LOGIN”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”
Keduanya saling bertatapan dengan mengirimkan emosi masing-masing melalui tatapan mata. Xavier yang lebih dulu menarik wajah dan menghela napas panjang. ”Jawab saja, akan pergi ke mana?” ”Tidak mau.” ”Baiklah, tutup saja mulutmu itu tapi yang pasti aku akan terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi.” Xavier kembali menjalankan kendaraan menuju kantor Divya. Mobil berhenti di basement. Pria itu turun dan membukakan pintu untuk Divya. Mobil Xavier hanya dua pintu, jadi otomatis Divya akan duduk di sampingnya. Jika mobil itu memiliki empat pintu, Divya akan memilih duduk di belakang pria itu daripada di sampingnya. Divya melangkah menuju lift dengan Xavier di sampingnya. Wanita itu cemberut, masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut. Xavier menekan tombol lima belas yang artinya pria itu sudah tahu lantai yang akan dituju Divya. Divya keluar dari lift, berbalik menatap Xavier. “Pergilah dan lakukan sesuatu yang bisa membuatku mengelola emosi dengan baik. Aku berada di tempat teraman di mana ruangan kakakku berada di samping ruanganku. Aku tidak mau melihatmu pagi ini.” Divya menjauh tanpa memberi Xavier kesempatan untuk membuka suara. Pria itu bertahan di dalam lift dan mengumpat. Sepertinya ia butuh kopi. Jadi Xavier putuskan untuk kembali turun dan masuk ke coffee shop yang ada di lobi utama. Pria itu duduk di sana dan menghela napas, melonggarkan dasi yang semakin mencekik lehernya. Xavier mendongak saat tiba-tiba Jagar duduk di depannya. ”Bagaimana? Semua berjalan baik?” ”Adikmu membenciku, Sir.” Satu alis Jagar terangkat. “Bukan hal baru, dia memang membenci sebagian besar orang.” Xavier mendengus. “Nanti malam dia ada janji dengan pacarnya.” ”Tetap kawal dia. Kalau pacarnya itu ingin membawa Divya ke apartemennya, cegah hal itu terjadi. Saya tidak mau adik saya tidur dengannya.” Xavier menatap di balik cangkir yang sedang ia genggam. “Bukankah itu sedikit … keterlaluan?” “Kamu punya saudara perempuan dan pasti tahu rasanya melihat saudara perempuanmu tidur dengan pacarnya.” Xavier tertawa. “Zelie lebih suka aku mengurusi anjing peliharaan Aiden daripada mengurusi dengan siapa dia tidur. Jika aku merecokinya, dia tidak akan segan-segan membunuhku.” Xavier tersenyum sinis. “Jadi adikmu tidak boleh ditiduri pacarnya tapi kamu boleh meniduri sepupuku sebelum kalian menikah? Bukankah itu sedikit tidak adil, Letnan?” “Saya meniduri Killa karena saya akan menikahinya. Tapi pacarnya Divya? Jelas tidak akan menikahi dia.” “Jadi kalau ada pria yang ingin menikahi adikmu, dia boleh menidurinya?” Jagar memicing tajam. “Apa maksudmu, Prajurit?” Xavier mengangkat bahu sambil meminum kopinya. “Hanya bertanya,” jawabnya santai. “Saya tidak menyangka Anda akan mengurusi hal pribadi orang lain sampai sejauh itu.” ”Dia bukan orang lain, dia adik saya.” ”Aku tidak bermaksud membelanya tapi soal seks … semua orang memiliki kebutuhan sendiri. Anda pasti tahu rasanya jika kebutuhan itu tidak terpenuhi. Aku setuju dengan Anda dalam banyak hal. Tapi untuk seks … itu berlebihan.” Xavier berdiri, menatap atasannya itu. “‘Dia tidak mau melihatku pagi ini. Karena tidak yang bisa kukerjakan di sini, aku akan ke kantorku sendiri. Sebelum jam kerja berakhir aku akan kembali.” ”Tugasmu menjaganya dua puluh empat jam—“ ”Sir, aku