Home / Male Adult / Sentuhan Pembalasan / Bab 1: Di Bawah Tumit Kekuasaan

Share

Sentuhan Pembalasan
Sentuhan Pembalasan
Author: Beya

Bab 1: Di Bawah Tumit Kekuasaan

Author: Beya
last update Last Updated: 2026-02-26 09:34:36

"Lama banget sih lo, Mas! Udah telat lima belas menit!" suara melengking itu menyambut Arka bahkan sebelum ia melepas helmnya di depan sebuah lobi apartemen mewah. Gadis dengan crop top branded itu melipat tangan di dada, menatap Arka seolah-olah ia adalah kotoran yang menempel di sepatunya.

Arka hanya menunduk, menyerahkan bungkusan. "Maaf, Mbak. Tadi ada macet di..."

"Alasan! Cowok miskin kayak lo emang cuma jago bikin alasan," Gadis itu menyambar pesanannya, lalu sengaja menjatuhkan uang tips recehan ke tanah. "Ambil tuh. Buat beli sabun, biar badan lo nggak bau apek."

Arka terdiam. Ia melihat koin-koin itu menggelinding ke kubangan air. Ia memungutnya dengan tangan gemetar. Harga diri? Sudah lama benda itu terkubur oleh rasa lapar.

Siang itu, Arka mengantar pesanan terakhir ke sebuah butik eksklusif. Jantungnya berdebar, bukan karena lelah, melainkan karena ia tahu siapa yang bekerja di sana. Siska. Kekasihnya—atau setidaknya begitu pikir Arka. Siska adalah wanita dengan kulit putih porselen dan lekuk tubuh yang selalu membuat Arka berjanji dalam hati untuk bekerja lebih keras demi membahagiakannya.

Namun, pemandangan di depan butik menghancurkan dunianya.

Sebuah sedan sport hitam berhenti tepat di depan pintu. Siska keluar dengan gaun yang sangat pendek, menonjolkan kaki jenjangnya yang indah. Ia tidak sendiri. Seorang pria klimis dengan setelan jas seharga motor Arka merangkul pinggangnya posesif. Tangan pria itu turun ke pinggul Siska, meremasnya dengan santai di depan umum. Siska tidak menolak; ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu dengan tawa manja yang belum pernah Arka dengar.

"Siska?" suara Arka memanggil.

Siska menoleh. Tawanya hilang seketika, digantikan oleh kilat rasa malu dan jijik. "Arka? Ngapain kamu ke sini?"

Pria di sampingnya, Aditya, menyeringai. "Oh, jadi ini kurir yang sering kamu ceritain? Yang katanya 'pemuas' kalau kamu lagi bosan?"

Dunia Arka runtuh. Pemuas? "Bukan, Adit. Dia cuma orang yang nggak tahu diri," Siska menatap Arka dengan tatapan dingin yang mematikan. "Arka, kita selesai. Aku butuh pria yang bisa kasih aku kemewahan, bukan cowok yang jemput aku pakai motor rongsokan dan bau keringat. Lihat dirimu... kamu menjijikkan."

"Tapi Sis, aku kerja keras buat kita..."

"Buat kita?" Siska tertawa sinis. Ia mendekati Arka, lalu berbisik tepat di telinganya—aroma parfum mahalnya menusuk indra Arka. "Sentuhanmu itu murah, Arka. Aku butuh pria yang punya kuasa, bukan pecundang yang bahkan nggak bisa beli makan malam yang layak."

Aditya tertawa puas, lalu tanpa peringatan, ia mendorong dada Arka hingga pria itu jatuh terjengkang ke trotoar yang basah. "Dengerin dia, sampah. Pergi dari sini sebelum gue panggil keamanan buat seret lo ke kantor polisi karena mengganggu ketenangan."

Arka berusaha bangkit, tapi teman-teman Aditya yang baru keluar dari butik langsung mengeroyoknya. Tendangan mendarat di perut dan wajahnya. Arka merasakan hantaman keras yang membuat pandangannya kabur. Ia terkapar di tanah, wajahnya ditekan ke lumpur oleh sepatu mahal Aditya.

"Lihat posisi lo sekarang, Arka," bisik Aditya sambil menekan kepalanya lebih dalam ke tanah. "Ini tempat yang cocok buat lo. Di bawah tumit gue."

