Se connecterLitera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pakaian Divya malam ini. Gaun pendek berwarna hitam yang panjangnya hanya menutupi separuh paha dan bagian atasnya begitu terbuka. Hanya ditahan oleh segaris tali kecil dan jika tali itu meluncur ke bawah, akan membuat separuh dada wanita itu terlihat.
Xavier berdecak, di mana Divya menemukan pakaian keparat itu? Terlebih si rambut coklat terus menatap ke dada yang membusung di depannya. Xavier yakin pria itu meneteskan air liur atau bahkan sudah menjulurkan lidah layaknya anjing saat menatap dada indah di depannya. Xavier tahu isi otak pria itu—mungkin sama kotornya dengan isi otak Xavier sekarang—pria itu pasti sudah tidak sabar membawa Divya ke ranjangnya. Membayangkan pria itu menindih Divya di atas ranjang, Xavier merasa kepalanya sudah mengeluarkan asap. ”Klien baru?” Rainer meletakkan segelas minuman ke hadapan Xavier. ”Aku tidak minum.” Dia sedang bertugas dan ketika Xavier sedang menjalankan tugasnya, Xavier tidak akan mabuk. “Bir non alkohol.” Rainer menatapnya lekat, lalu tertawa sambil menaruh sekaleng bir non alkohol ke hadapan sepupunya. “Jadi? Salah satu Mahesa?” ”Seperti yang kamu lihat.” Xavier meminum birnya masih dengan tatapan tajam untuk menatap Divya. Kali ini pelukan keduanya terlalu dekat. Wanita itu tersenyum lebar, wajah yang bersinar dan mata yang berbinar-binar menatap kekasihnya. Ekspresi yang baru pertama kali Xavier lihat di wajah itu karena selama ini wajah itu lebih sering tampak tenang, datar dan sesekali tertekan—ah, juga sedikit marah jika itu berkaitan dengan Xavier. Wanita itu melemparkan tangannya ke udara dan menggoyangkan pinggulnya mengikuti alunan musik. Xavier menatap kaki indah itu dan terpaku pada kakinya yang panjang dan mulus. Seketika Xavier merasakan kejantanannya kembali mengeras, tangannya seakan ingin menggantikan tangan si rambut coklat yang memeluk pinggul yang sedang meliuk itu, membelainya dengan kurang ajar. Mengapa Divya diam saja saat si brengsek itu membelai lekuk pinggangnya? ”Hei, apa ada sesuatu?” Rainer menatap tangan Xavier yang meremas kaleng bir, isinya tumpah dan membasahi tangan pria itu sementara Xavier tidak sadar apa yang sedang dia lakukan. Pria itu menunduk, menatap kaleng yang remuk di tangannya sementara bir tumpah membasahi lantai. Xavier menghela napas dan menaruh kaleng remuk itu ke atas meja. Menerima tisu yang Rainer ulurkan padanya. ”Aku sudah tidak waras,” ucap Xavier. ”Memang.” Xavier mengangkat wajah dan Rainer menyeringai padanya, memberinya kaleng bir yang baru. ”Jangan dibuang atau kamu harus bayar dua kali lipat,” canda sepupunya itu. Xavier menatap datar dan kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap Divya dan pacarnya. Keduanya masih asik menari dengan saling berpelukan. Xavier ingin membuang pandangan tapi tatapannya terus tertuju pada salah satu tali gaun di bahu Divya turun ke bawah. Pria itu nyaris berdiri dari tempatnya untuk segera menarik tali gaun itu kembali ke atas. Dia mengepalkan kedua tangan di atas paha dengan mata yang terus memicing pada tali gaun yang kini berada di lengan atas Divya. Wanita itu tidak sadar dengan tali gaunnya tapi si brengsek rambut coklat itu menyadarinya namun tidak berusaha menarik tali gaun itu ke atas. Anjing coklat itu malah menatap lapar pada bagian atas payudara kanan Divya yang terlihat. Brengsek! Menahan diri untuk tidak menerjang ke sana, Xavier menarik napas pelan-pelan. Mencoba menguasai diri. ”Hai, sendirian?” Pria itu berusaha keras untuk tidak memutar bola mata. “Tidak, aku sibuk. Pergilah.” Alih-alih menjauh, wanita itu malah duduk di samping Xavier. Xavier melotot, tidakkah wanita itu mengerti bahasa manusia? Karena mohon maaf, Xavier tidak bisa bicara bahasa alien. “Mau minum?” Wanita itu mengarahkan gelas di tangannya ke depan bibir Xavier. Xavier menolak dan menepis pelan gelas itu. “Aku tidak minum.” ”Kamu di bar, untuk apa di sini kalau tidak minum?” ”Aku sedang bekerja,” jawab Xavier