MasukUntungnya Lisbeth dan Rania sangat tahu apa yang harus dilakukan. Mereka pun langsung mencairkan suasana. "Lira ini orang kepercayaan Melinda, Ayah, Ibu, dia sangat pintar," seru Rania. "Aku juga sangat menyukai Lira, dia sangat baik dan ramah," kata Lisbeth. "Tapi nanti kalau dia sudah menikah dengan Raynard, ada baiknya dia bekerja untuk Skyline saja." Rosano mengangguk. "Itu benar, nanti kau bisa bekerja bersama Tante Camilla saja karena Om sendiri lebih banyak di luar negeri," sahut Rosano yang dengan santai menyebut dirinya Om. "Ah, iya, Pak ... hmm, maksudku ... Om," sahut Lira tegang. "Sudah berapa lama kau bekerja bersama Melinda?" tanya Camilla tiba-tiba. Lira makin tegang. "Dua tahun, Bu. Maksudku ... Tante." Camilla mengangguk sambil menyesap minumannya, seolah tidak masalah dengan panggilan apa pun. "Melinda pasti akan mengerti kalau kau akhirnya harus berhenti dari sana nanti. Ajak dia ke Skyline untuk melihat-lihat dulu, Raynard!" seru Camilla menyiratkan restunya
Lira pikir Raynard bercanda, tapi ternyata Raynard serius mempertemukan keluarga Lira dengan keluarganya. Lira sampai berpesan banyak hal saat memberitahu kedua orang tuanya tentang pertemuan ini.."Jadi orang tuanya tidak banyak bicara, bahkan cenderung dingin. Ayah dan Ibu juga tolong jangan banyak bicara ya. Maksudku ... aku hanya takut kalau kita salah bicara, apalagi mereka itu orang yang sangat kaya, mungkin saja pikirannya tidak sama dengan kita. Oh, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya." Lira mendesah frustasi. Kalau Lira mengatakan ini sebelum mereka bermaafan, mungkin Dewi akan menganggap anaknya itu sombong. Mentang-mentang mendapat kekasih orang kaya lalu takut orang tuanya akan membuatnya malu.Ya, mungkin Dewi akan berpikir begitu dulu, tapi sekarang, Dewi sangat mengerti maksud Lira dan sama sekali tidak tersinggung. "Kau tenang saja, Lira. Ayah dan Ibu tahu harus melakukan apa. Kami tidak akan bicara yang aneh-aneh kalau tidak diminta." "Ibu, maafkan aku, ak
"Welcome home, Sasha ...." Bayi perempuan mungil Surya dan Sissy akhirnya pulang hari itu dan rumah keluarga mereka begitu ramai, apalagi si kembar David dan Raline juga ada di sana menantikan teman baru mereka. "Adik bayi!" "Adik bayi!" David dan Raline sudah antusias dan melongokkan kepala untuk melihat Sasha. "Oh, lihatlah Sasha Sayang, banyak yang menunggumu!" pekik Sissy. "Sekali lagi selamat, Sissy! Selamat!" Rania terus memeluk sahabatnya dan tidak terhitung berapa kali ia menangis melihat Sissy menggendong bayinya. "Haha, ini membahagiakan tapi kau terus menangis, Rania." "Aku hanya ingat bagaimana kita dulu bekerja bersama di Skyline. Dan persahabatan itu masih sama sampai sekarang kita sudah punya anak." "Oh, kau membuatku ingin ikut menangis, Rania. Kau adalah sahabat terbaikku, Rania!" Sissy memberikan Sasha pada ibunya dan ia pun memeluk Rania juga, sebelum mereka mulai membicarakan perut Sissy yang menggelambir setelah melahirkan. "Apa aku bisa seksi lagi na
"Oek ... oek ...." Setelah drama keganasan sang istri yang membuat Surya terus meringis, akhirnya suara tangisan bayi itu pun terdengar.Seketika rasa sakit yang Sissy alami tadi tidak berarti lagi melihat bayi mungil itu diangkat oleh dokter. Begitu juga Surya. Seketika rasa sakit disiksa oleh Sissy tadi juga terbayar begitu melihat bayi mereka akhirnya lahir juga. "Selamat, Bu, Pak. Bayinya perempuan, lengkap, dan sangat sehat," kata sang dokter sumringah. Air mata langsung mengalir di wajah Surya dan Sissy. "Surya ...." "Anak kita, Sissy. Anak kita ...." "Iya, Surya. Aku ternyata bisa, aku bisa melahirkannya secara normal. Tadi aku takut sekali, Surya. Tapi aku bisa ...." "Kau hebat, kau luar biasa, Sayang." Surya dan Sissy mendadak melow dan akhirnya berpelukan di sana sambil menatap bayi mereka dengan penuh haru. Sementara di luar ruangan, semua orang yang mendengar bahwa Sissy sudah melahirkan langsung bersorak bahagia. "Syukurlah! Cucu kita sudah lahir, Bu." Ibu Sissy
