/ Mafia / Sentuhan Panas Tuan Mafia / 142. Leon dan Damara

공유

142. Leon dan Damara

last update 게시일: 2025-12-17 23:42:35

Semua orang di ruangan itu sontak menoleh ke arah suara tersebut. Tubuh Anne kembali terasa kaku.

Sosok pria itu berdiri di ambang pintu dengan tubuh tegap dan wajah dingin yang jelas menyimpan amarah. Mantel hitamnya masih basah oleh sisa hujan, dan sorot matanya tajam, mengarah lurus ke Leon.

“Damara?” suara Anne nyaris berbisik tak percaya.

Leon menyipitkan mata. Pandangannya beralih cepat antara Anne dan pria asing itu. Nama yang barusan disebut Anne membuat dadanya mendadak terasa panas.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Ayu Aqilla
thor tolong jgn buat anne menjauh dari leon lama². gak kuat....
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   170. Akhir Perjalanan Sang Mafia (Ending)

    Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung menyala satu per satu, tapi di dalam ruang rapat bawah tanah milik Klan Dominic, suasana jauh dari tenang.Leon berdiri di ujung meja panjang, kedua telapak tangannya menekan permukaan kayu gelap. Wajahnya serius, rahangnya mengeras. Di sekelilingnya ada Jonathan, Adrian, Dev, dan beberapa orang kepercayaannya. Layar besar di dinding menampilkan data keuangan dan jalur distribusi yang berantakan.“Ini bukan kebetulan,” kata Leon rendah. “Seseorang sengaja memotong jalur kita dari dalam.”Dev mengangguk. “Gudang di Marseille disabotase. Kontainer diganti. Informasi internal bocor.”“Musuh lama?” Jonathan mengepalkan tangan.“Bukan,” jawab Leon cepat. “Ini pemain baru. Tapi mereka punya dukungan besar.”Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan. Serangan kecil terjadi di berbagai titik. Bukan frontal, tapi cukup untuk mengganggu alur bisnis. Beberapa anak buah terluka, jalur suplai terputus, dan kepercayaan mitra mulai goyah.Leon tur

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   169. Pernikahan Megan dan Adrian

    Pagi itu, matahari bersinar lembut di atas mansion Dominic. Tidak menyilaukan dan tidak terik seolah ikut menghormati hari yang istimewa. Udara terasa ringan, membawa aroma bunga yang sejak subuh sudah disusun rapi di mobil-mobil pengiring.Beberapa bulan telah berlalu sejak kelahiran Baby Victor. Waktu berjalan tanpa terasa, meninggalkan jejak perubahan besar dalam hidup Anne dan Leon. Rumah yang dulu sunyi dan kaku kini hidup oleh suara tawa bayi, langkah-langkah kecil yang tergesa, dan obrolan ringan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.Valerie berdiri di depan koper besarnya pagi itu, sambil memeluk Anne erat-erat.“Jaga dirimu ya, Sayang,” ucap Valerie lembut. “Dan jaga Victor juga.”Anne mengangguk, matanya berkaca-kaca.“Mama juga. Hati-hati di Jerman.”Valerie tersenyum, lalu menatap Leon. “Kau sudah berubah, Leon. Sekarang aku sudah tenang meninggalkan mereka di tanganmu.”“Aku janji, Ma.” Leon mengangguk hormat.Hari itu Valerie kembali ke Jerman ke rumah orang tuany

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   168. Menemukan Kebahagiaan Masing-Masing

    Hari-hari di mansion Dominic perlahan berubah. Tempat itu tidak lagi dipenuhi suara tembakan, teriakan, atau rapat gelap di ruang bawah tanah. Kini suara paling sering terdengar justru tangisan bayi, tawa kecil, dan langkah-langkah tergesa para orang dewasa yang masih belajar menjadi orang tua.Anne duduk di sofa ruang keluarga sambil menggendong baby Victor. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih sedikit pucat, tapi matanya berbinar setiap kali menatap putranya. Victor menggeliat kecil, wajahnya merah dan tangannya mengepal lucu.“Leon,” panggil Anne pelan. “Sepertinya dia mau pup.”Leon yang sedang berdiri di dekat jendela langsung menoleh dengan wajah panik.“Hah? Sekarang?” tanyanya gugup. “Aku baru ganti popoknya sepuluh menit lalu.”Anne mengangkat bahu. “Namanya juga bayi.”Leon menghela napas panjang, lalu mendekat. Ia menatap Victor seolah sedang berhadapan dengan musuh besar.“Oke, Nak,” gumam Leon. “Kita hadapi ini bersama.”Beberapa menit kemudian, Leon berdiri kaku di kama

