共有

Bab 22

作者: UmiPutri
last update 公開日: 2026-01-07 22:50:19

Kamar itu sunyi.

Hanya ada dua perempuan di dalamnya—seorang ibu dan anak yang terlalu lama dipisahkan oleh keadaan, hutang, dan keputusan-keputusan pahit yang tidak pernah benar-benar mereka pahami sepenuhnya.

Pintu kamar sengaja ditutup perlahan oleh Nyonya Ambarwati. Wanita itu bahkan memberi isyarat halus pada ART agar tidak mendekat. Kedua adik Amara sudah dibawa ke taman belakang, bermain bersama Nyonya Ambarwati dan salah satu ART dengan tawa kecil yang sesekali terdengar samar dari keja
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 59

    “Pak… lihat itu!” suara si istri bergetar, tangannya menarik lengan suaminya dengan kuat. “Ada orang… ada orang di pinggir sungai!”Suaminya menghentikan langkah. Senja hampir tenggelam, cahaya jingga memantul di permukaan sungai yang keruh. Dari kejauhan, tampak sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di antara rumput liar dan batu-batu licin.“Ya Allah…” gumam sang suami. “Siapa itu?”“Aku takut, Pak,” bisik si istri. “Jangan-jangan sudah… sudah meninggal.”Suaminya menelan ludah. Dengan langkah ragu, ia mendekat. Sepatu bututnya terpeleset sedikit di tanah basah, tapi ia tetap maju. Ia berjongkok, mencondongkan badan, lalu menyentuh lengan wanita itu dengan hati-hati.“Masih hidup, Bu,” katanya lega bercampur cemas. “Nadinya masih ada.”“Alhamdulillah…” si istri menghela napas panjang. “Kasihan sekali. Tubuhnya luka-luka begitu. Kita tidak bisa meninggalkannya di sini.”Suaminya menatap wajah wanita itu. Pucat. Bibirnya pecah. Ada luka di pelipis, goresan panjang di lengan, dan bekas

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 58

    “Bayi ini milik aku. Kamu tahu tidak, dulu Amara masuk ke kehidupan rumah tanggaku…” suara Anisa bergetar namun penuh kepemilikan, lengannya memeluk bayi itu erat-erat, seolah dunia hanya berisi mereka berdua. “Sampai Alex berpaling dariku.”“Kamu gila, Anisa!” sentak perempuan di hadapannya—teman lama yang kini wajahnya pucat pasi, matanya tak lepas dari bayi yang terlelap itu. “Apa yang kamu lakukan ini kejam!”“Aku memang sudah gila,” sambar Anisa sambil terkekeh pendek. Tawa itu pecah, kering dan rapuh, seperti kaca yang retak dipaksa berderit. “Gila karena ditinggalkan. Gila karena direbut. Gila karena semua yang kuanggap milikku diambil satu per satu.”Ia menunduk, menatap wajah mungil Bayu. Bayi itu menguap kecil, jemarinya bergerak refleks, sama sekali tak mengerti badai apa yang sedang menggulung hidupnya. Anisa mengusap pipi Bayu dengan jari gemetar. “Tenang, Nak… Aku tidak akan menyakitimu. Kamu hanya… hanya perlu berada di tempat yang benar.”“Tempat yang benar?” Perempuan

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 57

    Tangisan Amara pecah tanpa bisa dibendung lagi. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya terasa lemas hingga ia hampir ambruk kalau saja sepasang tangan tidak segera memeluknya erat.“Ibu… Bayu… Bayu diambil orang, Bu…” suara Amara putus-putus, nyaris tak terdengar karena terselip isak yang menyayat.Bu Laras memeluk putrinya kuat-kuat. Dada perempuan paruh baya itu ikut naik turun menahan sesak. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi bahu Amara. Ia tidak pernah membayangkan ujian sekejam ini akan menimpa anaknya, apalagi cucu kecil yang baru saja mulai mengisi rumah dengan tangisan dan tawa.“Sabar, Ra… sabar, Nak…” Bu Laras berusaha menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar. “Kita cari sama-sama. Bayu pasti kembali.”“Tadi… tadi Bayu di stroller, Bu…” Amara terisak makin keras. “Aku cuma nengok sebentar ke gudang. Cuma sebentar…” Ia memukul dadanya sendiri, menahan rasa bersalah yang menghantam bertubi-tubi. “Salah aku, Bu… semua salah aku…”“Tidak, Ra. Jangan begitu,” Bu Laras mengu

