Partager

BAB 5

Auteur: Pipit Chie
last update Date de publication: 2026-05-28 23:10:29

Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa bahwa mungkin dia akan mati dalam perjalanan ini karena sering kali menahan napas terlalu lama. Matanya yang tidak bisa diatur tanpa permisi melirik paha Divya yang mulus. Kaki itu saling bertumpu, cara Divya duduk membuat roknya naik semakin tinggi dan separuh paha wanita itu terpampang sempurna untuk dilihat, disentuh dan dijilat.

Oh. fuck! Apakah rok wanita itu tidak terlalu pendek?

Xavier berdehem, rasa gelisah terus membuat lehernya semakin tercekik dan pria itu melonggarkan dasinya, dia mencoba menarik napas namun cepat-cepat menahannya. Suhu di dalam mobil cukup dingin tapi Xaver merasa dirinya seperti dipanggang di dalam oven. Diam-diam keringat mengalir di punggungnya.

Berhenti menatap pahanya, brengsek! Makinya pada diri sendiri. Xavier terus mencoba mengingatkan dirinya untuk tidak melirik ke samping setiap lima menit sekali. Atau cungkil saja bola matanya sekalian! Tapi sekotor apa pun Xavier memaki dirinya sendiri, dia tetap tidak bisa berhenti melirik paha itu dengan tatapan lapar.

Sialan. Rasanya besok Xavier akan memaksa wanita itu bekerja mengenakan celana panjang.

Ponsel Divya bergetar, wanita itu tersenyum lebar dan mengangkat panggilannya.

”Hai, Sayang.”

Nyaris saja—jika Xavier tidak menguasai dirinya dengan cepat, nyaris saja dia menginjak rem di jalan bebas hambatan ini. Bisa terjadi kecelakaan beruntun dan mengakibatkan nyawa Divya melayang karena Xavier berkendara dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sedetik terlambat menguasai diri, Xavier akan menjadi tersangka penghilang nyawa Divya. Bukannya menjadi penjaga, Xavier hampir menjadi pelaku.

”Malam ini? Oke, bisa. Iya, see you, Baby.”

Cengkeraman Xavier pada kemudi mobil menguat hingga urat-urat di tangannya menyembul dan buku-buku jarinya memutih. Suara Divya begitu lembut bicara pada kekasihnya, nada suara yang tidak pernah Xavier dengar saat wanita itu bicara padanya. Lagipula, Xavier juga tahu bahwa wanita itu tidak akan pernah bicara padanya dengan nada seperti itu. Seringkali fantasi liarnya membayangkan suara lembut itu mendesah di bawahnya, mengerang dan memohon sementara Xavier memompa diri—

“Brengsek,” gumamnya pelan. Lupakan itu!

Divya menoleh dan mengernyit. “Apa kamu baru saja mengatai aku brengsek?” Nadanya tajam, membuat emosi Xavier seketika berkobar. Wanita itu bicara seolah Xavier adalah musuhnya—meskipun memang seperti itu keadaannya.

”Tidak, Princess. Aku tidak mengataimu,” jawab Xavier. Aku mengatai diriku sendiri, sambungnya dalam hati. Pria itu menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali—meskipun hal itu membuat Xavier mencium aroma parfum Divya lebih banyak—sebelum bertanya, “pacarmu?”

”Apa?”

”Yang menghubungimu itu, pacarmu?”

Divya memicing. “Kenapa kamu ingin tahu?”

“Sebagai pengawalmu, aku berhak tahu siapa saja orang-orang yang berada di sekelilingmu. Aku berhak tahu apakah mereka berpotensi untuk menyakitimu atau tidak.”

”Orang-orang di sekelilingku adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Mereka tidak akan menyakiti aku.”

”Oh, katakan itu setelah suatu hari ada satu orang yang sekian banyak orang yang kamu percaya itu menjadi pengkhianat.” sinis Xavier, “ingat penculikmu? Dulunya dia orang yang bisa dipercaya. Sekutu. Lihat apa yang dia lakukan? Jadi jangan pernah percaya sepenuhnya kepada siapa pun kecuali diri sendiri.”

”Tapi pacar dan teman-temanku tidak seperti penculik itu.”

”Meskipun kamu percaya, tetap waspada. Siapa pun bisa mengkhianati—“

”Kamu tidak perlu ikut campur urusanku.”

”Aku tidak ikut campur, aku hanya perlu mewaspadai siapa saja agar tidak menyakitimu. Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu.”

”Tidak akan ada yang menyakiti aku.”

”Naif,” cibir Xavier, “jangan mudah percaya pada siapa pun.”

”Satu-satunya orang yang tidak akan aku percayai adalah kamu. Dibandingkan orang-orang yang kamu bilang bisa menjadi pengkhianat, aku malah lebih yakin kalau kamu lah penjahatnya.”

