Share

BAB 7

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-29 23:04:03

Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pakaian Divya malam ini. Gaun pendek berwarna hitam yang panjangnya hanya menutupi separuh paha dan bagian atasnya begitu terbuka. Hanya ditahan oleh segaris tali kecil dan jika tali itu meluncur ke bawah, akan membuat separuh dada wanita itu terlihat.

Xavier berdecak, di mana Divya menemukan pakaian keparat itu? Terlebih si rambut coklat terus menatap ke dada yang membusung di depannya. Xavier yakin pria itu meneteskan air liur atau bahkan sudah menjulurkan lidah layaknya anjing saat menatap dada indah di depannya.

Xavier tahu isi otak pria itu—mungkin sama kotornya dengan isi otak Xavier sekarang—pria itu pasti sudah tidak sabar membawa Divya ke ranjangnya. Membayangkan pria itu menindih Divya di atas ranjang, Xavier merasa kepalanya sudah mengeluarkan asap.

”Klien baru?” Rainer meletakkan segelas minuman ke hadapan Xavier.

”Aku tidak minum.” Dia sedang bertugas dan ketika Xavier sedang menjalankan tugasnya, Xavier tidak akan mabuk. “Bir non alkohol.”

Rainer menatapnya lekat, lalu tertawa sambil menaruh sekaleng bir non alkohol ke hadapan sepupunya. “Jadi? Salah satu Mahesa?”

”Seperti yang kamu lihat.” Xavier meminum birnya masih dengan tatapan tajam untuk menatap Divya. Kali ini pelukan keduanya terlalu dekat.

Wanita itu tersenyum lebar, wajah yang bersinar dan mata yang berbinar-binar menatap kekasihnya. Ekspresi yang baru pertama kali Xavier lihat di wajah itu karena selama ini wajah itu lebih sering tampak tenang, datar dan sesekali tertekan—ah, juga sedikit marah jika itu berkaitan dengan Xavier. Wanita itu melemparkan tangannya ke udara dan menggoyangkan pinggulnya mengikuti alunan musik.

Xavier menatap kaki indah itu dan terpaku pada kakinya yang panjang dan mulus. Seketika Xavier merasakan kejantanannya kembali mengeras, tangannya seakan ingin menggantikan tangan si rambut coklat yang memeluk pinggul yang sedang meliuk itu, membelainya dengan kurang ajar.

Mengapa Divya diam saja saat si brengsek itu membelai lekuk pinggangnya?

”Hei, apa ada sesuatu?” Rainer menatap tangan Xavier yang meremas kaleng bir, isinya tumpah dan membasahi tangan pria itu sementara Xavier tidak sadar apa yang sedang dia lakukan. Pria itu menunduk, menatap kaleng yang remuk di tangannya sementara bir tumpah membasahi lantai.

Xavier menghela napas dan menaruh kaleng remuk itu ke atas meja. Menerima tisu yang Rainer ulurkan padanya.

”Aku sudah tidak waras,” ucap Xavier.

”Memang.”

Xavier mengangkat wajah dan Rainer menyeringai padanya, memberinya kaleng bir yang baru.

”Jangan dibuang atau kamu harus bayar dua kali lipat,” canda sepupunya itu.

Xavier menatap datar dan kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap Divya dan pacarnya. Keduanya masih asik menari dengan saling berpelukan. Xavier ingin membuang pandangan tapi tatapannya terus tertuju pada salah satu tali gaun di bahu Divya turun ke bawah. Pria itu nyaris berdiri dari tempatnya untuk segera menarik tali gaun itu kembali ke atas. Dia mengepalkan kedua tangan di atas paha dengan mata yang terus memicing pada tali gaun yang kini berada di lengan atas Divya. Wanita itu tidak sadar dengan tali gaunnya tapi si brengsek rambut coklat itu menyadarinya namun tidak berusaha menarik tali gaun itu ke atas. Anjing coklat itu malah menatap lapar pada bagian atas payudara kanan Divya yang terlihat.

