Home / Mafia / Sentuhan Panas Tuan Mafia / 122. Leon dan Rasa Bersalahnya

Share

122. Leon dan Rasa Bersalahnya

last update publish date: 2025-11-30 22:39:29

Elle tergeletak di lantai, napasnya tersengal-sengal, sementara Leon berdiri di atasnya dengan dada naik-turun menahan amarah yang hampir membuatnya hilang kendali. Tiga anak buahnya berdiri di belakang, menunggu perintah.

Namun Elle tetap saja tersenyum. Senyum yang menusuk jantung lebih dalam daripada belati.

“Ayo, Leon.” bisiknya. “Kalau kau mau membunuhku, lakukan saja. Bukankah itu yang sudah kau inginkan sejak dulu?”

Leon mengepalkan tangannya. “Katakan di mana Anne.”

Elle hanya memiringk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ayu Aqilla
semoga leon n anne bersatu.
goodnovel comment avatar
Debby
Semangat update terus thor ............
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   170. Akhir Perjalanan Sang Mafia (Ending)

    Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung menyala satu per satu, tapi di dalam ruang rapat bawah tanah milik Klan Dominic, suasana jauh dari tenang.Leon berdiri di ujung meja panjang, kedua telapak tangannya menekan permukaan kayu gelap. Wajahnya serius, rahangnya mengeras. Di sekelilingnya ada Jonathan, Adrian, Dev, dan beberapa orang kepercayaannya. Layar besar di dinding menampilkan data keuangan dan jalur distribusi yang berantakan.“Ini bukan kebetulan,” kata Leon rendah. “Seseorang sengaja memotong jalur kita dari dalam.”Dev mengangguk. “Gudang di Marseille disabotase. Kontainer diganti. Informasi internal bocor.”“Musuh lama?” Jonathan mengepalkan tangan.“Bukan,” jawab Leon cepat. “Ini pemain baru. Tapi mereka punya dukungan besar.”Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan. Serangan kecil terjadi di berbagai titik. Bukan frontal, tapi cukup untuk mengganggu alur bisnis. Beberapa anak buah terluka, jalur suplai terputus, dan kepercayaan mitra mulai goyah.Leon tur

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   169. Pernikahan Megan dan Adrian

    Pagi itu, matahari bersinar lembut di atas mansion Dominic. Tidak menyilaukan dan tidak terik seolah ikut menghormati hari yang istimewa. Udara terasa ringan, membawa aroma bunga yang sejak subuh sudah disusun rapi di mobil-mobil pengiring.Beberapa bulan telah berlalu sejak kelahiran Baby Victor. Waktu berjalan tanpa terasa, meninggalkan jejak perubahan besar dalam hidup Anne dan Leon. Rumah yang dulu sunyi dan kaku kini hidup oleh suara tawa bayi, langkah-langkah kecil yang tergesa, dan obrolan ringan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.Valerie berdiri di depan koper besarnya pagi itu, sambil memeluk Anne erat-erat.“Jaga dirimu ya, Sayang,” ucap Valerie lembut. “Dan jaga Victor juga.”Anne mengangguk, matanya berkaca-kaca.“Mama juga. Hati-hati di Jerman.”Valerie tersenyum, lalu menatap Leon. “Kau sudah berubah, Leon. Sekarang aku sudah tenang meninggalkan mereka di tanganmu.”“Aku janji, Ma.” Leon mengangguk hormat.Hari itu Valerie kembali ke Jerman ke rumah orang tuany

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   168. Menemukan Kebahagiaan Masing-Masing

    Hari-hari di mansion Dominic perlahan berubah. Tempat itu tidak lagi dipenuhi suara tembakan, teriakan, atau rapat gelap di ruang bawah tanah. Kini suara paling sering terdengar justru tangisan bayi, tawa kecil, dan langkah-langkah tergesa para orang dewasa yang masih belajar menjadi orang tua.Anne duduk di sofa ruang keluarga sambil menggendong baby Victor. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih sedikit pucat, tapi matanya berbinar setiap kali menatap putranya. Victor menggeliat kecil, wajahnya merah dan tangannya mengepal lucu.“Leon,” panggil Anne pelan. “Sepertinya dia mau pup.”Leon yang sedang berdiri di dekat jendela langsung menoleh dengan wajah panik.“Hah? Sekarang?” tanyanya gugup. “Aku baru ganti popoknya sepuluh menit lalu.”Anne mengangkat bahu. “Namanya juga bayi.”Leon menghela napas panjang, lalu mendekat. Ia menatap Victor seolah sedang berhadapan dengan musuh besar.“Oke, Nak,” gumam Leon. “Kita hadapi ini bersama.”Beberapa menit kemudian, Leon berdiri kaku di kama

