Share

Bab 246

Author: Saggyryes
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-14 04:59:30
"An," panggil Satria, lagi.

"Iya," jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

Mobil berjalan dalam kecepatan stabil meninggalkan area pemakaman. Tidak ada percakapan di dalamnya. Sejak tadi, semua diam dan fokus dengan pikiran masing-masing. Hanya suara mesin dan sesekali getaran halus dari jalan yang dilewati.

Andini duduk di kursi belakang, masih menatap kosong ke luar jendela. Pemandangan berganti, tapi tidak benar-benar ia lihat. Pikirannya masih tertinggal di tanah m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 283

    "Bagus," ucap Satria."Kok bagus sih, Yah?" tanya Siska dengan kening berkerut. "Iya, bagus. Karena itu berarti kamu udah belajar banyak."Beberapa saat, tidak ada lagi yang berbicara diantara mereka berdua. Lalu, Satria kembali membuka mulutnya."Apa Johan tau kondisi kamu saat ini?" tanya Satria."Tau, Yah. Lebih tepatnya sebagian. Karena aku belum cerita semuanya ke dia."Satria mengangguk pelan. "Nggak apa-apa. Nggak semua harus dibuka sekaligus."Siska menatap lurus ke wajah Ayahnya."Ayah cuma mau kamu nggak jadiin di pelampiasan. Atau hanya buat nutupin luka yang saat ini masih menganga."Siska terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan."Aku nggak gitu, Yah."Satria menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Ya udah, Ayah percaya sama kamu."Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat napas Siska terasa lebih ringan.Satria lalu menepuk kepala Siska pelan."Sekarang, istirahat yang cukup. Besok kamu kerja, kan?"Siska mengangguk kecil. "Iya, Yah."Satria bangkit dari dudukn

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 282

    "Sayang..," panggil Andini. Ia duduk di tempat tidur, sambil bersandar pelan di bahu Satria. Tubuhnya sedikit lelah, seperti baru benar-benar berhenti setelah seharian menahan banyak hal.Satria membiarkannya. Tangannya sesekali mengusap lengan Andini, ritmenya cukup pelan."Kenapa? Kamu lagi capek?" tanya Satria. Suaranya terdengar pelan.Andini menggeleng kecil. "Capek sih, pasti. Tapi kali ini lebih ke pikiran."Satria menoleh sedikit. "Ada apa emangnya?"Andini menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai bercerita. Tidak terburu-buru, tapi cukup menggebu karena campuran emosi yang tidak tertahanlan. Ia menyampaikan semuanya, dari awal sampai akhir.Tentang Bastian yang datang, percakapan mereka, hingga sikap Siska yang tetap terlihat tenang dari biasanya, da akhirnya ia benar-benar runtuh saat ia sendirian.Satria mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. Ia tau yang dibutuhkan Andini saat ini adalah, telinganya. "Dia sengaja nahan diri banget pas di depan kasir. Tapi p

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 281

    "Udah selesai," gumam Bastian. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar toko. Dan pintu toko berbunyi pelan saat Bastian keluar. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menandai bahwa semuanya benar-benar telah selesai.Siska tetap berdiri di belakang kasir beberapa detik setelah itu. Tangannya masih bertumpu di meja. Napasnya ia tahan sebentar, lalu dihembuskan perlahan."Hah..," ucap Siska. Bukan lega sepenuhnya. Tapi juga bukan rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Ia menunduk sedikit, lalu menggeser posisi berdirinya. Tangannya meraih sisi meja, seperti mencari pegangan.Beberapa detik berlalu. Lalu ia menarik napas lebih dalam."Aku ke toilet sebentar ya," ucapnya singkat ke arah karyawan yang ada di dekat kasir.Tanpa menunggu jawaban, Siska langsung berjalan ke arah dalam. Langkahnya masih terlihat tenang. Tidak terburu-buru ataupun goyah.Tapi begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Siska langsung bersandar ke dinding.Tangannya menutup mulut. Dan dalam hitungan detik,

