Se connecterXavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar.
”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya jatuh kepada Jack Daniel’s, mengambil sebuah gelas yang sudah diisi bongkahan es oleh Rainer. “Aku menunggu Aksa dan Danish.” Pria itu berjalan ke sofa yang ada di balkon dan duduk di sana. Helaan napasnya terdengar berat. ”X!” Xavier menoleh dan tersenyum lebar, pria itu berdiri dan membiarkan Eve melompat ke dalam pelukannya. “Hai, Baby,” sapa Xavier sambil mengecup sisi kepala Eve. “Oh, God. I miss you so damn much.” ”I miss you too, Ironman.” ”Stay away from my wife.” Sebuah suara terdengar di belakang tubuh Eve. Bukannya melepaskan pelukannya, Xavier malah memeluk Eve semakin erat, mengangkatnya dari lantai dan wanita di pelukannya hanya tertawa. Saat Aksa mengangkat tangan dan hendak meninju wajah Xavier, barulah pria itu melepaskan Eve yang lagi-lagi tertawa manja sambil memeluk lengan suaminya. Xavier duduk dan Eve duduk di antara Xavier dan Aksa. “Kamu kenapa? Tiba-tiba ngajak ketemu,” Eve menerima jus jeruk yang diantarkan pelayan bar. “Lagi ada masalah, X?” Xavier tidak tahu apakah ini sebuah masalah atau tidak. Tapi sepertinya ini memang sebuah masalah. Belum sempat Xavier menjawab, Danish dan Tania datang. ”Hai, Baby,” sapa Xavier sambil mengedipkan matanya pada Tania. “You look gorgeous.” Tania tertawa pelan, duduk di sofa di seberang tiga orang yang sudah lebih dulu datang. ”Kamu kenapa?” Tania bertanya tentang hal yang sama. “Aku sama Danish tadinya mau N*****x and Chill tapi kamu telepon Danish dan minta ketemu.” ”Sedang bosan,” jawab Xavier minum alkoholnya. “Bosan?” Danish tertawa mengejek. “Tumben.” ”Aku yakin X nggak lagi bosan,” Eve menimpali. “Kalau X bosan biasanya dia sekarang udah di kamar hotel sama perempuan. Tapi ini malah ngajakin ketemu.” “What's going on?” tanya Aksa. Lagi-lagi Xavier menghela napasnya. “Aku diberi misi untuk menjadi pengawal Divya Mahesa.” ”Mahesa?” Eve mengernyit. “Dari keluarga suaminya Mbak Killa?” ”Adiknya Jagardana Mahesa,” jawab Xavier. ”Tunggu, Divya Mahesa?” Tania mengernyit. “Bukannya dia perempuan yang Xavier cium karena taruhan tahun lalu?” ”Oh. My. God!” Eve menutup mulutnya dengan tangan. “Yang nampar kamu itu kan, X?” ”Iya, Babe.” Aksa memutar bola mata karena panggilan Xavier kepada Eve. Mereka sudah sering saling menghajar satu sama lain karena panggilan itu tapi sayangnya Xavier tidak juga jera dan masih suka memanggil Eve maupun Tania dengan panggilan Baby. “Dan kamu jadi pengawal dia? Waaah, selamat.” ”Selamat?” Xavier memicing pada Eve yang tertawa keras. ”Selamat karena kamu akan bertemu dengan perempuan satu-satunya yang pernah nampar kamu. Sudah aku bilang, harusnya kamu tobat dan bukannya malah taruhan waktu mabuk dan cium perempuan asing.” Xavier lagi-lagi menghela napas. Sebenarnya Divya bukan perempuan asing, Xavier malah sudah sering mengamatinya sejak dulu. Tapi sialnya dua bulan belakangan, wanita itu terus menerus mengusik benaknya. Hadir di setiap mimpi-mimpi bejatnya sejak— “Jadi yang kamu galaukan itu apa, X?” Tania bertanya. Xavier juga bingung bagaimana menjawabnya. Pria itu hanya mengangkat bahu dan minum, memilih bungkam. Menyadari keengganan Xavier menjawab, Eve memilih untuk mengubah topik pembicaraan dan seketika pembahasan tentang Divya Mahesa terlupakan. Tepat tengah malam, dua pasangan suami istri itu pulang. Tinggal Xavier sendirian di balkon—meskipun ada banyak pengunjung lain yang sedang menikmati alkohol mereka. Xavier memilih untuk ikut meninggalkan Litera untuk kembali ke apartemen pribadinya. Pria itu menaruh kunci motor ke atas meja, membuka jaket lalu menarik