"Untung tusukannya tidak dalam dan hanya menggores di pinggang saja." Dokter akhirnya selesai mengobati luka Raynard di UGD rumah sakit yang ternyata tidak parah sama sekali. Lira sampai tidak percaya mendengarnya. "Dokter yakin tidak parah? Tidak perlu dioperasi? Tidak ada bagian yang terkoyak? Mengapa darahnya banyak sekali?" "Yakin, Bu. Semua sudah diobati, tidak ada masalah. Tinggal menunggu lukanya mengering saja. Darahnya tidak sebanyak itu, jumlahnya normal. Mungkin karena di kemeja putih, jadi seolah sangat banyak." Lira mengerjapkan mata sambil bernapas lega. "Ah, baiklah, terima kasih banyak, Dokter." "Baiklah, aku permisi dulu!" Setelah dokter pergi, Raynard mengembuskan napas panjangnya. "Untung aku tidak jadi meninggal, Sayang." Lira yang mendengarnya bersyikur, tapi tetap ada yang janggal, tadi Raynard benar-benar seperti sekarat. "Jadi ... kau tidak sekarat?" "Hei, kau mau kekasihmu ini sekarat?" "Tidak, bukan begitu. Hanya saja, kupikir ....""Jangan memikirk
"Polisi sudah siap, Surya?" "Mereka sudah di belakang." "Bagus! Langsung kurung gudang itu dan jangan biarkan satu pun lolos. Raynard sudah di sana menyusul Lira." "Baik, Pak." Surya melajukan mobilnya makin cepat sambil memberi instruksi pada para polisi yang mengikuti di belakang.Sementara itu, di dalam gudang, suasana masih hening. Bos rentenir terdiam melihat tas uang dan langsung meminta anak buahnya mundur. "Kau benar-benar membawa uangnya?" "Tentu saja! Ada di sini!" Suara Lira bergetar. Sang bos memberi kode anak buahnya untuk mengambil uangnya, tapi Lira memeluk tasnya erat-erat. "Tidak! Lepaskan dulu Ruli dan Dinda baru aku akan memberikan uangnya," seru Lira dengan gagah berani. Bos rentenir tertawa. "Kau pikir aku bodoh, hah? Kau mau menipuku? Ambil uangnya!" titah sang bos lagi. Namun, Lira buru-buru mengeluarkan amplop dari tasnya. "Sudah kubilang ini uangnya." Lira mengeluarkan bendel uang itu dan bos rentenir terdiam lagi. "Baiklah, itu memang uang. Tapi be
Beberapa waktu berlalu dan semua yang bersalah mendapatkan hukumannya. Elvan dihukum penjara selama 5 tahun atas kesalahannya sebagai dalang fitnah, pencemaran nama baik, manipulasi, dan memalsukan hasil tes DNA. Elvan yang membayar wartawan untuk menyerang Rania juga terbongkar dan memperberat huk
"Aku pergi dulu, Ibu!" Elvan berpamitan pergi pagi itu dan hati Dita makin gelisah. Dita sampai tidak bisa tidur semalam karena memikirkan keanehan anaknya. Hanya saja, ia belum berani bicara apa-apa pada Anggun. "Kau mau pergi ke mana, Elvan? Elvan?" panggil Dita yang masih ada di dapur. Namun,
"Selamat malam semua, maaf aku terlambat." Melinda masuk ke ruang VIP dengan gaun santainya yang anggun. Ia buru-buru berganti baju dan memoleskan make up tipisnya agar ia terlihat cantik di depan semua orang. Melinda tahu bahwa orang tuanya berencana mengenalkannya pada Raynard, anak dari pemili
"Bagaimana pesta kemarin?" Keluarga Mahendra sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi itu dan Camilla langsung menatap anaknya penasaran. Raynard melirik ibunya sejenak dan mengangguk. "Lancar, aku bertemu banyak teman di sana." "Lalu apa kau sudah bertemu Melinda?" Raynard terdiam se







