Home / Urban / Sentuhan Pembalasan / Bab 122: Harga Sebuah Perlindungan

Share

Bab 122: Harga Sebuah Perlindungan

Author: Beya
last update publish date: 2026-04-13 10:05:37

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, namun malam ini, kegelapan terasa berbeda. Di langit, retakan merah yang disebut Arka sebagai luka semesta mulai berdenyut, memancarkan aura dingin yang membuat hewan-hewan di seluruh kota melolong ketakutan. Di da

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 123: Manifestasi Sang Pelindung

    Pagi hari di Jakarta seharusnya disambut dengan hiruk-pikuk klakson dan sinar matahari yang menembus polusi, namun hari ini, kota itu diselimuti oleh kabut berwarna kelabu yang tidak wajar. Di markas besar Adiwangsa Tech, kegemparan sedang terjadi. Ribuan ilmuwan dan teknisi terbaik dunia yang dikontrak secara paksa oleh Arka sedang bekerja di bawah tekanan yang mematikan. Di pusat komando bawah tanah, Arka Adiwangsa berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan visualisasi termal dari Star-Eater yang kini telah melewati orbit Saturnus.Kecepatan makhluk itu melambat, namun massanya terus bertambah, ucap salah satu jenderal militer yang kini terpaksa tunduk di bawah perintah Arka. Tuan Adiwangsa, senjata nuklir kita ti

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 122: Harga Sebuah Perlindungan

    Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, namun malam ini, kegelapan terasa berbeda. Di langit, retakan merah yang disebut Arka sebagai luka semesta mulai berdenyut, memancarkan aura dingin yang membuat hewan-hewan di seluruh kota melolong ketakutan. Di dalam Istana Adiwangsa, suasana justru mencekam dalam keheningan yang dipaksakan. Arka berdiri di balkon kamar utama, menatap cakrawala dengan mata yang tak pernah berkedip. Di tangannya, sebuah tablet holografik menampilkan data dari satelit pribadinya yang menangkap pergerakan massa energi raksasa yang mendekati tata surya.The Star-Eater, bisik Arka pada angin malam.Suara rengekan bayi dari dalam kamar memecah konsentrasinya. Ar

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 121: Melati di Bawah Hujan

    Kehancuran Citadel of Truth meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga di dalam kabin The Void Voyager. Arka Adiwangsa duduk di kursi pilot, namun tangannya tidak lagi menyentuh kendali. Matanya yang ungu perlahan meredup, kembali menjadi hitam pekat yang dalam, mencerminkan kelelahan seorang pria yang baru saja meruntuhkan pilar-pilar surga. Di sampingnya, Valerie duduk mematung, jemarinya masih meraba udara tempat Malakor terakhir kali berdiri. Kehilangan itu nyata, namun ada secercah harapan yang ditinggalkan oleh cahaya emas putra mereka.Kita harus kembali, Arka, bisik Valerie. Suaranya terdengar rapuh namun memiliki keteguhan yang baru. Dia berjanji akan kembali. Di tempat di mana melati mekar di bawah hujan.

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 120: Singgasana Sang Arsitek Terakhir

    Jakarta kini bukan lagi kota yang dikenal Valerie. Di atas gedung-gedung pencakar langit yang megah, langit telah terbelah menjadi fragmen-fragmen realitas yang saling tumpang tindih. Awan hitam berbentuk geometris yang tadi muncul kini mulai berputar, membentuk sebuah pusaran raksasa yang tampak seperti mata mekanis yang sedang mengawasi setiap gerak-gerik di Istana Adiwangsa.Arka berdiri di landasan pacu bawah tanah rahasia miliknya. Di depannya, sebuah wahana tempur bernama The Void Voyager berdiri dengan gagah. Ini bukan sekadar jet, melainkan mesin penembus dimensi yang dibangun Arka dengan menggabungkan teknologi manusia tahun 2045 dengan sisa-sisa energi ketiadaan yang masih tersisa di nadinya.Jangan takut, Victoria, ucap Arka sambil mengenakan zirah hitamnya yang kini telah berevolusi. Zirah itu bukan lagi sekadar pelindung, melainkan perpanjangan dari kehendaknya yang posesif. Setiap lempengan logam cair itu berdenyut seirama dengan jantungnya.Aku tidak takut pada mereka,