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 56

    Mas… aku tidak datang untuk memohon,” suara Masitoh bergetar, tangannya refleks mengusap perutnya yang mulai membuncit. “Aku hanya ingin Mas Alex tahu satu hal. Apa pun keputusan Mas nanti, aku akan menerimanya.”Alex terdiam. Tatapannya beralih pada perut Masitoh, lalu pada Danu yang berdiri kaku di samping istrinya. Lelaki yang dulu begitu pongah itu kini tampak seperti bayangan dirinya sendiri—mata cekung, wajah kusam, bahu merosot oleh beban kesalahan.“Masitoh sedang hamil,” ujar Alex pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Dan kau…,” pandangannya menusuk Danu, “kau tahu betul apa yang sudah kau lakukan.”Danu menelan ludah. “Aku tahu, Mas. Aku tidak membela diri. Aku hanya… siap menerima apa pun.”Keheningan jatuh di antara mereka, berat dan menyesakkan. Angin sore menggerakkan dedaunan di halaman kecil rumah itu, tapi dada Alex justru terasa semakin sempit. Ada amarah yang belum padam, ada luka yang belum sembuh, namun di saat yang sama, rasa kemanusiaan yang lama ia tek

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 55

    Danu membeku di tempatnya berdiri. Kata-kata Masitoh barusan masih menggema di kepalanya, seperti palu yang memukul tanpa ampun. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan. Ia menatap Masitoh dengan mata terbelalak, seolah perempuan yang berdiri di hadapannya itu bukanlah Masitoh yang selama ini ia kenal—sederhana, lembut, dan selalu menunduk.“Apa… apa maksud kamu?” suara Danu serak, nyaris tak keluar.Masitoh menghela napas panjang. Ia duduk perlahan di kursi makan, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tenang, mantap, seolah keputusan yang ia ucapkan bukanlah sesuatu yang tiba-tiba.“Kamu sekarang bekerja di perusahaan papa,” ulang Masitoh, lebih pelan namun tegas. “Bukan perusahaan yang selama ini kamu pegang.”Danu mundur selangkah, punggungnya hampir menyentuh dinding. Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna setiap suku kata. Perusahaan papa? Papa siapa? Selama ini Masitoh hanya bercerita tentang ayahnya sebagai orang tua yang tegas, jar

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Ban 54

    Rumah Masitoh yang biasanya terasa tenang mendadak berubah tegang sore itu. Langit mendung seolah ikut menjadi pertanda. Masitoh baru saja selesai menyeduh teh ketika suara deru mobil berhenti kasar di depan rumah. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Belum sempat ia bertanya, pintu pagar sudah dibuka tanpa salam.Ibunya Danu melangkah masuk paling depan, wajahnya keras, sorot matanya tajam seperti hendak menelan siapa pun yang dilewatinya. Di belakangnya, ayah Danu menyusul dengan wajah masam, diikuti Salwa dan Fitri yang berbisik-bisik penuh emosi.Danu yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri. “Bu… Pak… kenapa datang mendadak?” tanyanya, meski ia sudah bisa menebak alasan kedatangan mereka.Masitoh berdiri di ambang dapur, tangannya gemetar memegang nampan. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah keluar. “Silakan duduk,” ucapnya pelan, berusaha sopan.Namun ibunya Danu sama sekali tidak menggubris. “Tidak usah basa-basi!” sentaknya. “Aku mau dengar langsung dari mulutmu, Dan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status