LOGIN
Xavier mengangkat kedua lengannya, menangkis pukulan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang cepat dan mematikan. Tinju kanannya menghantam keras rahang pria di depannya, membuat tubuh lawannya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di matras. Nafas Xavier sedikit memburu, tapi matanya tetap tajam.
Itu sudah yang keempat. Dengan ekspresi datar, Xavier melepaskan sarung tinju dari tangannya. Dia bisa merasakan keringat membasahi kulit, tapi tubuhnya masih penuh energi. Xavier melangkah turun dari ring, mengambil botol air dan meneguk isinya tanpa tergesa. Tanpa dia sadari, sepasang mata mengawasinya dari sudut ruangan yang gelap. Jagardana Mahesa berdiri diam di sana, tubuhnya nyaris tak terlihat di balik bayangan. Matanya tak lepas dari Xavier—menganalisis, menilai, memperhatikan setiap gerakan pria itu. Jagar sudah melihat semuanya. Kecepatan Xavier, teknik bertarungnya, bagaimana Xavier menghadapi lawan dengan ekspresi dingin yang nyaris tanpa emosi. Jagar tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya diam, lalu berbalik dan menghilang begitu saja ke dalam kegelapan. Xavier tak menyadari kehadirannya. Yang dia tahu, ruangan itu terasa sedikit lebih sunyi dari sebelumnya. Pria itu keluar dari ruang latihan dengan membawa botol minumannya, masuk ke kamar prajurit dan berniat untuk mandi, tapi Xavier urung melakukannya saat melihat ada orang yang duduk santai di sofa kamarnya. ”Sir,” Xavier menyapa pelan, Xavier memang sering memanggil Jagar dengan panggilan itu karena pangkat mereka yang berbeda. Jagar berada satu tingkat lebih tinggi darinya. Tapi kadang pula Xavier memanggil pria itu hanya dengan nama saja. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan prajurit lain karena hanya Xavier yang bisa melakukannya. “Sofa di kamarku lebih nyaman daripada di ruanganmu?” sindirnya dan membuka kulkas kecil yang menyimpan bir dingin, Xavier melemparkan satu kaleng kepada Jagar yang ditangkap dengan mudah oleh pria itu. Xavier lalu ikut duduk dan meneguk birnya. ”Jadi? Ada apa? Kamu tidak mungkin datang ke sini hanya untuk numpang duduk di sofaku.” Xavier bertanya sambil menikmati birnya. ”Saya mau kamu jadi pengawal Divya.” Jagar bahkan tidak repot-repot berbasa-basi. Xavier tersedak dan menyemburkan bir dalam mulutnya. Jagar mengumpat pelan karena semburan itu sedikit mengenai wajahnya. Pria itu mengusap wajah dan menatap Xavier dengan tatapan membunuh. ”Apa? Coba ulangi.” Xavier menatap lekat, bahkan bir di mulutnya menetes ke dagu. ”Saya mau kamu jadi pengawal Divya.” Divya? Divyana Mahesa? Adik Jagar? Oh, shit! ”Bukannya dia punya pengawal?” ”Pengawalnya mengundurkan diri karena akan menikah.” Xavier menyeka dagunya dengan punggung tangan. “Kenapa aku? Dari sekian banyak prajurit, kenapa aku?” ”Karena saya pembimbing kamu—“ ”Jadi pembimbing tidak lantas membuat aku harus patuh—“ ”Sumpah ke tiga prajurit: Patuh pada apa pun perintah atasan dan mengerjakan misi dengan sebaik-baiknya.” ”Bangsat.” Xavier bahkan tidak repot-repot memelankan suaranya ketika mengumpat. “Kenapa aku?” ”Karena saya yakin pada kemampuanmu menjaga klien.” “Prajurit lain bisa melakukannya—“ ”Apa kamu membangkang pada atasanmu, Frederick?” ”Apa menjaga adikmu adalah salah satu misi, Mahesa?” ”Tentu saja, jendral sudah menandatangi proposal saya.” Jagar melempar sebuah dokumen ke atas meja. Xavier meraih dan membacanya. “Bangsat,” ucapnya lagi dengan nada marah. “Menyelamatkan adikmu dari penculikan adalah satu hal, tapi menjadi pengawalnya