juga punya perusahaan yang harus aku urus. Pagi ini ada meeting penting. Setidaknya aku akan kembali sebelum makan siang.” Tanpa menunggu jawaban Jagar, Xavier beranjak pergi. Ia butuh menjauh sejenak untuk menenangkan dirinya yang kacau sekali pagi ini. Selama hidupnya, baru kali ini Xavier merasa perlu menjauh dari sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri. Begitu Jagar naik ke lantainya, Divya sudah menunggunya di ruangan. ”Mas, kita perlu bicara—“ ”Kalau soal Xavier, tidak ada kompromi.” ”Mas, kenapa harus dia?” ”Kenapa tidak boleh dia?” Jagar balas bertanya. Lidah Divya gatal ingin memberitahu bahwa pria itu bajingan yang telah menciumnya paksa sebanyak tiga kali, dan pria itu juga psikopat karena tahu bahwa Divya sangat menyukai lingerie merah. Dari mana Xavier bisa tahu? Apa pria itu mengintip ke kamarnya? Apa Jagar yakin mempekerjakan seorang pengintip untuk menjadi pengawalnya? ”Di antara prajurit Eagle Eyes, dia yang terbaik. Hanya perlu beberapa misi lagi untuk membuatnya menjadi letnan. Mas memilih dia bukan tanpa alasan. Musuh bisa datang kapan saja, Divya. Mas tidak mau melihat kamu diculik lagi. Cukup sekali.” Divya terdiam. ”Tidak ada kompromi dalam hal itu.” Divya menatap sebal dan berbalik menuju pintu. ”Jangan rayu Mbak Sabhira karena dia juga setuju atas ini, Mas Abhi apalagi. Jangan juga rayu istri Mas karena dia bilang tidak akan ikut campur dalam hal ini. Dan Kivan juga setuju. Semua orang setuju.” ”Kecuali aku,” sentak Divya membuat pintu dan keluar dengan langkah kesal. Mengejutkan Wira yang berdiri di dekat pintu. Mengabaikan tatapan semua orang, Divya menuju ruangan Kivandra. “Kivaaaan,” Divya masuk dan duduk di sofa. ”Ada apa? Kamu kenapa, Kak?” Kivandra sedang sibuk dengan laptopnya. ”Kamu tahu kalau aku punya pengawal baru?” ”Xavier Frederick, aku tahu.” ”Kamu tahu aku tidak suka dia?” Kivandra menoleh sejenak. “Memangnya sejak kapan kamu suka sama orang? Kecuali si rambut coklat yang membuatmu tergila-gila itu. Aku heran mengapa kamu tergila-gila padanya. Sudah kubilang dia itu pasti gay.” ”Jangan menghina pacar aku! Dia bukan gay.” “Di mataku dia seperti itu.” ”Mungkin sebenarnya kamu yang gay?” sinis Divya. ”Benar sekali, Sist. Hati-hatilah karena pacarmu akan kurebut,” balas Kivan tak kalah sinis. “Akan kuajak dia bercinta tujuh hari tujuh malam sampai dia pingsan.” ”Van, aku serius.” ”Sudahlah. Terima saja, Kak. Jangan banyak protes. Semua orang sudah setuju sama pilihan Mas Jagar. Lagipula, itu untuk keselamatan kamu sendiri.” Divya sendiran. Semua orang berada di pihak yang berseberangan dengannya. “Kamu nggak mau bela aku, Van?” ”Dan bertentangan dengan menjaga keselamatan kamu? Absolutely not.” Kivan menggeleng. “Kamu mendapatkan pengawal terbaik, lalu salahnya di mana?” ”Salahnya dia itu brengsek.” ”Sejak kapan ada pria Zahid yang tidak brengsek? Selagi dia tidak melecehkan kamu, biarkan saja.” ”Tapi dia pernah me—“ Divya menghela napas panjang. “Pernah apa?” Wanita itu menatap adiknya. Perlukah Divya memberitahu tentang apa yang Xavier lakukan padanya tahun lalu? Apakah dengan begitu Kivan akan berada di pihaknya? ”Pernah apa, Divya?” Kivandra menatap tidak sabar. ”Lupakan.” Divya berdiri dan memilih untuk pergi. Divya kembali ke ruangannya sendiri. Meskipun dia bertanya-tanya, mengapa dia memilih untuk diam? Bukankah lebih baik