Brengsek!

Menahan diri untuk tidak menerjang ke sana, Xavier menarik napas pelan-pelan. Mencoba menguasai diri.

”Hai, sendirian?”

Pria itu berusaha keras untuk tidak memutar bola mata.

“Tidak, aku sibuk. Pergilah.”

Alih-alih menjauh, wanita itu malah duduk di samping Xavier. Xavier melotot, tidakkah wanita itu mengerti bahasa manusia? Karena mohon maaf, Xavier tidak bisa bicara bahasa alien.

“Mau minum?” Wanita itu mengarahkan gelas di tangannya ke depan bibir Xavier.

Xavier menolak dan menepis pelan gelas itu. “Aku tidak minum.”

”Kamu di bar, untuk apa di sini kalau tidak minum?”

”Aku sedang bekerja,” jawab Xavier sambil terus menatap ke arah Divya dan anjing coklat yang masih memeluk tubuhnya. Tali gaun itu masih turun melewati bahu, harusnya sebagai pacar yang baik pria itu menarik tali gaun kekasihnya ke atas, bukannya diam-diam malah menarik ujung gaun Divya ke bawah agar payudara wanita itu lebih banyak yang terlihat.

”Kamu kerja di mana?”

Untuk pertama kali Xavier mengalihkan pandangan dari Divya untuk benar-benar menatap wanita di depannya. Wanita ini cantik, kulitnya tampak lembut, riasannya cukup tebal meskipun tampak cocok di wajahnya, bulu matanya—yang Xavier tidak yakin itu asli—tampak panjang, dan bibirnya begitu seksi—tampaknya juga tidak terlalu asli. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna biru yang sangat terbuka dengan model kemben. Separuh dadanya yang besar terlihat menyembul di antara gaun yang menjepit sempit. Sedikit saja gaun itu ditarik ke bawah, seluruh payudara itu akan berteriak lega karena bebas. Dan panjang roknya hanya sejengkal di bawah pinggang. Saat wanita itu duduk, roknya naik ke atas dan sedikit memperlihatkan celana dalam merah yang dikenakannya. Sangat kontras dengan warna gaunnya yang biru menyala.

Dada. Xavier cukup terpesona pada ukuran dada itu.

Dan si wanita pun menyadari arah pandangan Xavier hingga dia mencondongkan bagian depan tubuhnya ke arah Xavier.

”Kamu kerja di mana?” Lagi-lagi dia bertanya kali ini dengan dada menempel di lengan Xavier.

”Percayalah, Lady, kamu tidak ingin mendengar di mana aku bekerja.”

”Oh, ya? Let me know.”

”Aku bekerja di sebuah organisasi yang bisa membunuh siapa saja tanpa menerima hukuman dari negara. Aku bisa memotong tubuh seseorang menjadi delapan puluh bagian dan membuat kematian itu tidak akan diketahui oleh siapa pun kecuali aku dan Tuhan.”

Wanita itu terbelalak sejenak, menatap Xavier lekat tapi sedetik kemudian wanita itu tertawa.

Dan—baiklah Xavier akui—suara tawanya cukup enak didengar.

”Kamu bohong,” wanita itu terkekeh geli, menatap Xavier lagi. “Kalau kamu berbicara seperti itu dan bermaksud membuat aku kabur ketakutan, aku nggak akan kabur. Aku suka film thriller. Aku suka aksi pembunuh tampan di film-film itu.”

Xavier tersenyum kecil. Film? Sayangnya Xavier bukan seorang pemeran utama sebuah film. Dia memang pembunuh bayaran, mata-mata dan juga prajurit. Tergantung misi apa yang diberikan padanya. Xavier bisa menjadi apa yang dibutuhkan organisasinya.

“Mau ke toilet sebentar?” Wanita itu tersenyum sensual, tangannya sudah berada di paha Xavier dan menyentuh celananya yang sempit. “Aku tahu kamu sudah keras.”

