Share

BAB 3

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-28 23:08:15

“Pengawal kamu bakal datang pagi ini.”

Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya.

”Siapa?”

”Kamu tahu dia.”

”Namanya?”

”Tunggu saja dia datang.”

”Mas nggak mau kasih tahu namanya?”

”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi dulu.”

”Mas!”

Tapi Jagar sudah masuk ke mobilnya yang dikendarai oleh Wira. Divya menghela napas, masih mengenakan kaos rumahan dan belum berganti pakaian untuk pergi bekerja. Niatnya ingin kembali masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba semua mobil sport memasuki halaman rumahnya yang luas. Divya memicing. Siapa yang datang? Ia tidak mengenali mobil ini sama sekali. Apa salah satu keluarganya? Kalau memang salah satu keluarganya, mengapa sekuriti membiarkannya masuk tanpa memberitahu Divya lebih dulu?

Mobil itu berhenti tepat di depan teras. Mobil sport keluaran terbaru yang harganya cukup fantastis. Divya memicing dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang datang berkunjung ke rumahnya sepagi ini?

Pintu mobil terbuka, sepatu hitam mengkilat menginjak tanah. Sedetik kemudian, pria dengan setelan rapi keluar dari mobil dan Divya ternganga saat pria itu berbalik menatapnya—oh tidak! Di antara banyak pria di dunia ini, mengapa harus pria yang dibencinya?!

Pengawal barunya sangat tampan, diberkati dengan wajah rupawan yang bisa membuat wanita memohon untuk disentuh olehnya, rambut hitamnya disisir dengan rapi, wajahnya tegas dengan mata berwarna abu-abu. Pria itu bergerak dan menghampiri Divya. Seketika Divya memicing tajam. Rasa benci menggebu-gebu memenuhi dadanya.

”Selamat pagi, Princess,” sapaan itu dibayangi oleh ejekan. Pria itu memanggilnya dengan ejekan yang selalu berhasil membuat Divya semakin marah.

Divya mendongak, perbedaan tinggi mereka cukup signifikan ditambah dengan Divya masih memakai sandal berbulu merah yang tipis di kakinya yang mungil membuat Divya merasa begitu pendek. Divya menatap pria itu penuh kebencian, tidak peduli setampan apa pun pria ini, bagi Divya, Xavier Frederick adalah iblis.

“Halo, Brengsek,” balas Divya tajam. “Entah apa yang dipikirkan kakakku hingga menjadikan kamu sebagai pengawalku.”

Xavier sedikit membungkuk dengan senyum mengejek. “Aku juga berpikiran sama. Tidak menyangka untuk pertama kalinya kita sepakat atas sesuatu. Apa yang dipikirkan suami sepupuku itu hingga memilih aku sebagai pengawalmu? Jika bukan karena dia atasanku, aku tidak akan sudi menerimanya.”

”Oh, kamu pikir aku sudi?” Divya memicing, “percayalah, Frederick, aku lebih suka bunuh diri daripada harus bersamamu selama satu tahun.”

”Silakan.” Xavier bersandar santai di ambang pintu. “Lakukan apa pun keinginanmu. Aku tidak akan mencegahnya.”

Divya menggigit lidah agar makian tidak terlontar. Wanita itu berusaha menghela napas dalam-dalam. Bersikap tenang. Divya mengingatkan diri sendiri bahwa percuma mengajak pria ini bertengkar sepagi ini, itu akan merusak seluruh moodnya sepanjang hari.

”Enyahlah ke neraka.” Divya berbalik dan berjalan menuju lantai dua.

Suara siulan terdengar dari belakang, Divya berbalik dengan tatapan sengit sementara Xavier tersenyum geli pada sandal berbulu merah di kaki Divya.

”Apa semua benda kesukaanmu berwarna merah, Princess?”

Divya berbalik, memicing tajam. “Apa maksudmu, Frederick?”