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 119: Hutang yang Tak Terbayar

    Kehidupan di Istana Adiwangsa yang baru berjalan dengan ritme yang terlalu sempurna. Bagi dunia luar, Arka Adiwangsa adalah sosok titan industri teknologi yang karismatik, pria yang memegang kendali atas ekonomi digital global namun tetap memiliki kehidupan pribadi yang tertutup dan misterius. Namun bagi Valerie, Arka tetaplah predator yang sama, hanya saja sekarang ia mengenakan sutra mahal sebagai ganti zirah obsidiannya.Pagi itu, cahaya matahari Jakarta menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru di kamar utama. Valerie terbangun dengan posisi yang sudah sangat familiar: lengan Arka melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuhnya dalam sebuah pelukan yang bahkan tidak mengendur saat pria itu terlelap. Arka selalu tidur seolah-olah dunia akan mencoba mencuri Valerie jika ia melepaskannya barang satu inci pun.Valerie menatap wajah Arka yang tenang. Di garis waktu ini, Arka tidak memiliki luka parut atau tanda-tanda kelelahan kosmik. Wajahnya adalah definisi dari ketampanan yang

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 118: Perjamuan Terakhir di Ujung Galaksi

    Nebula ungu yang tadinya merupakan tempat peristirahatan The Cradle kini tampak seperti selembar kain yang diremas oleh tangan raksasa yang tak kasat mata. Cahaya bintang-bintang di kejauhan berkedip ketakutan, lalu padam satu per satu seiring dengan mendekatnya siluet yang melampaui segala nalar fisik. The End-Bringer bukan sekadar makhluk; ia adalah sebuah keharusan, sebuah titik akhir di mana semua cerita harus berhenti. Kehadirannya menghisap oksigen metaforis dari ruang angkasa, meninggalkan kehampaan yang begitu berat hingga Arka merasa paru-paru manusianya mulai mengempis.Arka Adiwangsa, yang tubuhnya masih bergetar hebat akibat ledakan antimateri Lilith, mencoba berdiri di tengah dekapan Valerie. Darah hitamnya membeku di ruang hampa, membentuk kristal-kristal tajam yang melayang di sekitar mereka seperti mahkota berduri yang hancur. Ia menatap ke arah tangan raksasa yang terbuat dari galaksi-galaksi mati itu, dan untuk pertama kalinya dalam triliunan tahun, sang Predator mer

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 99: Persiapan Perang Akhir

    Kehampaan di luar galaksi Andromeda tidak lagi terasa kosong; ia terasa seperti predator yang sedang menahan napas. Sejak konfrontasi dengan Architect-Primal, ruang angkasa di sekitar benteng Aethelgard membeku dalam anomali statis. Bintang-bintang yang meredup tidak kunjung bersin

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 98: Gema dari Dimensi Luar

    Keheningan yang menyelimuti Andromeda pasca-penyatuan Trinity bukanlah keheningan perdamaian, melainkan keheningan sebelum badai kinetik menghancurkan segalanya. Di atas anjungan Aethelgard yang kini telah direstorasi oleh kehendak murni Valerie, Arka Adiwangsa berdiri dengan tangan bersedek

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 97: Manunggalnya Sang Adiwangsa

    Cakrawala Andromeda tidak lagi berwarna jingga atau perak; ia telah berubah menjadi pusaran kelabu yang mendidih. Di satu sisi, armada The Sentinels of Order memancarkan frekuensi penghapusan yang murni, sebuah simfoni cahaya yang dingin. Di sisi lain, awan hitam The Hollowed yang dipimpin oleh Yu

  • Sentuhan Pembalasan    Bab 96: Bayang-bayang di Balik Fajar

    Fajar di Bumi mungkin telah menyingsing, namun di kedalaman kosmos Andromeda, kegelapan memiliki cara tersendiri untuk bersembunyi di balik cahaya perak yang megah. Istana baru klan Adiwangsa yang dibangun Valerie berdiri sebagai monumen rekonsiliasi, namun di ruang-ruang bawah tanahnya yang terdal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status