membuka suara? Divya menghela napas panjang. Satu tahun, apakah selama satu tahun ini, dia bisa bertahan? Pengawalnya yang tempramental, sok berkuasa, menyebalkan, dan juga bajingan itu seharusnya tidak berada di dekatnya. Bagaimana bisa pria itu bersikap seolah-olah tidak pernah mencium paksa Divya? Divya yakin dirinya tidak akan sanggup bertahan dalam satu tahun ini. Divya tidak akan berhasil melewati satu tahun ini tanpa berniat membunuh Xavier dengan tangannya sendiri.Setelah satu malam menginap di vila pribadi Xavier, keduanya memutuskan untuk pergi ke Bali, menginap di vila keluarga pria itu. Divya sedang menikmati pantai yang indah saat Xavier memeluknya dari belakang.”Apa yang kamu pikirkan sekarang?””Kita,” Divya menoleh dan tersenyum, “aku memikirkan kita.” Dagu Xavier bertumpu di bahu wanita itu, mengecup bahu itu dengan lembut dan menarik tubuh Divya merapat ke dadanya. “Apa ini nyata, X?””Sangat nyata, Sayang.””Kita benar akan menikah?” Divya mengangkat tangan ke atas, menatap cincin berlian yang diselipkan Xavier di jarinya pada pagi hari dia terbangun di pelukan pria itu dengan perasaan yang luar biasa. Seolah luka yang menghimpit dadanya selama satu bulan belakangan menghilang begitu saja. Divya merasa tubuhnya begitu ringan seolah dia melayang.”Ya. Kita akan menikah.” Xavier meraih tangan itu dan menggenggamnya, membawanya ke mulut untuk dicium. “Kamu akan menjadi Nyonya Xavier Frederick.”Bahagia tidak p
Divya tidak mau menunggu lagi, Xavier harus memasukinya sekarang atau dia akan mati. Tangan Xavier membelai payudaranya, mencubit putingnya yang menegang. Sementara vibrator masih mengguncang vagina Divya di bawah sana, Xavier mengangkangi Divya dan menyelipkan kejantanannya di antara payudara wanita itu, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.Divya tidak pernah membiarkan seorang pria melakukan ini padanya tapi—astaga, melihat kejantanan itu terselip di antara payudaranya, membuatnya semakin terangsang. Napasnya terengah-engah ketika Xavier menambah kecepatannya, bercinta dengan kedua payudara Divya lebih cepat hingga kepala kejantanan itu sesekali mengenai dagu Divya.”Sialan, Sayang, payudaramu begitu lembut,” erangnya. Xavier terus menggerakkan kejantanannya sampai sperma pria itu tumpah membasahi dada Divya.Divya hampir tidak dapat mengatur napasnya ketika orgasme membuatnya terbakar, belum cukup itu semua, Xavier mendorong kejantanannya yang masih mengeluarkan sp
Jagar ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya, tanpa berkata-kata dia menyusul Kivandra menuju pintu keluar.Abhimanyu berdiri, menarik istrinya dengan lembut, kemudian menatap eyang, ayah dan ibunya. “Kalau ada dari kalian yang berani mengusik Divya, akan saya hancurkan kalian tanpa sisa. Saya diam karena Divya lah yang bersikeras ingin menerima perjodohan meskipun dia tidak menginginkannya. Sekarang dia sudah bebas. Jadi jangan pernah usik adik saya lagi atau saya akan dengan senang hati mengurus tiga pemakaman sekaligus untuk kalian.” Sambil memeluk pinggang istrinya, Abhimanyu membawa Sabhira meninggalkan rumah mewah yang terasa begitu dingin dan kelam. “Aku baru pertama kali ini melihat Kivandra mengamuk,” bisik Sabhira saat berjalan menuju mobil.”Dia berhak melakukannya. Dia sudah dewasa,” Abhimanyu tersenyum, melihat Kivandra menunggunya di mobil. Pria itu memegangi tangan istrinya yang masuk ke mobil lebih dulu dan dia masuk ke dalamnya. Satu mobil la
