Share

Bab 2

Author: UmiPutri
last update publish date: 2025-12-05 03:00:08

Suara decit ban itu membuat jantung Amara serasa meloncat keluar. Tubuhnya terhuyung ke depan sebelum tertahan oleh sabuk pengaman yang baru saja ia sadari sudah terpasang di dada. Napasnya memburu, dingin menjalar dari tulang belakang sampai tengkuk.

Sopir yang mengemudi tampak menoleh melalui kaca spion dengan wajah pucat pasi. “Maaf, Nona… ada—”

Belum sempat sopir itu menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara ketukan keras di kaca jendela bagian kanan. Tok! Tok! Tok!

Amara tersentak. Kepalanya otomatis menoleh, dan matanya langsung membelalak.

Seorang pria bertubuh kekar, berpakaian hitam-hitam, berdiri tepat di luar jendela mobil. Sorot matanya tajam, wajahnya tanpa ekspresi, seolah bukan manusia biasa.

Sopir menurunkan kaca sedikit dengan tangan gemetar. “A—ada apa, Pak?”

Pria besar itu memandang ke dalam mobil, tepat ke arah Amara, membuat gadis itu menunduk reflek. “Perintah Tuan Alex,” katanya datar. “Ikuti kami. Kami harus memastikan rutenya aman.”

Sopir itu tampak lega—dan semakin takut. “Baik, Pak.”

Pria kekar itu melangkah mundur, kemudian dua mobil hitam lain muncul dari arah belakang, bergerak maju membentuk formasi mengawal. Seperti rombongan elite, bukan sekadar pengantar seorang gadis miskin yang dijual keluarganya.

Amara tertegun.

Hatinya semakin mengecil.

Kenapa aku dijaga seperti tahanan? Kenapa semua ini terasa lebih menakutkan dari yang tadi di rumahnya?

Mobil kembali melaju. Jalanan menjadi sunyi, hanya suara mesin yang terdengar. Namun pikiran Amara jauh lebih bising.

“Kenapa… harus seperti ini?” bisik Amara lirih, hampir tidak terdengar.

Sopir melirik melalui kaca spion. “Tuan Alex orang penting, Nona. Dia tidak suka ada hal kecil pun yang keluar dari kendalinya.”

Kata-kata itu membuat tubuh Amara kian kaku. Jantungnya mengetuk-ngetuk tulang rusuk.

Setelah perjalanan beberapa menit, rombongan mobil berbelok ke sebuah kawasan perumahan elit yang dijaga satpam berseragam rapi. Gerbang otomatis terbuka, memperlihatkan barisan rumah megah yang hanya pernah Amara lihat dari televisi atau poster iklan perumahan mewah.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan arsitektur modern minimalis, halaman luas, kaca-kaca tinggi, dan pintu kayu besar yang terlihat terlalu mahal untuk disentuh oleh gadis sederhana seperti Amara.

Pintu mobil dibuka dengan sopan oleh seorang petugas. “Silakan turun, Nona.”

Amara melangkah turun dengan lutut gemetar. Angin sore yang sejuk menyapu wajahnya, tetapi tidak sedikit pun menenangkan.

Seseorang muncul di depan pintu rumah.

Wanita anggun, berusia sekitar akhir 30-an, dengan dress mahal dan wajah cantik yang sedang tidak menyimpan senyum. Matanya menatap tajam ke arah Amara. Pakai hijab, wajahnya cantik sekali.

Tatapannya menusuk Amara dari atas sampai bawah.

Sopir membungkuk hormat. “Nona Amara sudah tiba, Nyonya.”

Amara tersentak. Nyonya?

Berarti ini—

Wajah wanita itu mengeras. “Jadi ini dia? Gadis… itu?”

Amara merasakan udara di paru-parunya hilang.

Wanita itu melangkah turun, mendekati Amara hingga jarak mereka hanya sejengkal. Dari dekat, tatapan itu lebih menusuk—campuran sakit hati, cemburu, dan amarah yang Amara tidak tahu sumbernya.

“Jadi kamu… yang katanya disiapkan untuk tinggal di sini?” suara wanita itu rendah, tetapi penuh tekanan.

Amara tak sanggup bicara. Bibirnya kaku.

Wanita itu menatapnya lebih lama, seolah ingin menelan habis seluruh keberadaan Amara. Lalu ia menghela napas panjang. “Alex belum memberitahuku apa pun tentang kamu…”

Suaranya bergetar samar. “Tapi aku bukan orang bodoh.”