adalah hal yang berbeda.” Xavier menutup dokumen itu dan melemparnya ke atas meja. “Aku tidak mau terlibat dengan keluargamu, Sir. Cari saja orang lain.” ”Saya tidak peduli kamu menerimanya atau tidak, misi itu sudah menjadi milikmu sejak jendral menandatanganinya.” Jagar berdiri, menatap Xavier lekat. “Jaga Divya dengan nyawamu. Jangan sentuh dia kecuali untuk melindunginya, jangan ada hubungan pribadi apa pun dengannya di luar pengawal dan klien, jangan libatkan dia ke dalam apa pun urusan pribadimu begitu juga sebaliknya. Got it?” Xavier tidak menjawab dan hanya diam. ”Sumpahmu, Prajurit!” ucap Jagar tegas. Xavier memicing, menatap Jagar dengan tatapan membunuh, tapi pria itu tidak bisa melakukannya karena sebagai bawahan Jagar, Xavier tidak bisa memukul atasannya begitu saja atau dirinya akan diadili secara hukum militer Eagle Eyes. Pria itu berdiri tegap, tangan kanannya terkepal dan Xavier menyilangkan salah satu tangannya ke dada. ”Aku … Xavier Frederick, menerima misiku yaitu menjaga Divya Mahesa dengan nyawaku, tidak akan menyentuhnya kecuali untuk melindunginya, tidak akan terlibat hubungan pribadi apa pun dengan klienku. Aku bersumpah dengan nyawaku.” Xavier menatap Jagar dingin. “Anda puas?” Nada suaranya benar-benar tidak ramah, Xavier ingin sekali menghajar pria di depannya dan berharap suatu saat bisa melakukannya. Jagar tersenyum kecil. “Bagus. Misimu akan berjalan selama satu tahun.” Jagar melangkah pergi, namun sebelum mencapai pintu, Jagar melempar sesuatu kepada Xavier. Sebuah plakat misi sebagai tanda Xavier sedang menjalankan sebuah misi, ketika misi selesai, Xavier akan mengembalikan plakat itu kepada Jagar tanda bahwa misinya telah selesai. Begitu pintu tertutup Xavier melempar plakat itu ke dinding, benda yang terbuat dari baja itu menghantam dinding dan menimbulkan suara nyaring ketika jatuh ke lantai. Xavier membiarkannya di sana, pria itu masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintunya. Begitu selesai mandi, Xavier memakai jaket, dengan helm dan kunci motor di tangan, pria itu keluar dari kamar pribadinya yang ada di markas Eagle Eyes, tempat yang menjadi rumah pertama untuknya sejak ia bergabung di organisasi rahasia ini. Langkahnya menyusuri lorong, tatapannya tajam dan siapa pun tidak mau menegurnya karena raut wajah ‘jangan ganggu’ tercetak di wajahnya dengan begitu jelas. Para prajurit yang sudah cukup mengenal watak pria itu memilih untuk tidak menyapa ketika mereka berpapasan. Tidak ada yang mau repot-repot menyapa pria itu kecuali … para letnan. ”Mau ke mana?” Rai bersandar di depan ruang komunikasi, menatap Xavier yang memegangi helm di tangan. ”Apa aku perlu melapor ke mana aku pergi? Ini jam bebas tugas.” Rai memicing. “Kamu kenapa?” ”Tidak perlu tahu—“ ”Apa masalahmu, X?” Xavier menghela napas, menatap Arland Frederick—kakaknya. ”Apa kalian tahu si brengsek Mahesa menjadikan aku sebagai pengawal adiknya?” Arland dan Rai saling berpandangan. “Ya.” Rai menjawab santai. “Lantas?” ”Aku tidak mau melakukannya.” ”Well, Paman Radhi—Jendral maksudku,” ucap Arland, “sudah menandatangani dokumenmu.” Xavier menghela napas. “Aku menyesal ikut dalam penyelamatan adiknya waktu itu,” gerutu Xavier dan segera pergi menuju lift. Meninggalkan Arland dan Rai yang saling berpandangan. ”Setahuku, dia biasa saja waktu menyelamatkan Divya, bahkan tampaknya dia menggoda Divya di hari pernikahan Jagar dan Killa, kenapa dia sekarang seperti anti dengan Mahesa satu itu?” Rai mengangkat bahu dan kembali duduk di depan