kursi dan duduk di depan beberapa layar komputer. Xavier menyalakannya. Ia menunggu dan seketika senyumnya melebar. Malam ini … lingerie mana yang wanita itu pakai? Di layarnya, Divya Mahesa sedang sibuk mengoleskan sesuatu ke wajah, wanita itu mengenakan lingerie seksi berwarna merah—salah satu dari puluhan koleksinya—setelah selesai dengan wajahnya, Divya berjalan menuju ranjang dan berbaring. Mematikan lampu utama. Layar berubah warna tapi meskipun kamar tu gelap, apa yang Divya lakukan terlihat jelas di layar komputer Xavier. Sejak pernikahan Jagar dan Killa tahun lalu, Xavier mulai menjadi penguntit Divya Mahesa, diam-diam memasuki rumah pribadi wanita itu untuk memasang CCTV di segala penjuru rumah. Dan kini, Xavier mengetahui setiap aktivitas Divya di rumahnya tanpa wanita itu tahu bahwa dirinya sedang diawasi. ”Fuck!” Xavier mengumpat saat kejantanannya lagi-lagi mengeras. Pria itu menengadah, memejamkan mata dan membiarkan fantasi liarnya yang bicara. Xavier berdiri di belakang tubuh Divya, membungkukkan wanita itu ke meja sementara kejantanan Xavier yang keras memasuki vagina Divya, wanita itu menjerit, menungging untuknya, mendesah dengan suaranya yang seksi. Xavier menampar bokongnya, menghunjamkan kejantanannya lebih kuat dengan membuka kaki Divya lebih lebar. Vagina kecil itu menerima dirinya yang memaksa masuk, semakin kuat … semakin keras …. Xavier mengerang, kocokannya di kejantanannya semakin cepat, matanya terpejam rapat dan napasnya terengah-engah, Xavier mengumpat tertahan saat spermanya menyembur keluar, membasahi tangan dan celananya. Saat Xavier membuka mata, dia akhirnya sadar bahwa hidupnya sebentar lagi tidak akan berbeda dari neraka. Xavier harus mengawasi wanita yang menjadi objek seksualnya yang liar tanpa boleh disentuh, tanpa boleh melibatkan perasaan pribadi. Mengapa dirinya kesal diberi misi ini? Karena misi ini akan membuat Xavier tidak akan bisa menyentuh Divya seperti yang dilakukannya dulu. Xavier mungkin pemberontak, tapi dia menghormati sumpah prajuritnya lebih dari apa pun. Ketika dia bersumpah tidak akan menyentuh Divya, maka Xavier akan mematuhi sumpahnya. Selama satu tahun akan hidup berdampingan dengan Divya tapi tidak boleh menyentuh wanita itu. Bukankah itu tidak lebih baik dari neraka? Jika tidak terikat sumpah ini, Xavier akan bisa memaksa, mencium, bahkan bisa saja menyetubuhi wanita itu sesuka hatinya. Tapi terikat dengan sesuatu yang dia hargai dengan nyawa, Xavier tidak pernah merasa harus hidup semenderita ini.Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pakaian Divya malam ini. Gaun pendek berwarna hitam yang panjangnya hanya menutupi separuh paha dan bagian atasnya begitu terbuka. Hanya ditahan oleh segaris tali kecil dan jika tali itu meluncur ke bawah, akan membuat separuh dada wanita itu terlihat.Xavier berdecak, di mana Divya menemukan pakaian keparat itu? Terlebih si rambut coklat terus menatap ke dada yang membusung di depannya. Xavier yakin pria itu meneteskan air liur atau bahkan sudah menjulurkan lidah layaknya anjing saat menatap dada indah di depannya.Xavier tahu isi otak pria itu—mungkin sama kotornya dengan isi otak Xavier sekarang—pria itu pasti sudah tidak sabar membawa Divya ke ranjangnya. Membayangkan pria itu menindih Divy