Di rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”Well, menurutku—“‘Tidak ada yang meminta pendapat kamu, Kivandra. Jadi diam!” bentak sang ibu.Kivandra melotot. “Fuck!” makinya dengan lantang hingga para tetua menoleh dengan tatapan tajam, terlebih Arya Mahesa yang menggenggam erat tongkatnya seakan ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Kivandra, anak bungsu keluarga Mahesa itu melempar rotinya ke lantai. “Kalian semua idiot! Bodoh! Egois! Tidak tahu diri! Manusia biadab! Jahanam—“”KIVANDRA!””Apa?!” Untuk pertama kalinya Ki
Divya terdiam sesaat, menatap Xavier yang kini berdiri di depannya tanpa alas kaki, tangannya memegang payung yang melindungi mereka berdua dari hujan. Sepatu hitam pria itu kini melindungi kakinya, meskipun terasa kebesaran dan sedikit sulit untuk berjalan. Ia menunduk, menatap sepatunya yang patah di tangan Xavier. Perasaan aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang ia coba tahan, sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi tapi ternyata rasa itu masih sama besarnya.Xavier hanya tersenyum kecil, seolah tidak peduli bahwa dirinya sekarang bertelanjang kaki di tengah jalan yang basah. “Ayo,” katanya ringan, melangkah lebih dulu dengan sepatu Divya masih tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang payung. Divya mengikutinya dalam diam, mencoba berjalan sebaik mungkin dengan sepatu yang kebesaran. Sesekali, Divya melirik ke bawah, melihat kaki telanjang pria itu melangkah di aspal yang basah. Hatinya terasa sesak, tapi ia tetap membisu.Mereka terus berjala
Sudah beberapa hari lamanya Xavier terus mengikuti Divya ke mana-mana meskipun wanita itu mengabaikannya. Hari ini Divya lembur di kantornya, belum makan malam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan yang Xavier bawakan untuknya. Usaha Xavier untuk mendapatkan maaf dari wanita itu belum membuahkan hasil meskipun Xavier tidak akan menyerah.”Princess, kamu belum makan malam, makanlah.”Divya tidak menjawab, hanya terus menatap layar laptop dan sibuk bekerja. Divya bersikap seolah-olah keberadaan Xavier tidak pernah ada.Xavier menghela napas pelan, duduk di sofa dengan tatapan lekat pada wanita yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Kopi dan makan malam yang dia bawa masih tergeletak di meja, tak tersentuh. Tapi Xavier tahu lebih baik dari siapa pun—Divya tidak sekuat itu meskipun Divya berusaha berakting bahwa wanita itu tidak terpengaruh dengan keberadaan Xavier. Dia melihat bagaimana bahu wanita itu menegang saat pertama kali menyadari kehadiran malam ini, bagaimana
”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap me
“Pengawal kamu bakal datang pagi ini.” Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya. ”Siapa?” ”Kamu tahu dia.” ”Namanya?” ”Tunggu saja dia datang.” ”Mas nggak mau kasih tahu namanya?” ”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi d
Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya
Xavier mengangkat kedua lengannya, menangkis pukulan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang cepat dan mematikan. Tinju kanannya menghantam keras rahang pria di depannya, membuat tubuh lawannya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di matras. Nafas Xavier sedikit memburu, tapi matanya tet