komputernya. “Tanya saja padanya.” ”Aku malas bertengkar,” jawab Arland juga duduk di depan komputernya. “Kalau dia sudah emosi, sulit bicara dengannya.” ”Biarkan saja adikmu, dia sudah besar,” gumam Damian yang sedang sibuk melakukan sesuatu di komputernya. “Jangan lihat dia sebagai si bungsu lagi. Dia sudah dewasa.” ”Sulit menatapnya sebagai pria dewasa karena bagiku dia Ironman kecil yang sering menyembunyikan kaus kaki Zelie dulu.” Arland mendesah pelan. ”Dapat!” Damian menyeringai senang. Rai dan Arland menatap bingung. “Apa?” ”Lokasi perdagangan manusia dan juga markas judi. Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang memposting lowongan pekerjaan dengan gaji menggiurkan di internet. Minggu lalu aku baca sebuah utas di internet bahwa ada seorang kakak yang tidak bisa berkomunikasi dengan adiknya setelah adiknya menerima sebuah pekerjaan. Katanya akan dipekerjakan sebagai TKI di Kamboja. Tapi setelah dua minggu, tidak ada kabar dari adiknya. Jadi aku iseng menelusuri kasus itu, mencari-cari siapa yang memposting lowongan dan menemukan alamat IP-nya.” ”Jangan gegabah dan awasi saja dulu,” ucap Rai menepuk bahu Damian lalu keluar dari ruangan, sementara Arland dan Damian memilih menelusuri kasus serupa agar bisa mengumpulkan berbagai data.Setelah satu malam menginap di vila pribadi Xavier, keduanya memutuskan untuk pergi ke Bali, menginap di vila keluarga pria itu. Divya sedang menikmati pantai yang indah saat Xavier memeluknya dari belakang.”Apa yang kamu pikirkan sekarang?””Kita,” Divya menoleh dan tersenyum, “aku memikirkan kita.” Dagu Xavier bertumpu di bahu wanita itu, mengecup bahu itu dengan lembut dan menarik tubuh Divya merapat ke dadanya. “Apa ini nyata, X?””Sangat nyata, Sayang.””Kita benar akan menikah?” Divya mengangkat tangan ke atas, menatap cincin berlian yang diselipkan Xavier di jarinya pada pagi hari dia terbangun di pelukan pria itu dengan perasaan yang luar biasa. Seolah luka yang menghimpit dadanya selama satu bulan belakangan menghilang begitu saja. Divya merasa tubuhnya begitu ringan seolah dia melayang.”Ya. Kita akan menikah.” Xavier meraih tangan itu dan menggenggamnya, membawanya ke mulut untuk dicium. “Kamu akan menjadi Nyonya Xavier Frederick.”Bahagia tidak p
Divya tidak mau menunggu lagi, Xavier harus memasukinya sekarang atau dia akan mati. Tangan Xavier membelai payudaranya, mencubit putingnya yang menegang. Sementara vibrator masih mengguncang vagina Divya di bawah sana, Xavier mengangkangi Divya dan menyelipkan kejantanannya di antara payudara wanita itu, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.Divya tidak pernah membiarkan seorang pria melakukan ini padanya tapi—astaga, melihat kejantanan itu terselip di antara payudaranya, membuatnya semakin terangsang. Napasnya terengah-engah ketika Xavier menambah kecepatannya, bercinta dengan kedua payudara Divya lebih cepat hingga kepala kejantanan itu sesekali mengenai dagu Divya.”Sialan, Sayang, payudaramu begitu lembut,” erangnya. Xavier terus menggerakkan kejantanannya sampai sperma pria itu tumpah membasahi dada Divya.Divya hampir tidak dapat mengatur napasnya ketika orgasme membuatnya terbakar, belum cukup itu semua, Xavier mendorong kejantanannya yang masih mengeluarkan sp