Siska hanya menonton, sesekali memperbaiki riasannya di kaca spion mobil, seolah-olah penganiayaan di depannya hanyalah hiburan murahan. Mereka kemudian pergi, meninggalkan Arka yang remuk dalam genangan air hujan dan darah.

Di tengah rasa sakit yang luar biasa, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di sampingnya. Pintu terbuka, dan seorang pria tua dengan aura yang sangat kuat keluar.

"Arka Adiwangsa?"

Arka terbatuk, memuntahkan darah. "Siapa..."

"Nama saya Bima. Saya pengurus aset kakek Anda, Tuan Darma Adiwangsa," pria itu membungkuk sedikit, memberikan sapu tangan sutra. "Kakek Anda telah tiada, dan ia meninggalkan seluruh kekuasaannya pada Anda. Seluruh imperium, seluruh harta, dan... setiap jiwa yang bekerja di bawah nama Adiwangsa."

Arka menatap sapu tangan itu. Ia teringat tatapan jijik Siska. Ia teringat bagaimana kepalanya ditekan ke lumpur.

"Ratusan triliun, Arka," lanjut Bima. "Anda bisa menghancurkan siapa saja yang Anda mau. Atau... Anda bisa membuat mereka memohon di kaki Anda."

Arka menyambut tangan Bima. Matanya yang tadi redup kini menyala dengan api yang berbeda. Sebuah api yang sangat gelap. Ia tidak ingin sekadar kaya. Ia ingin kendali penuh. Ia ingin melihat Siska dan Aditya merangkak di depannya, memohon ampunan yang tak akan pernah ia berikan dengan mudah.

"Bawa aku pergi” ucap Arka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 7: Perjanjian di Bawah Gelap

    Lantai enam puluh sembilan malam itu terasa seperti dimensi lain yang terputus dari dunia. Valerie melangkah masuk ke ruang kerja Arka, namun langkahnya tertahan saat menyadari betapa gelapnya ruangan itu. Hanya ada cahaya dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menembus dinding kaca, memberikan siluet tajam pada sosok Arka yang duduk tenang di balik meja mahoni besarnya."Tutup pintunya, Valerie. Dan kunci," suara Arka terdengar rendah, membelah kesunyian dengan otoritas yang tak terbantahkan.Valerie ragu sejenak. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan irama yang tidak beraturan. Namun, bayangan dokumen rahasia ibunya yang berada di tangan pria ini membuatnya tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, ia memutar kunci pintu. Klik. Bunyi itu terasa seperti vonis penjara bagi harga dirinya."Duduk," perintah Arka lagi. Ia tidak berdiri menyambutnya. Ia justru menyandarkan tubuhnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang panjang.Valerie berjalan

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 6: Sang Ratu dan Rahasia Hitam

    Lampu kristal raksasa di Grand Ballroom Hotel Mulia memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah ribuan mata sedang mengawasi setiap gerak-gerik kaum elite Jakarta yang berkumpul malam itu. Aroma parfum mahal dan cerutu premium memenuhi udara, bercampur dengan denting gelas sampanye yang saling beradu. Di tengah hiruk-pikuk kemewahan itu, Valerie Mahendra berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang sanggup membekukan siapa pun yang berani menatap matanya terlalu lama.Gaun emerald green yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan kulit putih porselennya yang seolah tidak pernah tersentuh sinar matahari jalanan. Valerie adalah definisi dari kesempurnaan yang angkuh. Ia tidak tersenyum pada para investor yang mencoba menjilatnya ia hanya mengangguk kecil, sebuah gestur yang lebih terasa seperti pemberian anugerah daripada keramahan bisnis."Tuan Putri kita tampak sangat tegang malam ini," bisik sebuah suara berat dari belakangnya.Valerie tidak menoleh. Ia meng

