LOGINXavier mengeratkan pelukan, mereka masih berpelukan di bawah hujan sampai beberapa menit lamanya hingga Xavier sadar Divya mulai kedinginan.
”Maaf jika aku terpaksa menginterupsi kebahagiaanmu, Princess, tapi kamu mulai menggigil dan sebaiknya kita segera masuk ke dalam.””Tunggu, lima menit lagi,” Divya mengeratkan pelukan. “Beri waktu lima menit lagi. Aku masih mau di sini.”Divya ingin merasa bahagia lebih lama, meskipun pada akhirnya kegembiraan ini akan memudar, Divya inginXavier meraih ponselnya lagi dan menekan nomor lain. Sekretaris Divya menjawab dengan cepat.“Pak Xavier?”“Di mana Divya?” “Bu Divya belum kembali ke kantor sejak satu jam lalu, Pak,” suara wanita di ujung telepon terdengar ragu. “Tadi Bu Divya bilang mau membeli kopi di luar, tapi setelah itu tidak ada kabar—”Xavier tidak mendengar lanjutannya. Jantungnya mulai berdetak cepat, tangannya menggenggam ponsel lebih erat. Ia segera mengakses sistem pelacak yang terhubung ke ponsel Divya, matanya terpaku pada titik merah di layar.Kafe langganannya. Xavier menyipitkan mata. Tidak mungkin Divya menghabiskan waktu selama itu di sana. Tanpa berpikir panjang, pria itu bangkit dari kursinya, mengambil kunci mobilnya, dan melangkah keluar dengan langkah cepat dan terburu-buru. Langkahnya panjang dan cepat saat keluar dari gedung kantornya.Divya belum kembali ke kantor, ponselnya tidak diangkat, dan pelacakan terakhirnya menunjukkan bahwa dia masih di kafe.Pasti
”Aku akan menjemputmu seperti biasa.”Divya mengangguk, mencium bibir Xavier dalam-dalam sebelum keluar dari mobil untuk masuk ke lobi kantor Mahesa. Ia bekerja seperti biasa, dan siangnya ketika membutuhkan kopi, Divya menuju lobi utama. Antrian terlalu panjang, dan rasa kopi di sana tidak terlalu sesuai dengan seleranya. Maka Divya memutuskan untuk menuju kafe pelanggannya yang tidak terlalu jauh dari kantornya.Semuanya baik-baik saja, Divya sudah memesan dan tiba-tiba ingin ke toilet, maka wanita itu menuju toilet. Namun ketika keluar dari toilet, bencana itu terjadi. Divya tersentak saat keluar dari bilik toilet, ada seseorang memakai masker dan topi mendekat dan mengarahkan belati ke perutnya. Seketika Divya dilanda rasa takut dan napasnya tercekat.“Ke pintu samping,” ucap pria itu dengan nada kasar.”Siapa kamu?””Ikuti saja perintahku jika tidak mau mati.”Divya menahan napas, jantung Divya berdegup kencang, detaknya menggema di telinganya seperti genderang kematian. Tubuhny
”Mandikan aku,” suara Divya terdengar manja dengan tangan memeluk pinggang Xavier. “Lutut aku masih gemetar.”Xavier menarik rambut Divya ke bawah untuk membuat wanita itu mendongak kepadanya. Pria itu menunduk, melumat bibir Divya dalam-dalam lalu mulai memandikan wanita itu dengan lembut.“Besok malam ada pesta di rumah Eyang.”Xavier yang sedang mengeringkan rambut wanita itu bergumam pelan, “aku akan menemanimu ke sana.””Sejujurnya, aku tidak mau datang. Tapi kalau tidak datang, Eyang akan mengirim mobil untuk menjemputku ke sini.””Datang saja.””Pestanya membosankan. Aku benci di sana.””Datang sebentar lalu pulang.” Xavier mengecup bahu Divya lalu menggendong wanita itu keluar dari kamar mandi. Xavier menurunkan Divya di tepi ranjang, menyibak selimut dan menarik wanita itu untuk berbaring. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk berpakaian. Sejak tidur bersama ketika di New Zealand, Divya memutuskan untuk tidak lagi berpakaian ketika akan tidur. Percuma, toh Xavier
