Partager

BAB 4

Auteur: Pipit Chie
last update Date de publication: 2026-05-28 23:09:16

”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap menatap Divya yang sedang sarapan.

”Untuk apa? Tembok itu setinggi lima meter.”

”Harusnya tembok itu setidaknya setinggi sepuluh meter. Kalau tidak mau menambah tinggi tembok, pasang kawat pelindung.”

”Tidak ada yang akan memanjat tembok setinggi lima meter—“ ucapan Divya terhenti karena Xavier tertawa.

”Tidak ada. Apa kamu bodoh, Princess? Siapa pun bisa memanjatnya.”

”Tingginya lima meter, Frederick. Tidak ada yang mau repot-repot memanjatnya.”

Xavier menghela napas panjang, matanya menatap Divya yang kembali makan dengan tenang. Wanita itu memakai kemeja dengan warna putih dan rok pendek berwarna putih gading. Kaki mulusnya memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam. Model Christian Louboutin akan sangat iri pada kaki indah itu sekarang. Matanya menelusuri kaki indah itu sampai ke paha—Xavier menelan ludah dan mengumpat dalam hati saat menyadari kejantanannya mengeras. Bangsat! Belum satu jam dan Xavier sudah dibuat sekeras ini.

Pria itu berdehem dan berusaha mengalihkan pandangan, benaknya mulai menyanyikan lagu Five Little Monkeys yang sangat digemari keponakannya, biasanya hal itu berhasil menurunkan gairah yang menusuk-nusuk ubun-ubun. Sambil terus menyanyikan lagu anak-anak itu di benaknya, Xavier kembali menatap Divya.

”Aku bicara sebagai orang yang ahli dalam keamanan—“

”Seingatku, Hasan lah kepala keamanan di rumah ini.”

”Nona, Tuan Xavier tentu lebih mengerti tentang keamanan karena beliau seorang prajurit—“

“Aku tidak peduli dia prajurit atau tidak, dia cuma pengawal. Yang bertugas mengurus keamanan rumah ini adalah kamu, Hasan.”

Xavier mengepalkan tangan. Dan Hasan meliriknya dengan sungkan.

”Hasan sudah menjadi kepala keamanan rumahku selama dua tahun dan tidak terjadi apa pun di rumahku selama dia bertugas. Aku diculik tidak di rumah ini, tapi di jalan. Jadi tidak perlu mengatur-ngatur soal rumahku.”

“Apakah tunggu seseorang datang dan menodongkan senjata padamu baru kamu mematuhi ucapanku, Princess?”

”Mematuhi?” Divya menatap dengan tenang. “Kenapa aku harus mematuhimu, Frederick? Di sini aku yang bos dan kamu adalah pengawal. Bukankah harusnya kamu yang mematuhi perintahku?”

Xavier mendengus. “Aku tidak sudi memutuhi perintah siapa pun,” ucapnya sinis, kecuali itu perintah resmi dari atasannya.

“Mas Jagar meminta kamu menjadi pengawal—“

”Menjadi pengawal tidak lantas membuat aku harus tunduk padamu, Princess.” Xavier mendekat, menunduk kepada Divya yang mendongak dengan begitu tenang, matanya menatap datar pada Xavier yang memandang tajam. “Aku pengawal, bukan bawahanmu.”

“Kamu terlalu dekat,” ucapnya dengan suara datar. “Meskipun kamu pengawal, tapi kamu bekerja untuk aku.”

”Aku tidak bekerja untukmu,” Xavier mendengus. “Aku bekerja untuk kakakmu.”

”Meskipun begitu, aku lah klien kamu saat ini.”

Xavier memicing. Mengapa wanita ini begitu tenang? Bukan ketenangan biasa, namun sebuah ketenangan yang mengusik Xavier, seolah-olah di balik ketenangan itu, ada sebuah teriakan yang memohon pertolongan namun tertahan oleh sebuah tembok tinggi yang tingginya bukan hanya lima meter, namun sangat tinggi sampai Xavier tidak bisa melihat dan mengintip ke dalamnya.

”Tuan Frederick, mundurlah. Aku masih ingin makan,” ujarnya lagi.

Xavier menatap kedua mata Divya, mencari-cari sesuatu yang bisa ia temukan. Tidak ada yang bisa dilihatnya kecuali ketenangan—dan sedikit kebencian yang tampak jelas. Matanya menatap bibir lembap yang hari ini diwarnai oleh lipstik berwarna nude. Bibir itu tampak basah, lembap dan kenyal, begitu mengundang untuk dicium dan dilumat habis-habisan. Xavier ingin menghilangkan lipstik di bibir itu menggunakan bibir dan lidahnya, akan membuat bibir itu bengkak dan Xavier akan terus mengisap bibir bawah itu sampai wanita ini mengerang dan meminta lebih.