”Tidak hanya lingerie, sandalmu juga berwarna merah. Aku penasaran apa—“ mata itu dengan kurang ajar menatap tubuh Divya yang dibalut kaos kebesaran dan celana pendek—“pakaian di balik kaos itu juga berwarna merah?”

”What the f—“ Divya mengatupkan mulutnya.

Jarang sekali ia bicara kotor karena ia terbiasa menjaga ucapan selama ini, tetapi pria di depannya selalu berhasil membuat Divya ingin mengumpat lebih banyak dari yang pernah dilakukannya seumur hidup. Andai Eyang tahu bahwa Divya meneriakkan makian-makian kotor di kepalanya saat ini, Eyang akan menghukumnya dengan mengurungnya di kamar gelap. Divya lagi-lagi menarik napas, menjaga ketenangannya. Mahesa selalu tenang. Mahesa selalu bisa mengendalikan situasi. Kata-kata itu seperti mantra yang sudah mengakar kuat dalam benaknya. Kata-kata dari Eyang yang bahkan di dalam tidur pun tidak pernah mengizinkan Divya untuk lepas.

Divya berbalik tanpa kata-kata dengan wajah yang tenang, wanita itu menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah yang anggun bak putri kerajaan yang sudah diajarkan tata krama bahkan sejak baru menghirup udara di dunia.

Xavier yang bersandar di pintu memicing, dirinya tahu bahwa semua Mahesa seolah memiliki ketenangan luar biasa. Mahesa paling tua bahkan bisa membunuh dengan begitu tenang. Mahesa kedua bahkan lebih parah, mencincang manusia dengan wajah yang begitu tenang seolah-olah hanya sedang mencincang sayuran, dan Mahesa ketiga—satu-satunya perempuan—juga memiliki ketenangan yang tidak biasa, sedetik Divya ingin meledak, tapi sedetik kemudian wanita itu menguasai dirinya. Hanya Mahesa yang bungsu yang sedikit lebih ekspresif.

“Selamat pagi, Tuan.”

Xavier menoleh, menemukan seorang pria yang usianya mungkin sudah lebih dari empat puluh tahun, membungkuk kepadanya.

”Saya Hasan, kepala pengawal di rumah ini.”

”Xavier Frederick. Dan tidak perlu membungkuk padaku.”

”Tuan Jagar sudah mengatakan bahwa Anda adalah pengawal Nona Divya mulai hari ini. Anda juga sepupu dari Nyonya Killa. Jadi saya tidak boleh untuk tidak membungkuk.”

Xavier menghela napas, menyadari bahwa di keluarga Mahesa, hirarki terlihat jelas, tidak sesantai keluarganya. Mahesa menjunjung tahta begitu tinggi sementara bagi Zahid semua anggota keluarga itu sama. Perbedaan yang mencolok antara Zahid dan Mahesa.

”Lakukan apa pun yang kamu mau, Hasan. Aku mau berkeliling.”

”Silakan, saya akan menemani—“

”Tidak perlu, aku tahu harus mengambil arah yang mana. Ingatkan pada nonamu untuk segera bersiap-siap ke kantor.”

”Baik, Tuan.”

Xavier berjalan menuju ke bagian kiri rumah, sewaktu ia datang diam-diam dan memasang CCTV di seluruh rumah, Xavier tidak terlalu memperhatikan bagian luar karena dia fokus pada bagian dalam rumah, kini Xavier berkeliling untuk mengamati halaman samping dan halaman belakang rumah. Dia berdiri di dekat kolam renang dan mengamati tembok tinggi di bagian belakang.

Sementara itu Divya sedang sibuk berdandan di dalam kamar, dia melangkah untuk mengambil ponsel di nakas, namun langkahnya terhenti saat melihat siapa yang sedang memanjat tembok belakang rumahnya. Matanya terbelalak, untuk apa pria itu memanjat temboknya yang setinggi lima meter? Namun Divya menyadari gerakan Xavier begitu luwes seperti seekor kucing yang memanjat pohon. Pria itu memanjat dengan mudah, berjalan di atas tembok yang tebalnya hanya beberapa inci dengan begitu santai, kedua tangannya masuk ke celana dan pria itu sibuk mengamati bagian luar rumah. Setelah puas, Xavier melompat dalam satu gerakan.