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 5: Puing Puing Harga Diri

    Aditya mematung di ambang pintu, napasnya tertahan di kerongkongan. Matanya bergerak liar, berpindah dari sosok Siska yang bersimbah air mata di balik selimut sutra, lalu beralih pada sosok pria yang duduk dengan tenang di sofa mewah itu. Dunianya seolah melambat, berputar pada satu titik fokus yang mengerikan, pria di depannya ini memiliki sorot mata yang pernah ia lihat sebelumnya."A-apa maksudnya ini?" suara Aditya bergetar, separuh amarah, separuh ketakutan yang tak beralasan. "Siska! Kenapa kamu begini? Dan Anda... Tuan Arka Adiwangsa, apa yang Anda lakukan pada tunangan saya?!"Arka tidak langsung menjawab. Ia justru menyesap wiskinya perlahan, membiarkan keheningan yang mencekam menyiksa mental Aditya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk harga diri Aditya. Arka kemudian meletakkan gelas kristalnya di meja marmer dengan bunyi klunting yang nyaring, lalu berdiri dengan perlahan."Tanya pada tunanganmu, Aditya," ucap Arka. Suaranya rendah, namun me

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 4: Harga Sebuah Pengkhianatan

    Siska terbangun dengan napas yang masih tersengal, merasakan dinginnya lantai marmer yang kontras dengan panas yang baru saja membakar tubuhnya. Ia menemukan dirinya tidak lagi di atas sofa, melainkan di atas tempat tidur king-size yang luasnya terasa seperti samudra. Di bawah sinar lampu tidur yang redup, ia menyadari bahwa pria yang baru saja menjungkirbalikkan dunianya itu sudah tidak ada di sisinya."Tuan?" bisik Siska parau. Suaranya pecah, tenggorokannya kering.Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara gemericik air dari arah kamar mandi yang berdinding kaca buram. Siska menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya yang polos, jantungnya berdebar kencang. Ada rasa bangga sekaligus kehampaan yang aneh. Ia merasa telah memenangkan "lotre" besar malam ini. Dengan servis yang ia berikan, ia yakin kontrak dua ratus miliar untuk Aditya sudah ada di genggaman.Pintu kamar mandi terbuka.Uap panas menyeruak keluar, membawa aroma sabun maskulin yang tajam. Arka keluar hanya dengan bal

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 3: Penyerahan di Lantai Enam Puluh Sembilan

    "Pastikan kamera di kantor sudah siap besok malam. Aku ingin melihat wajahnya saat ia menyadari siapa yang sedang ia layani." Ucap Arka dingin. Malam itu, Sang Predator tersenyum. Permainan baru saja dimulai. Pemandangan yang dulu pernah menjadi penjara bagi Arka. Lima tahun ia menghabiskan hidup di aspal panas itu—berjuang, berkeringat, dan dikuliti oleh hinaan orang-orang kaya. Kini, ia berdiri di atas mereka semua.Ia berdiri membelakangi pintu utama suite yang luasnya bahkan hampir menyamai luas rumah petak yang dulu ia sewa selama bertahun-tahun. Kemeja sutra hitam buatan tangan menyelimuti tubuhnya, kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka hingga ke tengah dada. Garis otot yang tegas dan kulit yang kini terawat sempurna terpantul samar di dinding marmer.Ding.Suara bel pintu suite terdengar lirih, namun cukup tajam untuk memutus keheningan. Arka tidak bergerak. Ia membiarkan bunyi itu menggantung di udara selama beberapa saat, menikmati kuasa untuk membuat seseorang menunggu

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 2 : Lahir kembali

    "Ubah aku. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang tersisa saat aku selesai nanti." suara Arka terdengar seperti geraman predator. Di sebuah penthouse rahasia yang menghadap langsung ke jantung beton Jakarta, Arka berdiri menatap pantulan dirinya di cermin setinggi plafon. Ia nyaris tidak mengenali pria di depannya. Dulu, cermin adalah musuh besarnya. Cermin hanya menunjukkan mata yang kuyu, kulit kusam terpapar timbal jalanan, dan tubuh ringkih yang tampak menyedihkan. Kini? Sosok itu telah berubah total. "Bagaimana perasaan Anda, Tuan Arka?" suara Bima terdengar dari ambang pintu. Arka tidak langsung menjawab. Ia mengusap rahangnya yang kini tegas dan bersih, seolah dipahat dari granit. Latihan fisik militer yang brutal telah mengubah lemak dan keletihannya menjadi otot padat yang fungsional. "Terasa... asing," jawab Arka pendek. Suaranya kini lebih berat, dalam, dan membawa getaran otoritas yang tidak bisa dibantah. Bima tersenyum tipis, sebuah ekspresi bangga yang jara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status