“Aku … Xavier Frederick, menerima misiku yaitu menjaga Divya Mahesa dengan nyawaku, tidak akan menyentuhnya kecuali untuk melindunginya, tidak akan terlibat hubungan pribadi apa pun dengan klienku. Aku bersumpah dengan nyawaku.”

Kata-kata itu bagai seember air dingin yang menyiram kepalanya. Kini Divya terlarang, Xavier tidak bisa menciumnya dengan paksa seperti yang selama ini dilakukannya. Xavier sudah bersumpah pada atasannya bahwa ia tidak akan menyentuh Divya kecuali untuk keselamatan wanita itu.

Mundurlah! Perintah dalam benaknya menggema.

”Habiskan makananmu dalam sepuluh menit. Kita akan berangkat ke kantor.” Xavier memundurkan tubuhnya dan pergi dari ruang makan, pria itu mengumpat dalam hati, kejantanannya malah semakin mengeras saat mencium aroma parfum Divya yang begitu memabukkan. Aromanya seperti taman bunga, segar, terasa lembut namun juga sensual. Xavier ingin membuka paksa pakaian wanita itu dan menjilat kulit Divya yang indah, ingin tahu apakah rasa kulit itu akan seenak aromanya.

Brengsek!

Xavier berdiri di samping mobilnya, nyaris menendang mobil itu dengan kakinya. Pria itu berusaha menenangkan dirinya sendiri yang merasa gerah. Berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Divya Mahesa tidak pernah membuatnya tidak gerah. Celananya terasa sesak. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan jejak aroma parfum segar itu dari penciumannya. Pria itu menarik napas berkali-kali sampai panas di kepalanya tidak lagi terlalu mendidih seperti tadi.

Suara langkah kaki mendekat, bahkan suara langkahnya saja terdengar tenang dan anggun. Xavier menoleh, Divya berdiri di teras rumah. Pria itu membukakan pintu mobilnya.

”Masuk.”

Divya memicing. “Ke mana perginya mobilku?”

”Masuk ke mobilku sekarang kalau kamu tidak mau terlambat.”

”Aku mau pakai mobilku sendiri.” Divya melangkah menuju bagian samping rumah yang mengarah pada carport.

”Masuk.” Xavier menahan tangannya.

”Aku tidak mau masuk ke mobilmu.”

”Mobil ini aman, aku bisa mengantarkan kamu ke mana pun dengan mobil ini. Masuk.”

”Aku tidak mau.” Divya menatapnya keras kepala.

Xavier memicing, mendekat dan nyaris menghimpit Divya di badan mobil. Kepalanya menunduk untuk menatap lekat wanita itu. Lagi-lagi aroma parfum itu mengacaukan ketenangannya. Kejantanannya semakin keras dan berdenyut, bahkan rasanya sudah begitu sakit sampai ke seluruh tubuh. Tetapi Xavier tetap berusaha fokus pada wanita keras kepala yang menatapnya dengan tatapan berani.

”Masuk, Princess. Atau aku akan memaksa kamu masuk. Bahkan jika harus memotong-motong tubuhmu agar masuk ke dalam mobil itu, aku akan melakukannya. Cobalah tantang aku.” Suaranya rendah dan mengancam.

Untuk sesaat Xavier bisa melihat ketenangan itu terganggu, Divya mengerjap beberapa kali, mengeraskan pandangan lalu masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa-apa.

Xavier menghela napas, ia menelan ludah sesaat sebelum menutup pintu mobil dan berjalan mengitarinya menuju kursi pengemudi. Saat Xavier masuk dan duduk, ia membeku sejenak. Kabin mobil yang sempit kini beraroma bunga, Xavier tidak akan bisa bernapas tanpa menghirup aroma parfum Divya dan itu lagi-lagi membuatnya ingin menjilati seluruh kulit itu untuk merasakan manisnya aroma itu di lidahnya. Xavier mengumpat tertahan. Perjalanan menuju kantor Divya akan menjadi perjalanan paling panjang dan paling menyiksa seumur hidupnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 7

    Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pakaian Divya malam ini. Gaun pendek berwarna hitam yang panjangnya hanya menutupi separuh paha dan bagian atasnya begitu terbuka. Hanya ditahan oleh segaris tali kecil dan jika tali itu meluncur ke bawah, akan membuat separuh dada wanita itu terlihat.Xavier berdecak, di mana Divya menemukan pakaian keparat itu? Terlebih si rambut coklat terus menatap ke dada yang membusung di depannya. Xavier yakin pria itu meneteskan air liur atau bahkan sudah menjulurkan lidah layaknya anjing saat menatap dada indah di depannya.Xavier tahu isi otak pria itu—mungkin sama kotornya dengan isi otak Xavier sekarang—pria itu pasti sudah tidak sabar membawa Divya ke ranjangnya. Membayangkan pria itu menindih Divy

