Share

Memberi Kesempatan

Penulis: Mommykai22
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-29 17:43:11

"Rania, mana baju Ibu yang berwarna biru?"

"Rania, mengapa baju putihku itu ada noda merah, pasti terkena lunturan baju lain ya?"

"Astaga, kau itu becus atau tidak sih?"

Pagi itu, rumah keluarga Elvan sudah begitu bising. Dita dan Anggun terus memanggil Rania untuk bertanya dan melakukan banyak hal. Rania benar-benar merasa seperti pembantu di sana.

Malahan saat Rania sibuk mengepel, mereka alih-alih membantu malah mengangkat kakinya begitu saja, membiarkan Rania membungkuk di bawah mereka.

"Jadi kapan ibumu itu pulang dari rumah sakit? Dia membuatmu terus keluyuran, itu tidak baik. Seorang istri yang tidak bekerja itu lebih baik di rumah saja mengurus rumah."

Rania hanya diam tanpa menyahut. Saat seharusnya keluarga Elvan menjenguk Yetty sebagai besan yang baik, alih-alih menjenguk malah berasa seperti ingin menyingkirkannya.

"Ya begitulah kalau wanita tidak punya keahlian apa-apa, nasibnya ya seperti itu. Lihatlah kau yang pintar ini dan bekerja membuat laporan online, Anggun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Kejutan yang Menantinya

    Hampir satu minggu berlalu sejak Lisbeth tinggal di rumah Lucas. Dan dalam satu minggu itu, rumah Lucas berubah menjadi medan perang bagi para pelayan.Seperti kata Lucas, Surya akhirnya datang membawa tiga pelayan tambahan. Tentu saja rumah itu tidak sebesar itu sampai harus memakai banyak pelayan, tapi rumah yang ada Lisbeth di dalamnya selalu butuh banyak pelayan. Tiga pelayan itu fokus melayani Lisbeth, sedangkan Bik Nur tetap fokus melayani Rania dan Yetty. Awalnya Rania protes karena terlalu banyak pelayan, padahal tidak banyak yang dikerjakan, tapi Lucas ngotot harus ada tambahan pelayan. Dan benar saja, tambahan pelayan memang adalah solusi yang tepat karena setiap hari selalu ada drama baru di rumah. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar naik, suara sapu sudah terdengar menyapu halaman.Seorang pelayan selalu siap sedia berdiri di belakang Lisbeth dengan wajah tegang. Setiap kali ujung sapu hampir menyentuh tanah, pelayan itu refleks bergerak."Tangkap!" serunya

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Menyukai Mereka

    Lucas terus mengembuskan napas lelahnya malam itu. Ia lelah dalam arti yang sesungguhnya karena ulah Lisbeth. Rania yang melihat Lucas kelelahan sampai tidak tega, ia merasa bersalah seolah karena dirinya, Lucas menerima Oma Lis di rumah ini. "Lucas, aku minta maaf. Karena aku, kau jadi terpaksa menerima Oma Lis," seru Rania yang sudah duduk di kursi di meja makan bersama Lucas. "Hei, mengapa kau menyalahkan dirimu? Aku tidak masalah." "Tapi kau jadi kelelahan. Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi di atas?" "Hanya memindahkan beberapa barang bersama Raynard, tidak masalah. Dan tidak apa, Oma Lis pantas tinggal di sini. Tapi kau harus baik padanya, Rania. Jangan menganggapnya seperti pelayan, tapi seperti nenek sendiri. Kau mengerti maksudku kan?" Rania mengangguk. "Tentu saja. Aku tidak akan menganggap dia pelayan, dia sudah terlalu tua untuk bekerja. Aku pun tidak mungkin menyuruhnya bekerja." "Baguslah kalau begitu. Tapi apa tadi kau membuat klepon? Baunya sampai ke sini. Aku

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Dari Pewaris Jadi Kuli

    "Minum dulu, Oma. Oma terlihat lelah." Rania langsung menyajikan minum begitu Lisbeth selesai memotong rumput. Wanita tua itu terlihat sumringah dan sama sekali tidak lelah, seolah pekerjaan fisik sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. "Ah, terima kasih, Nak Rania. Kau baik sekali." Lisbeth berdiri bangga menatap lapangan golf mininya sambil meneguk minumannya. "Hmm, tapi membersihkan rumput di taman tidak perlu dikerjakan juga, Oma," seru Yetty juga. "Seperti yang Lucas bilang, ada tukang kebun. Jadi jangan terlalu lelah, kerjakan yang bisa dikerjakan saja." Yetty benar-benar takut melihat Oma Lis bekerja. Tentu saja di kampung semua orang, mau tua mau muda sudah terbiasa bekerja, tapi tetap saja Oma Lis sudah nenek-nenek. Bahaya sekali kalau wanita tua itu sampai kelelahan dan pingsan. Itu akan menjadi masalah baru bagi mereka. "Ya ampun, kau perhatian sekali, Bu Yetty. Tapi tenang saja! Semuanya aman, aku ini sudah biasa bekerja sejak muda. Tidak ada yang tidak bisa kulakuka