Wanita itu mundur selangkah, menahan air mata dengan paksa. “Masuklah. Sebelum aku berubah pikiran.”

Pintu rumah terbuka lebar. Seolah itu adalah gerbang menuju takdir baru yang tidak pernah Amara pinta.

Dengan langkah kecil, tubuh gemetar, Amara melangkah masuk.

Begitu pintu tertutup “duk!”, dunia di luar terasa hilang.

Dan di dalam rumah megah itu, Amara sadar satu hal:

Hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.

Baik, aku akan melanjutkan adegannya secara dramatis, emosional, dan tetap aman, tanpa membuat unsur eksploitasi detail yang melanggar aturan. Fokus pada konflik, ketegangan, perasaan, dan dinamika rumah tangga yang rumit.

---

Rumah megah itu terasa seperti membeku ketika suara langkah sepatu kulit menjejak lantai marmer.

Tuan Alex datang.

Amara yang masih berdiri canggung di ruang tamu sontak merapatkan kedua tangannya. Sementara di sisi lain ruangan, Anisa, istri sah Alex, duduk dengan punggung tegang, wajah tanpa ekspresi… namun matanya menyimpan badai.

Alex berhenti tepat di tengah mereka berdua.

“Anisa,” ucap Alex pelan, namun suaranya terdengar penuh kehati-hatian.

Seolah ia berbicara pada luka lama.

Anisa mengangkat dagu, matanya berusaha tetap tenang. “Jadi ini gadis yang kamu bawa diam-diam ke rumah?”

Alex menarik napas panjang. “Aku ingin menjelaskan.”

“Silakan.” Suara Anisa halus, tapi dingin seperti besi.

Alex menoleh ke Amara sejenak, sebelum kembali fokus pada istrinya.

“Bapaknya berhutang besar. Situasinya… tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Aku membeli kontraknya—”

“Kontrak?” Anisa tertawa kecil, pahit. “Jadi dia… barang?”

Amara menunduk dalam-dalam, tubuhnya makin kaku. Sebagian dari dirinya ingin menghilang dari tempat itu, tetapi ia tidak punya hak apa-apa.

Alex melanjutkan, lebih tegas, “Aku tidak menyakitinya, dan aku tidak melakukan apa pun tanpa perjanjian. Dia hanya… pelunasan hutang, Nis.”

“Dan perjanjian itu berisi apa?” tanya Anisa pelan, matanya memanas namun tetap terjaga.

Alex terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku akan menikahinya secara kontrak. Tanpa hubungan apa pun yang tidak dia inginkan.”

Amara tersentak kecil.

Anisa mengerutkan kening, menatap lekat-lekat Alex. “Kamu serius?”

“Ya.” Alex mengangguk. “Ini hanya administratif. Aku butuh ini untuk menyelesaikan urusan dengan keluarganya. Tidak lebih.”

Anisa menggigit bibir, menahan perih yang mengalir ke dadanya.

“Aku ini apa bagimu, Alex? Apa menikahiku belum cukup membuatmu bertanggung jawab untuk bicara dulu?”

Alex menutup mata sesaat. “Karena aku takut kamu terluka.”

“Tapi nyatanya aku tetap terluka,” bisik Anisa, nyaris tidak terdengar.

Hening panjang jatuh.

Lalu Anisa bangkit, menghampiri Amara dengan langkah tenang.

Amara refleks mundur setengah langkah, takut perempuan itu marah.

Tetapi Anisa hanya menatapnya.

“Berapa pun sakitnya, aku tidak akan menyalahkanmu,” ucap Anisa lirih. “Kamu juga korban dari keluarga yang menjerumuskanmu.”

Amara terkejut, matanya melebar.

Alex tampak lega tetapi tetap gelisah.

Anisa menatap Alex kembali. “Apa dia sudah menandatangani perjanjian itu?”

“Belum,” jawab Alex. “Asisten akan mengurusnya hari ini.”

Seakan dipanggil, pintu samping terbuka dan Rafa, asisten pribadi Alex, muncul membawa map tebal berisi dokumen.

“Ini perjanjian resmi, Nona Amara.” Rafa meletakkan map di meja. “Bukan kontrak kepemilikan, tapi perjanjian pernikahan sementara. Ada batas waktunya.”

Amara menelan ludah, rasa pahit menjalari lidahnya.