Divya memutar bola mata. “Orang gila,” gumamnya sambil kembali menuju meja rias. Saat duduk wanita itu sadar telah mengamati Xavier selama sepuluh menit lamanya dari lantai dua rumahnya. Mengamati pria itu memanjat dan berkeliling tembok rumah. Divya berdecak dan mengoleskan lipstik ke bibirnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 76 - TAMAT

    Setelah satu malam menginap di vila pribadi Xavier, keduanya memutuskan untuk pergi ke Bali, menginap di vila keluarga pria itu. Divya sedang menikmati pantai yang indah saat Xavier memeluknya dari belakang.”Apa yang kamu pikirkan sekarang?””Kita,” Divya menoleh dan tersenyum, “aku memikirkan kita.” Dagu Xavier bertumpu di bahu wanita itu, mengecup bahu itu dengan lembut dan menarik tubuh Divya merapat ke dadanya. “Apa ini nyata, X?””Sangat nyata, Sayang.””Kita benar akan menikah?” Divya mengangkat tangan ke atas, menatap cincin berlian yang diselipkan Xavier di jarinya pada pagi hari dia terbangun di pelukan pria itu dengan perasaan yang luar biasa. Seolah luka yang menghimpit dadanya selama satu bulan belakangan menghilang begitu saja. Divya merasa tubuhnya begitu ringan seolah dia melayang.”Ya. Kita akan menikah.” Xavier meraih tangan itu dan menggenggamnya, membawanya ke mulut untuk dicium. “Kamu akan menjadi Nyonya Xavier Frederick.”Bahagia tidak p

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 75

    Divya tidak mau menunggu lagi, Xavier harus memasukinya sekarang atau dia akan mati. Tangan Xavier membelai payudaranya, mencubit putingnya yang menegang. Sementara vibrator masih mengguncang vagina Divya di bawah sana, Xavier mengangkangi Divya dan menyelipkan kejantanannya di antara payudara wanita itu, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.Divya tidak pernah membiarkan seorang pria melakukan ini padanya tapi—astaga, melihat kejantanan itu terselip di antara payudaranya, membuatnya semakin terangsang. Napasnya terengah-engah ketika Xavier menambah kecepatannya, bercinta dengan kedua payudara Divya lebih cepat hingga kepala kejantanan itu sesekali mengenai dagu Divya.”Sialan, Sayang, payudaramu begitu lembut,” erangnya. Xavier terus menggerakkan kejantanannya sampai sperma pria itu tumpah membasahi dada Divya.Divya hampir tidak dapat mengatur napasnya ketika orgasme membuatnya terbakar, belum cukup itu semua, Xavier mendorong kejantanannya yang masih mengeluarkan sp

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 74

    Jagar ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya, tanpa berkata-kata dia menyusul Kivandra menuju pintu keluar.Abhimanyu berdiri, menarik istrinya dengan lembut, kemudian menatap eyang, ayah dan ibunya. “Kalau ada dari kalian yang berani mengusik Divya, akan saya hancurkan kalian tanpa sisa. Saya diam karena Divya lah yang bersikeras ingin menerima perjodohan meskipun dia tidak menginginkannya. Sekarang dia sudah bebas. Jadi jangan pernah usik adik saya lagi atau saya akan dengan senang hati mengurus tiga pemakaman sekaligus untuk kalian.” Sambil memeluk pinggang istrinya, Abhimanyu membawa Sabhira meninggalkan rumah mewah yang terasa begitu dingin dan kelam. “Aku baru pertama kali ini melihat Kivandra mengamuk,” bisik Sabhira saat berjalan menuju mobil.”Dia berhak melakukannya. Dia sudah dewasa,” Abhimanyu tersenyum, melihat Kivandra menunggunya di mobil. Pria itu memegangi tangan istrinya yang masuk ke mobil lebih dulu dan dia masuk ke dalamnya. Satu mobil la