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Tekanan Darah Naik

    Lucas menyesali ucapannya bahkan sebelum kalimat itu benar-benar selesai menggantung di udara.Semua orang terdiam kaget, tapi Lisbeth malah langsung bangkit dari duduknya dengan lincah."Kalau begitu, mulai sekarang Oma kerja ya! Oma boleh masuk rumah kan?" seru Lisbeth yang langsung bersemangat. "Ayo masuk, Bik!" ajaknya pada Bik Nur. Lisbeth masuk rumah bersama Bik Nur, menyisakan Rania dan Yetty yang masih berdiri di luar tanpa tahu apa-apa. "Apa ini tidak masalah, Lucas? Kau baru saja menerima orang asing bekerja tanpa tahu asal usulnya dulu," seru Yetty khawatir. "Ah, itu ... aku yakin dia orang baik, Ibu. Tidak masalah," sahut Rania membela Lucas. "Tapi kita benar-benar tidak tahu siapa dia dan asalnya dari mana. Minta bekerja juga memaksa sekali, ini terlalu aneh," seru Yetty waspada. "Ibu, Ibu yang mengajari aku jangan berprasangka buruk dulu kan? Tidak apa. Tidak apa," sahut Rania lagi. Yetty tidak bisa berkata-kata. "Kalau begitu, Ibu lihat ke dalam dulu!" Yetty langs

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Pelayan Baru

    Lucas masih berdiri kaku di tempatnya. Ia tidak pernah menyangka akan melihat seseorang di sana. Itu Grandma Lisbeth. Wanita tua dengan penampilan lusuh seperti pengemis itu Grandma-nya, dan Lucas tidak mungkin salah mengenali neneknya sendiri, apalagi setelah nenek tua itu tersenyum penuh makna menatapnya, senyuman yang sangat Lisbeth. Raynard sendiri ikut mematung. Untuk sesaat, ia tidak bisa mengatakan apa pun saat melihat Lisbeth di sana. Tatapan wanita tua itu menyapa, tapi juga penuh ancaman, seolah tidak mau dikenali. Tatapan itu seolah mengatakan, "Jangan berisik, aku di sini." Baik Lucas maupun Raynard sampai tidak berani membuka mulutnya untuk bicara atau sekedar menyapa. "Lucas! Raynard! Kalian sudah pulang?" sapa Rania sumringah. Lucas tersentak, mengalihkan tatapannya ke arah Rania dengan tatapan goyah dan ia menelan salivanya. "Ah, iya, Sayang, aku ... sudah pulang," sahut Lucas yang melangkah kaku mendekati Rania. Tatapannya sesekali masih melirik Lisbeth di sa

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Bukan Pengemis Biasa

    Mobil berhenti tepat di depan pintu pagar saat Rania masih duduk bersama Oma Lis di teras. Rania tidak berani membiarkan orang asing masuk rumah, tapi tidak tega mengusirnya juga. Rania hanya duduk di sana, tidak banyak bergerak, menemani Oma Lis mengobrol, sedangkan Bik Nur sendiri juga tidak berani beranjak dari sisi Rania, menjaga bosnya itu karena sungguh, Oma Lis adalah nenek tua random yang tidak jelas. Yetty yang tadinya masih di dalam mobil pun langsung mengernyit melihat Rania bersama orang yang tidak dikenal, sampai ia segera turun. "Rania!" sapa Yetty. "Nah, itu Ibuku. Ibu!" Yetty tersenyum singkat pada Oma Lis. Bukannya tidak ramah, tapi Yetty masih bingung mendapati seorang wanita dengan dandanan lusuh di sana. Entah siapa wanita tua itu sebenarnya. "Ini siapa, Rania?" tanya Yetty waspada, tapi berusaha setenang dan seramah mungkin. "Ibu, kenalkan ini Oma Lis." Rania berdiri. "Oma Lis ini tersesat, dia mencari cucunya, tapi dia haus dan kelelahan, jadi numpang isti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status