“Batas waktunya… berapa lama?”

Alex menjawab langsung. “Enam bulan.”

Anisa menutup mata sejenak, menahan perasaan yang berputar dalam hatinya. Ini bukan keputusan kecil, namun ia menahan diri untuk tidak menjadi perempuan yang melampiaskan kemarahan pada orang lemah.

Amara melihat semua pihak satu per satu, lalu melihat dokumen itu.

Begitu banyak halaman.

Begitu banyak tulisan.

Begitu banyak kehidupan yang mendadak menjadi bukan miliknya lagi.

Tangannya gemetar ketika menyentuh pena.

“Jika saya tidak menandatangani ini… bapak saya tetap harus membayar 150 juta itu, kan?” bisik Amara, suaranya pecah.

“Ya.” Alex tidak memberi bumbu lain, hanya fakta.

Amara menutup mata.

Sesak.

Tapi tidak ada pilihan lain.

Dengan tarikan napas panjang, ia menuliskan namanya:

A M A R A

Satu demi satu halaman ditandatangani.

Saat tanda tangan terakhir selesai, Rafa mengambil kembali map itu.

“Mulai hari ini, status Anda berada di bawah perlindungan Tuan Alex. Anda akan ditempatkan di kamar terpisah. Tidak ada paksaan mengenai hubungan pribadi. Semua tertulis jelas.”

Anisa hanya bisa duduk kembali dengan mata berkaca-kaca.

Alex berdiri diam, ekspresinya tak terbaca.

Sementara Amara…

Gadis itu memeluk kedua lengannya sendiri, tubuhnya bergetar.

Hari ini, dalam satu sapuan pena, hidupnya berubah selamanya.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 59

    “Pak… lihat itu!” suara si istri bergetar, tangannya menarik lengan suaminya dengan kuat. “Ada orang… ada orang di pinggir sungai!”Suaminya menghentikan langkah. Senja hampir tenggelam, cahaya jingga memantul di permukaan sungai yang keruh. Dari kejauhan, tampak sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di antara rumput liar dan batu-batu licin.“Ya Allah…” gumam sang suami. “Siapa itu?”“Aku takut, Pak,” bisik si istri. “Jangan-jangan sudah… sudah meninggal.”Suaminya menelan ludah. Dengan langkah ragu, ia mendekat. Sepatu bututnya terpeleset sedikit di tanah basah, tapi ia tetap maju. Ia berjongkok, mencondongkan badan, lalu menyentuh lengan wanita itu dengan hati-hati.“Masih hidup, Bu,” katanya lega bercampur cemas. “Nadinya masih ada.”“Alhamdulillah…” si istri menghela napas panjang. “Kasihan sekali. Tubuhnya luka-luka begitu. Kita tidak bisa meninggalkannya di sini.”Suaminya menatap wajah wanita itu. Pucat. Bibirnya pecah. Ada luka di pelipis, goresan panjang di lengan, dan bekas

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 58

    “Bayi ini milik aku. Kamu tahu tidak, dulu Amara masuk ke kehidupan rumah tanggaku…” suara Anisa bergetar namun penuh kepemilikan, lengannya memeluk bayi itu erat-erat, seolah dunia hanya berisi mereka berdua. “Sampai Alex berpaling dariku.”“Kamu gila, Anisa!” sentak perempuan di hadapannya—teman lama yang kini wajahnya pucat pasi, matanya tak lepas dari bayi yang terlelap itu. “Apa yang kamu lakukan ini kejam!”“Aku memang sudah gila,” sambar Anisa sambil terkekeh pendek. Tawa itu pecah, kering dan rapuh, seperti kaca yang retak dipaksa berderit. “Gila karena ditinggalkan. Gila karena direbut. Gila karena semua yang kuanggap milikku diambil satu per satu.”Ia menunduk, menatap wajah mungil Bayu. Bayi itu menguap kecil, jemarinya bergerak refleks, sama sekali tak mengerti badai apa yang sedang menggulung hidupnya. Anisa mengusap pipi Bayu dengan jari gemetar. “Tenang, Nak… Aku tidak akan menyakitimu. Kamu hanya… hanya perlu berada di tempat yang benar.”“Tempat yang benar?” Perempuan