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 6

    ”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimkan emosi masing-masing melalui tatapan mata. Xavier yang lebih dulu menarik wajah dan menghela napas panjang.”Jawab saja, akan pergi ke mana?””Tidak mau.””Baiklah, tutup saja mulutmu itu tapi yang pasti aku akan terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi.” Xavier kembali menjalankan kendaraan menuju kantor Divya. Mobil berhenti di basement. Pria itu turun dan membukakan pintu untuk Divya. Mobil Xavier hanya dua pintu, jadi otomatis Divya akan duduk di sampingnya. Jika mobil itu memiliki empat pintu, Divya akan memilih duduk di belakang pria itu daripada di sampingnya. Divya melangkah menuju lift dengan Xavier di sampingnya. Wanita itu cemberut, masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut. Xav

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 5

    Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa bahwa mungkin dia akan mati dalam perjalanan ini karena sering kali menahan napas terlalu lama. Matanya yang tidak bisa diatur tanpa permisi melirik paha Divya yang mulus. Kaki itu saling bertumpu, cara Divya duduk membuat roknya naik semakin tinggi dan separuh paha wanita itu terpampang sempurna untuk dilihat, disentuh dan dijilat. Oh. fuck! Apakah rok wanita itu tidak terlalu pendek? Xavier berdehem, rasa gelisah terus membuat lehernya semakin tercekik dan pria itu melonggarkan dasinya, dia mencoba menarik napas namun cepat-cepat menahannya. Suhu di dalam mobil cukup dingin tapi Xaver merasa dirinya seperti dipanggang di dalam oven. Diam-diam keringat mengalir di punggungnya. Berhenti

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 4

    ”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap menatap Divya yang sedang sarapan. ”Untuk apa? Tembok itu setinggi lima meter.” ”Harusnya tembok itu setidaknya setinggi sepuluh meter. Kalau tidak mau menambah tinggi tembok, pasang kawat pelindung.” ”Tidak ada yang akan memanjat tembok setinggi lima meter—“ ucapan Divya terhenti karena Xavier tertawa. ”Tidak ada. Apa kamu bodoh, Princess? Siapa pun bisa memanjatnya.” ”Tingginya lima meter, Frederick. Tidak ada yang mau repot-repot memanjatnya.” Xavier menghela napas panjang, matanya menatap Divya yang kembali makan dengan tenang. Wanita itu memakai kemeja dengan warna putih dan rok pendek berwarna putih gading. Kaki mulusnya memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam. Model Christi

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 3

    “Pengawal kamu bakal datang pagi ini.” Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya. ”Siapa?” ”Kamu tahu dia.” ”Namanya?” ”Tunggu saja dia datang.” ”Mas nggak mau kasih tahu namanya?” ”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi dulu.” ”Mas!” Tapi Jagar sudah masuk ke mobilnya yang dikendarai oleh Wira. Divya menghela napas, masih mengenakan kaos rumahan dan belum berganti pakaian untuk pergi bekerja. Niatnya ingin kembali masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba semua mobil sport memasuki halaman rumahnya yang luas. Divya memicing. Siapa yang datang? Ia tidak mengenali mobil ini sama sekali. Apa salah satu keluarganya? Kalau memang salah satu keluarganya, mengapa sekuriti membiarkannya masuk tanpa memberitahu Divya lebih dulu? Mobil itu berhenti tepat di depan teras. Mobil sport keluaran terbaru yang harganya cukup fantastis. Divya memicing dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang datang berkunjung ke rumahnya s

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 2

    Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya jatuh kepada Jack Daniel’s, mengambil sebuah gelas yang sudah diisi bongkahan es oleh Rainer. “Aku menunggu Aksa dan Danish.” Pria itu berjalan ke sofa yang ada di balkon dan duduk di sana. Helaan napasnya terdengar berat. ”X!” Xavier menoleh dan tersenyum lebar, pria itu berdiri dan membiarkan Eve melompat ke dalam pelukannya. “Hai, Baby,” sapa Xavier sambil mengecup sisi kepala Eve. “Oh, God. I miss you so damn much.” ”I miss you too, Ironman.” ”Stay away from my wife.” Sebuah suara terdengar di belakang tubuh Eve. Bukannya melepaskan pelukannya, Xavier malah memeluk Eve semakin erat, mengangkatnya dari lantai dan wanita di pelukannya hanya tertawa. Saat Aksa mengangkat tangan dan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status