita nggak tau kapan itu akan terjadi," ucap Satria. "Sekarang, tugas kamu adalah kuat. Bukan cuma untuk bayi kembar kita. Tapi juga Tante kamu. Tante yang udah besarin kamu dari kecil," lanjutnya. Satria melepas pelukkannya perlahan. Ia menghapus lembut air mata yang masih saja keluar dari mata indah istri cantiknya itu. "Iya. Kamu bener sayang," jawab Andini dengan suara yang masih terisak dan terdengar lirih. Ia menarik napas dalam-dalam. Dadanya masih terasa sangat berat. Tapi perlahan, ia memaksa dirinya untuk lebih stabil. Tangan Andini juga terulur dan mengelus lembut perutnya. Seolah, ia sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada dua bayi yang perlu dikontrol emosinya. Satria memperhatikan itu
"Tenang ya, Tan. Aku udah ada di sini," ucap Andini. Ia menggenggam lembut tangan Cinta. Jemarinya terasa dingin dan sedikit kaku."Tadi dia seneng banget An. Dia pengen banget dateng ke acara wisuda kamu..," tutur Cinta. Air matanya semakin deras jatuh di pipi. "Iya, Tan… tenang ya. Om orang yang kuat. Aku yakin Om akan kembali sehat seperti sebelumnya," ucap Andini pelan. Ia berusaha agar suaranya tetap terdengar stabil, meski dadanya sendiri terasa sangat sesak dan nyeri. Siska ikut duduk di samping Cinta. Ia mengusap punggung wanita itu perlahan."Tante tarik napas dulu ya, pelan-pelan aja," ucap Siska.Cinta menganggukkan kepalanya. Tapi napasnya tetap tidak beraturan. Air matanya masih terus mengalir tanpa bisa ditahan."Tante.. Tante nggak tau harus gimana…" ucapnya terbata. "Tadi dia belum lama ngomong sama Tante dan Tante bilang bakal nunggu Om di ruang tamu. Tapi Om nggak dateng-dateng. Pas Tante dateng, dia udah..,"Kalimatnya terputus. Seolah Cinta tidak lagi sanggup m
"Aku coba telpon lagi," gumam Andini. Ia kembali menekan tombol hijau di ponselnya. Namun sayangnya, tidak ada jawaban. Sama seperti sebelumnya. Waktu terus berjalan. Satu jam yang tadi terasa masih bisa ditunggu, sekarang berubah jadi beban yang sangat menekannya. Andini berdiri dengan ponsel yang masih berada di tangan. Ia kembali mencoba menghubungi Cinta. Nada sambung terdengar, namun tiba-tiba terputus lagi.Ia menutup mata sejenak. "Masih nggak diangkat," ucapnya. Siska yang berdiri di sampingnya langsung mendekat. "Coba Om Agung lagi."Andini mengangguk cepat, lalu mencari nama Agung. Hasilnya sama."Kenapa sih nggak ada yang angkat?" tanyanya seraya bergumam pelan, tapi jelas terdengar panik.Satria yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya mengambil keputusan. "Kita jalan sekarang."Andini langsung menoleh. "Ke mana?""Ke rumah mereka dulu," jawab Satria tegas. "Kalau memang mereka nggak ada di sana, kita lanjut cari ke tempat lain.""Selain itu, saya juga bakal minta bantu
"Yey... Akhirnya hari yang kita tungu-tunggu tiba.." ucap Siska. Penantiannya setelah dua bulan, akhirnya terwujud. "Iya, akhirnya.."Pagi itu suasana gedung yang menjadi tempat wisuda Universitas Negeri Omeron terasa sangat ramai dan dipadati banyak orang. Area parkir penuh. Halaman dipadati keluarga yang datang dengan berbagai ekspresi. Entah itu rasa bangga, haru, dan juga tidak sabar untuk segera selesai. Andini berdiri di depan cermin. Ia merapikan toga yang sejak tadi sudah ia kenakan. Tangannya bergerak pelan. Memastikan semuanya terlihat rapi."Gimana, udah pas belum?" tanyanya sambil sedikit menoleh ke arah Siska. Siska yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mendekat. Ia memperhatikan sebentar, lalu mengangguk. "Udah oke kok. Tinggal senyumnya aja yang belum maksimal."Andini menghela napas kecil. "Sumpah! Deg degan banget gue, Sis."Siska tertawa pelan. "Apaan sih, kita kan tinggal jalan sama duduk doang. Ngapain coba lo sampe deg degan gitu.""Iya, tapi tetap aja r
"Sempurna!" Zaskia berjalan ke luar kamar menuju tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobil. Sesampainya di hotel, ia menuju meja resepsionis, lalu menerima digital key untuk masuk ke dalam kamar presiden suite. "Sat, kamu udah sampai?" tanya Zaskia, saat panggilan telpon sudah terhubung. Sa
"Seneng?" tanya Siska. Ia mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepala menatap lurus ke arah Bastian. Bastian mengangguk. "Iya. Hidup nyaman seperti kedua Tante kamu, tanpa harus lelah bekerja. Bukannya itu yang kamu inginkan?""Kamu bener, Bas! Cuma pas denger akan ada saingan dalam hidu
"An... "Panggil Agung, setengah berbisik, saat duduk dihadapan Andini. Ia tau saat ini Andini merasa sangat tidak nyaman berasa di sana. Tapi, ia masih belum beranjak karena kehadiran Agung yang baru saja sampai dan duduk dihadapannya. "Iya, Om.." jawab Andini, suaranya sedikit parau. "Kamu uda
"An?"Satria menatap dan menyentuh lembut punggung tangan kekasihnya itu. Sejak tadi, Andini hanya memandang ke luar jendela. Seolah, ia sedang mencari jawaban atas kegamangannya saat ini. "Hem.." jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya. "Jangan terlalu banyak pikiran, An. Ingat, aku di sini







