LOGINAngin di puncak gedung Adiwangsa Tech membawa debu merah sisa-sisa Para Penegak yang baru saja dimusnahkan oleh Arka. Langit Jakarta masih terluka, menampakkan kegelapan kosmik yang haus akan keseimbangan. Arka berdiri mematung, cengkeramannya pada bahu Valerie t
Angin di puncak gedung Adiwangsa Tech membawa debu merah sisa-sisa Para Penegak yang baru saja dimusnahkan oleh Arka. Langit Jakarta masih terluka, menampakkan kegelapan kosmik yang haus akan keseimbangan. Arka berdiri mematung, cengkeramannya pada bahu Valerie tidak mengendur sedikit pun, bahkan ketika suara kuno dari sisa kesadaran Citadel itu terus bergema di dalam kepalanya, memberikan pilihan yang mustahil bagi jiwa seorang predator.Kau harus duduk di singgasana itu, Arka. Jika tidak, realitas ini akan terus bocor hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk kau miliki, suara itu berbisik, dingin dan logis.Arka menatap tangannya yang kini bukan lagi tangan manusia. Jemarinya panjang de
Langit di atas Jakarta tidak lagi sekadar retak; ia tampak seperti kaca yang dihantam godam raksasa, menyisakan lubang-lubang hitam yang memuntahkan ribuan siluet merah ke atmosfer Bumi. Di dalam ruang perlindungan yang kini hancur, Valerie mendekap Arka yang tak sadarkan diri. Tubuh pria itu terasa dingin, namun di balik kulitnya, aliran energi Void masih berdenyut liar, mencoba memperbaiki organ-organ yang rusak akibat perjalanan dimensi yang mustahil.Gerry berdiri di depan pintu yang hancur, menatap pemandangan mengerikan di layar monitor yang masih berfungsi. Tuan Adiwangsa telah melakukan bagiannya, Nyonya. Dia telah membunuh pemangsa bintang itu. Tapi sekarang, kita menghadapi sesuatu yang lebih buruk. Ini bukan l
Ledakan supernova yang dihasilkan oleh benturan antara Arka Adiwangsa dan Star-Eater meninggalkan bekas luka permanen di langit malam Bumi. Cahaya ungu kemerahan masih berpendar di stratosfer, menciptakan aurora buatan yang menyakitkan mata. Di pusat komando bawah tanah Adiwangsa Tech, keheningan yang mencekam menyelimuti para ilmuwan dan jenderal. Layar monitor yang tadinya menampilkan visualisasi Star-Eater kini hanya berisi statik dan gangguan elektromagnetik. Arka Adiwangsa, sang kaisar tanpa mahkota, telah hilang dari radar bersama dengan musuhnya.Di dalam ruang perlindungan level nol, Valerie terbangun dengan napas tersengal. Ia bisa merasakan tarikan di jiwanya yang mendadak hampa. Ikatan batin yang selama ini me
Pagi hari di Jakarta seharusnya disambut dengan hiruk-pikuk klakson dan sinar matahari yang menembus polusi, namun hari ini, kota itu diselimuti oleh kabut berwarna kelabu yang tidak wajar. Di markas besar Adiwangsa Tech, kegemparan sedang terjadi. Ribuan ilmuwan dan teknisi terbaik dunia yang dikontrak secara paksa oleh Arka sedang bekerja di bawah tekanan yang mematikan. Di pusat komando bawah tanah, Arka Adiwangsa berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan visualisasi termal dari Star-Eater yang kini telah melewati orbit Saturnus.Kecepatan makhluk itu melambat, namun massanya terus bertambah, ucap salah satu jenderal militer yang kini terpaksa tunduk di bawah perintah Arka. Tuan Adiwangsa, senjata nuklir kita ti
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, namun malam ini, kegelapan terasa berbeda. Di langit, retakan merah yang disebut Arka sebagai luka semesta mulai berdenyut, memancarkan aura dingin yang membuat hewan-hewan di seluruh kota melolong ketakutan. Di dalam Istana Adiwangsa, suasana justru mencekam dalam keheningan yang dipaksakan. Arka berdiri di balkon kamar utama, menatap cakrawala dengan mata yang tak pernah berkedip. Di tangannya, sebuah tablet holografik menampilkan data dari satelit pribadinya yang menangkap pergerakan massa energi raksasa yang mendekati tata surya.The Star-Eater, bisik Arka pada angin malam.Suara rengekan bayi dari dalam kamar memecah konsentrasinya. Ar
Kehancuran Citadel of Truth meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga di dalam kabin The Void Voyager. Arka Adiwangsa duduk di kursi pilot, namun tangannya tidak lagi menyentuh kendali. Matanya yang ungu perlahan meredup, kembali menjadi hitam pekat yang dalam, mencerminkan kelelahan seorang pria yang baru saja meruntuhkan pilar-pilar surga. Di sampingnya, Valerie duduk mematung, jemarinya masih meraba udara tempat Malakor terakhir kali berdiri. Kehilangan itu nyata, namun ada secercah harapan yang ditinggalkan oleh cahaya emas putra mereka.Kita harus kembali, Arka, bisik Valerie. Suaranya terdengar rapuh namun memiliki keteguhan yang baru. Dia berjanji akan kembali. Di tempat di mana melati mekar di bawah hujan.
Kegelapan di dalam benteng Aethelgard tidak lagi terasa seperti pelindung, melainkan seperti kain kafan yang menyesakkan. Arka Adiwangsa duduk di singgasana obsidiannya, namun posturnya tidak lagi mencerminkan keagungan yang tenang. Matanya yang memiliki empat lingkaran emas terus berkilat l
Koridor benteng Aethelgard kini terasa seperti lorong di dalam pikiran seorang psikopat—dingin, terlalu teratur, namun di bawah permukaannya berdenyut kegilaan yang siap meledak. Arka Adiwangsa berjalan dengan langkah yang menggetarkan pilar-pilar kristal, auranya tidak lagi sekadar ungu gel
Aula utama benteng Aethelgard tidak pernah terasa sesunyi ini. Getaran mesin Void yang biasanya menderu konstan kini seolah-olah tertahan oleh kehadiran entitas baru yang duduk di tengah ruangan. Malakor, Sang Penentu, tidak duduk di singgasana Arka, melainkan melayang beberapa inci di atas lantai
Langit Bumi yang baru saja tertutup oleh selubung hitam protokol Total Eclipse mendadak terbelah oleh kilatan cahaya putih yang tajam dan menyakitkan. Bukannya ungu nebula atau hitam Abyssal, cahaya ini terasa murni, dingin, dan menghakimi—seperti mata pisau yang membedah kegelapan.