Xavier menoleh dan memicing. Menatap Divya yang sedang bersedekap, bersandar ke pintu dan menghadapkan tubuh ke arahnya. Mata Xavier menatap ke dada wanita itu. Cara Divya bersedekap membuat dadanya membusung hingga payudara itu tampak lebih besar—brengsek! Xavier dengan cepat berpaling.

“Jagar memilihku menjadi pengawalmu artinya aku bisa dipercaya. Meragukan penilaian kakakmu?”

Divya tidak menjawab dan hanya mendengus. Divya tidak akan berani meragukan penilaian kakak-kakaknya, tapi pria ini pernah menciumnya secara paksa bukan hanya sekali, tetapi tiga kali. Sementara Abhimanyu maupun Jagar tidak tahu hal itu. Jadi … bisakah Divya percaya pada pria ini? Tentu tidak.

”Mas Jagar percaya padamu karena dia tidak tahu kelakuanmu yang sebenarnya. Kalau dia tahu, dia tidak akan percaya pada kamu.”

Xavier tersenyum kecil, Divya tidak sepenuhnya salah. Tidak ada yang tahu kelakuan Xavier yang sebenarnya kecuali beberapa orang dan Jagar tidak termasuk di dalamnya. Tapi Xavier juga tidak berpura-pura di hadapan orang lain. Dan Jagar memilihnya tentu karena banyak pertimbangan—yang Xavier yakin pertimbangan utama adalah kekuatannya dalam menyelamatkan nyawa. Tidak terhitung berapa banyak misi yang sudah diselesaikan tanpa ada satupun yang gagal. Xavier juga sudah cukup lama bekerja sama dengan Jagar dan pria itu juga salah satu pembimbingnya di organisasi. Jagar memilihnya bukan tanpa pertimbangan.

“Kembali ke topik pertama, jangan terlalu percaya pada pacarmu itu.” Menyebut kata pacar, lidah Xavier terasa terbakar. Xavier tahu siapa pacar Divya, sejak Divya baru saja berpacaran, Xavier sudah tahu siapa pria itu. Xavier tidak pernah ingin mengusik hubungan wanita di sampingnya sampai hari ini tiba-tiba Xavier ingin melakukan hal itu. “Nanti malam kamu mau ke mana?”

”Bukan urusanmu.”

”Aku harus mengawalmu—“

”Kamu akan mengawal aku yang pergi kencan?”

”Ya. Jadi, ke mana?”

”Aku tidak mau menjawab—“

”Brengsek, Princess. Jawab saja!” Xavier sulit mengendalikan emosi jika berhadapan dengan wanita ini. “Kamu tahu apa misiku? Menjagamu dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, empat minggu dalam sebulan dan dua belas bulan dalam setahun! Aku harus pergi ke mana pun kamu ingin pergi. Mengawalmu. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku gagal dalam misiku dan aku gagal menjaga klienku! Jadi jawab saja dan jangan pancing kemarahanku!” Napas Xavier memburu dan sedetik kemudian dia mengumpat pelan, lagi-lagi otaknya kacau akibat kombinasi parfum wanita itu, pahanya yang terpampang sempurna dan dadanya yang membusung indah karena lagi-lagi wanita itu bersedekap sambil memicing padanya.

Bukannya menjawab, Divya menatapnya dengan begitu tenang.

“Aku kenal psikiater, kalau kamu butuh dokter untuk mengelola emosimu, jangan sungkan—“ Divya terkejut karena mobil berhenti mendadak. Xavier memicing, menatap Divya lekat, mendekatkan tubuhnya pada tubuh wanita yang kini merapat pada pintu mobil.

”Aku ingin misiku berjalan lancar dan aku juga tahu kamu ingin hidupmu tenang. Mengapa kita tidak bekerja sama dengan baik? Cukup jawab pertanyaanku kalau aku bertanya dan jangan mengejek emosiku. Karena kalau aku emosi, aku bisa mencincangmu menjadi delapan puluh bagian. Mengerti, Princess?” Xavier menatap lekat, suaranya penuh ancaman dan emosi yang berusaha ditahan.

