로그인Keabadian ternyata bukan sekadar waktu yang tidak berakhir, melainkan sebuah ruang tanpa batas di mana setiap detik terasa seperti selamanya. Di dimensi yang dikenal sebagai Inti Ketiadaan, Arka Adiwangsa duduk di atas singgasana yang tidak terbuat dari materi, m
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion membelah badai salju di atas pegunungan Himalaya dengan kecepatan supersonik. Di bawah mereka, puncak-puncak gunung yang tajam tampak seperti taring raksasa yang mencoba menggapai langit yang terluka. Lokasi ini bukan sekadar tempat penyimpanan; ini adalah sebuah fasilitas yang dibangun dengan teknologi isolasi termal dan gravitasi tingkat tinggi, tempat di mana raga fisik Arka Adiwangsa dibekukan dalam kondisi stasis abadi.Malakor duduk di kursi pilot, matanya menatap lurus ke arah radar. Tato ular di lengan kanannya terasa panas, seolah-olah energi Void yang baru saja ia jinakkan di dasar samudra sedang bereaksi terhadap kedekatan dengan sumber aslinya. Malakor bisa merasakan detak jantung yang samar, bukan mil
Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini. Meskipun lampu-lampu kota masih berpijar, ada frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri, sebuah getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki koneksi dengan dimensi di luar nalar manusia. Malakor Adiwangsa berdiri di pusat kendali bawah tanah rumahnya, menatap barisan layar yang menampilkan data satelit real-time. Di sampingnya, Arion berdiri diam seperti patung perak, sementara Gerry sibuk mengoperasikan sistem Protokol Warisan Terakhir yang baru saja diaktifkan.Tuan Muda, koordinat yang diberikan oleh Nyonya Valerie mengarah pada sebuah lokasi di kedalaman Samudra Pasifik, tepat di atas Palung Mariana, ucap Gerry. Suaranya mengandung kecemasan yang mendalam. Ada aktivitas seismik yang ti
Jakarta terbangun dalam keadaan bingung. Berita tentang ledakan di pinggiran kota yang meratakan sebuah gudang tua menjadi topik utama, namun seperti biasa, mesin sensor Adiwangsa Tech bekerja lebih cepat dari media mana pun. Dalam hitungan jam, narasi resmi diubah menjadi ledakan pipa gas bawah tanah. Namun bagi mereka yang berada di dalam lingkaran terdalam, kabut kebohongan ini mulai terasa sangat menyesakkan.Di kediaman utama keluarga Adiwangsa, Malakor terbaring di ranjang medis pribadinya. Arion berdiri tegak di sudut ruangan, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari pintu dan jendela. Ia mengenakan pakaian pelayan setelan hitam untuk menyamarkan jati dirinya sebagai panglima perang dimensi, namun aura kematian yang ia bawa sulit disembunyikan.
Dimensi Ketiadaan bergetar hebat saat Valerie mulai memanipulasi jalinan cahaya Trinity miliknya. Arka hanya bisa menyaksikan dengan mata ungu yang menyala, merasakan betapa posesifnya ia terhadap keputusan istrinya. Ia benci harus melibatkan pihak ketiga dalam perlindungan Malakor, namun ia tahu Valerie benar. Kekuatan mereka terlalu besar untuk bermanifestasi di Bumi tanpa menghancurkan planet itu sendiri. Mereka butuh instrumen, sebuah alat yang memiliki jiwa namun tetap terikat pada kehendak mereka.Kau yakin ingin membangkitkan dia, Victoria? tanya Arka, suaranya seperti guntur yang tertahan. Dia adalah pengkhianat di garis waktu pertama. Dia adalah pria yang hampir membuat kita terpisah sebelum kau menjadi milikku sepenuhnya.
Keabadian ternyata bukan sekadar waktu yang tidak berakhir, melainkan sebuah ruang tanpa batas di mana setiap detik terasa seperti selamanya. Di dimensi yang dikenal sebagai Inti Ketiadaan, Arka Adiwangsa duduk di atas singgasana yang tidak terbuat dari materi, melainkan dari kepadatan energi Void yang murni. Di sampingnya, atau lebih tepatnya menyatu dalam jalinan energinya, adalah Valerie. Mereka bukan lagi manusia yang membutuhkan napas atau tidur. Mereka adalah hukum alam yang memastikan Bumi tetap berputar dan gerbang The Beyond tetap terkunci rapat.Namun, sifat dasar Arka tidak pernah berubah. Meskipun ia telah menjadi penjaga kosmik, sisi posesifnya justru semakin tajam karena kini ia bisa merasakan setiap getara
Sisa-sisa partikel cahaya dari The White King belum sepenuhnya menguap saat anjungan Aethelgard mendadak bergetar oleh frekuensi yang tidak berasal dari ruang fisik. Suara itu bukan dentuman, melainkan bunyi detak jam raksasa yang bergema langsung di dalam tengkorak setiap makhlu
Ruang angkasa di sekitar Aethelgard mendadak membeku, bukan oleh suhu nol mutlak, melainkan oleh kehadiran sebuah entitas yang memancarkan frekuensi "Kesucian" yang menyakitkan. Arka Adiwangsa berdiri di anjungan yang retak, mendekap Valerie dengan protektif. Napasnya masih memburu
Keheningan yang menyusul kehancuran Himalaya di Bumi bukanlah keheningan perdamaian. Itu adalah kesunyian statis, jenis kekosongan yang terjadi ketika realitas itu sendiri sedang ditata ulang oleh tangan-tangan tak kasat mata. Di atas anjungan Aethelgard, Arka Adiwangsa masih mendekap Valeri
Sisa-sisa reruntuhan The Monolith melayang di ruang hampa Sektor 09 seperti bangkai raksasa yang membusuk dalam cahaya dingin. Di tengah badai logam dan api yang padam, Arka Adiwangsa berdiri di atas sebuah lempengan kristal yang terlepas, memegang tubuh Valerie dengan cengkeraman yang begitu kuat







