Share

Bab 22

Auteur: UmiPutri
last update Dernière mise à jour: 2026-01-07 22:50:19

Kamar itu sunyi.

Hanya ada dua perempuan di dalamnya—seorang ibu dan anak yang terlalu lama dipisahkan oleh keadaan, hutang, dan keputusan-keputusan pahit yang tidak pernah benar-benar mereka pahami sepenuhnya.

Pintu kamar sengaja ditutup perlahan oleh Nyonya Ambarwati. Wanita itu bahkan memberi isyarat halus pada ART agar tidak mendekat. Kedua adik Amara sudah dibawa ke taman belakang, bermain bersama Nyonya Ambarwati dan salah satu ART dengan tawa kecil yang sesekali terdengar samar dari kejauhan.

Waktu ini… memang milik Amara dan ibunya.

Begitu pintu tertutup, Amara langsung berbalik.

Tanpa kata.

Tanpa ragu.

Ia melangkah cepat lalu memeluk Bu Laras erat-erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya untuk kedua kali. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal, dan air matanya tumpah begitu saja.

“Ibu…” suara Amara pecah. “Ibu tahu rasanya Amara waktu itu?”

Bu Laras membeku.

Tangannya yang kasar karena kerja sawah terangkat perlahan, lalu membalas pelukan Amara dengan penuh
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    bab 28

    Empat bulan telah berlalu sejak hari ketika koper itu ditutup dan Tuan Alex melangkah keluar dari kamar pernikahannya bersama Anisa.Waktu berjalan, tapi tidak bagi semua orang dengan cara yang sama.Di rumah Nyonya Ambarwati, pagi itu terasa berbeda. Udara dipenuhi aroma masakan tradisional—opor, sayur lodeh, tumpeng kuning yang menjulang rapi di tengah meja panjang. Beberapa kerabat dekat dan tetangga pilihan tampak sibuk membantu, wajah-wajah mereka cerah oleh senyum dan doa.Hari itu adalah syukuran empat bulan kehamilan Amara.Amara duduk di ruang tengah, mengenakan kebaya sederhana berwarna krem pucat. Wajahnya terlihat lebih berisi, pipinya sedikit merona. Tangannya beberapa kali mengusap perutnya yang mulai membulat—gerakan refleks seorang ibu yang mulai merasakan ikatan batin dengan kehidupan kecil di dalam rahimnya.Nyonya Ambarwati berdiri tak jauh darinya, sesekali mengawasi dengan mata penuh kasih.“Kamu capek?” tanyanya lembut.Amara menggeleng. “Tidak, Ny—eh… Mama,” kat

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 27

    Pak Joko tidak punya siapa-siapa lagi.Setelah diusir dari rumah Bu Laras dan dipermalukan di depan warga, ia hidup menumpang dari satu tempat ke tempat lain. Uang yang pernah ia terima kini hampir habis—sebagian untuk menutup hutang lama, sebagian lagi lenyap untuk bertahan hidup.Namun yang paling menyiksanya bukan kemiskinan.Melainkan rasa bersalah.Setiap malam, wajah Bu Laras yang tegar bercampur dengan tatapan dingin Amara terus menghantuinya. Ia sadar, satu-satunya orang yang mendorongnya ke jurang ini adalah perempuan yang kini hidup nyaman di rumah megah—Anisa.Sore itu, dengan sisa harga diri yang hampir punah, Pak Joko memberanikan diri menemui Anisa di apartemen kecil yang biasa ia sewa diam-diam.Pintu terbuka.Anisa berdiri dengan pakaian rapi, wajahnya cantik seperti biasa. Namun senyumnya hilang begitu melihat siapa yang datang.“Kamu?” nada Anisa datar. “Ngapain ke sini?”Pak Joko masuk tanpa diundang. Wajahnya kusut, matanya cekung.“Hidup saya hancur,” katanya lang