Namun jika Xavier berharap Divya patuh layaknya anjing, Xavier pasti salah.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 7

    Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pakaian Divya malam ini. Gaun pendek berwarna hitam yang panjangnya hanya menutupi separuh paha dan bagian atasnya begitu terbuka. Hanya ditahan oleh segaris tali kecil dan jika tali itu meluncur ke bawah, akan membuat separuh dada wanita itu terlihat.Xavier berdecak, di mana Divya menemukan pakaian keparat itu? Terlebih si rambut coklat terus menatap ke dada yang membusung di depannya. Xavier yakin pria itu meneteskan air liur atau bahkan sudah menjulurkan lidah layaknya anjing saat menatap dada indah di depannya.Xavier tahu isi otak pria itu—mungkin sama kotornya dengan isi otak Xavier sekarang—pria itu pasti sudah tidak sabar membawa Divya ke ranjangnya. Membayangkan pria itu menindih Divy

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 6

    ”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimkan emosi masing-masing melalui tatapan mata. Xavier yang lebih dulu menarik wajah dan menghela napas panjang.”Jawab saja, akan pergi ke mana?””Tidak mau.””Baiklah, tutup saja mulutmu itu tapi yang pasti aku akan terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi.” Xavier kembali menjalankan kendaraan menuju kantor Divya. Mobil berhenti di basement. Pria itu turun dan membukakan pintu untuk Divya. Mobil Xavier hanya dua pintu, jadi otomatis Divya akan duduk di sampingnya. Jika mobil itu memiliki empat pintu, Divya akan memilih duduk di belakang pria itu daripada di sampingnya. Divya melangkah menuju lift dengan Xavier di sampingnya. Wanita itu cemberut, masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut. Xav

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 5

    Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa bahwa mungkin dia akan mati dalam perjalanan ini karena sering kali menahan napas terlalu lama. Matanya yang tidak bisa diatur tanpa permisi melirik paha Divya yang mulus. Kaki itu saling bertumpu, cara Divya duduk membuat roknya naik semakin tinggi dan separuh paha wanita itu terpampang sempurna untuk dilihat, disentuh dan dijilat. Oh. fuck! Apakah rok wanita itu tidak terlalu pendek? Xavier berdehem, rasa gelisah terus membuat lehernya semakin tercekik dan pria itu melonggarkan dasinya, dia mencoba menarik napas namun cepat-cepat menahannya. Suhu di dalam mobil cukup dingin tapi Xaver merasa dirinya seperti dipanggang di dalam oven. Diam-diam keringat mengalir di punggungnya. Berhenti

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 4

    ”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap menatap Divya yang sedang sarapan. ”Untuk apa? Tembok itu setinggi lima meter.” ”Harusnya tembok itu setidaknya setinggi sepuluh meter. Kalau tidak mau menambah tinggi tembok, pasang kawat pelindung.” ”Tidak ada yang akan memanjat tembok setinggi lima meter—“ ucapan Divya terhenti karena Xavier tertawa. ”Tidak ada. Apa kamu bodoh, Princess? Siapa pun bisa memanjatnya.” ”Tingginya lima meter, Frederick. Tidak ada yang mau repot-repot memanjatnya.” Xavier menghela napas panjang, matanya menatap Divya yang kembali makan dengan tenang. Wanita itu memakai kemeja dengan warna putih dan rok pendek berwarna putih gading. Kaki mulusnya memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam. Model Christi

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 3

    “Pengawal kamu bakal datang pagi ini.” Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya. ”Siapa?” ”Kamu tahu dia.” ”Namanya?” ”Tunggu saja dia datang.” ”Mas nggak mau kasih tahu namanya?” ”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi dulu.” ”Mas!” Tapi Jagar sudah masuk ke mobilnya yang dikendarai oleh Wira. Divya menghela napas, masih mengenakan kaos rumahan dan belum berganti pakaian untuk pergi bekerja. Niatnya ingin kembali masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba semua mobil sport memasuki halaman rumahnya yang luas. Divya memicing. Siapa yang datang? Ia tidak mengenali mobil ini sama sekali. Apa salah satu keluarganya? Kalau memang salah satu keluarganya, mengapa sekuriti membiarkannya masuk tanpa memberitahu Divya lebih dulu? Mobil itu berhenti tepat di depan teras. Mobil sport keluaran terbaru yang harganya cukup fantastis. Divya memicing dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang datang berkunjung ke rumahnya s

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 2

    Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya jatuh kepada Jack Daniel’s, mengambil sebuah gelas yang sudah diisi bongkahan es oleh Rainer. “Aku menunggu Aksa dan Danish.” Pria itu berjalan ke sofa yang ada di balkon dan duduk di sana. Helaan napasnya terdengar berat. ”X!” Xavier menoleh dan tersenyum lebar, pria itu berdiri dan membiarkan Eve melompat ke dalam pelukannya. “Hai, Baby,” sapa Xavier sambil mengecup sisi kepala Eve. “Oh, God. I miss you so damn much.” ”I miss you too, Ironman.” ”Stay away from my wife.” Sebuah suara terdengar di belakang tubuh Eve. Bukannya melepaskan pelukannya, Xavier malah memeluk Eve semakin erat, mengangkatnya dari lantai dan wanita di pelukannya hanya tertawa. Saat Aksa mengangkat tangan dan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status