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 73

    Di rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”Well, menurutku—“‘Tidak ada yang meminta pendapat kamu, Kivandra. Jadi diam!” bentak sang ibu.Kivandra melotot. “Fuck!” makinya dengan lantang hingga para tetua menoleh dengan tatapan tajam, terlebih Arya Mahesa yang menggenggam erat tongkatnya seakan ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Kivandra, anak bungsu keluarga Mahesa itu melempar rotinya ke lantai. “Kalian semua idiot! Bodoh! Egois! Tidak tahu diri! Manusia biadab! Jahanam—“”KIVANDRA!””Apa?!” Untuk pertama kalinya Ki

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 72

    Divya terdiam sesaat, menatap Xavier yang kini berdiri di depannya tanpa alas kaki, tangannya memegang payung yang melindungi mereka berdua dari hujan. Sepatu hitam pria itu kini melindungi kakinya, meskipun terasa kebesaran dan sedikit sulit untuk berjalan. Ia menunduk, menatap sepatunya yang patah di tangan Xavier. Perasaan aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang ia coba tahan, sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi tapi ternyata rasa itu masih sama besarnya.Xavier hanya tersenyum kecil, seolah tidak peduli bahwa dirinya sekarang bertelanjang kaki di tengah jalan yang basah. “Ayo,” katanya ringan, melangkah lebih dulu dengan sepatu Divya masih tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang payung. Divya mengikutinya dalam diam, mencoba berjalan sebaik mungkin dengan sepatu yang kebesaran. Sesekali, Divya melirik ke bawah, melihat kaki telanjang pria itu melangkah di aspal yang basah. Hatinya terasa sesak, tapi ia tetap membisu.Mereka terus berjala

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 71

    Sudah beberapa hari lamanya Xavier terus mengikuti Divya ke mana-mana meskipun wanita itu mengabaikannya. Hari ini Divya lembur di kantornya, belum makan malam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan yang Xavier bawakan untuknya. Usaha Xavier untuk mendapatkan maaf dari wanita itu belum membuahkan hasil meskipun Xavier tidak akan menyerah.”Princess, kamu belum makan malam, makanlah.”Divya tidak menjawab, hanya terus menatap layar laptop dan sibuk bekerja. Divya bersikap seolah-olah keberadaan Xavier tidak pernah ada.Xavier menghela napas pelan, duduk di sofa dengan tatapan lekat pada wanita yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Kopi dan makan malam yang dia bawa masih tergeletak di meja, tak tersentuh. Tapi Xavier tahu lebih baik dari siapa pun—Divya tidak sekuat itu meskipun Divya berusaha berakting bahwa wanita itu tidak terpengaruh dengan keberadaan Xavier. Dia melihat bagaimana bahu wanita itu menegang saat pertama kali menyadari kehadiran malam ini, bagaimana

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 32

    Xavier mengeratkan pelukan, mereka masih berpelukan di bawah hujan sampai beberapa menit lamanya hingga Xavier sadar Divya mulai kedinginan.”Maaf jika aku terpaksa menginterupsi kebahagiaanmu, Princess, tapi kamu mulai menggigil dan sebaiknya kita segera masuk ke dalam.””Tunggu, lima me

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 21

    Dan entah kenapa, debar di dadanya terasa berbeda. Bukan debar panik atau ketakutan yang biasa ia rasakan. Bukan debar emosi karena ingin membalas perkataan Xavier dengan sinis. Tapi sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuatnya tidak ingin berpaling.Divya mengerjap, merasa asing dengan perasaan in

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 2

    Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 1

    Xavier mengangkat kedua lengannya, menangkis pukulan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang cepat dan mematikan. Tinju kanannya menghantam keras rahang pria di depannya, membuat tubuh lawannya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di matras. Nafas Xavier sedikit memburu, tapi matanya tet

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status