sambil terus menatap ke arah Divya dan anjing coklat yang masih memeluk tubuhnya. Tali gaun itu masih turun melewati bahu, harusnya sebagai pacar yang baik pria itu menarik tali gaun kekasihnya ke atas, bukannya diam-diam malah menarik ujung gaun Divya ke bawah agar payudara wanita itu lebih banyak yang terlihat. ”Kamu kerja di mana?” Untuk pertama kali Xavier mengalihkan pandangan dari Divya untuk benar-benar menatap wanita di depannya. Wanita ini cantik, kulitnya tampak lembut, riasannya cukup tebal meskipun tampak cocok di wajahnya, bulu matanya—yang Xavier tidak yakin itu asli—tampak panjang, dan bibirnya begitu seksi—tampaknya juga tidak terlalu asli. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna biru yang sangat terbuka dengan model kemben. Separuh dadanya yang besar terlihat menyembul di antara gaun yang menjepit sempit. Sedikit saja gaun itu ditarik ke bawah, seluruh payudara itu akan berteriak lega karena bebas. Dan panjang roknya hanya sejengkal di bawah pinggang. Saat wanita itu duduk, roknya naik ke atas dan sedikit memperlihatkan celana dalam merah yang dikenakannya. Sangat kontras dengan warna gaunnya yang biru menyala. Dada. Xavier cukup terpesona pada ukuran dada itu. Dan si wanita pun menyadari arah pandangan Xavier hingga dia mencondongkan bagian depan tubuhnya ke arah Xavier. ”Kamu kerja di mana?” Lagi-lagi dia bertanya kali ini dengan dada menempel di lengan Xavier. ”Percayalah, Lady, kamu tidak ingin mendengar di mana aku bekerja.” ”Oh, ya? Let me know.” ”Aku bekerja di sebuah organisasi yang bisa membunuh siapa saja tanpa menerima hukuman dari negara. Aku bisa memotong tubuh seseorang menjadi delapan puluh bagian dan membuat kematian itu tidak akan diketahui oleh siapa pun kecuali aku dan Tuhan.” Wanita itu terbelalak sejenak, menatap Xavier lekat tapi sedetik kemudian wanita itu tertawa. Dan—baiklah Xavier akui—suara tawanya cukup enak didengar. ”Kamu bohong,” wanita itu terkekeh geli, menatap Xavier lagi. “Kalau kamu berbicara seperti itu dan bermaksud membuat aku kabur ketakutan, aku nggak akan kabur. Aku suka film thriller. Aku suka aksi pembunuh tampan di film-film itu.” Xavier tersenyum kecil. Film? Sayangnya Xavier bukan seorang pemeran utama sebuah film. Dia memang pembunuh bayaran, mata-mata dan juga prajurit. Tergantung misi apa yang diberikan padanya. Xavier bisa menjadi apa yang dibutuhkan organisasinya. “Mau ke toilet sebentar?” Wanita itu tersenyum sensual, tangannya sudah berada di paha Xavier dan menyentuh celananya yang sempit. “Aku tahu kamu sudah keras.” Dan Xavier keras bukan karena wanita itu menempelkan dadanya ke dada Xavier atau karena tangan Xavier yang dibawa untuk menyentuh pahanya yang telanjang. Xavier keras bahkan sebelum wanita ini muncul begitu saja untuk mengganggunya. Xavier keras bukan karena wanita ini melainkan karena wanita yang sudah memiliki pacar. ”Aku bisa kasih kamu kesenangan.” Tangan wanita yang kukunya berwarna merah itu meremas kejantanan Xavier yang tegang dari balik celana. Wanita itu membelalak menyadari ukurannya yang besar. “Wow.” Napas wanita itu terengah, mengelus Xavier dari balik celananya. Terasa semakin sempit. “Tunggu apa lagi?”Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pakaian Divya malam ini. Gaun pendek berwarna hitam yang panjangnya hanya menutupi separuh paha dan bagian atasnya begitu terbuka. Hanya ditahan oleh segaris tali kecil dan jika tali itu meluncur ke bawah, akan membuat separuh dada wanita itu terlihat.Xavier berdecak, di mana Divya menemukan pakaian keparat itu? Terlebih si rambut coklat terus menatap ke dada yang membusung di depannya. Xavier yakin pria itu meneteskan air liur atau bahkan sudah menjulurkan lidah layaknya anjing saat menatap dada indah di depannya.Xavier tahu isi otak pria itu—mungkin sama kotornya dengan isi otak Xavier sekarang—pria itu pasti sudah tidak sabar membawa Divya ke ranjangnya. Membayangkan pria itu menindih Divy