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   167. Berhasil Menyusui

    Damara tak langsung menyalakan mesin mobilnya setelah meninggalkan gerbang mansion Dominic. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya pelan tapi kejam.Ia tahu bahwa momen itu akan datang. Ia tahu sejak awal bahwa kebahagiaan Anne bukan bersamanya. Namun melihatnya secara langsung tetap saja menyakitkan.Melihat Leon menggendong Anne. Melihat senyum Anne yang tulus, dan melihat ciuman singkat itu. Semua terasa seperti pukulan telak yang memaksanya mengakui kenyataan.Damara memejamkan mata, lalu menarik napas panjang. Ia menunduk, menyeka sisa air mata yang tak sempat jatuh sempurna.“Semua sudah selesai,” gumamnya lirih pada diri sendiri.Ia menyalakan mesin dan melajukan mobil menjauh. Jalanan terasa panjang dan sunyi. Tak ada musik, tak ada suara, hanya pikirannya sendiri yang berisik.Beberapa jam kemudian, Damara tiba di sebuah bandara pribadi. Sebuah jet sudah menunggunya di landasan. Para staf menyambut dengan membungkuk hormat, tetapi Dama

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   166. Merelakanmu Bahagia

    Dua hari dirawat di rumah sakit terasa seperti waktu yang singkat, tapi penuh perubahan. Kondisi Leon membaik dengan cepat. Meski masih harus diawasi, dokter mengakui pemulihannya jauh lebih cepat dari perkiraan. Mungkin karena tekadnya, mungkin karena kehadiran Anne dan bayi mereka yang menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan. Leon hampir tidak pernah jauh dari sisi Anne dan baby Victor.Pagi itu, Anne sedang duduk bersandar di ranjang dengan tubuh yang masih terasa pegal. Leon berdiri di sampingnya sambil menggendong baby Victor dengan hati-hati. Gerakannya masih sedikit kaku, tapi matanya penuh perhatian dan kewaspadaan.“Pegangnya jangan terlalu dekat ke wajahmu, Sayang,” ujar Anne pelan dan khawatir. “Lehernya masih lemah.”“Iya, Sayang, iya." Leon mengangguk dan menyesuaikan posisi. “Aku belajar cepat. Demi dia.”Baby Victor meringkuk tenang di pelukan Leon. Bayi itu tertidur, dadanya naik turun dengan pelan dan teratur. Anne menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   165. Baby Victor

    Anne masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit itu. Tubuhnya terasa remuk, seperti baru saja melewati medan perang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rasa sakit saat melahirkan masih menyisakan denyut-denyut di sekujur tubuhnya, bercampur dengan kelelahan yang membuat kelopak matanya terasa begitu berat.Napasnya naik turun tidak beraturan. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan rambutnya basah oleh keringat. Ia merasa seolah setiap detik yang berlalu telah menguras sisa tenaga terakhir yang ia miliki.“Anne, tetap buka matamu.”Suara itu samar, tapi terasa begitu dekat. Suara yang selama berbulan-bulan hanya hadir dalam doa dan tangisannya.“Leon?”Anne mencoba untuk membuka mata, tetapi penglihatannya masih buram. Ia hanya merasakan sepasang lengan memeluknya dengan hati-hati, seolah takut tubuh rapuh itu akan hancur jika digenggam terlalu kuat. Pelukan itu lemah, tetapi begitu hangat. Pelukan yang selama ini sangat ia rindukan.“Leon, kamu … sadar?” bibir Anne bergerak

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   156. Selamat Jalan, Elle

    Dor! Dor! Dor!Suara letusan pistol kembali terdengar. Lampu di ruangan itu pecah berantakan. Ledakan kecil terdengar ketika peluru menghantam bohlam, dan membuat cahaya seketika berkedip lalu padam sebagian. Pecahan kaca berhamburan ke lantai beton, saling berderak di bawah sepatu. Peluru-peluru l

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   157. Darah di Pemakaman

    Gerimis turun pelan di pemakaman itu. Butir-butir air jatuh membasahi tanah merah yang masih gembur. Langit kelabu tampak menggantung rendah, seolah ikut berkabung. Setelah doa terakhir dibacakan dan tanah diratakan, satu per satu mereka melangkah mundur dari pusara Elle.Anne yang semula hendak me

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   160. Kenapa Kau Datang?

    Kepanikan kembali menyelimuti lorong ICU saat tubuh Anne terkulai tak sadarkan diri. Valerie menjerit kecil dan langsung memeluk putrinya, sementara Megan sigap memanggil perawat.“Anne, bangun! Anne, tolong jangan seperti ini!” suara Valerie bergetar hebat.Perawat datang dengan cepat. Mereka meme

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   162. Peran Damara

    Sudah hampir dua minggu Leon terbaring tak bergerak di ranjang rumah sakit itu. Selama itu pula, Damara hampir tak pernah benar-benar pergi dari sisi Anne.Ia datang pagi, dan pulang larut malam. Kadang bahkan ia bermalam di lorong rumah sakit jika situasi sedang genting. Tak ada yang memintanya da

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status