Jagar ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya, tanpa berkata-kata dia menyusul Kivandra menuju pintu keluar.Abhimanyu berdiri, menarik istrinya dengan lembut, kemudian menatap eyang, ayah dan ibunya. “Kalau ada dari kalian yang berani mengusik Divya, akan saya hancurkan kalian tanpa sisa. Saya diam karena Divya lah yang bersikeras ingin menerima perjodohan meskipun dia tidak menginginkannya. Sekarang dia sudah bebas. Jadi jangan pernah usik adik saya lagi atau saya akan dengan senang hati mengurus tiga pemakaman sekaligus untuk kalian.” Sambil memeluk pinggang istrinya, Abhimanyu membawa Sabhira meninggalkan rumah mewah yang terasa begitu dingin dan kelam. “Aku baru pertama kali ini melihat Kivandra mengamuk,” bisik Sabhira saat berjalan menuju mobil.”Dia berhak melakukannya. Dia sudah dewasa,” Abhimanyu tersenyum, melihat Kivandra menunggunya di mobil. Pria itu memegangi tangan istrinya yang masuk ke mobil lebih dulu dan dia masuk ke dalamnya. Satu mobil la
Di rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”Well, menurutku—“‘Tidak ada yang meminta pendapat kamu, Kivandra. Jadi diam!” bentak sang ibu.Kivandra melotot. “Fuck!” makinya dengan lantang hingga para tetua menoleh dengan tatapan tajam, terlebih Arya Mahesa yang menggenggam erat tongkatnya seakan ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Kivandra, anak bungsu keluarga Mahesa itu melempar rotinya ke lantai. “Kalian semua idiot! Bodoh! Egois! Tidak tahu diri! Manusia biadab! Jahanam—“”KIVANDRA!””Apa?!” Untuk pertama kalinya Ki
Divya terdiam sesaat, menatap Xavier yang kini berdiri di depannya tanpa alas kaki, tangannya memegang payung yang melindungi mereka berdua dari hujan. Sepatu hitam pria itu kini melindungi kakinya, meskipun terasa kebesaran dan sedikit sulit untuk berjalan. Ia menunduk, menatap sepatunya yang patah di tangan Xavier. Perasaan aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang ia coba tahan, sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi tapi ternyata rasa itu masih sama besarnya.Xavier hanya tersenyum kecil, seolah tidak peduli bahwa dirinya sekarang bertelanjang kaki di tengah jalan yang basah. “Ayo,” katanya ringan, melangkah lebih dulu dengan sepatu Divya masih tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang payung. Divya mengikutinya dalam diam, mencoba berjalan sebaik mungkin dengan sepatu yang kebesaran. Sesekali, Divya melirik ke bawah, melihat kaki telanjang pria itu melangkah di aspal yang basah. Hatinya terasa sesak, tapi ia tetap membisu.Mereka terus berjala
Sudah beberapa hari lamanya Xavier terus mengikuti Divya ke mana-mana meskipun wanita itu mengabaikannya. Hari ini Divya lembur di kantornya, belum makan malam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan yang Xavier bawakan untuknya. Usaha Xavier untuk mendapatkan maaf dari wanita itu belum membuahkan hasil meskipun Xavier tidak akan menyerah.”Princess, kamu belum makan malam, makanlah.”Divya tidak menjawab, hanya terus menatap layar laptop dan sibuk bekerja. Divya bersikap seolah-olah keberadaan Xavier tidak pernah ada.Xavier menghela napas pelan, duduk di sofa dengan tatapan lekat pada wanita yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Kopi dan makan malam yang dia bawa masih tergeletak di meja, tak tersentuh. Tapi Xavier tahu lebih baik dari siapa pun—Divya tidak sekuat itu meskipun Divya berusaha berakting bahwa wanita itu tidak terpengaruh dengan keberadaan Xavier. Dia melihat bagaimana bahu wanita itu menegang saat pertama kali menyadari kehadiran malam ini, bagaimana
Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pak
”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimk
Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa ba
”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap me