”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimkan emosi masing-masing melalui tatapan mata. Xavier yang lebih dulu menarik wajah dan menghela napas panjang.”Jawab saja, akan pergi ke mana?””Tidak mau.””Baiklah, tutup saja mulutmu itu tapi yang pasti aku akan terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi.” Xavier kembali menjalankan kendaraan menuju kantor Divya. Mobil berhenti di basement. Pria itu turun dan membukakan pintu untuk Divya. Mobil Xavier hanya dua pintu, jadi otomatis Divya akan duduk di sampingnya. Jika mobil itu memiliki empat pintu, Divya akan memilih duduk di belakang pria itu daripada di sampingnya. Divya melangkah menuju lift dengan Xavier di sampingnya. Wanita itu cemberut, masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut. Xav
Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa bahwa mungkin dia akan mati dalam perjalanan ini karena sering kali menahan napas terlalu lama. Matanya yang tidak bisa diatur tanpa permisi melirik paha Divya yang mulus. Kaki itu saling bertumpu, cara Divya duduk membuat roknya naik semakin tinggi dan separuh paha wanita itu terpampang sempurna untuk dilihat, disentuh dan dijilat. Oh. fuck! Apakah rok wanita itu tidak terlalu pendek? Xavier berdehem, rasa gelisah terus membuat lehernya semakin tercekik dan pria itu melonggarkan dasinya, dia mencoba menarik napas namun cepat-cepat menahannya. Suhu di dalam mobil cukup dingin tapi Xaver merasa dirinya seperti dipanggang di dalam oven. Diam-diam keringat mengalir di punggungnya. Berhenti
”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap menatap Divya yang sedang sarapan. ”Untuk apa? Tembok itu setinggi lima meter.” ”Harusnya tembok itu setidaknya setinggi sepuluh meter. Kalau tidak mau menambah tinggi tembok, pasang kawat pelindung.” ”Tidak ada yang akan memanjat tembok setinggi lima meter—“ ucapan Divya terhenti karena Xavier tertawa. ”Tidak ada. Apa kamu bodoh, Princess? Siapa pun bisa memanjatnya.” ”Tingginya lima meter, Frederick. Tidak ada yang mau repot-repot memanjatnya.” Xavier menghela napas panjang, matanya menatap Divya yang kembali makan dengan tenang. Wanita itu memakai kemeja dengan warna putih dan rok pendek berwarna putih gading. Kaki mulusnya memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam. Model Christi
“Pengawal kamu bakal datang pagi ini.” Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya. ”Siapa?” ”Kamu tahu dia.” ”Namanya?” ”Tunggu saja dia datang.” ”Mas nggak mau kasih tahu namanya?” ”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi dulu.” ”Mas!” Tapi Jagar sudah masuk ke mobilnya yang dikendarai oleh Wira. Divya menghela napas, masih mengenakan kaos rumahan dan belum berganti pakaian untuk pergi bekerja. Niatnya ingin kembali masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba semua mobil sport memasuki halaman rumahnya yang luas. Divya memicing. Siapa yang datang? Ia tidak mengenali mobil ini sama sekali. Apa salah satu keluarganya? Kalau memang salah satu keluarganya, mengapa sekuriti membiarkannya masuk tanpa memberitahu Divya lebih dulu? Mobil itu berhenti tepat di depan teras. Mobil sport keluaran terbaru yang harganya cukup fantastis. Divya memicing dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang datang berkunjung ke rumahnya s
Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya jatuh kepada Jack Daniel’s, mengambil sebuah gelas yang sudah diisi bongkahan es oleh Rainer. “Aku menunggu Aksa dan Danish.” Pria itu berjalan ke sofa yang ada di balkon dan duduk di sana. Helaan napasnya terdengar berat. ”X!” Xavier menoleh dan tersenyum lebar, pria itu berdiri dan membiarkan Eve melompat ke dalam pelukannya. “Hai, Baby,” sapa Xavier sambil mengecup sisi kepala Eve. “Oh, God. I miss you so damn much.” ”I miss you too, Ironman.” ”Stay away from my wife.” Sebuah suara terdengar di belakang tubuh Eve. Bukannya melepaskan pelukannya, Xavier malah memeluk Eve semakin erat, mengangkatnya dari lantai dan wanita di pelukannya hanya tertawa. Saat Aksa mengangkat tangan dan