Napas Divya terengah-engah, mendengar ucapan pria itu dan berusaha keras untuk mencernanya, kenikmatan menghantam kuat, pria itu terus memasukinya dalam-dalam.”U—ulangi,” pinta Divya mencengkram bahu Xavier ketika pria itu terus menghunjam ke dalam tubuhnya.”Sayangnya tidak ada siaran ulang, Princess.” Xavier membuka kedua kaki itu lebih lebar dan mendorong tubuhnya.”Ah ….” Divya merintih, fokusnya buyar begitu saja. Xavier terus memasukinya sedalam yang pria itu bisa. Pinggul Divya terangkat, remasan pria itu di bokongnya terasa hampir menyakitkan, hunjaman-hunjamannya kesar dan cepat, tidak memberi Divya kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lagi. Saat bibir pria itu mengulum putingnya, Divya mengerang keras, memeluk leher Xavier dan menjeritkan nama pria itu begitu pelepasan meledak dalam tubuhnya.Xavier menggeram dan terus memasuki tubuh Divya sampai pria itu bergetar dan mendapatkan pelepasannya. Deru napas Divya yang terengah-engah memenuhi ruangan, wanita itu menatap Xavi
”Tolong hargai aku dan Zelie yang tidak punya pasangan.” Ivander melotot galak. ”Aku tidak perlu dikasihani, kasihani saja dia,” tunjuk Zelena pada adiknya. “Baiklah, lanjutkan saja permainan dan biarkan pasangan suami itu berciuman.” Ivander memutar botol. Sialnya botol mengarah kepada Xavier. ”Dare,” pria itu berujar pelan. Ivander tersenyum lebar. Kemudian pria itu mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video. ”Apa-apaan!” Xavier berteriak dan hendak merebut ponsel Ivander tapi pria itu menjauhkannya sambil tertawa lebar. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Divya dan terbahak-bahak melihatnya. Video Xavier sewaktu masih kecil, menari di depan TV sambil bernyanyi hanya dengan memakai popok. “Dari mana kamu dapatkan video itu?!” ”Dad punya seribu koleksi video kalian,” jawab Zelena. “Aku sudah menonton semuanya,” wanita itu ikut tertawa. “Video Xavier yang paling banyak. Kalau kamu ingin tahu aibnya, tanya saja pada Daddy, Daddy akan dengan hati menemanimu seharian meno
Makan malam kali ini begitu santai di restoran yang ada di tepi pantai. Suasananya tidak seformal makan malam sebelumnya. Divya mengenakan dress berwarna putih yang panjangnya semata kaki, sandal tanpa hak yang juga berwarna putih dan rambut yang dibiarkan terurai cantik. Saat keluar dari kamar, Xavier menatapnya dengan tersenyum.”Cantik,” puji pria itu memeluk pinggangnya.Semuanya berjalan di tepi pantai menuju restoran, Divya merasa senang sekali hari ini, memeluk lengan Xavier saat mereka berjalan. Rambutnya yang panjang dan tebal diterbangkan oleh angin.”Boleh aku mabuk lagi malam ini?””Tidak,” Xavier menggeleng tegas. “Cukup bir.”Divya cemberut.“Masih ada waktu sebelum makan malam, kan? Aku ingin berjalan-jalan bersamamu dulu di pantai.””Baiklah.”Mereka masih berpelukan dan berjalan menyusuri pantai yang indah. Divya menemukan sesuatu yang menarik di atas pasar dan wanita itu berjongkok, memungut cangkang kerang dengan bentuk yang unik.”Lucu, simpankan untukku.””Untuk a
Mengulang kembali kalimat itu dalam benaknya, membuat Divya nyaris terengah, ia setengah mati menginginkan Xavier bercinta dengannya, tidak peduli bahwa kini Divya tampak murahan, liar dan kehilangan sopan santun, tapi dia benar-benar ingin bercinta dengan Xavier. Divya tidak pernah menginginkan se
Xavier menarik diri lalu menghunjam lagi. Dengan pelan hingga gesekan itu lebih terasa. Rintihan Divya terdengar panjang, wanita itu memohon untuk Xavier bergerak cepat tapi pria itu melakukan sebaliknya. Menyiksa Divya dengan gerakan pelan. Semakin pelan Xavier memasukinya, semakin terasa gesekann
Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya
Xavier mengangkat kedua lengannya, menangkis pukulan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang cepat dan mematikan. Tinju kanannya menghantam keras rahang pria di depannya, membuat tubuh lawannya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di matras. Nafas Xavier sedikit memburu, tapi matanya tet