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 57

    Tangisan Amara pecah tanpa bisa dibendung lagi. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya terasa lemas hingga ia hampir ambruk kalau saja sepasang tangan tidak segera memeluknya erat.“Ibu… Bayu… Bayu diambil orang, Bu…” suara Amara putus-putus, nyaris tak terdengar karena terselip isak yang menyayat.Bu Laras memeluk putrinya kuat-kuat. Dada perempuan paruh baya itu ikut naik turun menahan sesak. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi bahu Amara. Ia tidak pernah membayangkan ujian sekejam ini akan menimpa anaknya, apalagi cucu kecil yang baru saja mulai mengisi rumah dengan tangisan dan tawa.“Sabar, Ra… sabar, Nak…” Bu Laras berusaha menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar. “Kita cari sama-sama. Bayu pasti kembali.”“Tadi… tadi Bayu di stroller, Bu…” Amara terisak makin keras. “Aku cuma nengok sebentar ke gudang. Cuma sebentar…” Ia memukul dadanya sendiri, menahan rasa bersalah yang menghantam bertubi-tubi. “Salah aku, Bu… semua salah aku…”“Tidak, Ra. Jangan begitu,” Bu Laras mengu

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 56

    Mas… aku tidak datang untuk memohon,” suara Masitoh bergetar, tangannya refleks mengusap perutnya yang mulai membuncit. “Aku hanya ingin Mas Alex tahu satu hal. Apa pun keputusan Mas nanti, aku akan menerimanya.”Alex terdiam. Tatapannya beralih pada perut Masitoh, lalu pada Danu yang berdiri kaku di samping istrinya. Lelaki yang dulu begitu pongah itu kini tampak seperti bayangan dirinya sendiri—mata cekung, wajah kusam, bahu merosot oleh beban kesalahan.“Masitoh sedang hamil,” ujar Alex pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Dan kau…,” pandangannya menusuk Danu, “kau tahu betul apa yang sudah kau lakukan.”Danu menelan ludah. “Aku tahu, Mas. Aku tidak membela diri. Aku hanya… siap menerima apa pun.”Keheningan jatuh di antara mereka, berat dan menyesakkan. Angin sore menggerakkan dedaunan di halaman kecil rumah itu, tapi dada Alex justru terasa semakin sempit. Ada amarah yang belum padam, ada luka yang belum sembuh, namun di saat yang sama, rasa kemanusiaan yang lama ia tek

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 55

    Danu membeku di tempatnya berdiri. Kata-kata Masitoh barusan masih menggema di kepalanya, seperti palu yang memukul tanpa ampun. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan. Ia menatap Masitoh dengan mata terbelalak, seolah perempuan yang berdiri di hadapannya itu bukanlah Masitoh yang selama ini ia kenal—sederhana, lembut, dan selalu menunduk.“Apa… apa maksud kamu?” suara Danu serak, nyaris tak keluar.Masitoh menghela napas panjang. Ia duduk perlahan di kursi makan, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tenang, mantap, seolah keputusan yang ia ucapkan bukanlah sesuatu yang tiba-tiba.“Kamu sekarang bekerja di perusahaan papa,” ulang Masitoh, lebih pelan namun tegas. “Bukan perusahaan yang selama ini kamu pegang.”Danu mundur selangkah, punggungnya hampir menyentuh dinding. Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna setiap suku kata. Perusahaan papa? Papa siapa? Selama ini Masitoh hanya bercerita tentang ayahnya sebagai orang tua yang tegas, jar

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Ban 54

    Rumah Masitoh yang biasanya terasa tenang mendadak berubah tegang sore itu. Langit mendung seolah ikut menjadi pertanda. Masitoh baru saja selesai menyeduh teh ketika suara deru mobil berhenti kasar di depan rumah. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Belum sempat ia bertanya, pintu pagar sudah dibuka tanpa salam.Ibunya Danu melangkah masuk paling depan, wajahnya keras, sorot matanya tajam seperti hendak menelan siapa pun yang dilewatinya. Di belakangnya, ayah Danu menyusul dengan wajah masam, diikuti Salwa dan Fitri yang berbisik-bisik penuh emosi.Danu yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri. “Bu… Pak… kenapa datang mendadak?” tanyanya, meski ia sudah bisa menebak alasan kedatangan mereka.Masitoh berdiri di ambang dapur, tangannya gemetar memegang nampan. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah keluar. “Silakan duduk,” ucapnya pelan, berusaha sopan.Namun ibunya Danu sama sekali tidak menggubris. “Tidak usah basa-basi!” sentaknya. “Aku mau dengar langsung dari mulutmu, Dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status