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   167. Berhasil Menyusui

    Damara tak langsung menyalakan mesin mobilnya setelah meninggalkan gerbang mansion Dominic. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya pelan tapi kejam.Ia tahu bahwa momen itu akan datang. Ia tahu sejak awal bahwa kebahagiaan Anne bukan bersamanya. Namun melihatnya secara langsung tetap saja menyakitkan.Melihat Leon menggendong Anne. Melihat senyum Anne yang tulus, dan melihat ciuman singkat itu. Semua terasa seperti pukulan telak yang memaksanya mengakui kenyataan.Damara memejamkan mata, lalu menarik napas panjang. Ia menunduk, menyeka sisa air mata yang tak sempat jatuh sempurna.“Semua sudah selesai,” gumamnya lirih pada diri sendiri.Ia menyalakan mesin dan melajukan mobil menjauh. Jalanan terasa panjang dan sunyi. Tak ada musik, tak ada suara, hanya pikirannya sendiri yang berisik.Beberapa jam kemudian, Damara tiba di sebuah bandara pribadi. Sebuah jet sudah menunggunya di landasan. Para staf menyambut dengan membungkuk hormat, tetapi Dama

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   166. Merelakanmu Bahagia

    Dua hari dirawat di rumah sakit terasa seperti waktu yang singkat, tapi penuh perubahan. Kondisi Leon membaik dengan cepat. Meski masih harus diawasi, dokter mengakui pemulihannya jauh lebih cepat dari perkiraan. Mungkin karena tekadnya, mungkin karena kehadiran Anne dan bayi mereka yang menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan. Leon hampir tidak pernah jauh dari sisi Anne dan baby Victor.Pagi itu, Anne sedang duduk bersandar di ranjang dengan tubuh yang masih terasa pegal. Leon berdiri di sampingnya sambil menggendong baby Victor dengan hati-hati. Gerakannya masih sedikit kaku, tapi matanya penuh perhatian dan kewaspadaan.“Pegangnya jangan terlalu dekat ke wajahmu, Sayang,” ujar Anne pelan dan khawatir. “Lehernya masih lemah.”“Iya, Sayang, iya." Leon mengangguk dan menyesuaikan posisi. “Aku belajar cepat. Demi dia.”Baby Victor meringkuk tenang di pelukan Leon. Bayi itu tertidur, dadanya naik turun dengan pelan dan teratur. Anne menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   165. Baby Victor

    Anne masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit itu. Tubuhnya terasa remuk, seperti baru saja melewati medan perang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rasa sakit saat melahirkan masih menyisakan denyut-denyut di sekujur tubuhnya, bercampur dengan kelelahan yang membuat kelopak matanya terasa begitu berat.Napasnya naik turun tidak beraturan. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan rambutnya basah oleh keringat. Ia merasa seolah setiap detik yang berlalu telah menguras sisa tenaga terakhir yang ia miliki.“Anne, tetap buka matamu.”Suara itu samar, tapi terasa begitu dekat. Suara yang selama berbulan-bulan hanya hadir dalam doa dan tangisannya.“Leon?”Anne mencoba untuk membuka mata, tetapi penglihatannya masih buram. Ia hanya merasakan sepasang lengan memeluknya dengan hati-hati, seolah takut tubuh rapuh itu akan hancur jika digenggam terlalu kuat. Pelukan itu lemah, tetapi begitu hangat. Pelukan yang selama ini sangat ia rindukan.“Leon, kamu … sadar?” bibir Anne bergerak

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   134. Merasa Ditipu

    “Anne …?” suara Leon parau dan nyaris tak terdengar.Pria itu terpaku di tempatnya. Dadanya naik turun. Napasnya tercekat. Ia bahkan tanpa sadar telah menjatuhkan ponselnya. Matanya menatap tak percaya pada sosok gadis yang berdiri di ambang pintu itu.Gadis itu tersenyum dan melangkah masuk dengan

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   131. Semakin Tegang

    “Apa? Menikah denganmu?” Suara Anne tersendat, matanya terbelalak lebar.Tak hanya Anne, bahkan semua yang berada di ruangan itu pun sama terkejutnya ketika mendengar perkataan Damara barusan. Valerie dan Megan saling pandang, mereka menggeleng pelan seolah tak percaya.“Ya. Kau akan menjadi seoran

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   137. Kau Gila!

    Pagi itu, rumah nenek Anne terasa lebih sibuk dari biasanya.Sebuah sedan putih berhenti tepat di depan pagar. Bukan mobil mewah, bukan pula kendaraan yang mencolok. Hanya mobil biasa yang mudah luput dari perhatian.Seorang pria paruh baya turun dengan rapi, sambil membawa sebuah map cokelat tebal

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   133. Anne?

    Pagi ini di Hamburg datang dengan udara dingin yang menusuk tulang. Kabut tipis masih menggantung di udara, ketika Damara keluar dari mobil hitamnya dan berdiri sejenak di seberang jalan. Ia menatap layar ponselnya sejenak, dan baru saja mematikan sambungan telfon dari anak buahnya di Jakarta yang

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status