LOGINNapas Divya terengah-engah, mendengar ucapan pria itu dan berusaha keras untuk mencernanya, kenikmatan menghantam kuat, pria itu terus memasukinya dalam-dalam.”U—ulangi,” pinta Divya mencengkram bahu Xavier ketika pria itu terus menghunjam ke dalam tubuhnya.”Sayangnya tidak ada siaran ulang, Princess.” Xavier membuka kedua kaki itu lebih lebar dan mendorong tubuhnya.”Ah ….” Divya merintih, fokusnya buyar begitu saja. Xavier terus memasukinya sedalam yang pria itu bisa. Pinggul Divya terangkat, remasan pria itu di bokongnya terasa hampir menyakitkan, hunjaman-hunjamannya kesar dan cepat, tidak memberi Divya kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lagi. Saat bibir pria itu mengulum putingnya, Divya mengerang keras, memeluk leher Xavier dan menjeritkan nama pria itu begitu pelepasan meledak dalam tubuhnya.Xavier menggeram dan terus memasuki tubuh Divya sampai pria itu bergetar dan mendapatkan pelepasannya. Deru napas Divya yang terengah-engah memenuhi ruangan, wanita itu menatap Xavi
”Tolong hargai aku dan Zelie yang tidak punya pasangan.” Ivander melotot galak. ”Aku tidak perlu dikasihani, kasihani saja dia,” tunjuk Zelena pada adiknya. “Baiklah, lanjutkan saja permainan dan biarkan pasangan suami itu berciuman.” Ivander memutar botol. Sialnya botol mengarah kepada Xavier. ”Dare,” pria itu berujar pelan. Ivander tersenyum lebar. Kemudian pria itu mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video. ”Apa-apaan!” Xavier berteriak dan hendak merebut ponsel Ivander tapi pria itu menjauhkannya sambil tertawa lebar. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Divya dan terbahak-bahak melihatnya. Video Xavier sewaktu masih kecil, menari di depan TV sambil bernyanyi hanya dengan memakai popok. “Dari mana kamu dapatkan video itu?!” ”Dad punya seribu koleksi video kalian,” jawab Zelena. “Aku sudah menonton semuanya,” wanita itu ikut tertawa. “Video Xavier yang paling banyak. Kalau kamu ingin tahu aibnya, tanya saja pada Daddy, Daddy akan dengan hati menemanimu seharian meno
Makan malam kali ini begitu santai di restoran yang ada di tepi pantai. Suasananya tidak seformal makan malam sebelumnya. Divya mengenakan dress berwarna putih yang panjangnya semata kaki, sandal tanpa hak yang juga berwarna putih dan rambut yang dibiarkan terurai cantik. Saat keluar dari kamar, Xavier menatapnya dengan tersenyum.”Cantik,” puji pria itu memeluk pinggangnya.Semuanya berjalan di tepi pantai menuju restoran, Divya merasa senang sekali hari ini, memeluk lengan Xavier saat mereka berjalan. Rambutnya yang panjang dan tebal diterbangkan oleh angin.”Boleh aku mabuk lagi malam ini?””Tidak,” Xavier menggeleng tegas. “Cukup bir.”Divya cemberut.“Masih ada waktu sebelum makan malam, kan? Aku ingin berjalan-jalan bersamamu dulu di pantai.””Baiklah.”Mereka masih berpelukan dan berjalan menyusuri pantai yang indah. Divya menemukan sesuatu yang menarik di atas pasar dan wanita itu berjongkok, memungut cangkang kerang dengan bentuk yang unik.”Lucu, simpankan untukku.””Untuk a
Xavier menarik diri lalu menghunjam lagi. Dengan pelan hingga gesekan itu lebih terasa. Rintihan Divya terdengar panjang, wanita itu memohon untuk Xavier bergerak cepat tapi pria itu melakukan sebaliknya. Menyiksa Divya dengan gerakan pelan. Semakin pelan Xavier memasukinya, semakin terasa gesekannya, dan semakin penuh kejantanan itu menerobos vagina Divya.“X … aku … ah ….” Divya mengangkat pinggulnya ke atas, meremas rambut Xavier. “Please … bergerak cepat.”Xavier memeluk pinggul itu dan bergerak sesuai yang Divya mau. Cepat dan keras. Menghantam vagina mungil itu dengan miliknya yang besar, menimbulkan jeritan dan rintihan penuh permohonan sampai akhirnya Divya menjerit mendapatkan pelepasannya.Xavier sudah begitu kacau, tidak bisa lagi menahan diri.”Aku harus keluar di mana? Di luar?””Jangan di luar, di dalam, please, di dalam.””Kamu yakin?””Aku sudah minta pil pada Dokter Angela tadi malam. Keluarkan di dalamku, please ….”Xavier menghentak kuat, menarik kejantanannya sampa
”Aku tidak mau kamu menyesal.””Aku tidak akan menyesal,” Divya meraih dagu Xavier agar menatapnya. “Cium aku di sini.” Wanita itu menunjuk bahunya.Xavier berdiri, mencium bahu indah itu.”Di sini.” Tunjuk Divya ke payudaranya.Xavier menatap sejenak sebelum mencium sisi payudara Divya.”Di sini.” Divya menunjuk perutnya.Xavier membungkuk, mencium perut rata wanita itu.“Sekarang kamu bebas melakukan apa pun padaku.”Xavier menatapnya dalam. Tangan pria itu terangkat menyentuh pada Divya.”Katakan padaku, kamu suka permainan yang lembut atau keras?” Bibir Xavier menyapu kulit di paha Divya, meninggalkan jejak basah yang terasa panas.”Aku … cukup suka permainan keras.””Seberapa keras kamu bisa menahannya?”“Kamu suka BDSM, X?””Tidak, tapi aku suka bermain keras. Jadi jawab aku, seberapa keras kamu bisa menerimanya?””A—aku bisa menerima yang cukup kuat asal jangan dipaksa.””Aku akan memasukimu dengan keras,” ucapan Xavier membuat kelembapan berkumpul di antara kedua paha wanita i
Mengulang kembali kalimat itu dalam benaknya, membuat Divya nyaris terengah, ia setengah mati menginginkan Xavier bercinta dengannya, tidak peduli bahwa kini Divya tampak murahan, liar dan kehilangan sopan santun, tapi dia benar-benar ingin bercinta dengan Xavier. Divya tidak pernah menginginkan seseorang sehebat ini sebelumnya, dan apa yang dia rasakan membuatnya kewalahan.Diam-diam, Ivander dan Arland saling melirik, keduanya menyeringai. Kini terjawab sudah pertanyaan yang tidak mereka lontarkan tadi malam. Sejauh mana Xavier mampu bertahan? Jawabannya sudah jelas, tidak akan lama. Divya menatap Xavier seolah siap melemparkan dirinya ke pangkuan pria itu, Arland dan Ivander yakin Xavier tidak akan bisa menolak lagi.Ivander berdehem keras. Membuat Divya tersentak kecil dengan wajah merona, entah apa yang sedang dipikirkan wanita cantik itu, pastinya bukan tentang bagaimana cara memasak pasta. Rona itu menyebar ke seluruh wajah Divya, wanita itu berusaha keras menyembunyikan rona d