Dan Xavier keras bukan karena wanita itu menempelkan dadanya ke dada Xavier atau karena tangan Xavier yang dibawa untuk menyentuh pahanya yang telanjang. Xavier keras bahkan sebelum wanita ini muncul begitu saja untuk mengganggunya. Xavier keras bukan karena wanita ini melainkan karena wanita yang sudah memiliki pacar.

”Aku bisa kasih kamu kesenangan.” Tangan wanita yang kukunya berwarna merah itu meremas kejantanan Xavier yang tegang dari balik celana. Wanita itu membelalak menyadari ukurannya yang besar. “Wow.” Napas wanita itu terengah, mengelus Xavier dari balik celananya. Terasa semakin sempit. “Tunggu apa lagi?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 76 - TAMAT

    Setelah satu malam menginap di vila pribadi Xavier, keduanya memutuskan untuk pergi ke Bali, menginap di vila keluarga pria itu. Divya sedang menikmati pantai yang indah saat Xavier memeluknya dari belakang.”Apa yang kamu pikirkan sekarang?””Kita,” Divya menoleh dan tersenyum, “aku memikirkan kita.” Dagu Xavier bertumpu di bahu wanita itu, mengecup bahu itu dengan lembut dan menarik tubuh Divya merapat ke dadanya. “Apa ini nyata, X?””Sangat nyata, Sayang.””Kita benar akan menikah?” Divya mengangkat tangan ke atas, menatap cincin berlian yang diselipkan Xavier di jarinya pada pagi hari dia terbangun di pelukan pria itu dengan perasaan yang luar biasa. Seolah luka yang menghimpit dadanya selama satu bulan belakangan menghilang begitu saja. Divya merasa tubuhnya begitu ringan seolah dia melayang.”Ya. Kita akan menikah.” Xavier meraih tangan itu dan menggenggamnya, membawanya ke mulut untuk dicium. “Kamu akan menjadi Nyonya Xavier Frederick.”Bahagia tidak p

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 75

    Divya tidak mau menunggu lagi, Xavier harus memasukinya sekarang atau dia akan mati. Tangan Xavier membelai payudaranya, mencubit putingnya yang menegang. Sementara vibrator masih mengguncang vagina Divya di bawah sana, Xavier mengangkangi Divya dan menyelipkan kejantanannya di antara payudara wanita itu, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.Divya tidak pernah membiarkan seorang pria melakukan ini padanya tapi—astaga, melihat kejantanan itu terselip di antara payudaranya, membuatnya semakin terangsang. Napasnya terengah-engah ketika Xavier menambah kecepatannya, bercinta dengan kedua payudara Divya lebih cepat hingga kepala kejantanan itu sesekali mengenai dagu Divya.”Sialan, Sayang, payudaramu begitu lembut,” erangnya. Xavier terus menggerakkan kejantanannya sampai sperma pria itu tumpah membasahi dada Divya.Divya hampir tidak dapat mengatur napasnya ketika orgasme membuatnya terbakar, belum cukup itu semua, Xavier mendorong kejantanannya yang masih mengeluarkan sp

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 74

    Jagar ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya, tanpa berkata-kata dia menyusul Kivandra menuju pintu keluar.Abhimanyu berdiri, menarik istrinya dengan lembut, kemudian menatap eyang, ayah dan ibunya. “Kalau ada dari kalian yang berani mengusik Divya, akan saya hancurkan kalian tanpa sisa. Saya diam karena Divya lah yang bersikeras ingin menerima perjodohan meskipun dia tidak menginginkannya. Sekarang dia sudah bebas. Jadi jangan pernah usik adik saya lagi atau saya akan dengan senang hati mengurus tiga pemakaman sekaligus untuk kalian.” Sambil memeluk pinggang istrinya, Abhimanyu membawa Sabhira meninggalkan rumah mewah yang terasa begitu dingin dan kelam. “Aku baru pertama kali ini melihat Kivandra mengamuk,” bisik Sabhira saat berjalan menuju mobil.”Dia berhak melakukannya. Dia sudah dewasa,” Abhimanyu tersenyum, melihat Kivandra menunggunya di mobil. Pria itu memegangi tangan istrinya yang masuk ke mobil lebih dulu dan dia masuk ke dalamnya. Satu mobil la