”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimkan emosi masing-masing melalui tatapan mata. Xavier yang lebih dulu menarik wajah dan menghela napas panjang.”Jawab saja, akan pergi ke mana?””Tidak mau.””Baiklah, tutup saja mulutmu itu tapi yang pasti aku akan terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi.” Xavier kembali menjalankan kendaraan menuju kantor Divya. Mobil berhenti di basement. Pria itu turun dan membukakan pintu untuk Divya. Mobil Xavier hanya dua pintu, jadi otomatis Divya akan duduk di sampingnya. Jika mobil itu memiliki empat pintu, Divya akan memilih duduk di belakang pria itu daripada di sampingnya. Divya melangkah menuju lift dengan Xavier di sampingnya. Wanita itu cemberut, masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut. Xav
Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa bahwa mungkin dia akan mati dalam perjalanan ini karena sering kali menahan napas terlalu lama. Matanya yang tidak bisa diatur tanpa permisi melirik paha Divya yang mulus. Kaki itu saling bertumpu, cara Divya duduk membuat roknya naik semakin tinggi dan separuh paha wanita itu terpampang sempurna untuk dilihat, disentuh dan dijilat. Oh. fuck! Apakah rok wanita itu tidak terlalu pendek? Xavier berdehem, rasa gelisah terus membuat lehernya semakin tercekik dan pria itu melonggarkan dasinya, dia mencoba menarik napas namun cepat-cepat menahannya. Suhu di dalam mobil cukup dingin tapi Xaver merasa dirinya seperti dipanggang di dalam oven. Diam-diam keringat mengalir di punggungnya. Berhenti
”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap menatap Divya yang sedang sarapan. ”Untuk apa? Tembok itu setinggi lima meter.” ”Harusnya tembok itu setidaknya setinggi sepuluh meter. Kalau tidak mau menambah tinggi tembok, pasang kawat pelindung.” ”Tidak ada yang akan memanjat tembok setinggi lima meter—“ ucapan Divya terhenti karena Xavier tertawa. ”Tidak ada. Apa kamu bodoh, Princess? Siapa pun bisa memanjatnya.” ”Tingginya lima meter, Frederick. Tidak ada yang mau repot-repot memanjatnya.” Xavier menghela napas panjang, matanya menatap Divya yang kembali makan dengan tenang. Wanita itu memakai kemeja dengan warna putih dan rok pendek berwarna putih gading. Kaki mulusnya memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam. Model Christi
“Pengawal kamu bakal datang pagi ini.” Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya. ”Siapa?” ”Kamu tahu dia.” ”Namanya?” ”Tunggu saja dia datang.” ”Mas nggak mau kasih tahu namanya?” ”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi dulu.” ”Mas!” Tapi Jagar sudah masuk ke mobilnya yang dikendarai oleh Wira. Divya menghela napas, masih mengenakan kaos rumahan dan belum berganti pakaian untuk pergi bekerja. Niatnya ingin kembali masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba semua mobil sport memasuki halaman rumahnya yang luas. Divya memicing. Siapa yang datang? Ia tidak mengenali mobil ini sama sekali. Apa salah satu keluarganya? Kalau memang salah satu keluarganya, mengapa sekuriti membiarkannya masuk tanpa memberitahu Divya lebih dulu? Mobil itu berhenti tepat di depan teras. Mobil sport keluaran terbaru yang harganya cukup fantastis. Divya memicing dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang datang berkunjung ke rumahnya s
Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya jatuh kepada Jack Daniel’s, mengambil sebuah gelas yang sudah diisi bongkahan es oleh Rainer. “Aku menunggu Aksa dan Danish.” Pria itu berjalan ke sofa yang ada di balkon dan duduk di sana. Helaan napasnya terdengar berat. ”X!” Xavier menoleh dan tersenyum lebar, pria itu berdiri dan membiarkan Eve melompat ke dalam pelukannya. “Hai, Baby,” sapa Xavier sambil mengecup sisi kepala Eve. “Oh, God. I miss you so damn much.” ”I miss you too, Ironman.” ”Stay away from my wife.” Sebuah suara terdengar di belakang tubuh Eve. Bukannya melepaskan pelukannya, Xavier malah memeluk Eve semakin erat, mengangkatnya dari lantai dan wanita di pelukannya hanya tertawa. Saat Aksa mengangkat tangan dan