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 280

    "Iya," jawab Siska. Menjelang siang, suasana mulai berubah. Tidak langsung sepi, tapi pengunjung perlahan mulai berkurang. Meja yang tadinya penuh mulai kosong satu per satu. Suara obrolan pelanggan juga tidak lagi seramai sebelumnya. Siska berdiri di belakang kasir, mengecek laporan singkat di tablet. Tangannya bergerak pelan, lebih santai dibanding tadi pagi. Andini mendekat sambil melipat tangan di depan dada."Udah mulai sepi nih, Sis," ucap Andini, pelan.Siska menganggukkan kepalanya. "Iya. Kayaknya udah bisa sedikit nafas, sekarang."Andini melirik ke arah salah satu meja."Bastian masih di situ tuh," bisiknya.Siska hanya mengangguk dan tidak langsung menoleh. Ia sudah tau karena tadi sempat lihat ke sana. "Iya,” jawabnya singkat."Lo mau samperin sekarang, apa gimana?" tanya Andini.Siska menghembuskan nafas pelan. "Gue selesain ini dulu palingan."Andini mengangguk. "Ya udah, gue ke depan, ya."Siska tidak menjawab lagi. Ia menyelesaikan beberapa catatan terakhir, memast

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 279

    "Gimana Sis, aman?""Aman," jawab Siska. Pagi itu terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pintu dibuka, pengunjung sudah mulai berdatangan. Tidak meledak, tapi stabil. Justru itu yang terasa lebih nyaman sekarang. Siska berdiri di belakang kasir, sesekali mencatat di tablet, atau membantu staf yang terlihat kewalahan.Di sisi lain, Andini terlihat jauh lebih aktif. Ia berdiri di area depan, menyapa beberapa tamu yang datang, sesekali tertawa kecil saat berbincang. Aura pemiliknya terasa jelas. Santai, tapi tetap mengontrol."Bundling yang ini banyak yang ambil ya," ucap Andini sambil melihat salah satu meja.Siska melirik sebentar. "Iya. Yang paket keluarga paling laku."Andini mengangguk puas. "Bagus banget. Berarti nggak sia-sia kemarin kita revisi."Siska mengangguk kecil, lalu kembali fokus ke layar. "Iya."Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang perempuan masuk dengan langkah tenang. Penampilannya rapi, elegan, dengan gestur yang terbiasa berada di situasi formal. R

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 278

    "Sama tadi," ucap Andini. "Tadi kenapa?" tanya Siska. "Tadi gue sempet liat dari jauh, lo turun dari mobil agak lama. Lo dianter siapa?"Siska menatap Andini beberapa detik, lalu akhirnya menjawab jujur."Johan."Andini mengerutkan kening. "Johan?Yang kemaren dateng ke sini?"Siska menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya."Andini langsung menyandarkan tubuhnya ke meja. "Uhm.. Terus semalem?"Siska nyengir. "Sama dia juga."Andini langsung menutup mulutnya sebentar, antara kaget dan mencoba mencerna apa yang diucapkan Siska."Hah? Serius lo?" tanya Andini. Siska kembali menganggukkan kepalanya. "Seriuslah."Siska hanya tersenyum tipis, tidak terlihat defensif."Kok bisa sih, Sis?" tanya Andini. "Kacau juga lo, ih.. "Siska tertawa. "Kayak nggak ada bedanya kan sama Bastian?" tanya Siska, seolah sedang berasumsi dengan dirinya sendiri. Andini menggedikkan bahunya pelan. "Gue nggak bilang gitu ya. Tapi, yang ada dipikiran gue sekarang, kok lo bisa cepet banget sama dia. Terlebih, gue

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 65

    "Om.. " panggil Andini. Satria menatap Andini sekilas, lalu kembali menaruh cangkir kopi di atas meja. "Kamu udah datang, ternyata. Silahkan duduk An." pinta Satria. Andini menarik bangku dan duduk berhadapan dengan Satria. Ada sedikit rasa ragu. Tapi, dengan cepat, ia menghempasnya. Ia tau Sat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 64

    "Apa?" tanya Satria. Ia sangat terkejut dengan informasi yang baru saja ia dengar dari Bob. "Jadi.. Perubahan sikap Andini disebabkan karena Dion memanipulasi akta cerai saya dan Zaskia?""Betul, Pak." jawab Bob dari balik ponselnya. "Kamu yakin?" tanya Satria, memastikan. "Iya, Pak. Di sana te

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 66

    "Yang..." panggil Andini. "Kenapa?""Itu.. ponsel kamu dari tadi bergetar." ucap Andini sambil makan sandwich dan jus jeruk kesukaannya. Terlihat nama di layar ponselnya. Zaskia. 'Sekarang, dia pasti sudah tau dan sedang panik karena kartu debit dan kreditnya diblokir.' batin Satria. "Biarin aj

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 68

    "Satria!" panggil Zaskia saat batang hidungnya baru memasuki ruang tamu. 'Ah! Dia sudah ada di sini ternyata!' batin Satria. Wajah Satria yang tadinya sumringah karena baru selesai ganti oli, berubah masam seketika ketika mendengar suara Zaskia. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan Zaskia yang

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status