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 73

    Di rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”Well, menurutku—“‘Tidak ada yang meminta pendapat kamu, Kivandra. Jadi diam!” bentak sang ibu.Kivandra melotot. “Fuck!” makinya dengan lantang hingga para tetua menoleh dengan tatapan tajam, terlebih Arya Mahesa yang menggenggam erat tongkatnya seakan ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Kivandra, anak bungsu keluarga Mahesa itu melempar rotinya ke lantai. “Kalian semua idiot! Bodoh! Egois! Tidak tahu diri! Manusia biadab! Jahanam—“”KIVANDRA!””Apa?!” Untuk pertama kalinya Ki

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 72

    Divya terdiam sesaat, menatap Xavier yang kini berdiri di depannya tanpa alas kaki, tangannya memegang payung yang melindungi mereka berdua dari hujan. Sepatu hitam pria itu kini melindungi kakinya, meskipun terasa kebesaran dan sedikit sulit untuk berjalan. Ia menunduk, menatap sepatunya yang patah di tangan Xavier. Perasaan aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang ia coba tahan, sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi tapi ternyata rasa itu masih sama besarnya.Xavier hanya tersenyum kecil, seolah tidak peduli bahwa dirinya sekarang bertelanjang kaki di tengah jalan yang basah. “Ayo,” katanya ringan, melangkah lebih dulu dengan sepatu Divya masih tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang payung. Divya mengikutinya dalam diam, mencoba berjalan sebaik mungkin dengan sepatu yang kebesaran. Sesekali, Divya melirik ke bawah, melihat kaki telanjang pria itu melangkah di aspal yang basah. Hatinya terasa sesak, tapi ia tetap membisu.Mereka terus berjala

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 71

    Sudah beberapa hari lamanya Xavier terus mengikuti Divya ke mana-mana meskipun wanita itu mengabaikannya. Hari ini Divya lembur di kantornya, belum makan malam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan yang Xavier bawakan untuknya. Usaha Xavier untuk mendapatkan maaf dari wanita itu belum membuahkan hasil meskipun Xavier tidak akan menyerah.”Princess, kamu belum makan malam, makanlah.”Divya tidak menjawab, hanya terus menatap layar laptop dan sibuk bekerja. Divya bersikap seolah-olah keberadaan Xavier tidak pernah ada.Xavier menghela napas pelan, duduk di sofa dengan tatapan lekat pada wanita yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Kopi dan makan malam yang dia bawa masih tergeletak di meja, tak tersentuh. Tapi Xavier tahu lebih baik dari siapa pun—Divya tidak sekuat itu meskipun Divya berusaha berakting bahwa wanita itu tidak terpengaruh dengan keberadaan Xavier. Dia melihat bagaimana bahu wanita itu menegang saat pertama kali menyadari kehadiran malam ini, bagaimana

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 32

    Xavier mengeratkan pelukan, mereka masih berpelukan di bawah hujan sampai beberapa menit lamanya hingga Xavier sadar Divya mulai kedinginan.”Maaf jika aku terpaksa menginterupsi kebahagiaanmu, Princess, tapi kamu mulai menggigil dan sebaiknya kita segera masuk ke dalam.””Tunggu, lima me

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 21

    Dan entah kenapa, debar di dadanya terasa berbeda. Bukan debar panik atau ketakutan yang biasa ia rasakan. Bukan debar emosi karena ingin membalas perkataan Xavier dengan sinis. Tapi sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuatnya tidak ingin berpaling.Divya mengerjap, merasa asing dengan perasaan in

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 6

    ”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimk

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 5

    Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status