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 26

    Fitnah itu menyebar seperti api yang disiram bensin.Awalnya hanya bisik-bisik kecil di warung kopi. Lalu berpindah ke pos ronda. Dari mulut ke mulut, cerita itu berubah bentuk—semakin kejam, semakin keji.“Katanya Bu Laras itu yang menjual anaknya sendiri.”“Iya, demi harta orang kaya.”“Pantas sekarang hidupnya enak.”“Anaknya dijadikan istri kedua. Jijik!”Bu Laras tidak tahu dari mana semua itu bermula.Ia hanya merasakan perubahan sikap orang-orang di sekitarnya. Senyum yang dulu ramah kini menghilang. Sapaan yang biasanya hangat berubah dingin. Tatapan mata penuh curiga dan jijik mengikuti setiap langkahnya.Suatu sore, saat Bu Laras pulang dari sawah dengan tubuh letih dan kaki berlumpur, ia mendapati beberapa orang sudah berkumpul di depan rumahnya.Pak RT berdiri paling depan. Wajahnya keras.“Bu Laras,” katanya lantang. “Kita perlu bicara.”Bu Laras mengangguk gugup. Alif dan Alya berdiri di belakangnya, saling menggenggam tangan.“Ini soal apa, Pak?” tanya Bu Laras pelan.P

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 25

    Malam semakin larut.Lampu-lampu kota berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi, tapi di salah satu kafe kecil yang tersembunyi di sudut jalan, cahaya justru terasa muram. Musik instrumental mengalun pelan, namun tidak mampu menutupi ketegangan dua orang yang duduk saling berhadapan di sudut ruangan.Anisa menyilangkan kaki dengan anggun. Gaun hitamnya menempel sempurna di tubuh, mempertegas aura dingin yang kini melekat padanya. Di hadapannya, Pak Joko duduk dengan gelisah, tangannya tak berhenti memainkan sendok kecil di cangkir kopi yang sudah dingin.“Katakan saja rencananya, Nyonya,” ucap Pak Joko akhirnya. “Saya orang desa, tidak suka bertele-tele.”Anisa tersenyum tipis.“Justru karena itu saya memilih Bapak,” katanya lembut, tapi matanya tajam. “Bapak terlihat polos… tapi saya tahu Bapak cerdik.”Pak Joko mendengus kecil. “Kalau memang cerdik, tentu tahu semua ada harganya.”Anisa tertawa pelan. Ia membuka tasnya, mengeluarkan ponsel, lalu memutar layar ke arah Pak Joko. Di

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 23

    Pak Joko datang tanpa memberi kabar.Mobil sewaan yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gerbang rumah Nyonya Ambarwati saat matahari hampir tenggelam. Pak Joko turun dengan langkah tergesa, mengenakan kemeja kusut yang belum disetrika, celana kain yang warnanya mulai pudar, dan sandal jepit yang kontras dengan lantai halaman berlapis batu alam.Ia menatap rumah besar itu dengan sorot mata campur aduk—takjub, iri, dan marah.“Ini rumahnya?” gumamnya, lalu melangkah masuk tanpa ragu, seakan tempat itu memang layak ia datangi kapan saja.Satpam sempat menghentikan, namun setelah Pak Joko menyebut nama Bu Laras dan Amara dengan suara tinggi, ART bergegas memanggil Nyonya Ambarwati.Di ruang tengah, suasana mendadak berubah.Amara yang sedang duduk bersama ibunya dan adik-adiknya langsung menegang ketika mendengar suara berat yang sangat ia kenal—suara yang membawa begitu banyak kenangan pahit.“Bu Laras!”Tubuh Bu Laras membeku. Wajahnya memucat.Amara bangkit berdiri perlahan. Tatap

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 22

    Kamar itu sunyi.Hanya ada dua perempuan di dalamnya—seorang ibu dan anak yang terlalu lama dipisahkan oleh keadaan, hutang, dan keputusan-keputusan pahit yang tidak pernah benar-benar mereka pahami sepenuhnya.Pintu kamar sengaja ditutup perlahan oleh Nyonya Ambarwati. Wanita itu bahkan memberi isyarat halus pada ART agar tidak mendekat. Kedua adik Amara sudah dibawa ke taman belakang, bermain bersama Nyonya Ambarwati dan salah satu ART dengan tawa kecil yang sesekali terdengar samar dari kejauhan.Waktu ini… memang milik Amara dan ibunya.Begitu pintu tertutup, Amara langsung berbalik.Tanpa kata.Tanpa ragu.Ia melangkah cepat lalu memeluk Bu Laras erat-erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya untuk kedua kali. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal, dan air matanya tumpah begitu saja.“Ibu…” suara Amara pecah. “Ibu tahu rasanya Amara waktu itu?”Bu Laras membeku.Tangannya yang kasar karena kerja sawah terangkat perlahan, lalu membalas pelukan Amara dengan penuh

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status